
Mobil Dzen meninggalkan pasar malam, namun tak terlalu jauh dari pasar malam, mobil itu kembali berhenti di sebuah rumah makan padang.
"Kenapa berhenti mas?" tanya Mutiara.
"Kita cari makan dulu." kata Dzen sambil melepas sabuk pengaman nya.
"Oh."
"Tunggu sebentar ya." kata Dzen.
"Ya mas."
Dzenpun keluar mobil, namun, belum juga masuk pintu rumah makan, dia kembali lagi sambil melepas jaketnya dan membuka pintu belakang.
"Ada apa mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Mutiara.
"Kamu pakai ini ya, biar lebih hangat. Buat tiduran dulu aja sambil menungguku." kata Dzen meletakkan jaketnya di punggu Mutiara.
"Eh? Ga usah mas, Tiara gapapa kok." kata Mutiara.
"Sudah, kamu tunggu sebentar ya." kata Dzen berlalu sambil menutup pintu belakang.
Tak berselang lama, Dzen kembali dengan membawakan sebungkus makanan, lalu membuka pintu bagasi untuk mengambil tasnya. Lalu dia kembali ke kursi kemudi.
Dzen melihat ke belakang, Tampak Mutiara terbangun dari tidurnya.
"Maaf mengganggu mu." kata Dzen.
"Engga kok mas." jawab Mutiara.
"Ini untukmu." kata Dzen menyerahkan masakan padang yang baru saja dia beli..
"Sama ini, obat lambung, diminum sebelum makan dan yang ini diminum sesudah makan, ya." kata Dzen memberikan beberapa obat kepada Mutiara.
"Oh, ya mas. Sekali lagi terimakasih." kata Mutiara menerima obat itu.
Kemudian Dzen segera menyalakan mesin mobilnya, dan menjalankannya menuju kos kosan Mutiara.
"Mas Dzen." panggil Mutiara.
"Ya Tiara? Ada apa?" tanya Dzen.
"Mbak Shanum tadi naik kendaraan sendiri ya?" tanya Mutiara.
"Engga, tadi saya antar pulang juga." jawab Dzen.
"Lhoh, tapi Kok, pas saya pingsan mas Dzen masih di pasar malam?" tanya Mutiara heran.
"Tadi, setelah ketemu kamu, saya mengantar Shanum pulang, saya selalu kepikiran kamu, karena kamu baru aja sembuh dari sakit, sudah kena angin malam, dan kamu juga ga pake jaket. Saya khawatir terjadi sesuatu sama kamu, makannya saya inisiatif kembali ke pasar malam untuk memastikan keadaanmu baik-baik saja." kata Dzen.
"Ehm, maaf mas." jawab Mutiara.
"Lain kali, kalau kiranya kamu ragu, mending ga usah nyoba hal-hal baru yang berbau ekstrim kaya tadi ya. Bahaya." kata Dzen menasehati.
__ADS_1
"Ya mas. InshaaAllah." jawab Mutiara.
"Aku ga mau kamu kenapa-napa." lanjut Dzen dengan fokus menyetir, sedangkan hatinya tak karuan rasanya. Ada detak jantung yang bergemuruh, dan suara yang tercekat, hingga membuat matanya memanas. Dzen benar-benar merasakan perasaan yang dia rasakan bersama Lala dahulu, tetapi, kini dia tidak bisa melakukan hal yang sama, seperti saat dia benar-benar mencintai Lala, yaitu dengan memeluk gadis yang dicintainya.
"Apa maksud mas Dzen? Apa dia menyukaiku? Apa dia ada rasa denganku? Ah, entahlah, yang jelas, Mas Dzen selalu ada disaat aku membutuhkan bantuan." batin Mutiara.
"Terimakasih mas." kata Mutiara sekali lagi.
Dzen hanya membalas dengan senyuman dengan melirik ke kaca mobil dimana dia bisa melihat penumpang yang sedang duduk di belakangnya.
Sesampainya di gang arah masuk kosan Mutiara, Dzen segera ikut turun dari mobil.
"Lhoh, mas Dzen mau apa?" tanya Mutiara.
"Saya antar ke kosan." kata Dzen sambil mengambil barang-barang Mutiara.
"Ga usah mas, Tiara bisa sendiri kok." kata Mutiara menolak.
"Kamu baru aja pingsan, Tiara. Sudahlah, saya bantu ya." kata Dzen mengambil barang bawaan Mutiara.
Dzenpu mengantar Mutiara sampai depan pintu gerbang kosan Mutiara.
"Sekali lagi, terimakasih banyak mas. Tiara ga tau harus membalas semua kebaikan mas Dzen dengan apa. Tiara ga punya apa-apa." kata Mutiara.
"Seandainya aku berani mengatakan sekarang, aku mau kamu jadi kekasihku, Ra. Jadi istriku, pendamping hidupku." batin Dzen. Sayangnya dia masih belum berani menyatakan hal itu.
"Santai aja, Tiara. Yang penting kamu sehat, itu sudah lebih dari cukup. Dan jangan pernah kamu menganggap, ini sebagai hutang budi ya. Karena, akan sulit membayarnya." kata Dzen dengan tersenyum.
"Saya ikhlas." kata Dzen lagi.
"Istirahatlah. Sudah malam. Jangan lupa diminum obatnya dan dimakan itu nasinya. Sedikit gapapa, yang penting untuk malam ini perutmu tidak kosong." Pesan Dzen.
Mutiara membalas dengan tersenyum.
"Baik pak dokter." kata Mutiara.
"Hati-hati ya mas." kata Mutiara lagi.
"Yap. Assalamualaikum." kata Dzen.
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.
Dzen baru beberapa langkah berjalan, Mutiara memanggil Dzen lagi.
"Mas Dzen." panggil Mutiara.
Dzen menoleh ke belakang,
"Ya?"
"Jaketnya mas?" kata Mutiara sambil menyodorkan jaket milik Dzen.
"Bawa dulu aja." kata Dzen sambil melanjutkan jalannya.
__ADS_1
"Hm, baiklah." kata Mutiara.
💞💞💞
"Mamamu pingsan Die." kata bu Suyamti dengan memijit mijit kaki Nilam.
"Tapi kenapa mama pingsan oma?" tanya Diego.
"Mamamu lagi ga enak badan Die." kata bu Suyamti memberi alasan.
"Mama. Maafin Diego ya mah, mama jadi sakit karena mikirin Diego." kata Diego mencium kening mamanya.
"Die, kita keluar dulu aja ya, biar mama istirahat dulu." kata Zio mengajak keponakannya keluar kamar.
"Ya om."
Zio dan Diegopun keluar kamar. Tak berapa lama kemudian, Nilam sadar dari pingsannya.
"Mama." panggil Nilam lemah.
"Nilam. Gimana? Masih pusing sayang?" tanya bu Suyamti lembut.
"Mama, maafin Nilam ma." kata Nilam memeluk tubuh bu Suyamti.
Bu Suyamti hanya mampu mematung, dengan berlinang air mata, teringat kembali masa lalu saat Nilam bersikeras minta menikah dengan Pian, dan akhirnya dia kabur dari rumah, sampai dia hamil.
"Mama sudah menduganya." kata Bu Suyamti.
"Papamu sudah mengetahuinya lebih dulu." kata bu Suyamti dengan tatapan ke depan, tanpa menoleh ke arah anaknya sama sekali.
Sedangkan Nilam menatap mamanya sendu.
"Suamimu itu bukan laki-laki baik. Dia bahkan tega mengusir istri sahnya, demi menuruti hawa nafsunya untuk bisa menjadikanmu sebagai istri berikutnya. Dan entahlah, mama tidak tau, apakah setelah menikah denganmu, dia masih bermain wanita di luaran sana." kata Bu Suyamti dengan suara serak.
Nilam semakin tergugu. Dia sama sekali tidak menyadari, bahwa dirinya ternyata seorang pelakor yang berhasil merusak rumah tangga orang, hingga kini orang itu depresi.
"Lalu, apa yang harus Nilam lakukan ma?" tanya Nilam.
"Kamu cari ibunya Roy, kamu minta maaf padanya." kata bu Suyamti.
"Tapi ma, dia depresi." kata Nilam.
"Mama tau, tapi meski dia depresi, dia juga masih punya hati." kata bu Suyamti.
"Lalu mas Pian? Ini semua salah dia ma, aku ga tau apa-apa." kata Nilam.
"Nanti kamu telpon dia lagi. kalian bicarakan masalah kalian ini." kata bu Suyamti merasa sudah lelah dengan problematika keluarga Nilam.
"Ma..." panggil Nilam, berharap mamanya bisa mendampinginya.
"Kalian sudah sama-sama dewasa, ini ujian rumah tangga kalian. Kalian bisa bicarakan hal ini baik-baik." kata bu Suyamti lagi sambil berjalan menuju ke pintu, untuk keluar kamar.
"Mama. Maafin Nilam ma." kata Nilam lagi dengan tangisan nya.
__ADS_1
"Istirahatlah dulu." kata Bu Suyamti yang sudah merasakan dada kirinya terasa nyeri.
Nilam masih tergugu dalam penyesalan yang mendalam. Duabelas tahun pernikahan, awalnya tidak ada masalah apa-apa. Namun kenapa, kini dia harus menghadapi kenyataan yang cukup pahit ini.