
Sesampainya di halaman rumah Mutiara, Dzen memarkirkan mobilnya sesuai arahan Mutiara. Tampak oleh keduanya, seorang laki-laki berkacamata, yang tak lagi muda sedang duduk di sebuah kursi kayu, dengan memegang sebuah buku. Laki-laki itu tampak terheran-heran dengan kehadiran sebuah mobil yang masuk ke halaman rumahnya.
"Itu bapak, mas." kata Mutiara memperkenalkan bapaknya kepada Dzen, sebelum mereka keluar dari mobil.
"Oh, ya Ra." jawab Dzen gugup. Baru kali ini dia merasakan nervous saat akan bertamu. Padahal sudah banyak gadis yang sering dia termui orang tuanya, tetapi baru kali ini, rasa percaya dirinya mendadak hilang.
"Ayo mas, keluar." ajak Mutiara.
"Oh. ya." jawab Dzen langsung melepas sabuk pengaman nya.
Mutiara dan Dzen turun dari mobil lalu berjalan menuju teras, dimana bapak Mutiara sedang berdiri menyambut mereka.
"Bu. Ibu." Panggil pak Bowo, bapak Mutiara.
"Assalamualaikum pak." salam Mutiara dengan senyuman khasnya, lalu menunduk, menjabat tangan bapaknya dengan penuh khidmad.
"Wa'alaikumsalam. Iki..." pak Bowo belum melanjutkan kata-katanya, dia masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tiara pak. Mutiara Hati, anak bapak." kata Mutiara yang mengerti maksud bapak ya.
"MaasyaaAllah, nduk... kamu to? Lha kok naik mobil alus banget, bapak yo pangling jadinya." kata pak Bowo menepuk punggung Mutiara penuh sayang.
"Iya pak. Bapak Sehat to? Maaf nggih pak. Tiara lama ndak pulang." kata Mutiara mencium kembali tangan bapaknya.
"Eeh. Tiara sudah sampai rumah." sapa bu Hindun, ibu Mutiara yang tergopoh-gopoh dari dalam, mendengar panggilan suaminya.
"Assalamualaikum ibu." salam Mutiara yang kemudian mencium tangan ibunya dengan penuh khidmad.
"Wa'alaikumsalam nduk. Kamu sehat to nduk?" tanya bu Hindun.
"Alhamdulillah bu. Ibu bapak sehat semua to?" tanya Mutiara dengan penuh senyuman.
"Iya, Alhamdulillah bapak ibu sehat nduk." jawab bu Hindun.
"Iki...sopo?" tanya pak Bowo menatap pemuda di hadapannya.
"Kenalin pak, ini temen Tiara, namanya mas Dzen." kata Mutiara memperkenalkan.
"Sopo? Jen?" tanya pak Bowo mengeja kembali nama itu, khawatir keliru.
"Ahmad Zainudin pak." jawab Dzen mengejakan nama aslinya. Dzen mengerti, mungkin pak Bowo sulit mengeja huruf 'Z', sehingga Dzen lebih memilih memperkenalkan nama aslinya.
"Owalah, Ahmad Jainudin? Namamu bagus nak, bapak panggil kamu Ahmad aja yo." kata pak Bowo menawar.
"Oh. ya pak." jawab Dzen.
"Ben gampang." lanjut pak Bowo.
"Monggo nak Dzen, silakan masuk. Ya begini rumah desa, rumahnya Tiara." kata bu Hindun.
__ADS_1
Dzen mengikuti Mutiara masuk Bersama bu Hindun, sedangkan pak Bowo juga ikut berjalan masuk di belakang Dzen.
"Monggo nak Dzen, silakan duduk dulu." kata bu Hindun.
"Oh, ya bu. Terimakasih." jawab Dzsn sopan, lalu duduk di kursi bludru.
Pak Bowo juga duduk di kursi bludru, yang berhadapan dengan Dzen. Dzen hanya menunduk, sedangkan pak Bowo tampak mengamati Dzen dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Nak Ahmad ini, aslinya mana?" tanya pak Bowo.
"Ehm, saya asli Jakarta pak. Tapi saya kuliah dan mendapat pekerjaan di Semarang." jawab Dzen sopan dengan ramah dengan senyum tulusnya.
"Wo, nak Ahmad ini sudah bekerja to? Bapak kira, nak Ahmad ini teman kuliahnya Tiara." kata pak Bowo.
"Iya pak." jawab Dzen.
"Kerjanya apa nak? Kalau boleh bapak tau." tanya pak Bowo.
"Saya seorang dokter pak, saya tugas di RSUD kota Semarang." jawab Dzen.
"MaasyaaAllah, nak Ahmad ini dokter to?" tanya pak Bowo yang masih tidak percaya.
"Iya pak."
Kemudian Mutiara datang membawakan empat gelas teh hangat dan beberapa toples berisi makanan ringan dalam satu nampan.
"Silakan mas Dzen, diminum." kata Mutiara menyuguhkan segelas teh hangat di hadapan Dzen.
Lalu Mutiara meletakkan segelas teh hangat di hadapan bapaknya,
"Monggo pak, di pun unjuk." kata Mutiara sopan.
"Ya Nduk, maturnuwun." jawab pak Bowo.
Lalu Mutiara duduk di kursi bludru yang di sebelah ujung meja, ikut serta dalam obrolan perkenalan antara Dzen dengan bapaknya.
"Diminum dulu nak, habis perjalanan jauh, pasti haus. Seadanya ya nak." kata pak Bowo, memberi contoh dengan mengambil gelas dihadapannya.
"Ya pak. Terimakasih." jawab Dzen lagi sambil mengikuti gerakan pak Bowo, dan menyeruput sedikit teh hangat itu.
"Gimana? Enak to nak? Itu minuman buatan Mutiara. Kalau kurang manis atau terlalu manis, bilang aja nak." kata bu Hindun yang baru keluar dari dapur. Sedangkan Mutiara yang mendengar perkataan ibunya, pipinya jadi merona, karena malu.
"Ehm. Enak kok bu." jawab Dzen jujur sambil melirik Mutiara yang sedang menunduk malu.
"Bu, ternyata nak Ahmad ini dokter lho bu." kata pak Bowo.
"Dokter? Lho, bukan teman kuliahnya to?" tanya bu Hindun heran.
"Bukan bu, Mas Dzen ini seorang dokter yang dulu pernah nolongin Tiara, pas Tiara butuh bantuan nolongin ibu-ibu korban tabrak lari." kata Mutiara menjelaskan.
__ADS_1
"Owalah. Lha dinesnya dimana nak?" tanya bu Hindun.
"Di RSUD kota Semarang bu." jawab Dzen santun.
"Kalau keluargamu? Di Jakarta juga?" tanya pak Bowo.
"Dulu iya pak, tetapi setelah mama meninggal, dan papa saya menikah lagi, Saya sudah jarang ke Jakarta. Papa saya sudah bersama keluarga barunya, di Batam." kata Dzen menceritakan perihal keluarganya.
"Owalah, jadi nak Dzen sudah tidak punya ibu kandung?" tanya bu Hindun.
"Iya bu." jawab Dzen.
"Oya bu, pak. Ibu sama bapak sudah menjenguk paklik Gio belum? Kalau belum, ini mas Dzen rencananya mau jenguk bapaknya Ken, kalau ibu bapak mau ikut jenguk, nanti bareng Tiara sama mas Dzen aja bu, pak." kata Mutiara.
"Oh, iya nduk, belum. Rencananya memang kalau nanti kamu sudah pulang, ibu mau ajak kamu ke rumah sakit, tapi ya Alhamdulillah, kalau bisa bareng-bareng." kata bu Hindun.
"Emang ndak papa to nak?" tanya pak Bowo.
"Saya justru senang pak, bapak ibu bisa ikut serta menjenguk bapaknya Ken." jawab Dzen.
" Nak Dzen ga keburu balik ke Semarang to?" tanya bu Hindun.
"Jika diperkenankan, besok itu mas Dzen ada acara di Kartasura bu, pak. Kalau bapak mengijinkan, mas Dzen mau bermalam dulu di sini. Daripada nyewa penginapan." kata Mutiara.
"Wo, iya. Silakan nak Ahmad. Bapak malah senang. Bapak bisa ngobrol lebih banyak smaa nak Ahmad. Ya nanti, bapak tak matur sama pak RT, minta ijin, untuk nak Ahmad menginap di rumah kita." kata pak Bowo.
Saat mereka berbincang, terdengar suara adzan ashar berkumandang.
"Nak Dzen sholat?" tanya Pak Bowo.
"Sholat pak." jawab Dzen.
"Kita sholat ke masjid ya. Ga jauh kok dari sini." kata pak Bowo sambil berdiri.
"Ya pak." jawab Dzen sambil ikut berdiri.
"Mas Dzen." panggil Mutiara.
"Ya?"
"Bagasinya di kunci ga? Tiara mau ambil barang-barang." kata Mutiara.
"Oh, ya. Aku bukain dulu Ra." jawab Dzen sambil memencet kontak mobilnya.
Mutiara diikuti Dzen menuju bagasi mobil untuk mengambil barang bawaan Mutiara dan oleh-oleh dari Dzen yang dibelinya di Semarang.
"Mas Dzen siap-siap ke masjid aja mas, nanti keburu ditinggal bapak lho." kata Mutiara saat mereka berada di bagasi mobil.
"Khusus kardus yang berat ini, biar aku bawain ya." kata Dzen mengambil kardus berisi kebutuhan pokok.
__ADS_1
"Oh, iya mas." jawab Mutiara.
Setelah memindahkan barang bawaan dari bagasi ke dalam rumah, Dzen berangkat ke masjid bersama pak Bowo, sedangkan Mutiara ke dapur, membantu ibunya menyiapkan makan malam untuk mereka.