
"Ya pak." kata Mutiara.
"Lho, kalian sudah saling kenal?" tanya Nilam.
"Iya." jawab Zio.
"Pak Zio ini, dosen saya mbak." kata Mutiara.
"Owh, begitu." kata Nilam.
"Ehm, bagaimana keadaan ibu Yamti?" tanya dokter Dzen.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik dok, ini tadi mama istirahat, pasca oprasi." kata Nilam menjelaskan.
"Syukurlah, alhamdulillah." kata Dzen.
"Tiara, bolehkah kami tau bagaimana kronologi kecelakaan tadi?" tanya Nilam, karena menurut informasi dari dokter Dzen, Mutiara lah saksi dari kecelakaan tadi.
"Dengan senang hati mbak." kata Mutiara.
Mutiarapun menceritakan dari awal kejadian hingga dibawa ke rumah sakit, dan menyebutkan juga nomer polisi penabrak, beserta ciri-cirinya. Mutiara juga menceritakan waktu kejadiannya, yang membuat Zio terperangah, terkejut mendengar waktu kejadian. Karena waktu kejadian itu, terjadi pada saat nama Mutiara dipanggil olehnya dua kali di ruang kelas untuk mempresentasikan tugas kuliahnya.
"Yaa Allah, jadi begitu ceritanya?" komentar Nilam.
Zio hanya diam mematung mendengarkan cerita dari Mutiara, dia tak dapat berkomentar, karena perasaannya sedang tak menentu. Ternyata, keterlambatan gadis berjilbab dihadapannya ini, beralasan. Dan alasannya berkaitan dengan nyawa mamanya, orang yang paling dia cintai.
"Zio, apa kamu akan menindaklanjutinya ke kantor polisi?" tanya Nilam.
"Hm... ya coba nanti aku atur sama om Bagas." kata Zio.
"Nanti, kalau polisi butuh keterangan saksi, kamu siap jadi saksinya?" tanya Zio tajam pada Mutiara.
"InshaaAllah, siap pak." kata Mutiara.
Saat mereka sedang berbincang, suara rintihan bu Suyamti terdengar.
"Mama." panggil Zio yang kemudian lari mendekat ke mamanya.
"Mama, ini Zio mah. Mama sudah sadar? Mama butuh apa?" tanya Zio.
Mutiara yang melihat adegan ibu anak itu, begitu terpesona, melihat seorang anak laki-laki yang begitu perhatian dengan ibunya dan tampak sangat khawatir dengan keadaan ibunya.
Bu Suyamti hanya menggeleng. Dan menatap ke arah orang-orang yang ada disekelilingnya.
"Nilam...mana cucuku dan mana suamimu?" tanya bu Suyamti.
"Diego masih sekolah mah, di boarding school, mas Pian masih masih berlayar, belum pulang." kata Nilam.
__ADS_1
"Kamu? Kamu yang tadi menolong saya?" tanya bu Suyamti yang masih mengingat wajah Mutiara saat sebelum pingsan.
"Iya bu. Bagaimana keadaan ibu? Apa sudah merasa lebih baik?" tanya Mutiara lembut.
"Alhamdulillah, sudah." kata bu Suyamti lemah.
"Terimakasih banyak ya nak, saya berhutang nyawa padamu." kata bu Suyamti.
"Tidak ibu, ibu terlalu berlebihan. Ini sudah menjadi kewajiban saya. Sesama manusia, kita wajib tolong menolong." kata Mutiara.
"Hatimu baik sekali nak." kata bu Suyamti.
"Tadi juga ada dokter Dzen yang mengantarkan ibu ke rumah Sakit bu." kata Mutiara memperkenalkan dokter Dzen.
"Selamat sore ibu." kata Dzen menyapa.
"Beliau juga yang segera menangani ibu, agar ibu segera tertangani dengan baik." kata Mutiara lagi.
"Yaa Allah, terimakasih banyak dokter." kata bu Suyamti.
"Sama-sama ibu." jawab Dokter Dzen.
Setelah dirasa cukup, Dzen mengajak Mutiara untuk berpamitan. Nilam mengantar keduanya sampai luar ruangan. Namun, tiba-tiba ponsel Dzen berbunyi,
"Maaf, saya angkat telfon dulu." kata Dzen.
"Maaf dokter Dzen apakah dokter masih di rumah sakit?" tanya suster petugas jaga di ruang IGD.
"Ya. Saya masih di lantai tiga. Ada apa?" tanya Dzen.
"Ini ada pasien korban kecelakaan dok, butuh penanganan segera, kebetulan dokter Dian sedang berhalangan." kata suster.
"Ehm,,," Dzen ragu menjawab, dia menoleh kearah Mutiara, dia sudah ada janji dengan Mutiara untuk mengantarnya untuk mengambil motornya di lokasi TKP. Tetapi, setelah dipikir-pikir, dia berprofesi seorang dokter, harus siap selalu ketika ada pasien butuh bantuan.
"Okey, saya otw ke IGD sus." kata Dzen mengakhiri sambungannya. Kemudian Dzen kembali kepada Mutiara dan Nilam yang berdiri di depan pintu ruang rawat VIP.
"Ehm, Tiara." panggil Dzen.
"Ya dok?"
"Misal kamu tunggu saya dulu bagaimana? Ini mendadak saya ada pasien di ruang IGD, kebetulan dokter yang jaga sore ini sedang berhalangan." kata Dzen.
"Oya tidak apa-apa dok. Saya bisa pesan ojek online kok, atau kalau tidak bisa minta tolong teman saya untuk menjemput saya." kata Mutiara.
"Lho, memangnya mbak Tiara tadi naik apa?" tanya Nilam.
"Jadi, tadi itu, motor Tiara saya suruh titipin di warung dekat lokasi kecelakaan mbak, kemudian saya mengantarnya ke kampus, karena dia ada kuliah. Lalu ke sini nya tadi dia dibonceng teman, rencananya, mau ambil motor bersama saya. Ternyata saya ada tugas mendadak." kata Dzen.
__ADS_1
"Owh, ya sudah kalau begitu, biar diantar Zio aja ya." kata Nilam langsung masuk ruang rawat inap ibu Suyamti.
Mutiara dan Dzen hanya saling berpandangan menanggapi keputusan Nilam. Namun, kemudian Dzen berpamitan pada Mutiara.
"Maaf ya Tiara, saya harus segera ke IGD, kamu hati-hati ya. Kalau ada apa-apa, jangan sungkna hubungi saya." kata Dzen.
"Ya dok." jawab Mutiara.
Dzen pun segera meninggalkan Mutiara sendiri di depan ruang rawat bu Suyamti. Tak berapa lama kemudian, Zio muncul dari balik pintu.
"Ayo." kata Zio dingin.
"Siapa yang dimaksud?" tanya Mutiara.
"Kamu lah." kata Zio sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Oh, ya. Baik pak." kata Mutiara bergegas menyusul dosennya.
💞💞💞
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, mereka saling membisu. Hingga sampai di mobil, Zio langsung membuka pintu kemudi. Sedangkan Mutiara masih berdiri didekat mobil, bingung, karena tidak dipersilakan si empunya mobil.
"Ngapain disitu?" tanya Zio.
"Eh, engga pak. Gapapa." jawab Mutiara.
"Ayo masuk." kata Zio.
"Ya pak." kata Mutiara sambil membuka pintu belakang.
"Ngapain buka pintu belakang?" tanya Zio.
"Katanya suruh masuk." jawab Mutiara.
"Masuk di depan sini, samping saya. Memang saya sopir kamu." kata Zio judes.
Mutiara menelan Saliva nya yang kering, karena sedari tadi belum minum.
"Ya pak." jawab Mutiara menurut saja. Lalu membuka pintu sebalah kemudi.
"Jangan lupa, pasang sabuk pengaman." kata Zio.
"Baik pak."
"Biar ga kena tilang." jawab Zio.
"Baik pak." jawab Mutiara yang menarik napas panjang untuk menahan rasa geregetannya atas sikap dingin dosennya itu.
__ADS_1
Zio pun menjalankan mobilnya keluar dari rumah sakit.