
Sepeninggal Dzen dan Mutiara, pak Panca meminum wedang ronde yang dibawakan Mutiara.
"Gimana pak?" tanya bu Lastri.
"Seger." kata pak Panca sambil mengelap bibirnya dengan tisu.
"Bukan itu."
"Apa dong?"
"Gadis tadi."
"Oh... belum tau mah, papa belum bisa menilai, tetapi, ya masuk kriteria lah, karena kesopanannya." kata Pak Panca.
"Ehm, kalo menurut mama sih, ini gadis yang terbaik yang pernah dikenalin Dzen sama kita pa." kata bu Lastri menilai.
"Dia itu tipe istri yang baik pa, dan dia juga bakal jadi ibu yang cerdas. Seperti kata Dzen, dia gadis berprestasi, pasti dia pintar dan cerdas. Dia pekerja keras, berarti dia bukan tipe gadis materialistis, yang akan merugikan Dzen. Lihat saja penampilan nya, sangat sederhana." kata Bu Lastri lagi.
"Tapi masalahnya, dia itu orang kampung ma." elak pak Panca.
"Papa kan udah janji, mau nerima Tiara untuk Dzen. Kenapa masih gengsi sih pa?"
"Masalahnya, mantannya Dzen ini tu putri kesayangan dokter Herman ma, direktur rumah sakit paru, dan dia juga investor terbesarnya papa. Bisa rugi dong papa nanti. Belum lagi dengan karier Dzen, Putri dokter Herman pasti akan melakukan berbagai cara, agar karier Dzen hancur berantakan." kata pak Panca khawatir.
"Pa, Belum jadi menantu aja dia udah berani mengancam ini itu, gimana nanti jadi menantu coba? Kalau Tiara, dia itu polos, dia akan bisa menjaga harta suaminya dengan baik. Mama yakin itu. Rejeki itu udah diatur Tuhan pa. Belum tentu juga kan, Dzen tetap sama Tiara, tetapi karier Dzen justru tambah bagus? Dzen kan anak pintar pa. Yakin dong sama anak sendiri." kata bu Lastri.
Pak Panca tampak berfikir keras. Mencoba menelaah alasan istrinya. Meski Bu Lastri hanyalah ibu tiri, tetapi melihat sikap Dzen yang begitu menghormati nya, bu Lastri jadi sangat ingin memberikan yang terbaik untuk Dzen.
"Ya, coba nanti papa pikir lagi ma. Papa masih harus mencari informasi lagi dari Mutiara." kata pak Panca.
"Okey, tapi please, jangan buat Dzen kecewa." pesan bu Lastri.
"Mama mau ke dapur dulu ya pa, mau nyiapin makan malam." kata bu Lastri. Pak Panca hanya mengangguk.
💞💞💞
Sedangkan di masjid dekat apartemen, Dzen sudah selesai sholat, dan menunggu Mutiara di teras sambil memainkan ponselnya.
"Hei bro, ayo balik." ajak Andi yang juga tadi ikutan sholat berjamaah di masjid.
"Oh ya, duluan aja." kata Dzen.
"Masih nunggu sapa lo?" tanya Andi.
"Calon bini." jawab Dzen sekenanya.
__ADS_1
"Cie... sekarang udah punya calon bini... dia kesini?" tanya Andi.
"Iya. papa pingin ketemu." kata Dzen.
"Widih. kayaknya udah manteb aja nih sama yang ini. Lanjut aja brow." kata Andi.
"Hehe, ya do'ain aja deh." jawab Dzen.
"Pasti. Ya udah, gue duluan ya." kata Andi sambil menepuk pundak Dzen.
"Siap." jawab Dzen.
Setelah ditinggalkan Andi, Dzen kembali menoleh ke arah pintu menuju bagian wanita. Dan betapa terkejutnya dia hingga melongo. melihat bidadari turun dari masjid, melihat sosok gadis cantik, dengan balutan gamis berwarna maroon berjalan ke arahnya.
"MaasyaaAllah, Yaa Allah, betapa besar kuasaMu, sungguh indah ciptaanMu yaa Allah. Cantik, wajah bersih, bak bidadari turun dari syurga. Beruntung banget gue bisa dapetin dia." batin Dzen.
"Ayo mas." kata Mutiara sambil membenahi jilbabnya yang terasa belum pas.
Melihat Dzen yang masih tak bergeming, Mutiara melambaikan tangannya di depan wajah Dzen.
"Mas." panggil Mutiara.
Masih tak bergeming.
"Mas Dzen..." panggil Mutiara sambil menepuk tangan didepan wajah Dzen.
"Eh, ya. Cantik, ada apa?" jawab Dzen gugup.
"Eh, ehm. Ma Maaf Tiara, maaf." kata Dzen lagi.
Mutiara menarik napas dalam, dan mengembuskannya perlahan.
"Masih mau dilanjut?" tanya Mutiara.
"Ha? Ya lanjut lah, mama sama papa udah nunggu." jawab Dzen gelagapan.
"Bukan itu." jawab Mutiara dingin.
"Apa dong?"
"Hubungan kita." jawab Mutiara.
"Ha? Ya, ya lanjut lah Ra, kenapa emangnya?" tanya Dzen bingung dan kalut.
"Jaga pandangan mas Dzen. Jaga dari yang belum halal bagimu. Itu akan lebih baik bagimu." kata Mutiara yang justru risih dengan sikap Dzen terhadapnya.
__ADS_1
"Eh, ya. Oh, ya. Sekali lagi maaf." kata Dzen merasa menyesal.
"Hem." jawaban singkat Mutiara.
"Kamu marah sama mas ya Ra?" tanya Dzen mendekati Mutiara yang sudah mengambil sendalnya.
"Jika sama Tiara, mas Dzen aja gitu terus, Tiara ga yakin mas bisa jaga pandangan dengan wanita lain di luaran sana. Tiara ini belum halal bagi mas, tolong tetap dijaga batasannya." kata Mutiara dengan menunduk.
"Hem... ya. Sekali lagi, maafin mas ya Tiara. Please." kata Dzen memangkupkan kedua tangannya didepan dada, memohon.
Mutiara menoleh dan tersenyum.
"Ayo, om dan tante pasti sudah menunggu." kata Mutiara dengan tersenyum.
"Mas udah dimaafin nih?" tanya Dzen sambil mengekor Mutiara.
"Kali ini Tiara maafin. Jangan diulang lagi ya mas. Tiara cuma takut aja, ada setan diantara kita. Karena bisikan setan sangat halus." kata Mutiara sambil terus berjalan menuju rumah Dzen.
"Oh, ya. Terimakasih ya Tiara." kata Dzen sambil berjalan mensejajari Mutiara dengan tersenyum senang.
"Memang kamu gadis unik Tiara. Dimana mana, gadis kalo dipuji kecantikannya dia akan bersemu merah dan tersanjung, ini malah marah-marah. Emang ya, kamu itu gadis langka yang harus dilestarikan." batin Dzen.
Sesampainya di rumah Dzen, Dzen memencet bel, lalu tak lama kemudian pintu dibuka oleh bu Lastri.
"Kalian sudah kembali." kata bu Lastri ramah.
"Ayo kita makan malam dulu." ajak bu Lastri.
"Ya bu." jawab Dzen yang masuk rumah terlebih dahulu. Lalu diikuti Mutiara dibelakangnya.
"Papa sudah baikan bu?" tanya Dzen.
"Alhamdulillah, setelah minum wedang ronde yang dibawakan Mutiara tadi, katanya badannya sudah terasa lebuh enakan." kata bu Lastri.
"Ini juga katanya mau ikutan makan bersama." kata bu Lastri lagi.
"Ayo Tiara, duduk di sini saja ya, tante udah siapin makan malam untuk kita semua." kata bu Lastri.
Mutiara mengangguk.
Tak lama kemudian, pak Panca keluar dari kamar Dzen dengan keadaan yang sudah lebih baik.
"Kalian sudah kembali?" tanya pak Panca.
"Sudah pa." jawab Dzen.
__ADS_1
"Ayo kita makan malam bersama dulu. Papa sudah lapar." kata pak Panca yang sudah duduk di kursi paling ujung.
Merekapun mengikuti untuk duduk di kursi makan. Saat makanan sudah mulai disantap,Pak Panca mulai menanyakan sesuatu hal kepada Mutiara, untuk mengetahui lebih dalam tentang gadis itu.