Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Duka Bahagia


__ADS_3

Dzen segera mendekati mertuanya. Di pegang nya pergelangan tangan pak Bowo, di cek nya bagian nadi, kemudian dia beralih ke leher, ke hidung. Lalu Dzen menggeleng, dan diapun memeluk tubuh renta pak Bowo dengan mata berkaca, tanpa berucap apapun.


"Dzen... apa maksudmu?" tanya bu Hindun.


"Ga, ga mungkin. Bapak...." tangis bu Hindun benar-benar pecah, dan memeluk tubuh suaminya.


Mutiara yang sejak tadi berdiri dimulut pintu, sambil menggendong baby Az, langsung terduduk lemas dengan masih menggendong baby nya. Air matanya tak dapat dibendung. Apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Mutiara sambil memeluk putrinya.


Dzen segera mengambil stetoskopnya ke kamarnya, lalu diperiksanya keadaan pak Bowo dengan stetoskopnya, dan benar adanya, pak Bowo benar-benar sudah tiada.


💞💞💞


Pagi itu rumah Pak Bowo ramai oleh sanak saudara dan tetangganya juga berkunjung ke rumah itu untuk takziah. Kedua kakak Mutiara yang Berada di luar jawa sudah mengabarkan bahwa mereka belum bis pulang, mereka tak ingin jenazah pak Bowo terlalu lama dirumah, sehingga mereka mengijinkan jasad pak Bowo segera dikebumikan.


Mutiara yang baru saja melahirkan terus menangis di kamarnya sambil terus memeluk baby Az. Bu Hindun terus menangis di dekat jasad pak Bowo, sedangkan Dzen yang mau tidak mau mengurus semuanya dengan dibantu tim pengurusan jenazah. Pak Panca beserta bu Lastri sudah tiba juga dari Makassar. Begitupun dengan sahabat Mutiara dan keluarga Zio serta keluarga Yusuf tentunya, Mereka turut serta takziah.


Di kamar, bu Lastri mengambil alih untuk menggendong Baby Az, karena melihat psikologis Mutiara yang sedang berduka. Mila senantiasa di samping Mutiara dan mencoba untuk menengakannya.


Hingga jenazah pak Bowo diangkat, Melati dan Bu Hindun masih syok hingga akhirnya mereka berdua pingsan. Melati segera ditangani Mila, sedangkan bu Hindun ditangani bunda nya Yusuf.


Dzen dibantu Yusuf, Mail dan Kenzo, mengangkat keranda itu untuk dibawa ke pemakaman. Dan banyak jamaah masjid yang juga ingin membantu Dzen mengantarkan jenazah ke tempat istirahat yang terakhir.


Sekembalinya orang-orang dari makam, mereka membersihkan diri, dan berkumpul di ruang tengah. Mutiara masih di kamar nya bersama baby Az, bu Lastri dan Mila.


"Yang sabar ya Ra." kata Mila.


"Makasih ya Mil, oya Mil, Nadia mana? Dari tadi aku ga liat dia ya?" tanya Mutiara.


"Iya Ra. InshaaAllah nanti nyusul katanya. Ini dia lagi ada jadwal bimbingan soalnya." kata Mila.

__ADS_1


"Terus. kamu tadi ke sini sama siapa Mil? Sendiri?" tanya Mutiara


"Engga kok. Aku tadi bareng..." kata Mila ragu untuk menjawabnya.


"Bareng siapa?" tanya Mutiara.


"Kak Yusuf." jawab Mila sambil menunduk malu.


"Kak Yusuf? Kok bisa sih?" tanya Mutiara heran, karena setau Mutiara, hubungan Mila sama Yusuf memang agak jauh, karena mereka bukan teman dekat.


"Ya bisa." jawab Mila sambil merogoh tas nya.


"Ini jawabannya." kata Mila menyerahkan sebuah kertas berwarna. Ternyata itu sebuah undangan pernikahan. Mila dan Yusuf.


"Kamu? Ih. kapan kalian tunangan, kok aku ga tau sih?" tanya Mutiara protes.


"Maaf, waktu itu, aku ga ngundang kamu Ra, soalnya pas itu. kamu lagi teler telernya. Aku kasihan kalo mau aku undang." kata Mila.


"Tapi... bulik juga ga cerita sama ibuku?" protes Mutiara.


"Alhamdulillah, akhirnya berkurang juga temen aki yang jomblo. Semoga dilancarin sampe hari H ya." kata Mutiara.


"Kamu bisa dateng kan Ra?" tanya Mila.


"Abis lebaran ya? InshaaAllah bisa Mil." kata Mutiara.


"Kalo Nadia? Masih sama kang Fahri?" tanya Mutiara.


"Masih. InshaaAllah abis aku, dia Ra. Katanya sih, sekitar satu bulan lagi Ra." kata Mila.


"Cakep bener... udah pada dilancarin aja terkait jodohnya." kata Mutiara.

__ADS_1


"Iya Ra, alhamdulillah. Kita juga ga nyangka, apalagi aku. Bisa sama kak Yusuf." kata Mila.


"Eh, iya, kok bisaa sih Mil kamu sama kak Yusuf. gimana ceritanya?" tanya Mutiara.


Milapun menceritakan awal mula pertemuan dia dan Yusuf di rumah Mutiara saat Mutiara akan dikhitbah Dzen waktu itu. Tepatnya di hari Mutiara syukuran kelulusan . Rasa itu mulai muncul, dan Milapun justru yang memulai menunjukkan perasaan nya pada Yusuf, ketika di hari pernikahan Mutiara dan Dzen. Setelah itu, Yusuf benar-benar datang kerumah untuk menindaklanjuti kata-kata Mila.


Saat sedang asyik bercakap dengan Mila, tiba-tiba Dzen mengetuk pintu kamarnya.


"Assalamualaikum. Sayang." salam Dzen.


"Eh. mas...Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.


"Ada yang pingin lihat baby Az sayang." kata Dzen, kemudian masuklah Shanum bersama baby Zi dan diikuti oleh Zio Nilam dan bu Suyamti dibelakangnya.


"Oh. yaa Allah, mbak Shanum, sini mbak, Pak, bu masuk masuk." kata Mutiara berbahagia.


Bu Lastri mempersilakan tamunya untuk masuk kamar Mutiara dan menyiapkan tempat untuk mereka.


"Boleh saya menggendongnya bu?" tanya bu Suyamti kepada bu Lastri.


"Boleh bu, silakan." kata bu Lastri menyerahkan baby Az pada bu Suyamti.


"Subhanallah, ganteng sekali. Namanya siapa Tiara?" tanya bu Suyamti.


"Abdul 'Aziz Al Ghifari bu." jawab Mutiara


"Hebat sekali. namanya bagus." kata kata bu Suyamti.


"Wah, hampir sama ya Namanya sama Zizah. Bisa jadi kaya anak kembar dong Ra anak kita nanti?" komentar Shanum.


"Oh iya ya mbak, Tiara malah baru sadar." kata Mutiara.

__ADS_1


"Azizah dan Aziz, mereka anak anak kuat. Semoga Allah ijabah do'a orang tuanya." kata bu Suyamti.


"Aamiin." jawab semuanya.


__ADS_2