
Sudah empat bulan lamanya, Mutiara mengajari bu Suyamti belajar mengaji hingga kini bu Suyamti sudah lancar mengaji nya. Sore itu Mutiara sudah selesai mengajari mengaji bu suyamti.
"Terimakasih banyak ya Tiara, ibu ga tau deh, cara berterimakasih nya gimana ke kamu, karena ibu sudah dibekali untuk pulang ke akhirat kapan saja." kata bu Suyamti.
"Sama-sama bu, Tiara juga hanya bisa bantu sedikit bu, semoga ilmu ini bermanfaat." kata Mutiara.
"Malam ini, Tiara ikut makan malam disini dulu ya. Tadi Zio sudah mengabarimu kan?" kata bu Suyamti.
"Oh. ya bu. InshaaAllah." jawab Mutiara.
"Suatu kebahagiaan bagi kami kalau Tiara mau makan malam bersama malam ini." kata bu Suyamti.
"Ya bu."
Untuk mengisi waktu menjelang maghrib, Mutiara berbincang dengan Bu Suyamti.
"Assalamualaikum." salam Nilam.
"Wa'alaikumsalam." jawab Bu Suyamti dan Mutiara bersama.
"Eh, Tiara. Udah dari tadi Ra?" tanya Nilam sambil menyalami Mutiara dan cipika cipiki.
"Alhamdulillah sudah mbak, tadi abis ngajarin ibu ngaji dulu." jawab Mutiara.
"Oh, iya, ini jadwalnya Tiara ngajarin mama ngaji ya?" kata Nilam.
"Iya, dan ini hari terakhir Tiara ngajarin mama mengaji, karena seminggu kedepan kita harus sudah fokus dengan pernikahan Zio, dan dua minggu berikutnya mama dan Zio serta Shanum kan juga harus siap-siap berangkat haji." kata bu Suyamti.
"Oh, gitu?"
"Makannya, ini mama minta Tiara ikut makaan malam bersama kita dulu. Mumpung hari ini ngumpul. Diego sama Pian datang juga kan?" tanya bu Suyamti
"Iya mah. Diego langsung ke kolam ikan, kalo mas Pian kayaknya masih di mobilnya, tadi mobilnya kenapa gitu, jadi dia ngecek dulu." kata Nilam.
"Oh, ya syukurlah." kata bu Suyamti.
"Ini, Zio kemana mah?" tanya Nilam.
"Zio lagi jemput Shanum dari asrama." kata bu Suyamti.
Mutiara hanya diam mendengarkan dua ibu dan anak itu berbincang di ruang televisi.
"Tiara, kamu gapapa kan kalo nanti ada Shanum?" tanya Nilam.
"Ehm? Engga mbak, gapapa. Memang kenapa mbak?" tanya Mutiara.
__ADS_1
"Ya, kan, siapa tau kamu ga enak hati gitu?" kata Nilam sungkan.
"Tiara, sebenarnya ibu dan Nilam..." kata bu Suyamti dengan wajah syahdunya, yang terpotong oleh kata-kata Mutiara.
"Gapapa bu. Memang ini sudah jalannya. Pak Zio dan mbak Shanum juga pasangan serasi kok bu." kata Mutiara dengan senyum tulusnya.
"Tiara, maafkan mbak Nilam dan mama ya." kata Nilam memegang tangan Mutiara.
"Lho, kenapa mbak?" tanya Mutiara heran.
"Sebenarnya kami ingin sekali kamu menjadi istri Zio, tapi ternyata...." kata Nilam terputus dengan suara salam dari luar.
"Assalamualaikum." salam Zio.
"Wa'alaikumsalam." jawab Nilam dan Bu Suyamti bersamaan, sedangkan Mutiara menjawabnya pelan.
"Wah, baru ngumpul nih?" kata Zio saat sampai diruang televisi, diikuti Shanum dari belakang.
"Eh, Shanum sudah datang. Mari, duduk dulu di sini. menunggu adzan maghrib. Nanti setelah itu, kita makan bersama ya." kata bu Suyamti menyambut Shanum, Shanum mencium tangan bu Suyamti, lalu menyalami Nilam dan Mutiara.
"Ya bu, terimakasih." kata Shanum sungkan, saat melihat ada Mutiara disana.
"Dari tadi lo mbak?" tanya Zio pada Nilam.
"Udah engga ada tuh." kata Zio.
"Oya, mungkin nyusul Diego ke kolam." kata Nilam.
"Tiara, gapapa kan pulang rada malem?" tanya Zio.
"Gapapa pak." jawab Mutiara sungkan.
Setelah mereka mendengar adzan maghrib, merekapun sholat maghrib bersama, lalu berkumpul di ruang makan untuk makan bersama.
"Alhamdulillah, kita sudah berkumpul bersama di sini." kata bu Suyamti membuka percakapan.
"Shanum, Tiara, selamat datang di keluarga kami." kata bh Suyamti lagi.
Seketika keduanya saling bertatapan, lalu mengangguk kepada bu Suyamti
"Shanum, semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita ya, nanti semoga Allah mudahkan untuk menuju acara pernikahan kalian, hingga nanti kita berangkat bersama ke baitullah." kata bu Suyamti kepada Shanum.
"Aamiin." jawab penghuni meja makan secara serentak.
"Shanum akan menjadi anak mama, dia akan menjadi adik Nilam, dan menjadi istri Zio, semoga Shanum nyaman ya bergabung di keluarga kami ini." kata bu Suyamti dengan tersenyum bahagia kepada Shanum.
__ADS_1
"Tiara, Mutiara Hati. Kenapa nak Tiara mama undang? Karena disini, mama sangat berterimakasih kepada Tiara, karenanya, kini mama sudah bisa mengaji." kata bu Suyamti penuh bahagia.
"Dan, mulai saat ini, seperti yang Zio katakan beberapa waktu lalu kepada mama, Zio menganggap Mutiara Hati sebagai adiknya, begitupun dengan Nilam yang juga sudah menganggap Mutiara sebagai adik perempuannya. Sehingga, mamapun sudah menganggap Mutiara Sebagai anak mama sendiri. Jadi, Tiara, mulai sekarang jangan sungkan sama kami ya, karena kita semua ini sekarang adalah keluarga." kata bu Suyamti ramah.
"Selamat datang Shanum, Tiara." kata Nilam menyapa mereka dengan ketulusan.
Shanum dan Mutiara mengangguk.
"Tiara, ibu tidak bisa membalas kebaikanmu sebagai guru ngaji ibu, ibu hanya bisa berikan ini untukmu." kata Bu Suyamti memberikan formulir pendaftaran umroh untuk Mutiara.
"Apa ini bu?" tanya Mutiara sambil menerima amplop itu.
"Itu. formulir pendaftaran umroh beserta brosurnya, Ibu harap, Mutiara suka." kata bu Suyamti tersenyum senang.
Mutiara membuka formulir itu, tertulis namanya. seketika matanya berkaca-kaca.
"Bu Suyamti..." kata Mutiara tak mampu berkata-kata. Mutiara sangat bahagia dan terharu Mendapat hadiah itu.
"Itu tanda terimakasih kami kepadamu, karena Mutiara sudah ajari ibu mengaji hingga bisa. Hadiah ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan waktumu untuk mengajari ibu. " kata bu Suyamti.
"Ehm. sama-sama bu. Tetapi. ini rasanya terlalu berlebihan bu." kata Mutiara sungkan.
"Tidak Tiara, ibu senang malahan." kata bu Suyamti.
"Diterima aja Tiara, ini hadiah dari kami sekeluarga untuk kamu." kata Zio.
"Alhamdulillah, Sekali lagi, terimakasih banyak bu, mbak. pak." kata Mutiara.
"Semoga Tiara suka. Itu keberangkatan mu, kelak bisa Bersama suamimu Tiara." kata Zio.
"Oh. ya pak. Terimakasih banyak." kata Mutiara.
"Kami sudah inden." kata Zio lagi.
Merekapun melanjutkan makannya, hingga selesai, lalu Mutiara berpamitan untuk pulang, Mutiara membawa motor, sehingga dia tak perlu diantar oleh Zio, karena setelah makan malam ini, Zio kembali mengantarkan Shanum pulang ke rumah om nya untuk persiapan pernikahan mereka.
💞💞💞
Sesampainya di kosan, Mutiara bersujud syukur, mendapat hadiah tiket umroh. Dia simpan formulir itu dengan baik, dan dia sudah membayangkan ka'bah didepan mata.
"Labaikallahuma la baik." kata Mutiara sambil tersenyum bahagia.
"Semoga aku bisa wujudkan mimpiku ke sana bersama bapak ibu dan... Suamiku misal?" do'a Mutiara dengan penuh kebahagiaan.
Malam itu Mutiara istirahat dengan penuh kedamaian sambil memeluk foto kedua orangtuanya.
__ADS_1