Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Mama Kangen


__ADS_3

Setelah mengantarkan dokter Andi sampai di mobilnya, Zio membuka ponselnya yang ada notif pesan masuk, sambil berjalan memasuki rumahnya. Sebuah Pesan masuk ke dalam ponselnya, informasi dari kampus terkait penilaian Akhir Semester yang waktu deadline nya dalam waktu sepekan. Ziopun berjalan sambil meletakkan tangan kirinya di keningnya dan memijitnya perlahan.


"Seminggu lagi? Hhh, terus kapan gue bisa ngerjain? Sedangkan lembar kerja baru terkumpul kemarin. Mana kerjaan kantor juga banyak lagi." keluh Zio.


"Om, apa yang terjadi sama oma?" tanya Diego tiba-tiba muncul dihadapannya.


"Eh, Die? Sejak kapan kamu di sini?" tanya Zio.


"Baru aja." jawab Diego.


"Oma sama siapa?" tanya Zio.


"Sama mama." jawab Diego lagi.


"Om. Oma kenapa?" tanya Diego mengulang pertanyaannya.


"Gapapa. Oma cuma butuh istirahat. Kamu dengar kan kata dokter Andi tadi? Oma butuh istirahat cukup." jawab Zio santai.


"Tapi, kenapa oma sakit setelah kejadian mama Pingsan? Dan hal ini terjadi setelah om Zio ketemu bu Shanum yang kedua kalinya. Yang katanya, bu Shanum akan mencari tau alasan orang bernama Roy itu menyakitiku. Ada apa om?" tanya Diego ingin tau. Diego memang anak cerdas. Sehingga dia sangat jeli akan hal-hal yang menyangkut perasaan.


"Hm, Diego. Yang jelas, masalah mu kemarin itu, ada hubungannya dengan mama dan papamu. Kamu hanya korban. Dan asal kamu tau, besok om akan mencarikanmu sekolah baru. Kamu ga akan sekolah di sana lagi dan ga akan tinggal di asrama itu lagi." kata Zio memberi pengertian sambil memegang pundak keponakannya itu.


"Om serius? Besok Diego sudah mulai sekolah lagi?" tanya Diego berbinar.


"Yap. Besok om antar kamu. Okey?" kata Zio sambil mengacak rambut Diego penuh kasih sayang.


"Okey om." jawab Diego senang.


Ziopun segera menuju kamar mamanya, dibukanya handel pintu itu, ada dua wanita yang dia sayangi sedang tertidur pulas. Mamanya tidur sangat pulas di atas ranjangnya, sedangkan Nilam kakaknya tidur dengan duduk disamping mamanya. Zio kembali menutup pintu dan beralih masuk ke ruang kerjanya.


"Pusing juga gue kalo harus ngoreksi segini banyak dalam waktu seminggu." keluh Zio sambil menatap lembar kerja ujian para mahasiswanya.


"Ck, mana tulisannya kaya gini lagi? Bikin tambah pusing." gumam Zio sambil melihat satu lembar kerja mahasiswa yang tulisannya tidak rapi.


"Apa gue minta Tiara aja ya yang ngerjain? Besok kan hari terakhir ujian. Hari berikutnya udah selesai." gumam Zio.


"Coba gue telpon deh." kata Zio langsung menyambar ponselnya.


Dicarinya kontak mahasiswi cerdasnya itu, lalu dia tekan tombol panggil.


Hanya terdengar suara nada sambung. Hingga akhirnya mati sendiri. Kembali dia ulang, hasilnya sama, dan sekali lagi, masih sama. Tidak ada jawaban, meskipun ponselnya Mutiara aktif.


"Ni anak kemana sih?" keluh Zio mulai emosi.


Ziopun mengirim pesan.


📨Mutiara


Saya bau bicara.


Zio menunggu sambil membuka-buka sosmed nya cukup lama.


Hingga terdengar suara panggilan masuk dari ponselnya.


📞Mutiara


'Assalamualaikum pak.' sapa dari seberang.


"Kemana aja sih kamu, ditelpon ga diangkat angkat?" cecar Zio.


'Assalamualaikum pak Zio. Maaf. Tadi saya baru sholat.' kata Mutiara sambil mengulang salamnya yang belum dijawab.


"E Ehm Ya. Wa'alaikumsalam." jawab Zio salah tingkah.


"Saya mau kita ketemu, di tempat biasa. Saya mau bicara. Penting!" kata Zio ketus.


'Di RR Resto pak?'tanya Mutiara.

__ADS_1


"Hem."


'Jam berapa pak?' tanya Mutiara lagi.


"Jam empat!" kata Zio.


'Jam empat?'


"Ya." jawab Zio singkat.


'Tapi saya ada...'


"Selain jam emat saya sibuk. Ada acara. Saya tunggu kamu." kata Zio memutus perkataan Mutiara.


'Baik pak.'


Ziopun menutup panggilannya sepihak. Lalu dia beranjak pergi keluar ruang kerjanya untuk melihat keadaan mama dan kakaknya. Diluar dugaannya, ternyata di depan pintu kamar mamanya, Nilam sudah berdiri dengan isak tangisnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Zio.


"Mama marah sama aku Zi, mama ga mau aku sentuh." kata Nilam sambil menutup mukanya.


Seketika Zio masuk kamar mamanya, ada Diego yang menemani di sana.


"Ma, gimana keadaan mama sekarang? sudah enakan?" tanya Zio tanpa menanyakan masalahnya dengan Nilam.


"Zi, mama udah lama ya ga ketemu Tiara. Mama mau ketemu dia, Zi." kata bu Suyamti tanpa memandang putranya, sepertinya bu Suyamti sedang tidak mau membahas tentang Nilam


"Tiara? Untuk apa ma?" tanya Zio heran.


"Mama kangen sama dia." kata bu Suyamti.


Zio menarik napas panjang, dan membuangnya perlahan.


"Tiara itu siapa om?" tanya Diego.


"Zi, bisa kan mama ketemu dia?" tanya Bu Suyamti.


"Hm, ya, nanti Zio akan tanya dia dulu ma." kata Zio, tanpa memberitahu mamanya kalau dirinya akan bertemu Mutiara.


"Mama istirahat ya. Zio pijitin." kata Zio.


Zio dan Diego menjaga bu Suyamti dengan memijit kakinya, mencoba merefleksikan pikiran mamanya.


💞💞💞


Sore itu, Mutiara sudah bersiap ke RR Resto tempat biasa dia bertemu dengan dosen dinginnya. Setelah sholat ashar, Mutiara sudah menstater motornya untuk menuju ke RR Resto.


"Assalamualaikum bang Rey." sapa Mutiara saat melihat Reyhan yang ada di lobi resto itu.


"Eh, Wa'alaikumsalam. Nona Tiara? Apa kabar nona? Lama tidak bertemu ya?" kata Reyhan ramah, sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Alhamdulillah baik bang. Bang Rey sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Mutiara ramah sambil tersenyum.


"Ya beginilah, baik." jawab Reyhan.


"Kok tumben sendirian?" tanya Reyhan lagi.


"Iya bang, tadi pak Zio ngajak ketemu di sini, pak Zio sudah datang belum bang?" tanya Mutiara.


"Belum tuh, mungkin masih di jalan." kata Reyhan.


"Oh, iya bang." kata Mutiara.


"Oya, silakan ditunggu dulu aja, di tempat biasa. Kebetulan kosong kok." kata Reyhan mempersilakan Mutiara.


"Oya bang. Terimakasih." kata Mutiara sambil berjalan menuju tangga.

__ADS_1


"Nona Tiara, sebentar. Mau pesan apa ni?" tanya Reyhan.


"Ehm, Coklat panas aja bang." jawab Mutiara.


"Makannya?" tanya Reyhan.


"Sementara itu dulu aja bang." kata Mutiara.


"Okey. Wait." kata Reyhan.


Sesampainya di tempat duduk yang biasanya dia tempati bersama dosen mudanya itu.


"*Pak Zio mau ngomong apa ya? Kok tiba-tiba ngajak ketemuan? Jangan-jangan pak Zio mau...."


"Ish, ga mungkin lah, seorang pak Zio tertarik sama aku. Eh, tapi apa mbak Nilam dan bu Suyamti masih ngarepin aku jadi istri pak Zio ya? Udah lama juga aku ga ketemu mereka*." batin Mutiara.


"Sudah lama menunggu? Maaf, Tadi jalanan macet ternyata." kata Zio tiba-tiba dan duduk di kursi depannya Mutiara.


"Oh, tidak kok pak, tidak apa-apa. Saya juga baru saja sampai." jawab Mutiara.


"Sudah pesan makanan?" tanya Zio.


"Belum pak, saya baru pesan minum saja." kata Mutiara.


"Oh. ya." jawab Zio, lalu Zio memesankan makanan dan minum untuk dirinya.


"Sambil menunggu, langsung saja ya. Ini saya mau minta bantuan kamu." kata Zio sambil mengambil tas berisi Lembar Kerja Ujian Mahasiswanya.


Mutiara hanya melihat tanpa bertanya.


"Ini, lembar kerja ujian Mahasiswa saya, harus segera dikoreksi dan nilainya harus segera di setor kan ke kampus, dalam jangka waktu satu minggu. Saya beberapa waktu ini lagi ga bisa fokus untuk mengoreksi, karena saya ada masalah di kantor dan keluarga. Jadi, saya minta kamu bantu saya untuk mengoreksi ya. Ini Lembar kerjanya." kata Zio menyodorkan tumpukan lembar kerja mahasiswa.


"Ehm, tapi pak, apa saya bisa? Ini kan jawaban ujian?" tanya Mutiara.


"Bisa. Harus bisa!" kata Zio tegas.


"Ehm, baik pak, akan saya usahakan." jawab Mutiara sambil tersenyum.


"Thank's." jawab Zio sambil tersenyum tulus, karena merasa lega.


Lalu pesanan merekapun datang.


"Oya pak, maaf, saya mau tanya sesuatu." kata Mutiara.


"Hm."


"Apa kabar bu Suyamti pak? Saya sudah lama tidak tau kabarnya." kata Mutiara.


"Ga mama, ga Tiara. Mereka apa punya ikatan batin sih, heran gue." batin Zio.


"Lagi ga baik-baik aja." kata Zio sambil menyeruput minuman capuccinonya.


"Ibu sakit?" tanya Mutiara cemas.


"Hem." jawab Zio lagi.


"Sakit apa pak?" tanya Mutiara.


"Mending nanti, atau besok kamu ke rumah saya untuk melihat keadaannya." jawab Zio dingin.


"Ehm, ya pak." jawab Mutiara.


Merekapun saling diam untuk menikmati makanan yang dipesan Zio.


Tiba-tiba, datang dua orang wanita yang baru datang. muncul dari arah tangga, mereka duduk di meja sebelah timur mereka.


"Itu kan...?" batin Mutiara sambil melihat ke arah salah satu wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2