Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Dibalik itu


__ADS_3

Siang itu, Zio baru saja selesai mengawasi ujian semester di ruangan tempat Mutiara mengerjakan ujian. Saat sedang menata lembar kerja mahasiswa, ponsel Zio berdering tanda panggilan masuk.


Seketika, Mutiara yang baru beres-beres alat tulisnya menoleh ke arah dosen gantengnya,


📞Shanum


Assalamualaikum. Selamat siang pak Zio.


"Wa'alaikumsalam Shanum." jawab Zio dengan wajah berbinar.


Mutiara yang tak sengaja mendengar suara Zio, dan melihat wajah Zio tampak tersenyum dan sumringah, Mutiara terheran-heran. Karena dosen bermata elang itu, tidak biasanya bersikap seperti itu dan mengangkat telpon disaat masih di ruangan kelas.


"Oh, ya bisa bisa. Okey." kata Zio berbinar.


"Permisi pak." kata Mutiara saat melewati kursi dosen.


"Hem." jawab Zio kembali dengan sikap dingin.


"Tiara." panggil Zio.


"Ya pak?" seketika Mutiara berbalik arah menghadap dosennya.


"Dah sembuh?" tanya Zio tanpa ekspresi.


"Alhamdulillah, sudah pak." jawb Mutiara berbinar senang.


"Syukurlah. Mama nanyain." kata Zio berjalan begitu saja melewati Mutiara.


"Oh, ya pak." kata Mutiara dengan senyum kecutnya. Tadinya dia sudah bagai terbang ke awan karena mendapat perhatian dosennya, ternyata dia bertanya karena mamanya yang menanyakan kabarnya.


Nadia dan Mila yang sudah lebuh dulu keluar, merasa heran karena Mutiara baru keluar dengan wajah sendu.


"Kenapa, Ra? Tumben murung gitu setelah pak Zio keluar." tanya Mila.


"Kamu dihukum sama pak Zio, Ra?" tanya Nadia.


"Engga kok. Aku gapapa. Dah ayo kita sholat dulu." ajak Mutiara.


"Yuk." jawab Mila dan Nadia.


💞💞💞

__ADS_1


"Assalamualaikum. Sorry ya telat." kata Shanum yang langsung duduk di kursi yang sudah tersedia.


"Wa'alaikumsalam. Iya, Gapapa. Dari sekolahan ya?" tanya Zio.


"Iya." jawab Shanum.


"Bu Shanum." sapa Nilam.


"Oh ya. Ini mamanya Diego ya." kata Shanum.


"Iya bu." jawab Nilam.


Pesanan Nilam dan Zio sudah jadi, Nilam menyodorkan daftar menu pada Shanum.


"Bu shanum mau pesan apa?" tanya Nilam.


"Saya minum hot Capuchino saja bu."kata Shanum ramah.


"Ehm, maaf sebelumnya bu Nilam. Saya mau tanya, dulu Bu Nilam menikah dengan papanya Diego, atas dasar perjodohan atau memanh saling cinta?" tanya Shanum.


"Kami saling mencintai bu, kenapa memangnya?" tanya Nilam.


"Ehm, gitu? Dulu papa Diego saat melamar bu Nilam, bilangnya masih single Atau sudah berkeluarga?" tanya Shanum lagi membuat Zio dan Nilam penasaran dengan arah tujuan pembicaraan ini. Karena menurut mereka, ini akan membahas tentang motif buliying dan teror kemarin.


"Jadi begini bu, saya sudah menyelidiki bersama guru yang lain, dan memang benar, anak itu bernama Roy, dia anak SMA kelas satu, dia sengaja melakukan itu dengan motif rasa cemburu dan dendam yang di rasakan." kata Shanum.


"Dendam? Cemburu? Memang Diego salah apa?" tanya Nilam.


"Bu Nilam mengenal bu Sinta?" tanya Shanum.


"Sinta?"


"Ya."


"Tidak." jawab Nilam mengingat-ingat.


"Sinta yang saya kenal adalah Sinta teman SMP saya dahulu." jawab Nilam baru ingat.


"Bu Nilam kenal dengan papanya Diego bagaimana?" tanya Shanum.


"Ya kenalan biasa di sosmed bu." kata Nilam.

__ADS_1


"Jadi begini bu, sebelum pak GeoPian menikah dengan bu Nilam, pak Geopia. sudah menikah dengan wanita lain. Dia sudah berkeluarga dan memiliki satu anak. Namun, disaat anaknya baru berumur satu tahun, dalam rumah tangganya ada konflik, sehingga pak Geopian pergi meninggal kan istri dan anaknya. Setelah satu tahun pergi, ibu Sinta mendapat surat cerai, lalu bu Sinta mengalami depresi. Anak bu Sinta bernama Roy, saat itu Roy baru berumur dua tahun. Hingga kini, Roy sangat membenci papanya, apalagi saat mendapat kabar, bahwa papanya menikah lagi, dan kemarin dia melihat sosok papanya mengantarkan Diego ke asrama, itu yang membuat Roy membenci Diego, dan meluapkan semua kemarahannya kepada Diego. Itu informasi yang saya dapatkan setelah guru BK menginterogasi Roy atas sikapnya yang membuat Diego kabur dari asrama." kata Shanum.


"Mas Pian." gumam Nilam dengan menahan gigi gerahamnya.


"Sabar mbak." kata Zio menenangkan mbaknya.


"Keterlaluan kamu mas." kata Nilam lagi dengan menahan air matanya.


"Maafkan saya bu Nilam, itulah sebabnya saya meminta bu Nilam saja yang saya temui, tidak bersama Diego." kata Shanum.


"Kamu justru sangat berterimakasih pada anda, karena anda sudah berkenan repot-repot mencarikan informasi tentang anak bernama Roy itu." kata Zio.


"Iya pak Zio, kemarin saya coba cek data kedua anak itu, ternyata benar, nama ayah kandung keduanya sama. Diego dan Roy adalah saudara tiri." kata Shanum lagi.


"Aku Harus bicara sama mas Pian." kata Nilam sudah mengambil ponselnya.


"Mbak, mas Pian lagi tugas. Dia masih ditengah lautan, belum bisa pulang." kata Zio mencegah mbaknya.


"Dia udah bohongin mbak Zi, dia bilang dia belum menikah sama sekali. Dia masih perjaka kala itu, tapi apa nyatanya. dia justru sudah berkeluarga, dan anaknya sudah mengganggu anakku, menyakiti anakku, bahkan nyawa anakku menjadi taruhannya atas kelakuan papanya." kata Nilam dengan marah yang meluap-luap.


"Kami paham bu Nilam." kata Shanum mencoba ikut menenangkan.


"Maaf bu Shanum, sepertinya saya bawa mbak saya pulang dulu, agar dia bisa menenangkan diri dulu." kata Zio.


"Ya pak Zio, silakan." kata Shanum.


"Kita pulang dulu ya mbak." kata Zio lembut sambil memapah mbaknya. dan merangkul pundak mbaknya dengan baik.


"Ternyata sosok pak Zio yang angkuh, sombong dan arogan sama sekali tidak tampak ketika dia bersama dengan kakak perempuan nya." batin Shanum menatap punggung Zio dengan tatapan penuh kekaguman..


Shanum pun teringat akan masa lalu nya yang pahit, dimana penyebab kecelakaan maut telah merenggut nyawa kedua orang tuanya. Dia kembali lemas, dan terduduk kembali di kursinya, hatinya perih, rasanya teriris-iris. Ingin rasanya Shanum merasakan kasih sayang seseorang yang begitu mencintainya, dengan segala kekurangannya, namun apa daya, Shanum sudah tidak berani banyak berharap akan hal itu. Dia bisa menjalani kehidupan dengan normal ini saja, dia sudah sangat beruntung.


Dreeet


Shanum tergaketkan karena ponselnya bergetar, saat di cek, ternyata ponselnya mati, karena dia lupa bahwa ponselnya tadi dalam keadaan lowbet, dan dia sendiri lupa tidak membawa charger ataupun powerbank.


"Aduh, mati lagi. Gimana pesen grab nya coba. Hm..." gumam Shanum.


Shanum melihat keluar, hari sudah semakin gelap. Lalu Shanum melihat jam tangannya, hati sudah menjelang malam, dia harus segera pulang. Shanumpun meninggalkan tempat duduknya, lalu pergi keluar.


Senja itu, Shanum berdiri di trotoar sebrang jalan tempat kafe tempat Shanum makan tadi.

__ADS_1


"Shanum." panggilan yang tak asing bagi Shanum, ada desiran darah yang mengalir begitu cepat di tubuhnya.


Siapa ya kira-kira? Simak cerita berikutnya ya😉Teeimakasih sudah memberikan semangat buat author , dengan memberi Like.


__ADS_2