
Senja itu, Yusuf diajak pak Bowo ke masjid, untuk menunaikan ibadah sholat mgahrib. Setelah sholat dan berdzikir, pak Bowo sudah keluar masjid dan melihat Kenzo yang juga ke masjid.
"Ken." panggil pak Bowo.
"Eh, ya Pakde?" kata Kenzo.
"Kamu nanti ada acara keluar tidak?"
"InshaaAllah nanti ba'da isya' sih, Ken ada tamu, teman sekolah pakde, katanya mau main ke rumah. Ada apa pakde?"
"Gapapa. Ini, tadi kan ada teman Tiara, yang ternyata ibunya masih sodara sama budemu. Ya, kalau nanti temannya Tiara ini kurang nyaman bermalam di rumah pakde, karena ada gadisnya kan, misal dia tidur di rumah mu gimana? Soalnya dia laki-laki yang sangat menjaga." kata pak Bowo.
"Oh, ya gapapa pakde. Mas Yusuf to pakde?" tanya Kenzo.
"Kamu mengenalnya?" tanya pak Bowo.
"Kenal ya sekedar kenal Sih pakde, tadi pas sholat, Ken ketemu sama dia."
"Ya wis, kalau boleh, nanti pakde bilang sama nak Yusuf."
"Nggih pakde." jawab Kenzo.
"Ya sudah, kalau mau pulang, pulanglah. Pakde masih menunggu nak Yusuf." kata pak Bowo.
"Siap pakde. Ken permisi dulu pakde, Assalamualaikum." kata Kenzo sambil mencium punggung tangan pak de nya sopan.
Sedangkan di dalam masjid, Yusuf masih khusyuk dengan do'a panjangnya, dan mengadukan semua rasa kepada sang pemilik rasa.
"Yaa Allah...kenapa harus begini ceritanya? Aku sangat mencintai Mutiara, tetapi kenapa justru dia adalah saudaraku? Kenapa dia justru sebagai mbakku? Apa maksud dari semua ini yaa Allah?" adu Yusuf pada sang pemilik Hati dengan linangan air mata.
"Yaa Allah, jika memang begini jalan ceritanya, aku hanya hambamu yang hina. Aku bisa apa? Jodoh memang engkau yang mengaturnya, tetapi kenapa disaat aku merasakan jatuh cinta, justru harus kandas karena sebuah ikatan keluarga? Kenapa yaa Allah. Aku mohon. kuatkan hati ini, agar aku bisa menerima kenyataan ini. Berikan aku kesabaran, agar aku masih setia menanti jodohku yang sebenarnya." kata Yusuf lagi.
Setelah dirasa cukup dengan beban dihatinya, Yusuf menyelesaikan do'anya dan dia tutup dengan Ummul kitab alfatihah. Lalu Yusuf beranjak dari duduknya dan keluar dari masjid, di mengira pakdenya sudah lebih dulu pulang, ternyata tidak. Pak Bowo masih setia menanti di teras.
"Assalamualaikum pakde." salam Yusuf sambil mencium punggung tangan pak Bowo.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam nak Yusuf. Sudah do'anya?"
"Sudah pakde?"
"MaasyaaAllah, pakde bangga sama kamu nak. Jaman sekarang masih ada anak muda yang ketika patah hati, mengadukan pada robbnya." kata pak Bowo sambil menepuk pundak Yusuf, dan Yusuf tercengang.
"Ma maksud pakde?" tanya Yusuf gugup.
"Pakde tau, maksudmu datang ke rumah Tiara itu untuk apa. Tak lain dan tak bukan, jika seorang perjaka, datang ke rumah seorang gadis dengan membawa orangtuanya, itu tak hanya sekedar silaturahmi saja. Melainkan ada maksud lain." kata pak Bowo dengan senyum teduhnya. Yusuf hanya tertunduk malu sambil menahan rasa sakit pada relung hatinya. Ingin menangis, tetapi dia merasa tak pantas seorang laki-laki menangis.
"Sebenarnya, kamu mencintai putriku bukan?" tanya pak Bowo yang berhasil membuat Yusuf mendongak menatap wajah yang sudah lanjut usia itu, tetapi tampak bersih bercahaya.
"Pakde tau nak. Tetapi, mau gimana lagi? Kenyataan memang tak dapat ditolak." kata pak Bowo.
"Hm... Mungkin memang kami tidak berjodoh pakde." kata Yusuf berusaha tegar.
Pak Bowo tersenyum,
"Semoga nak Yusuf segera menemukan jodoh yang lebih baik dari Tiara ya."
"Oya nak Yusuf, nanti kalau kiranya sungkan untuk bermalam di rumah pakde, istirahatlah di rumah Ken, adik sepupunya Mutiara. Kamu kenal kan?"
"Ken? Siapa ya pakde?" Alis Yusuf mengernyit, tak paham.
"Kenzo. Kata Ken, dia mengenalmu."
"Oh. ya mungkin dia mengenal saya, tetapi saya kurang paham pakde."
"Ya sudah, nanti pakde antar ke sana. Biarkan bundamu tidur di rumah pakde, melepas rindu sama budemu dulu. Gapapa to? Besok siang, kamu dan bundamu ikut serta di acara syukuran kelulusannya Tiara." kata pak Bowo.
"Baik pakde. InshaaAllah."
Yusuf dan pak Bowo kembali ke rumah, lalu sesampainya dirumah, mereka sudah disambut oleh ibu ibu dan Mutiara untuk diajak makan malam bersama. Setelah sholat isya', seperti yang direncanakan, Yusuf mengikuti pak Bowo, ke rumah Kenzo untuk bermalam di sana. Sedangkan bunda Rahma membantu bu Hindun menyiapkan masakan untuk menyambut tamunya besok siang.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Yusuf. Dia belum bisa tidur juga di kamar Kenzo. Sedangkan Kenzo masih asyik bercengkrama dengan teman lamanya. Sebenarnya, Kenzo mengajak Yusuf untuk ikut serta dalam obrolan itu, tetapi Yusuf merasa sungkan, sehingga dia memilih untuk di kamar, sambil mencoba menata hatinya yang sedang hancur berkeping-keping. Ini kali pertama Yusuf merasakan patah hati yang teramat sangat. Karena dalam Lubuh hatinya yang terdalam, ada harapan yang menggunung, untuk bisa menjadikan Mutiara Hati halal baginya. Yusuf kembali teringat kala mereka sama sama berteduh waktu itu, dan Mutiara tak dengan memeluk Yusuf. Rasa itu kembali hadir, ada desiran dalam tubuhnya, dan rasa perih di dada kirinya. Sungguh, ini sangat menyakitkan bagi Yusuf, yang terhenti seketika tanpa boleh terus berikhtiar untuk menggapai Mutiara dalam hatinya. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk.
__ADS_1
📞Ayah
"Halo, assalamualaikum ayah."
'Wa'alaikumsalam Suf. Kamu masih di Solo?'
"Iya yah."
'Tadi ayah telpon bundamu, kata bunda, kamu sedang galau, karena harapanku kandas. aoa itu benar?'
"Hm, Allah punya rencana lain yah." kata Yusuf lemas.
'Jangan menyerah nak, kamu anak baik, ayah yakin, dibalik semua ini akan ada hikmahnya. Memang Mutiara bukanlah jodohmu. Dia adalah mbakmu. Dan ayah yakin, Allah sudah menyediakan jodoh terbaik untukmu.'
"Hem..."
'Yusuf, ayah tak pernah menuntutmu lebih. Ayah hanya ingin kamu tersenyum bahagia. Usiamu sudah siap menikah, dan apa yang kamu jaga selama ini, sudah terjawabm Maka, saran ayah, bukalah hatimu untuk wanita lain, yang membuatmu terasa nyaman. Jika kamu sudah menemukan nya, segera bilang ayah Atai bunda, kami akan segera mengurusnya untuk segera ditindaklanjuti.'
"Iya yah."
'Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' lagi-lagi kata ayahnya Yusuf.
"Iya yah."
'Tidurlah, paksa dirimu tidur, jangan sampai ga tidur, itu akan membuatmu lelah dan sakit nantinya.' nasehat ayahnya Yusuf.
"Iya yah."
'Ya sudah. Sudah dulu ya Suf. tetap semangat. Jangan bersedih.'
"InshaaAllah yah."
Setelah itu, panggilan terputus,Yusuf kembali teringat pesan ayahnya. Kembali dia teringat saat saat dia bersama Mutiara mengerjakan LPJ dan beberapa proposal dan beberapa berkas keorganisasian yang berkaitan dengan LDK. Semenjak Yusuf tak lagi menjabat menjadi ketua umum LDK, hubungan Mutiara dan Yusuf sempat vakum. Hingga akhirnya Yusuf lulus, mereka justru losh contac.
"Bismillah. Yusuf, kuat. Besok kamu akan berjumpa dengan pria yang akan mendampingi si dia. Kuat Suf, kuat!" kata Yusuf menyemangati dirinya sendiri. Lalu diapun berbaring di ranjang, sambil membuka-buka ponselnya, untuk membuka buka sosmed nya.
__ADS_1