
Sepanjang perjalanan pulang, Dzen dan Shanum banyak berbincang seputar masa lalu mereka, dan sesekali bercanda tentang Jodoh, hingga Dzen keceplosan mengatakan bahwa dirinya sudah menyampaikan perasaannya pada bapaknya Mutiara.
"Eh. Ga gitu juga kali, jomblo jomblo gini, aku udah dititipin amanah sama calon mertua tau." kata Dzen yang menjawab Shanum yang memang mencoba memancing kejujuran Dzen terhadap Mutiara.
"Oya? Ga percaya gue." kata Shanum.
"Ga percaya ya udah, aku ga maksa kok. Lagian, kamu kapan nikah? Setia banget ngejomblo." kata Dzen.
"Liat aja nanti. Jomblo itu menyenangkan, bebas." kata Shanum.
"Tapi, menikah itu ibadah Num. Sunnah Rasul." kata Dzen.
"Mulai deh pak ustadz ceramah." omel Shanum yang dadanya terasa semakin sakit dibuatnya.
Dzen yang tak pernah tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Shanum. Suasana kembali sepi, karena Shanum akhirnya tertidur. Mereka terus melanjutkan perjalanan hingga tiba di Semarang.
"Dzen, anter gue langsung ke Asrama ya." pinta Shanum.
"Lhoh, ga ke rumah om kamu?" tanya Dzen.
"Engga, udah harus masuk nih." kata Shanum.
"Okey." jawab Dzen yang kemudian melakukan mobilnya ke asrama tempat Shnaum tinggal, setelah menurunkan Shanum, Dzen segera kembali ke apartemennya, yang sudah sejak hari jum'at dia tinggalkan.
💞💞💞
Waktu terus berlalu, selama liburan, Mutiara menghabiskan waktunya untuk membantu bu Hayati mengajar di sekolahan tempat dia menuntut ilmu dahulu. Sekaligus, Shanum juga belajar mengajar di sana, banyak ilmu yang didapat Mutiara selama mengajar anak-anak PAUD. Dan Mutiara merasa sangat bahagia. Selain mengajar di sekolahan, Mutiara juga masih aktif mengajar di TPQ setiap sore selama dia liburan. Banyak adik TPQnya yang sudah beranjak remaja, dan mereka merindukan Mutiara.
Tak terasa, hari itu, hari terakhir Mutiara mengajar.
"Wah, terimakasih banyak ya mbak Tiara, sudah bantuin ibu mengajar selama satu minggu ini. Ibu sangat berharap, nanti kalau mbak Tiara lulus, mbak Tiara langsung mengajar di sini saja." kata bu Hayati.
"Saya yang harusnya terimakasih bu, karena dengan saya diberi kesempatan berbagi ilmu, menerapkan ilmu yang saya dapat di kampus, membuat saya bisa banyak belajar menjadi guru PAUD." kata Mutiara sambil terus berjalan mengikuti bu Hayati menuju parkiran motor.
"Liburan berikutnya, jangan lupa bantu ibu lagi ya mbak." pinta bu Hayati.
"InshaaAllah bu." jawab Mutiara.
"Rencana, mau otw kapan ini mbak?" tanya bu Hayati.
"InshaaAllah besok pagi bu." jawab Mutiara.
"Oh, okey. Hati-hati ya nanti kembali ke Sekarang nya." pesan bu Hayati.
"Ya bu, InshaaAllah. Ya sudah bu, kalau begitu, Tiara pamit pulang dulu. Assalamualaikum." kata Mutiara berpamitan.
__ADS_1
"Ya mbak. Wa'alaikumsalam." jawab bu Hayati.
Mutiara yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah PAUD tempat dia belajar dahulu, memilih berangkat dan pulang berjalan kaki. Siang ini, Mutiara juga pulang berjalan kaki. Tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Tiara." panggil seseorang itu. Mutiarapu. menoleh ke sumber suara.
"Ya? Eh, Mail?" kata Mutiara yang merasa tak asing dengan wajah sahabat lamanya, semasa dia di SD dahulu.
"Hehe, iya. Baru pulang?" tanya Mail.
"Iya." jawab Mutiara.
"Tadi kata Bila, kamu besok senin udah ga ngajar lagi ya?" tanya Mail.
"Kamu kenal Bila?" tanya Mutiara yang selama satu pekan ini sangat dekat dengan murid PAUD bernama Nabila.
"Iya lah. Dia kan keponakanku. Anaknya mbak Mayang." kata Mail.
"MaasyaaAllah, maaf, aku ga ngeh soalnya. Kan kalo masuk gitu, aku udah di kelas, jadi ga pernah tau orangtuanya Bila." kata Mutiara.
"Iya, santai aja. Emang kenapa senin dah ga ngajar?" tanya Mail.
"Ya balik ke Semarang. Aku kan masih kuliah." kata Mutiara.
"Bukannya masih libur semester? Ken aja masih santai santai aja lho." kata Mail yang juga mengenal Kenzo.
"Oh, gitu?" jawab Mail manggut manggut.
"Nah, karena kamu besok udah balik, boleh dong, aku pingin ngobrol dulu sama kamu Ra. Sambil makan siang gitu. Gimana? Aku traktir deh." tanya Mail.
"Duh, gimana ya Il? Aku harus pulang dulu nih Pamitan bapak ibu dulu. Nanti dikiranya aku diculik lagi." kata Mutiara.
"Hahaha, emang anak PAUD di culik segala. Ya udah, ayo aku boncengin, sekalian kalo dapet ijin, kita otewe." kata Mail.
"Kalo engga?" tanya Mutiara.
"Ya, dirayu dulu, biar dapet ijin, hehehe." kata Mail.
"Ga usah Il, dah aku jalan duluan aja. Lagian ini baru jam sebelas, nanti sore aja lah ngobrolnya ya. Aku mau istirahat dulu soalnya." kaya Mutiara.
"Oh, gitu? Okey lah Ra, nanti sore ya." kata Mail.
"Okey." jawab Mutiara.
Mutiarapun berjalan ke rumah, lalu beristirahat sebentar. Saat makan siang, Mutiara mengutarakan niatan Mail untuk mengajaknya main.
__ADS_1
"Ehm, pak. Tadi Mail bilang, dia pingin ngajak Tiara ngobrol di luar, boleh ga pak? Tadinya sih dia ngajak siang ini, tapi Tiara nego nanti sore aja kalo dapet ijin bapak, gitu. Gimana pak?" tanya Mutiara.
"Ehm, nanti sore ya?" pak Bowo tampak berfikir.
"Biar Tiara bebas dulu di masa mudanya pak, kalo tau saya suka sama dia, nanti dia canggung sama saya pak." terngiang kata kata Dzen saat pak Bowo meminta Dzen untuk menjaga putri bungsunya.
"Pak? Gimana? Ndak boleh ya pak?" tanya Mutiara ragu.
"Eh, ya ndak papa. Mail itu kan sahabatmu sejak kecil, dia juga anak baik, ya wis, gapapa kalo mau ngobrol bernostalgia. Santai saja." kata pak Bowo.
"Alhamdulillah, maturnuwun ya pak." kata Mutiara.
"Tapi pulangnya jangan malam-malam. Besok katanya mau berangkat abis subuh." kata bu Hindun.
"Kamu yakin nduk, berangkat sendiri? Ndak bareng Ken?" tanya pak Bowo.
"InshaaAllah pak. Ndak papa." jawab Mutiara.
"Tapi kok motornya belum dianter ke sini to si Ken ki." kata Bu Hindun.
"Masih di bengkel bu, kata Ken baru diservis, biar besok pas perjalanan dipake Tiara ga khawatir kenapa-napa di jalan." kata Mutiara memberi penjelasan.
"Owalah, gitu to?"
💞💞💞
Sore harinya, Mutiara sudah dijemput Mail untuk makan diluar.
"Lho, kamu motoran sendiri to Ra?" tanya Mail.
"Iya. Kenapa?" tanya Mutiara.
"Tak kira mau boncengan sama aku." kata Mail.
"Engga. Nanti ketauan pacarmu, repot aku. Aku ndak di labrak, ndak berani aku." kata Mutiara bercanda.
"Wealah, aku ki ndak punya pacar yo Ra." kata Mail.
"Hahaha, ga percaya aku. Cowok model kamu kok ga punya pacar." kata Mutiara mengejek.
"Serius. Wis ayo, boncengan sama aku aja." kata Mail.
"Ga usah. Aku bawa motor sendiri aja. Gimana? Jadi ndak? Kalo ga boleh bawa motor sendiri, ga jadi aja wis." kata Mutiara.
"Hem, dasar Cewek, gitu aja mutung." kata Mail kecewa.
__ADS_1
"Ya wis, ayo." kata Mail.
Mutiara pun mengikuti Mail di belakangnya, hingga mereka tiba di warung bakso langganan Mail. Merekapun banyak bercerita tentang pengalaman kuliah mereka dan sesekali Mail menceritakan tentang desa mereka yang semakin hari generasi mengajinya berkurang. Dan karangtaruna yang semakin sulit diatur, karena Mail diamanahi menjadi ketua karangtaruna di desa mereka.