
Sebelum Dzen masuk ruangan, Dzen kembali menoleh ke arah Mutiara.
"Ehm, Tiara." panggil Dzen. Mutiara mengangguk, tanda menyetujui Dzen masuk ruangan untuk menemui Shanum. Sedangkan pak Yuda dan bu Mia saling pandang, mereka bertanya tanya, tentang siapa gadis yang duduk bersama mereka itu.
"Ehm, maaf mbak, mbak ini siapa nya mas Dzen ya?" tanya bu Mia yang tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Nama Saya Mutiara Hati, Saya temannya dokter Dzen bu." jawab Mutiara.
"Oh, saya kira pacarnya, atau istrinya." jawab Bu Mia.
"Bukan bu." jawab Mutiara dengan ramah dan tersenyum lembut.
"Karena, keponakan saya yang sakit ini, ternyata dia sudah lama mencintai mas Dzen mbak, dan ga tau kenapa, dia sampai memutuskan untuk mencoba bunuh diri." kata bu Mia menceritakan tentang Shanum.
"Oh. maasyaaAllah, jadi dokter Dzen itu disukai mbak Shanum?" tanya Mutiara memastikan, meski sudut hatinya terasa ada sesuatu yang aneh.
"Iya mbak. Saya juga baru tau " kata bu Mia.
Merekapun bercakap dengan akrab. Banyak hal yang baru diketahui Mutiara tentang Shanum, termasuk Shanum yang sudah tidak bersama orangtuanya. Hingga tiba-tiba datang seseorang,
"Pak Yuda." sapa orang itu.
"Eh, mas Zio?" pak Yuda menyambut kedatangan Zio
Seketika Mutiara menoleh ke arah orang yang baru datang.
"Pak Zio?" batin Mutiara.
"Bagaimana keadaan Shanum pak?" tanya Zio dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Shanum masih koma mas, keadaannya masih kritis." kata pak Yuda dengan wajah sendu.
"Ya Tuhan... kok bisa terjadi sih pak, memang Shanum kenapa?" tanya Zio.
"Dia mau bunuh diri mas, dia minum obat nyamuk cair, di kamar asramanya." kata pak Yuda menjelaskan, karena tadi pak Yuda mengabari Zio hanya mengatakan kalau Shanum masuk rumah sakit, ketika Zio hendak minta laporan kantor.
"Astaga, Shanum. Boleh saya menjenguknya pak?" tanya Zio tanpa dia sadari kalau disitu ada Mutiara.
__ADS_1
"Maaf mas, di dalam masih ada orang." kata pak Yuda.
"Siapa?" tanya pak Yuda.
"Mas Dzen, mas." kata bu Mia.
"Dzen?" tanya Zio heran. Lalu tak sengaja Zio menoleh ke arah Mutiara.
"Lho, Tiara? Kamu di sini?" tanya Zio heran lagi.
"Ehm, iya pak." jawab Mutiara.
"Ngapain?" tanya Zio.
"Tadi saya bersama dokter Dzen pak."
"Dokter Dzen?" tanya Zio bingung.
"Dokter yang dulu pernah mengantarkan ibu ke rumah sakit, saat ibu kecelakaan waktu dulu itu." kata Mutiara.
"Mas Zio dan Mutiara saling kenal?" tanya pak Yuda.
"Ya pak, dia mahasiswa saya." kata Zio.
"Silakan duduk dulu saja mas, kita tunggu sampai mas Dzen keluar dari ruangan." kata pak Yuda.
"Baik pak."
💞💞💞
Sedangkan di dalam ruang ICU, Dzen mendekati Shanum sahabatnya yang dikelilingi selang medis, dengan wajahnya yang sangat pucat.
"Shanum." sapa Dzen. Shanum masih tetap dalam keadaan menutup matanya rapat.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu lakukan ini Num? Kenapa kemarin aku ga peka saat kita ke Jakarta, dan kamu tidak bercerita apapun padaku terkait perasaan mu. Maafkan aku, yang tidak peka dengan peraanmu Num. Maaf." kata Dzen dengan mata panas yang dia tahan. Kembali Dzen menarik napas panjang.
"Num. Ku akui, aku memang sudah menyukai wanita lain. Tapi bukan berarti aku membencimu. Kamu sahabatku, sampai kapan pun, kita akan tetap menjadi sahabat. Aku ga tau, apa alasan mu mencintaiku, tetapi kenapa kamu ga pernah bilang Num? Kenapa kamu ga mau nikah? Apa alasan mu Num?"
__ADS_1
"Shanum, kamu kemarin bilang kalau kamu akan menggantikan mamamu, untuk berangkat haji kan? Kenapa kamu harus lakukan ini, jika kamu mau ke baitullah untuk mendo'akan mamamu? Kenapa Num?" tanya Dzen.
"Ayo Num, bangun. Bangun Num, wujudkan impianmu ke tanah suci untuk mendo'akan mamamu. Mewujudkan mimpi mamamu. Mamamu di sana pasti akan sangat bahagia. Tapi melihatmu melakukan hal ini, aku yakin, mamamupun juga sangat kecewa, Num. Dia akan tersiksa di sana." kata Dzen.
"Bangun Num, om dan tantemu sangat menyayangimu. Teman-teman kecilmupun, senantiasa menunggu kedatanganmu, menginginkan senyuman ramahmu, mereka butuh kamu Num. Dan untuk cinta, Aku yakin Num, kamu gadis baik, akan ada lelaki setia yang sangat mencintaimu apa adanya Num, meski itu bukan aku. Aku yakin itu. Maka bangunlah, dan menikahlah. Misalpun kamu tetap menginginkan ku, ehm... InshaaAllah, aku siap menikahimu Num." kata Dzen.
Dzen kembali terfikirkan oleh Mutiara Hati, gadis yang sangat dia cintai, dan dia juga sudah terlanjur menyampaikan perasaannya pada gadis baik itu, meski tidak langsung. Dzen merasa bimbang, di satu sisi, dia tetap mengharapkan Mutiara Hati sebagai pendampingnya, disisi lain, dia dibutuhkan Shanum, karena Shanum mencintainya.
Disela kesibukannya dengan pikirannya, Tiba-tiba jari tangan Shanum bergerak perlahan. Dzen yang menyadari itu langsung terbelalak.
"Shanum? Kamu udah sadar?" kata Dzen bahagia. Dzenpun segera memanggil perawat dan dokter melalui mikrofon yang disediakan di ruangan itu.
Tak berapa lama kemudian, dokter dan perawat datang, untuk mengecek keadaan Shanum.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Dzen.
"Syukurlah, pasien sudah melewati masa kritisnya." kata dokter Dion.
"Alhamdulillah." kata Dzen menatap senang dengan penuh senyuman ke arah Shanum. Zio yang tadi mendengar kabar kalau Shanum sudah sadar, segera masuk ke ruangan Shanum.
"Shanum?" sapa Zio dengan wajah penuh bahagia.
Shanum yang awalnya menoleh dan tersenyum pada Dzen, kemudian menoleh ke sumber suara.
"Mas Zio?" kata Shanum lemah.
"Shanum? Apa yang terjadi padamu? Bagaimana keadaanmu? Aku sangat mengkhawatirkan mu, Aku mohon, jangan pernah kamu lakukan hal bodoh ini lagi, karena aku akan gila." kata Zio sambil memegang telapak tangan Shanum dengan penuh kekhawatiran.
"Mas Zio?" kata Shanum lemah, menatap Zio dengan penuh tanda tanya. Begitupun dengan Dzen yang heran dengan dosen Mutiara yang tiba-tiba berkata seperti itu dengan Shanum.
"Aku mencintaimu Shanum. Aku suka sama kamu sejak awal kita bertemu. Aku mohon, jangan pernah tinggalin aku. Aku akan menikahimu, dengan segala kelebihan dan kekurangan mu." kata Zio menciumi telapak tangan Shanum.
"Tapi aku..." kata Shanum lemah.
"Meskipun kamu tidak gadis lagi." kata Zio yang ternyata sudah mencari tau tentang profil gadis pujaan hatinya itu. Dari orang kepercayaannya, informasi yang didapat Zio, Shanum adalah seorang gadis yang dikorbankan papanya demi untuk melunasi semua hutang-hutang papa nya. Shanum memiliki masa lalu yang kelam, yang membuat Shanum tidak tertarik dengan setiap laki-laki.
"Akupun juga akan berhaji, kita akan berangkat haji sama sama ya Num. Aku mohon, bertahanlah, bangkitlah. Aku akan selalu membersamaimu, kita akan jalani hidup bersama, meski kamu tak mencintai ku, aku akan setia menunggumu hingga kau mencintaiku sepenuh hatimu. Aku Janji, aku akan selalu menjagamu sepenuh jiwa ragaku hingga ajal menjemput ku." kata Zio terus menangis dan menciumi tangan gadis yang lemah itu.
__ADS_1