
"Dzen." panggil Andi saat Andi melihat Dzen di parkiran.
"Ada apa Ndi?" tanya Dzen yang sudah akan membuk pintu mobilnya.
"Gue tadi papasan sama cewek lo. Tiara. Emang dia jengukin siapa Dzen?" tanya Andi.
"Ehm, ga tau juga." jawab Dzen.
"Di lantai empat." kata Andi.
"Apa dia jengukin Shanum yaa?" tanya Dzen pada diri sendiri.
"Bisa jadi. Sahabat elo itu kan? Yang kemari katanya mau bunuh diri itu kan?" tanya Andi.
"Iya." jawab Dzen.
"Elo ga mau nyusulin Tiara?" tanya Andi.
"Ga usah. Dia nanti ga nyaman sama gue. Lagian, ini gue buru-buru. Mau meriksa pasien dulu di panti." kata Dzen.
"Oh, okey. Hati-hati ya." kata Andi.
"Okey." jawab Dzen.
💞💞💞
Waktu terus berganti, tak terasa sudah satu bulan lamanya liburan semester dilalui. Kini, Mutiara sudah mulai dengan kesibukannya di kampus sebagai mahasiswi lagi. Dia dan kedua sahabatnya juga sudah berkumpul kembali, Dan Kenzo juga sudah kembali ke Semarang dengan membawa motor milik Mutiara. Dan sudah satu bulan juga Mutiara mengajar bu Suyamti mengaji, dan sesekali Nilam juga mengikutinya.
Suatu siang, seusai perkuliahan, Mutiara bersama dua sahabatnya selesai menunaikan sholat Dzuhur bersama.
"Tiara." panggil seseorang yang tak asing bagi Mutiara.
"Ya? Eh, pak Zio? ada apa ya pak?" tanya Mutiara.
"Ehm, ini." kata Zio sambil menyerahkan selembar undangan pernikahan kepada Mutiara.
Mutiarapun menerima undangan itu, dan dibacanya tulisan yang ada pada kertas undangan itu. Mendadak dadanya sesak, matanya memanas, rasanya tak percaya.
"Datang ya." kata Zio dingin.
Mutiara tak bergeming.
"Kalian juga datang ya, ini undangan untuk kalian." kata Zio memberikan undangannya kepada Nadia.
"Oh, eh. Iya pak." kata Nadia sungkan.
"Tiara?" panggil Zio.
"Eh, I Iya pak. InshaaAllah saya usahakan." kata Mutiara gugup.
"Datanglah bersama Dzen, Shanum pasti akan sangat bahagia jika kalian datang bersama." kata Zio berharap.
Mutiara mendongak menatap sepasang mata elang itu.
"Harus?" tanya Mutiara.
"Tidak. Tetapi kami juga mengundangnya." kata Zio dengan ramah.
"Saya akan bersama kedua sahabat saya pak." kata Mutiara kembali dengan menunduk.
"Mama dan mbak Nilam akan sangat bahagia jika kamu datang lebih awal, atau bahkan kamu datang sebelum hari H. Karena mereka sudah menganggapmu bagian dari keluarga kami." kata Zio sambil memasukkan kedua tangannya di kantong celana.
"Akan Saya usahakan." kata Mutiara masih menunduk menahan air yang ingin keluar dari matanya.
"Okey. Saya permisi." kata Zio berlalu.
Setelah Zio berlalu, Mutiara mencoba menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.
__ADS_1
"Tiara. Are you ok?" tanya Mila memegang punggung Mutiara lembut, sambil mencoba melihat wajah Mutiara yang masih menunduk.
Mutiara mengangkat wajahnya yang memerah, dia mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum, menutup semua rasa yang ada.
"Yes, I am Ok." jawab Mutiara dengan tersenyum.
"Kita akan bersamamu Tiara." kata Nadia yang mengerti akan perasaan Mutiara.
"Mungkin memang pak Zio itu bukan yang tepat untukmu Tiara. Akan ada pria yang lebih baik untuk mu." kata Mila menguatkan hati Mutiara.
Mutiara tersenyum.
"Ya, kalian benar. Pak Zio memang sudah saatnya menikah, sedangkan aku, masih harus berjuang dengan berkutat dengan lembaran-lembaran tugas dan ujian di kampus." kata Mutiara
"Hm... iya Tiara. Lagian ni ya, kalau kamu jadi sama pak Zio, apa kata dunia? Pak Zio itu udah berumur, kamu kaya bocah nikah sama om om. Hahahaha." kata Mila mencoba menghibur.
"Ih. Mil. kamu tu ya, sembarangan aja kalo ngomong. kedenger sama dosen killer itu baru tau rasa kamu, dihukum lho nanti. Sembarangan aja ngatain pak Zio om om." tukas Nadia.
"Ups, sorry." kata Mila menutup mulutnya.
"Ya udahlah. Ayo kita ke kelas." ajak Mutiara.
Mereka bertigapun masuk kelas mereka. Sesampainya di kelas, Mutiara membuka ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari Dzen. Mutiara sudah mengganti nama kontak nya di ponsel.
📩Mas Dzen
Assalamualaikum Tiara. Apa kabar?
Pesam Dzen setelah beberapa pekan tidak saling kontak, karena kesibukan masing-masing. Mutiarapun langsung membalasnya.
📨Mas Dzen
Wa'alaikumsalam warohmatullah. Alhamdulillah Tiara baik mas. Mas Dzen sendiri gimana kabarnya?
📩Mas Dzen
📨Mas Dzen
Nunggu dosen mas, mau ada jam kuliah.
📩Mas Dzen
Oh, ya udah. nanti kalo udah selesai, kabari mas ya. Mas mau telpon.
📨mas Dzen
Ya mas. InshaaAllah
📩Mas Dzen
Semangat belajarnya, sukses selalu untukmu, Mutiara Hati😊😉
Mutiara tak membalas pesan itu, karena dosennya sudah masuk kelas. Mutiara memfokuskan dirinya dengan dosen perempuan yang sudah berumur.
Seusai kuliah, Mutiara berpisah dengan kedua sahabatnya, dia segera mengendarai motornya dan menuju kosan nya.
Mutiara lupa akan pesan Dzen, sehingga Mutiara segera mandi dan bersih-bersih.
Setelah mandi, Mutiara baru membuka ponselnya sambil makan.
📩Mas Dzen
Belum selesai ya kuliahnya?
"Astaghfirullah. Aku lupa ga ngabarin." kata Mutiara memukul keningnya.
📨Mas Dzen
__ADS_1
Alhamdulillah sudah mas, daritadi. Tapi maaf, Tiara lupa. hehe
Tak ada balasan, namun kemudian ponselnya berdering.
📞Mas Dzen
'Halo, Tiara.'
"Halo mas."
'Udah dapet undangan dari Mas Zio?' tanya Dzen.
"Sudah mas."
'Ehm, bisa datang kan?'
"InshaaAllah."
'Kamu ga harus bareng mas. Kamu bebas kok, boleh bareng temen-temen kamu. Santai aja.'
"Ya mas."
'Kamu ikhlas kan? Mas Zio bersama Shanum?'
"Kenapa mas Dzen bilang begitu?" tanya Mutiara.
'Gapapa. Kamu fokus sama kuliahmu ya. Jangan baper, nanti nilai kamu jatuh. Fokus sama tujuan kamu aja.' pesan Dzen.
"Ehm, i iya mas."
'Ada mas yang setia menunggumu hingga kamu lulus. Jadi, jangan merasa kehilangan ya.' kaya Dzen.
"Ih, maksud mas Dzen apa coba?" kata Mutiara Merona.
'Hahahaha, mas tau kamu lagi patah hati. Kamu suka kan sama mas Zio?'
Mutiara tak bergeming.
'Maaf, jika kata-kata mas kurang berkenan.'
"Ehm, engga kok mas." jawab Mutiara gugup.
'Udah makan?'
"Ini baru makan."
'Okey. Ya udah, lanjutin makannya ya. Mas mau siap-siap pulang dulu.'
"Mas Dzen belum pulang?" tanya Mutiara.
'Belum Tadi nunggu kabar darimu.' jawab Dzen.
"Ya ampun, maaf ya mas. Ya udah, segera pulang aja mas, mendung lho ini, mau hujan." kata Mutiara menoleh ke luar jendela.
'Santai aja. Ga usah khawatir gitu, mas kan naik mobil.' kata Dzen tenang.
"Astagfirullah. Iya ya. Eh, tapi kan, jaga jaga juga mas, kalo mobilnya mogok lagi kaya dulu." elak Mutiara beralasan.
'Santai aja. Kalaupun mogok, nanti mas akan telpon Tiara untuk jemput mas, bisa kan?' goda Dzen.
"Ish, apaan sih mas? Ga mau, hujan hujan jemput mas Dzen." tolak Mutiara sambil cemberut.
'Hahahaha, ya udah, santai aja. Kemarin abis diservis kok, aman.' kata Dzen.
'Ya udah ya. Udah dulu. Assalamualaikum Tiara.'
"Wa'alaikumsalam mas." jawab Mutiara sambil tersenyum . Mutiarapum memeluk ponselnya sambil tersenyum membayangkan wajah dokter tampan Ahmad Zainuddin. Dan mencoba untuk mengubur rasa patah hatinya karna ditinggal menikah orang yang dia cintai dan dia harapkan selama ini.
__ADS_1