Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Kabar dari Kampung


__ADS_3

Hari ketiga Dzen meminjam motor Mutiara, namun ini adalah hari terakhirnya meminjam, karena Dzen sudah mendapat kabar dari bengkel, bahwa nanti siang mobilnya sudah jadi, dan sudah bisa dia ambil.


Dzenpun menghubungi Kenzo, yang sebelumnya Mutiara sudah mengirimkan nomer Kenzo sebelum Mutiara mulai masuk pada acara kongres.


📨Kenzo


Ken. Ini mas Dzen. Saya dapet nomer kamu dari Tiara. Kata dia, nanti kalau mobil saya sudah jadi, saya suruh hubungi kamu.


Tak berapa lama menunggu. pesan itu sudah dibalas Kenzo.


📩Kenzo


Okey mas. Siap. Kemarin mbak Tiara juga udah ngechat mas. Mau ketemu dimana mas?


📨Kenzo


Nanti saya jemput aja, kamu dimana? Terus nanti anterin saya ke bengkel untuk ambil mobilnya.


📩Kenzo


Ok mas. Jemput aku di kosan ku ya mas, ga jauh kok dari kosan nya mb Tiara. Entar aku kirimi sharelok nya mas.


📨Kenzo


Ok


Siang itu, setelah menunaikan sholat dzuhur yang kini sudah mulai tertib dilakukan Dzen, semenjak mengenal Mutiara, dia segera mengambil motor matic milik Mutiara untuk dia lajukan ke kosnya Kenzo.


"Dzen." panggil Andi, saat melihat Dzen di koridor menuju tempat parkir.


"Eh, Ndi. Ada apa?" tanya Dzen.


"Mau kemana lo?" tanya Andi.


"Mau ngambil mobil gue." kata Dzen.


"Lho? Emang mobil lo dimana?" tanya Andi.


"Di bengkel." jawab Dzen santai.


"Trus, lo mau ngambil naik apa?" tanya Andi, karena dia heran, biasanya jika ada masalah dengan mobilnya, Dzen akan menghubunginya dan mengajaknya untuk mengurus mobilnya, dan kalau berangkat dan pulang dines, biasanya mereka bersama.


"Naik ini." kata Dzen menunjukkan kunci motor milik Mutiara.


"Motor?" Andi tak percaya.


Dzen mengangguk.


"Motor siapa?" tanya Andi lagi.


"Kepo amat sih lo. Motor Tiara." kata Dzen.


"Tiara?" tanya Andi masih bingung.


"Dah nanti gue ceritain, gue mau ambil mobil dulu, nanti jam setengah dua harus udah balik ke ruangan soalnya." kata Dzen buru-buru.


"Oh, okey. Ati-ati lo, bawa motornya." kata Andi setengah berteriak, karena Dzen sudah ngeluyur jalan saja tanpa permisi.


Dzen hanya mengacungkan jempolnya, tanpa menoleh.

__ADS_1


Sesampainya di kosan Kenzo, disana Kenzo sudah tampak menunggu Dzen.


"Sorry Ken, lama ya nunggunya?" tanya Dzen sambil melepas helemnya, yang baru lusa kemarin dia beli.


"Engga kok mas. Santai aja, lagian juga Ken cuma nunggu di kosan, ga dipinggir jalan." kata Kenzo.


"Oh, ya. Okey, jalan yuk. Nanti jam setengah dua aku harus udah balik ke rumah sakit." kata Dzen.


"Okey mas." kata Kenzo.


"Kamu yang depan ya Ken." kata Dzen sambil duduk mundur.


"Kenapaa mas?" tanya Kenzo.


"Grogi aja kalo boncengin kamu. hahaha." kata Dzen jujur.


"Ealah mas, ada ada aja lho mas Dzen nih. Kalo boncengin mbak Tiara aja biasa aja lho." kata Kenzo.


"Ya beda lah Ken. Mosok cewek boncengin cowok, ya lucu." kata Dzen.


Saat di perjalanan.


"Mas, ini kita kemana?" tanya Kenzo.


"Itu, bengkel mobil deket lampu merah yang arah ke masjid agung." kata Dzen.


"Owalah, bengkel Mobil barokah to mas?" tanya Kenzo.


"Ah, iya. Barokah." kata Dzen.


"Siap mas." jawab Kenzo.


"Eh Ken, ujian mu udah selesai belum?" tanya Dzen dalam perjalanan.


"Kamu ga berniat pulang ke solo?" tanya Dzen.


"Ya rencananya sih pulang mas, tapi Ken masih nunggu mbak Tiara dulu mas." kata Kenzo.


"Lho kenapa?" tanya Dzen.


"Wong ya biasanya kalo pulang ke Solo atau balik ke sini, Ken biasa nebeng mbak Tiara mas, pake motor ini." kata Kenzo.


"Owh, lah trus kapan rencananya?" tanya Dzen.


"Kemarin sih, mbak Tiara bilang, InshaaAllah kamis, pulang dari acara Kongres. Tapi ga tau juga, wong mbak Tiara itu orang sibuk. Ya liat aja nanti, ngajak nya kapan, Ken ngikut aja mas." kata Kenzo.


"Owh, gitu?" jawab Dzen.


Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di bengkel mobil tempat mobil Dzen di servis. Dzenpun mengambil mobilnya dan membayar jasa servisnya.


"Ken, makan siang belum?" tanya Dzen.


"Belum mas. Hehe." jawab Kenzo meringis kuda.


"Ya udah, makan dulu yuk. Di warung bakso itu aja gimana?" tanya Dzen sambil menunjuk sebuah kedai warung bakso di sebelah utara bengkel.


"Okey mas. Cocok." jawab Kenzo.


Merekapun menuju warung bakso dengan memesan porsi yang sama.

__ADS_1


"Ken, Tiara itu emang sering sibuk gitu ya?" tanya Dzen sambil menuangkan sambal ke dalam mangkuk baksonya.


"Ya gitu mas. Dari dulu mbak Tiara itu anteng kitiran." kata Kenzo.


"Apa katamu? Anteng kitiran? Apa tu?" tanya Dzen yang tak mengerti.


"Heleh, mas Dzen ini. Kitiran itu kalo kena angin, apa bisa diem mas?" tanya Kenzo.


Dzen tampak berfikir.


"Ya gitu, ga mau diem. Mbak Tiara itu udah sangat aktif sejak SMP mas, dia itu rajin ikut kegiatan sekolah gitu, terus suka ikut kegiatan di luar sekolahan juga. Selain itu, dia juga rajin mengikuti kegiatan di kampung, bahkan dia itu salah satu pengurus karangtaruna kok mas. Dan dia juga dari SMA sudah sering dapet job, nyambi cari uang gitu. Wis pokoknya kalo liat kegiatannya mbak Tiara itu, ga ada istirahatnya mas, capek." kata Kenzo menilai mbaknya sendiri.


Dzen hanya tersenyum mendengar ocehan sepupu Mutiara itu.


"Mas Dzen, kalau suka sama mbak Tiara, harus bisa sabar mas, karena mbak Tiara itu susah diem di rumah. Jarang buka HP juga." kata Kenzo sambil memasukkan bakso ke dalam mulutnya.


"Ehm, gitu? Ya bagus dong. Mumpung masih muda, ya dibanyakin berkegiatan positifnya, biar lebih bermanfaat. Kalo kata pak Ustadz, manfaatkan masa mudamu, sebelum tiba masa tuamu. Kalau udah tua kan, udah beda mau gerak. Ga se gesit waktu muda." kata Dzen memberi pendapat.


"Iya juga sih mas." kata Kenzo turut membenarkan.


Merekapun melanjutkan makan bakso dengan banyak bercerita, hingga tiba-tiba ponsel Kenzo berdering, sebuah panggilan masuk, dari ibunya di kampung.


📞Ibu


'Halo, Assalamualaikum Ken.' suara ibu Kenzo dari seberang.


"Wa'alaikumsalam. Bu, ada apa bu?" tanya Kenzo.


'Ken, ndang mulio yo le. Iki bapak mu kecelakaan. Iki dibawa ke rumah sakit.'


"Opo? Bapak kecelakaan bu? Lha keadaane gimana bu?" tanya Kenzo mulia cemas.


'Iki bapak kemungkinan bakal masuk ruang ICU Ken, kata dokter e.' kata ibu Kenzo dengan isak tangis.


"Ya bu, Kenzo segera balik Solo. Rumah sakit ngendi bu?" tanya Kenzo.


'Kustati Ken.' jawab ibu Kenzo.


"Ya bu, ibu tenang yo, Kenzo ndang nyusul. Kenzo tak pamitan sama mbak Tiara disik. Ibu tenang." kata Kenzo mencoba menenangkan ibunya.


'Yo Ken. Kowe ati-ati ning ndalan.' kata ibu Kenzo.


Kenzo yang panik, langsung menelpon Mutiara, namun tak diangkat angkat.


"Walah, mbak Tiara ki, pasti lagi sibuk. Telpon ku ga diangkat angkat dari tadi " omel Kenzo.


"Sabar, Ken. Kalau kamu mau pulang, segera pulang aja. Nanti urusan Tiara, biar saya yang urus." kata Dzen menenangkan.


"Beneran mas? Gapapa?" tanya Kenzo.


"Iya, udah. Segera susul ibumu, pasti beliau cemas di sana. Ibumu sendiri Ken?" tanya Dzen.


"Koyone mas. Soalnya kedua kakakku di luar kota semua mas. Ikut suaminya." kata Kenzo.


"Ya udah, sana. Hati-hati, ga usah ngebut. Tenang." kaya Dzen menasehati.


"Ya mas. Terimakasih atas traktirannya mas." kata Kenzo berpamitan.


"Iya. Sama-sama. Salam aja buat ibu di Solo, semoga bapak segera membaik." kaga Dzen.

__ADS_1


"Aamiin." jawab Kenzo sambil naik motor dan mengenakan helmnya.


Kenzopun segera melaju, mengendarai motor Mutiara untuk segera pulang ke Solo.


__ADS_2