Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Tengah Malam


__ADS_3

Semenjak kejadian itu, hubungan Mutiara dan Dzen semakin terarah, mereka mendapatkan restu dari orang tua mereka. Namun, meski begitu, batasan tetap berlaku bagi Mutiara yang tidak boleh dilanggar oleh Dzen, jika Dzen masih ingin melanjutkan hubungan mereka. Mutiara menjaga jarak dengan Dzen, mereka sudah jarang bertatap muka. Mereka hanya saling berkirim pesan, dan jarang telponan. Mutiara juga sudah mulai sibuk dengan aktivitas kampusnya, seperti KKN, dan PPL, hingga akhirnya Mutiara sudah mengajukan proposal Skripsi dengan tempat penelitian di sekolah tempat Shanum mengajar.


Suatu malam, Mutiara yang masih sibuk berkutat dengan skripsi nya, setelah sesore tadi berkutat dengan tugas yang harus dipersentasikan besok siang, tiba-tiba leptopnya error. Dan Mutiara benar-benar kalut malam itu, karena harusnya deadline selesai malam ini, agar besok pagi sudah bisa diprint dan di ajukan pada dosen pembimbing. Sedangkan PPT yang harus dia persentasikan besok juga belum beres 100%, sehingga pikirannya sangat kacau malam itu.


"Astagfirullahal'adzim. Subhanallah, gimana ini? Leptopku nge Hank lagi. Masa' harus minjem temen satu kos? Jam segini pasti udah pada tidur. Ehm, coba deh telpon Nadia apa Mila. Kali aja leptopnya bisa aku pinjem." kata Mutiara berusaha tetap tenang.


Saat melihat chat nya dengan Nadia, terakhir dilihat jam delapan malam, sudah pasti Nadia sudah tidur di jam segini. Lalu, Mutiara mencoba menghubungi Mila, namun hasilnya sama dengan Nadia.


"Aah, Ken. Coba deh." kata Mutiara sambil memencet tombol telpon.


Ternyata, nomer Kenzo juga tidak aktif.


"Astagfirullah. Terus aku harus nyerah gitu aja nih? Ah, engga engga. Pokoknya besok pagi harus selesai. Tapi, minjem letop siapa coba?" kata Mutiara gusar.


"Mas Dzen. Ah, ya. Mas Dzen. Coba deh." kata Mutiara yang langsung melihat chatnya dengan Dzen. Dan, tepat sekali, Dzen sedang online.


📞Mas Dzen


"Halo, assalamualaikum mas Dzen."


'Wa'alaikumsalam Tiara. Ya Ra, Ada apa Ra? Kok tumben malem malem telpon mas? Ada masalah? Atau karena kangen?' goda Dzen.


"Ish, mas Dzen ini. Ga lucu."


'Okey, okey. Ada apa Tiara?'


"Mas, Maaf, Tiara ganggu malem malem gini. Mas Dzen udah tidur ya?"


'Belum kok. Kenapa?'


"Ehm, mas. Ini... Tiara kan lagi ngelembur buat persiapan bimbingan skripsi besok, tapi tau tau ini leptop Tiara nge Hank mas. Ehm, mas Dzen bisa bantu ga?" tanya Mutiara ragu.


'Ngadatnya gimana?'


"Tau tau not responding semua mas. Terus ga bisa dimatiin juga ini. Jadi panas ini leptop nya mas." kata Mutiara menjelaskan.


'Oh. ya. Tentang dulu ya, tenang. Ehm, ya udah, ini mas langsung otw ke kosan Tiara, mas bawain leptop mas ya. Kamu bisa pake leptop mas dulu, nanti leptopmu mas bawa biar mas masukin tempat servis.' kata Dzen.


"Ya mas. Tiara tunggu."


'Okey. otw.'


Sambungan terputus. Dzen langsung melaju dari apartemennya menuju kosan Mutiara. Sesampainya di depan gerbang, Dzen miscall Mutiara. Mutiarapun segera keluar kamarnya dan menemui Dzen di depan.


"Assalamualaikum mas." salam Mutiara.

__ADS_1


"Eh, wa'alaikumsalam Tiara." jawab Dzen.


"Kamu ngelembur Ra?" tanya Dzen.


"Iya mas. Soalnya besok mau bimbingan pagi-pagi." jawab Mutiara.


"Jangan capek capek Ra. Nanti sakit lho." kata Dzen memperingati.


"InshaaAllah engga mas." jawab Mutiara santai.


"Ya udah, mas cuma ngingetin sih." kata Dzen pasrah.


"Kan ada dokter Dzen, kalau Tiara sakit." kata Mutiara sambil menunduk.


"Eh, sekarang udah pinter ngeles ya." kata Dzen tersenyum senang.


Mutiara hanya tersenyum.


"Ehm, itu leptopnya jadi dipenjemin ga mas?" tanya Mutiara.


"Oh iya. Lupa. Ya jadi lah. Ini." kata Dzen menyerahkan leptopnya kepada Mutiara.


"Terimakasih banyak ya mas. Maaf lho, Tiara ngerepotin mas Dzen. Ganggu istirahat nya mas Dzen." kata Mutiara sungkan.


"Santai aja." jawab Dzen.


"Ini mas." kata Mutiara sambil menyerahkan leptopnya kepada Dzen.


"Perlu bantuan Atau ditemani untuk ngelembur?" tanya Dzen.


"Engga mas, ga usah. InshaaAllah bisa sendiri." kata Mutiara.


"Yakin?"


"Yakin mas. Ya udah, udah malem banget mas, maaf, mas Dzen langsung pulang aja ya." kata Mutiara.


"Sebenarnya sih, masih pingin disini, tapi... ah, pasti bakal dapet skors lagi dari bu guru." kata Dzen berlagak kecewa.


"Ish, apaan sih mas Dzen ini. Udah malem mas, ga usah gitu lah." kata Mutiara bersungut.


"Iya iya bu guru. Siap. Pak dokter pakmit undur diri ya." kata Dzen berpamitan.


"Ya mas. Hati-hati ya mas. Banyak kejahatan di tengah malam begini, mas Dzen waspada ya." kata Mutiara khawatir.


"Iya Tiara, santai aja okey? Mas ga akan kenapa-napa kok. Yang penting Tiara selalu do'ain mas ya." kata Dzen yang selalu berhasil membuat dada Mutiara berdesir, merasakan aliran darah yang begitu cepat dengan jantung yang berdetak tak beraturan.

__ADS_1


"Iya. InshaaAllah. Sekali lagi, makasih ya mas." kata Mutiara.


"Okey. Selamat ngelembur. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara sambil tersenyum bahagia memeluk leptop milik Dzen.


Namun, saat Mutiara akan masuk kamar, tiba-tiba Dzen kembali dengan membawa seorang perempuan, yang ternyata teman satu kos nya Mutiara.


"Ra, Tiara. Tolongin mas Ra." teriak Dzen dari luar pagar.


Seketika Mutiara berbalik badan dan melihat sosok perempuan yang tak asing baginya.


"Ya Allah, mbak Silvi." sontak Mutiara langsung ikut membantu Dzen memapah Silvia, teman satu kosnya.


"Mas, Tiara ga kuat bawa mbak Silvi masuk sendirian, bisa minta tolong bantu Tiara ga?" kata Mutiara yang ternyata Dzen sudah melepaskan tangannya dari tubuh Silvia.


"Tapi..."


"Gapapa mas, nanti Tiara biar bilang sama bu Sri." kata Mutiara menahan berat dan bau mulut Silvia yang abis mabuk berat.


"Okey." jawab Dzen yang kemudian membantu Mutiara memapah Silvia masuk ke kamarnya. Mutiara segera mencari kunci kamar Silvia di tasnya, lalu dibukanya pintu kamar itu.


Dzen dan Mutiara meletakkan tubuh Silvia di kasur nya. Dzen menundukkan pandangannya, sama sekali tidak melihat tubuh gadis yang sedang mabuk berat itu, dengan pakaiannya yang sangat seksi. Tadi saat memapah Silvia, awalnya memang Dzen ragu, tetapi dia tidak tega melihat Silvia tergeletak tak berdaya di jalan.


"Mas Dzen nemuin mbak Silvi dimana mas?" tanya Mutiara.


"Deket kosan. Dia tergeletak tak berdaya, kayaknya dia kebanyakan minum alkohol." kata Dzen.


"Astagfirullah. Mbak Silvi."


"Dia sering pulang malem dalam keadaan begini Ra?" tanya Dzen.


"Tiada malah ga tau mas. Yang jelas sih, sering keluar malam aja mbak Silvi ini mas." kata Mutiara.


"Oh, gitu? Ya udah, kamu lepasin sepatunya, kamu baluri minyak dibagian dada dan lehernya ya Ra. Biar ga berlanjut sakit." kata Dzen yang sudah pernah menangani orang seperti itu.


"Oh, iya mas."


"Mas pulang dulu." kata Dzen.


"Ya mas, sekali lagi, terimakasih banyak ya mas." kata Mutiara.


"Sama-sama Tiara." jawab Dzen tersenyum ke arah gadisnya, dan gadis itu menunduk malu.


"Bisa anterin mas ke depan dulu? Itu pintu gerbang belum di kunci, leptop juga masih di luar semua." kata Dzen.

__ADS_1


"Oh, iya mas. Siap." jawab Mutiara.


Kemudian Mutiara mengantarkan Dzen sampai ke depan gerbang. Merekapun berpisah.


__ADS_2