
"Assalamualaikum." kata Yuda sambil mendorong pintu ruangannya.
Tampak Shanum tertidur di sofa dengan jilbab pashmina yang masih dililitkan di lehernya sembarangan. Melihat keponakannya tertidur pulas, Yuda berlanjut ke tempat duduknya sambil memeriksa beberapa file pekerjaannya.
"Hoahm..." suara Shanum yang baru bangun membuat Yuda menoleh ke arah keponakannya.
"Eh, Om udah balik?" tanya Shanum.
"Udah. Baru aja." kata Yuda.
"Lanjutin dulu aja tidurnya Num, om masih da banyak pekerjaan." kata Yuda sambil menatap berkas dihadapannya.
"Om udah ketemu pak Zio?" tanya Shanum.
"Belum." jawab Yuda.
"Om, tadi pak Zio ke sini, bilang kalo om udah selesai, om suruh ke ruangannya." kata Shanum.
"Owh, pak Zio udah ke kantor?" tanya Yuda.
"Udah om, dari tadi." jawab Shanum.
"Okey, om Kesana dulu ya." kata Yuda sambil membawa beberapa berkas nya.
"Ya om." jawab Shanum.
Sesampainya di ruangan Zio, Yuda mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangan itu.
"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Yuda.
"Boleh liat hasil meeting nya tadi?" tanya Zio.
"Ini pak, Alhamdulillah, client sepakat dengan perjanjian kita, dan siap bekerjasama." jawab Yuda.
__ADS_1
"Terimakasih pak Yuda, saya percayakan urusan dengan client sama anda." jawab Zio.
"Oya Maaf ya Pak Yuda, ternyata tadi ujian saya masih diundur pekan depan, dan saya tadi mau menghubungi anda, ternyata ponsel saya lowbet, dan saya lupa tidak membawa Powerbank." kata Zio.
"Tidak apa-apa pak." jawab Yuda.
"Saya tadinya mau langsung ke ruangan anda, karena berkas-berkas nya kan ada di anda, ternyata pas saya ke sana, ada keponakan anda." kata Zio.
"Iya pak, mohon maaf saya membawa dia ke kantor. Karena mendapat telpon dari pak Zio tadi, saya perjalanan dari rumah sakit pak, abis ngontrolin keponakan saya itu, dan waktunya sudah mepet, jadi saya ajak dia ke kantor dulu." kata Yuda.
"Tidak masalah pak" jawab Zio santai.
"Shanum ya?" lanjut Zio.
"Iya pak."
"Sakit apa pak memangnya? Kenapa harus kontrol bersama anda, kenapa tidak diantar orangtuanya?" tanya Zio yang diam-diam mencoba mencari tau tentang Shanum, gadis unik yang berhasil mencuri hatinya. Ya, Zio mulai ada rasa dengan gadis itu, pada pandangan pertama.
"Orangtuanya sudah meninggal pak." jawab Yuda.
"Owh. Lalu, istri anda apa tidak keberatan?" tanya Zio lagi.
"Alhamdulillah, tidak pak. Istri saya dulu sangat dekat dengan kakak saya, jadi dia juga sangat menyayangi Shanum, seperti anak sendiri." kata Yuda.
"Maaf, saya tanya lagi, pak Yuda belum menjawabnya sedari tadi. Memangnya, Shanum sakit apa pak? Karena sekilas tadi saya lihat, dia baik-baik saja." tanya Zio.
"Ehm. Shanum sakit infeksi lambung pak. Tetapi sudah terlanjur lama, dan itu dibiarkan olehnya. Shanum tidak terlalu mempermasalahkan keadaan perutnya yang sering sakit, dan ternyata ada infeksi di lambungnya, membuat kemarin dia sempat di opname di rumah sakit, dan hari ini jadwal kontrolnya." jawab Yuda.
"Owh, begitu? Memang dia usianya berapa pak? Kok sampai kuat menahan rasa sakit diperutnya?" tanya Zio lagi yang sangat penasaran dengan kehidupan gadis yang sudah berani memarahinya tadi.
"Dia hampir seumuran kok sama pak Zio, kalau tidak salah, sekitar umur duapuluh sembilan tahun." jawab Yuda.
"Lho? Usia segitu apa ga harusnya sudah berkeluarga pak?" komentar Zio.
__ADS_1
"Ya, kebanyakan memang sudah pak, tetapi Shanum memang belum mau menikah. Saya juga kurang tau apa alasannya, setiap kali kami kenalkan laki-laki, selalu saja dia menolaknya." jawab Yuda dengan raut wajah sedih.
"Apakah dia sudah punya pacar?" duga Zio.
"Saya rasa belum pak, karena sampai saat ini, saya jarang bahkan tidak pernah mendapati dia jalan sama laki-laki ataupun diapeli." jawab Yuda.
"Ehm, begitu? Kesibukan dia kesehariannya apa pak?" tanya Zio lagi.
"Dia seorang pengajar pak, dia guru Taman Kanak-kanak di sebuah lembaga swasta." jawab Yuda yang tiba-tiba muncul rasa curiga, tidak biasanya bosnya menanyakan hal privat tentang seseorang yang baru dikenalnya.
"Ehm, gitu ya?" jawaban singkat dari Zio sambil jari telunjuk dan ibu jarinya memegang janggut dan janggut-janggut.
"Maaf, pak Zio, kok menanyakan tentang Shanum ya? Apakah dia tadi melakukan sebuah kesalahan pak?" tanya Yuda.
"Ehm, ow, tidak. Ya tadi dia sempat membuat kesalahan kecil, tetapi tidak masalah, saya sudah memaafkan, dan saya memakluminya." jawab Zio gugup.
Yuda tersenyum mendapati bos nya menjawab dengan wajah gugup, dia yang sudah pernah muda, tau alasan sesungguhnya kenapa Zio menanyakan tentang Shanum secara detail.
"Ya sudah pak Yuda, anda bisa lanjutkan kegiatan anda." kata Zio mencoba mengalihkan perhatian Yuda.
"Baik pak. Sama saya mau minta ijin pak, untuk ajarkan Shanum pulang dulu." kata Yuda.
"Ah, ngantar pulang? Oh, ya ya pak. Tapi nanti kembali lagi ya pak." kata Zio.
"Baik pak." jawab Yuda yang kemudian undur diri dari hadapan bos mudanya.
Sepeninggal Yuda, Zio tampak merenung sendiri di belakang meja kerjanya.
"Shanum, nama yang cantik, secantik orangnya. Kenapa dia tidak mau menjalin hubungan dengan laki-laki? Aneh. Dia kan cantik, ga mungkinlah kalau ga ada cowok yang naksir sama gadis seperti Shanum." Gumam Zio.
"Shanum, Renata... mereka mirip. Ada beberapa kesamaan diantara mereka." lanjutnya lagi sambil mengambil sebuah foto di dompetnya.
"Re, kalau aku kembali merasakan jatuh cinta pada gadis lain, apakah kamu mengijinkanku untuk menjalin hubungan dengannya?" tanya Zio pada sebuah foto wanita tanpa hijab, tersenyum dengan rambut panjang yang dikuncir kuda.
__ADS_1
"Jujur, aku sangat merindukanmu Re, aku sangat mencintaimu. Ingin rasanya aku menjaga cinta ini hanya untukmu Re, tetapi kenapa benteng pertahanan ini justru semakin rapuh, saat melihat wajah gadis itu tadi? Dan jantungku tak menentu merasakan irama yang tak berytme ini." kata Zio di hadapan sebuah foto yang membisu.