Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Sore harinya, Mutiara diajak Dzen pulang ke apartemennya di Semarang. Mereka berpamitan kepada keluarga di Solo. Sepanjang perjalanan, Dzen tak pernah melepas genggamannya dari tangan Mutiara, sehingga dia harus menyetir hanya dengan sa tu tangan saja. Ya, Dzen sudah di mabuk asmara oleh istrinya itu. Dan sesekali Dzen menatap istrinya, untuk melepas rasa rindu, meski mereka sedang bersama. Pun dengan Mutiara yang juga tak menolak apapun yang dilakukan suaminya, karena itu adalah hak suaminya, dan menjadi kewajibannya, dan dalam benak nya, adalah pahala bagi sepasang suami istri yang saling mencurahkan kasih sayangnya.


Sesampainya di apartemen, Mutiara yang merasa ingin buang air kecil, langsung pergi menuju toilet, sebelum dia merapikan pakaian dari dalam kopernya.


Sedangkan Dzen, yang sudah merasa tinggal dirumahnya sendiri, merasa leluasa untuk melakukan apapun, termasuk melakukan hal yang sudah sangat dia rindukan sejak tadi pagi, yaitu mencumbu istrinya dan menumpahkan semua hasratnya.


Saat Dzen sedang berbaring di kasur nya, dengan senyum-senyum membayangkan kejadian malam pertamanya di hotel tadi malam, tiba-tiba Mutiara memanggil nya dari dalam toilet.


"Mas..." panggil Mutiara dengan setengah berteriak.


"Ya? Ada apa sayang?" tanya Dzen yang segera bangkit dari kasur dan berjalan menuju toilet.


Pintu toilet sedikit dibuka oleh Mutiara.


"Mas, ehm... deket sini, ada mini market, atau warung toko kelontong gitu ga?" tanya Mutiara.


"Ada, kenapa emangnya? Tiara butuh sesuatu? Biar mas belikan." kata Dzen.


"Ehm... Tapi... "


"Gapapa, bilang aja sayangku." kata Dzen.


"Tiara kedatangan tamu mas." kata Mutiara sambil meringis.


"Ha? Tamu? Ya ampun, mas kirain apa. Dia udah di baseman, atau di lobi? Biar mas jemput." kata Dzen hendak beranjak pergi.


"Bukan... bukan itu." kata Mutiara.


"Lha, terus?" tanya Dzen heran.


"Tamu tak di undang mas..."


"Maksudnya?" Dzen masih tak mengerti, dahinya mengernyit.


"Ehm... Tiara... Tiara haid mas." kata Mutiara malu-malu.


Seketika wajah Dzen berubah, pucat pasi. Ya, berapa tidak, sedari tadi dia menunggu istrinya, karena dia sudah ingin mengajak Mutiara berolahraga diatas kasur, justru ini malah harus libu.


"Astaga..." kata Dzen spontan sambil menepuk keningnya.


"Ehm. Ya, mau gimana lagi? Ini fitrah mas. Ga bisa ditawar." kata Mutiara nyengir masih dengan posisi bersembunyi di balik pintu toilet.


"Terus, maksud Tiara nanya mini market kenapa?" tanya Dzen yang masih belum paham.


"Tiara lupa ga bawa pembalut mas, jadi ini Tiara ga ada pembalut, misal tolong beliin pembalut dulu gitu... gimana mas?" tanya Mutiara ragu-ragu.


"Ha? Pembalut?" tanya Dzen terkejut.

__ADS_1


"Ehm, maaf Kalau ga bisa, gapapa kok mas. Tiara beli sendiri aja." kata Mutiara sambil kembali menutup pintu nya, untuk berganti pakaiannya yang tidak kena noda darah.


"Eh. engga, bukan, bukan gitu maksud mas. Iya, mas beliin, kamu tetap di sini ya. Mas beliin, ga akan lama kok. Tahan ya, sabar." kata Dzen panik. Diapun segera mencari dompetnya, dan mengambil kunci apartemennya. Lalu Dzen segera bergegas pergi ke mini market yang berada tak jauh dari apartemennya.


Sesampainya di minimarket, Dzen mau tanya petugas, malu, sehingga Dzen berusaha mencari sendiri pembalut untuk istrinya. Ternyata di sana ada banyak merk, dan ukuran. Karena tidak mengeri, Dzen memilih pembalut yang harganya paling tinggi, dalam benaknya, harga mahal, pasti kualitasnya bagus, diapun mengambil satu box, yang berisi sekitar 10 biji. Kemudian dia ke kasir, mbak kasirpun bertanya.


"Buat adik apa istri ini dok?" tanya kasir.


" Istri." jawab Dzen singkat.


"Oh. Dokter Dzen sudah menikah kok ya." tanya petugas kasir yang sudah berlangganan dengan Dzen.


"Iya." jawab Dzen singkat dan berlalu begitu saja.


Setelah selesai membayar. Dzen segera kembali kr rumahnya.


"Assalamualaikum." sapa Dzen sambil membuka pintu. Lalu Dzen masuk ke kamarnya. dan kembali mengucap salam.


"Assalamualaikum." salam Dzen sekali lagi, saat memasuki kamarnya.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara yang menunggu suaminya di balkon.


"Sayang. Ini bukan yang dimaksud?" tanya Dzen yang masih ragu dengan hasil pencariannya.


"Iya mas." jawab Mutiara saat melihat kemasan pembalut yang di perlihatkan Dzen, lalu segera Mutiara ambil.


"Mas..."


"Ya sayang?"


"Terimakasih banyak ya, sudah repot-repot beliin pembalut buat Tiara, maaf, mungkin hal ini membuat mas malu." kata Mutiara tersipu.


"Apapun akan mas lakukan dengan orang yang mas sayang." kata Dzen menatap Mutiara lembut. Dan Mutiara lagi-lagi tersipu malu.


"Ehm, betewe, itu nanti berapa lama sayang?" tanya Dzen yang sudah duduk mepet dengan istrinya, sambil mengelus rambut Mutiara yang dikunsir, dan menikmati aroma bau rambut Mutiara dengan penuh cinta.


"Apanya mas?"


"Tamu nya lah."


"Oh, Kurang lebih, seminggu mas." jawab Mutiara.


"What? Seminggu?" tanya Dzen terkejut.


"Iya, kenapa mas?" tanya Mutiara heran.


Dzen menelan salivanya kasar, dengan wajah frustasinya.

__ADS_1


"Lama bener." jawab Dzen cemberut sambil menjatuhkan tubuhnya di kasur.


"Ya memang siklusnya begitu mas." jawab Mutiara.


"Sakit ya?" tanya Dzen kembali duduk dan menatap lembut istrinya, memberikan rasa empati. Dan segera Mutiara menggeleng.


"Lho? Engga sakit? kan keluar darah, kok ga sakit?" tanya Dzen heran lagi.


"Ya. memang tidak sakit mas. Tapi ada yg sakit juga memang, cuma kalo Tiara, alhamdulillah sejak dulu ga pernah ngerasain sakit sih mas." kata Mutiara.


"Oh, gitu?"


"Mas." panggil Mutiara.


"Ya?"


"Emang tadi mas ga malu ya? Beli pembalut?" tanya Mutiara.


"Ya, gimana ya? Sempet ragu jiga sih tadi." kata Dzen sambil memainkan rambut Mutiara.


"Terus?"


"Ya gapapa. Pikir mas, yang penting sayangku ga jalan sambil kesakitan." jawab Dzen.


"Ehm... sayang."


"Ya?"


"Boleh nyium kan?" tanya Dzen yang benar-benar tak sabar ingin memeluk istrinya.


"Ehm..." jawab Mutiara sambil mengangguk.


"Mas baru nyobain sekali, kenapa malah libur?"Kata Dzen masih cemberut.


"Fitrah mas..."


"Menunggu dua tahun saja mas betah lho, kenapa menunggu satu minggu mas cemberut?" tanya Mutiara.


"Ya kan beda sayang. Karena kemarin mas udah ngerasain, dan bikin ketagihan. Ini mas masih pingin." kata Dzen.


"Ya, ditahan dong mas. Sabar." kata Mutiara.


"Hhhh." Dzen membuang nafasnya lesu.


Mutiara hanya tersenyum menanggapi sikap suaminya yang cemberut karena harus menahan rasa yang sudah hampir memuncak. Sebenarnya Mutiara kasihan, tetapi mau bagaimana lagi, dirinya masih kotor. Namun, meski begitu, Mutiara justru bersyukur, karena area sensitifnya masih terasa sakit karena ulah suaminya semalam. Dengan adanya tamu tak diundang ini, akhirnya Mutiara bisa istirahat sejenak.


Mutiara membayangkan cinta pertamanya semalam, dengan kado yang dia buka dari Nadia. Lingerie dari Nadia memang telah menemani malam pertamanya yang panas.

__ADS_1


Mutiarapun kemudian menyibukkan dirinya dengan beres-beres pakaian dari dalam tas untuk dipindah ke lemari. Sedangkan Dzen sudah terlelap dalam mimpinya.


__ADS_2