Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Teman Devisi


__ADS_3

Sesampainya di kosan, Mutiara membuka ponselnya, sebelum dia packing barang yang akan dibawa ke kampus untuk acara kongres mahasiswa.


📩Mas Salah Sambung


Assalamualaikum Tiara. Selamat pagi. Nanti masuk kuliah jam berapa?


Mutiara langsung membalas pesan itu.


📨Mas Salah Sambung


Wa'alaikumsalam mas Dzen. Kalau kuliah, alhamdulillah Tiara udah selesai ujian mas, jadi ga kuliah. Tapi ini mau ke kampus, ada acara kongres mahasiswa. kenapa mas?


📩Mas Salah Sambung


Oh, aku jemput ya. Sekalian mau berangkat ke rumah sakit. Berangkat jam berapa?


📨Mas Salah Sambung


Jam 7.30


📩Mas Salah Sambung


Ok


Setelah mengirim pesan itu, Mutiara segera mandi dan bersiap-siap untuk kegiatan kongres, mulai dari pakaian ganti, alat mandi, dan beberapa berkas yang harus disiapkan, serta leptop tentunya. Setelah itu, Mutiara beramitan pada bu kos, bahwa dirinya akan menginap di kampus sekitar tiga hari dua malam.


"Lah, motormu mana Tiara?" tanya bu Sri saat turut serta mengantar Mutiara sampai di teras.


"Dibawa mas Dzen bu. Kemarin mobilnya mas Dzen kan mogok, ini masih di bengkel." jawab Mutiara.


"Duh, duh. Kalian ini, so sweet sekali. Ibu jadi keinget masa muda ibu dulu, punya temen cowok juga, suka antar jemput gitu, enak lho Ra, berasa lebih nyaman gitu, lebih tenang." kata bu Sri.


"Ah, ibu ini. Apaan sih? Tiara sama mas Dzen cuma temenan kok bu. Kebetulan juga ini mas Dzen masu sekalian berangkat ke rumah sakit." kata Mutiara.


"Lha wong mas Dokternya aja kaya ngasih sinyal perhatian gitu kok, Ra, kamu tu ga peka." komentar bu Sri lagi sambil berjalan ke taman, mengambil selang untuk menyiram tanaman hiasnya.


Mutiara hanya tersenyum saja menanggapi perkataan ibu paruh baya itu. Lalu terdengar suara motornya tiba di depan gerbang kosan nya.


"Assalamualaikum. Maaf, nunggu lama Tiara?" tanya Dzen.


"Wa'alaikumsalam. Engga kok mas." jawab Mutiara.


"Ya lumayan mas Dokter, tadi sempet ngobrol dulu." kata bu Sri tergopoh gopoh mendekati Dokter muda itu.


"Mas dokter, ga mampir dulu?" tanya bu Sri.


"Tidak bu, terimakasih. Ini nganter Tiara, takut telat bu. Lagipula saya juga harus segera ke rumah sakit bu." jawab Dzen sopan.


"Oh, ya mas. Hati-hati ya mas. Nitip nduk Tiara. Ini anak Ibu yang paling baik, santun, Sholihah, the bes pokoke mas." kata bu Sri mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


"Hahaha, iya bu. Pasti." jawab Dzen tertawa melihat tingkah ibu kosnya Mutiara yang lucu.


"Ya sudah bu, Tiara pamit dulu ya bu." kata Mutiara sambil mau naik boncengan dengan menggendong tas ransel dan tas leptop.


"Iya Tiara." jawab bu Sri.


"Tiara, itu tasmu satu biasa saya bawa aja sini." kata Dzen menawarkan diri untuk membantu.


"Ga usah mas, gini aja." jawab Mutiara.


"Ehm, ya udah, ini tolong tas saya kamu bawain, dan sini, ransel kamu yang gede, biar di bawah sini." kata Dzen memberi solusi.


"Oh, ya mas." kata Mutiara sambil melepas ransel depan yang berisi pakaian. Sedangkan ransel berisi leptop tetap di gendongnya.


Mutiara dan Dzenpun berpamitan pada bu Sri, dan Dzen membunyikan klakson tanda pamit.


"Tiara, sudah sarapan belum?" tanya Dzen.


"Sudah mas." jawab Mutiara.


"Oh, ya sudah. Berarti ini langsung ke kampus aja ya?" tanya Dzen.


"Iya mas." jawab Mutiara.


"Oya, kabarnya dari bengkel, kemungkinan mobilku jadinya kalo ga nanti sore ya besok pagi, Ra. Nanti gimana? Motornya saya anter ke kosan apa ke kampus?" tanya Dzen.


"Oh, gitu? Okey." jawab Dzen.


"Soalnya nanti saya tiga hari full di kampus mas, daripada motornya nganggur ga dipak, biar dipake Kenzo aja. Lebih manfaat." kata Mutiara.


"Oh, iya juga sih." komentar Dzen.


Sesampainya di kampus,


"Aku anter ya Ra, bawaan kamu kaya banyak gitu." kata Dzen menawarkan diri.


"Ga usah mas. Makasih, sampe sini aja. Lagian cuma bawa dua tas ini aja kok." kata Mutiara.


"Beneran nih, gapapa?" tanya Dzen.


"Iya mas, makasih malah, udah dianterin sampe depan gedungnya." kata Mutiara.


"Okey, jaga diri baik baik ya. Jangan lupa istirahat cukup dan makan. Jangan terlalu capek." pesan Dzen dengan penuh perhatian.


"Ya pak Dokter..." jawab Mutiara dengan senyum gelinya.


"Ih, kenapa senyumnya kaya begitu coba?" tanya Dzen heran.


"Ya abis, mas Dzen tu lucu, kaya ngasih pesen sama anak kecil aja." kata Mutiara.

__ADS_1


"Hehehe, ya kan, saya ga mau kamu sampe sakit lagi kaya kemarin." kata Dzen membela diri.


"Okey mas, InshaaAllah." jawab Mutiara.


"Ya udah. Good luck ya." kata Dzen.


"Ya mas. Hati-hati, ga usah gebut mas." kata Mutiara.


"Siap." jawab Dzen.


Dzenpun melaju bersama motor matic putihnyaMutiara, dengan penuh senyuman Dzen melaju menuju rumah sakit, tempatnya bekerja.


Sedangkan Mutiara masih tampak melepas kepergian Dzen, hingga tak terlihat lagi punggungnya,


"Ehem." deheman seseorang telah berhasil mengagetkan Mutiara.


"Astaghfirullah. Mbak. Mey, ngagetin aja." spontan Mutiara memegang dadanya.


"Cie... Siapa tuh?" tanya Meylani kakak tingkat Mutiara yang kebetulan dalam acara ini, menjadi koordinator devisinya Mutiara, yaitu Sie acara.


"Temen mbak." jawab Mutiara berusaha bersikap biasa.


"Temen apa temen?" tanya Meylani lagi.


"Temen mbak." jawab Mutiara meyakinkan.


"Itu tadi, kaya motor kamu kan Ra?" tanya Meylani.


"Iya mbak." jawab Mutiara.


"Kok, dibawa dia?" tanya Meylani.


"Ya kan kita nginep mbak, daripada motornya nganggur. Lagipula mobilnya dia lagi mogok mbak, jadi tadi make motorku dulu buat berangkat kerja." kata Mutiara.


"Oh. gitu? Tapi, tu cowok, bening juga, Ra. Emang kerja dimana?" tanya Meylani.


"Hahaha, mbak Mey nih, ada ada aja, kaya kaca aja bening. Beliau dokter mbak. di RSUD." jawab Mutiara.


"Owh. Pantesan, beruntung banget kamu Ra, deket sama dokter ganteng begitu. Misal jadi pacar, atau suami, cocok banget Ra sama kamu. Hehehe." kata Meylani.


"Ih, apaan sih mbak. Udah ah. Ayo masuk mbak. Udah dari tadi mbak Mey?" tanya Mutiara.


"Engga kok, baru nyampe juga, mau masuk, liat kamu disini, ya udah, bareng aja." kata Meylani.


"Ya, daripada kamu masuk sendiri, Ra, jaga jaga aja, kalo disana baru ada si Riko sama Fathan, kamu bisa jadi canggung nantinya." kata Meylani selaku anak BEM, selain anak BEM, Meylani juga berbeda akidah dengan Mutiara, tetapi Meylani memiliki sifat yang ramah dan supel. Dia tidak terlalu mempermasalahkan kepercayaan sebagai tembok sebuah pertemanan. Sehingga Mutiara merasa nyaman satu devisi dengan Meylani.


"Oh, iya mbak." kata Mutiara.


Merekapun masuk ke gedung tempat mereka melaksanakan kegiatan Kongres Mahasiswa. Namun, sebelum masuk ruangan kongres, Mutiara dan Meylani masuk ke ruangan istirahat bagian putri untuk meletakkan tas bawaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2