
Setelah sholat, Mutiara mencium punggung tangan suaminya, dan Dzen mengecup kening Mutiara dengan cukup lama.
"Mas."
"Ya?"
"Masih banyak tamu yang menunggu kita di bawah." kata Mutiara.
"Hm..." Rasanya Dzen masih ingin berlama-lama dengan istrinya, namun apa daya, siang-siang masih banyak tamu yang datang, terutama sanak saudara dari keluarga Mutiara, dan beberapa teman kuliah Dzen dan Mutiara.
Mereka berdua pun turun ke lantai bawah dan menemui tamu-tamunya. Hotel tempat acara resepsi memang di boking pak Panca, untuk menerima tamu, dan juga sebagai tempat istirahat keluarga dari Jakarta maupun dari Makassar. Sehingga, sampai malam pun hotel itu berasa rumah sendiri.
Hingga senja tiba, seluruh keluarga sudah kembali ke rumah masing-masing dan beberapa yang datang dari jauh, sudah menuju kamar masing-masing. Begitupun dengan Mutiara dan Dzen, selaku pengantin baru.
"Sudah adzan mas." kata Mutiara saat mereka berduaan di kamar sejak selesai melaksanakan sholat maghrib.
"Ehm, mas sholat di sini aja ya." kata Dzen.
Mutiara menggeleng.
"Laki-laki Sholih itu sholatnya di masjid mas, kalau sholat di kamar, namanya laki-laki Sholihah." kata Mutiara mengerlingkan matanya.
"Hhhh, tapi mas masih pingin sama kamu sayang." kata Dzen merajuk.
"Mas..." kata Mutiara dengan nada meninggi, mulai memaksa suaminya untuk pergi ke masjid.
"Okey, okey sayang... Tapi kamu jangan kemana-mana ya, jangan tinggalin mas lho." kata Dzen.
"Iya mas." jawab Mutiara tersenyum lembut.
"Ah. sayang, jangan senyum dong, bikin mas pingin nempel terus tau." kata Dzen yang tadinya sudah berdiri, kembali memeluk istrinya lagi yang masih berbalut mukena.
"Ih... udah ah, sana. Mas sholat ke masjid dulu sana, entar telat mas." kata Mutiara mendorong suaminya untuk menjauhi dirinya.
"Okey. okey. Muach." kata Dzen yang sudah memonyongkan mulutnya untuk cium jauh pada istrinya. Mutiara hanya tersenyum malu menanggapi suaminya.
Selama Dzen di masjid, Mutiara sholat isya' juga di kamarnya, setelah sholat, Mutiara berniat untuk memberi hadiah untuk suaminya sepulang dari masjid, sebagai reward atas usahanya yang mengalahkan hawa nafsunya yang tidak mau ke masjid.
Saat pintu kamar diketuk, Mutiara segera ke toilet, dan menutup pintu toilet sambil menunggu waktu yang tepat untuk memberi kejutan suaminya.
"Assalamualaikum. Sayang, mas kembali." kata Dzen membuka pintu kamarnya, lalu menyapu pandangan ke penjuru arah di dalam kamar. Namun, sosok yang dicarinya tidak tampak di sana.
__ADS_1
"Sayang..." masih tak ada sahutan. Lalu Dzen bergegas menuju toilet, untuk membuka pintu toilet.
"Tiara... Apa kamu di dalam?" tanya Dzen sambil mengetuk pintu toilet.
"Iya mas." jawab Mutiara.
Tak lama kemudian, pintu toilet terbuka. Seketika Dzen menoleh ke arah pintu toilet, baru beberapa menit saja dia tinggalkan istrinya ke masjid, rasanya dia sudah Rindu. Tampak olehnya, Mutiara keluar dari toilet, dengan mengenakan lingerie berwarna hitam, yang begitu mengekspos kakinya yang panjang, dan belahan dada. Rambutnya dibiarkan terurai, Mutiara menunduk, sambil berjalan perlahan menuju suaminya berdiri.
Dzen menatap istrinya dengan begitu takjub, dadanya bergemuruh hebat, jakunnya naik turun, dan Dzen menelan salivanya dengan kasar.
"Sayang..." panggil Dzen sambil tetap memandang pemandangan yang tak pernah dia lihat dari gadisnya.
"Terimakasih mas sudah mau ke masjid, karena seorang pria yang Sholih adalah dia yang selalu pergi ke masjid untuk sholat fardlu. Dan, ini reward buat mas malam ini. Apakah mas menyukainya?" tanya Mutiara dengan Tatapannya tetap menunduk, karena dia masih malu untuk berhadapan dengan suaminya.
"Ah, sayang... tentu aku sangat suka." kata Dzen, yang sudah mulai merasakan rangsangan pada tubuhnya. Dzenpun mendekati Mutiara dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang istrinya. Dan Dzen merapatkan tubuh istrinya lebih menempel pada tubuhnya. Dzen yang masih mengenakan sarung dan baju koko, mulai meraba kepala istrinya, hingga ke wajah, dan mengangkat dagu Mutiara dengan lembut.
"Apa kamu sudah siap sayang?" tanya Dzen lembut.
Mutiarapun mengangguk perlahan.
"Baiklah." jawab Dzen yang kemudian membopong istrinya dan membaringkan Mutiara di ranjang. Lalu Dzen melepas baju dan sarungnya. Kemudian cinta merekapun tersalurkan di malam pertama.
💞💞💞
Tak berapa lama, Dzen juga terjaga, dia menyadari, teman tidurnya sudah tidak ada disampingnya. Dzenpun bangun, dan mengambil handuk yang sepertinya sudah disiapkan Mutiara di meja dekat kasur nya. Saat melihat ke tempat tidur Mutiara, Dzen melihat ada bercak darah di sana. Dzenpun tersenyum senang.
Tak berapa lama kemudian, pintu toilet terbuka. Mutiara sudah keluar dengan pakaian lengkapnya. Ternyata Mutiara sudah berganti pakaian dari dalam, tetapi dia tidak berjilbab, dia menggosok rambutnya yang basah dengan handuk ditangannya.
"Eh, mas. Mas sudah bangun? Maaf, suara air tadi mengganggu tidur mas ya?" tanya Mutiara.
"Engga kok sayang, yang bikin mas bangun itu, karena guling mas udah ga ada di kasur." kata Dzen mengerling kan matanya.
"Oh..."
"Sayang."
"Yaa mas?"
"Terimakasih ya."
"Untuk?"
__ADS_1
"Semalam. Pasti sakit ya?" tanya Dzen sambil menoleh ke arah bercak darah disampingnya.
"Ya begitulah, tetapi ga masalah. Itu sudah fitrah. Terimakasih mas sudah melakukannya dengan berhati-hati." kata Mutiara dengan tersipu malu.
"Ehm, tunggu mas ya. Mas mandi dulu, kita sholat bareng ya." kata Dzen yang tau kalau Mutiara akan melaksanakan sholat malam.
"Ya mas."
Dzenpun masuk toilet dan mandi junub seperti yang dilakukan Mutiara. Setelah selesai, Dzen keluar dan bersiap untuk sholat malam bersama sang istri. Ini adalah kali pertama Mutiara sholat malam secara berjamaah.
Setelah sholat malam selesai, tidak seperti biasanya, Mutiara tidak mengaji, dia duduk dan Dzen merebahkan tubuhnya dengan kepala berapngku di paha Mutiara. Mutiara mengelus rambut Dzen dengan lembut.
"Sayang."
"Hm?"
"Terimakasih ya? Mas masih ga percaya, kalau kita sudah sah suami istri." kata Dzen.
"Kenapa?" tanya Mutiara heran
"Karena untuk mendapatkan mu, itu rasanya mustahil."
"Kok bisa?"
"Karena kamu adalah sebutir Mutiara di dalam cangkang, dan terletak didasar lautan yang dalam. Dan rasanya aku tak mampu meraihnya." kata Dzen.
"Mas jauh dari agama, masa lalu mas juga suram, tetapi kamu gadis yang sempurna." lanjut Dzen.
"Tidak ada manusia yang sempurna mas, mas Dzen bisa bilang begitu, karena mas belum tau kekurangan Tiara." kata Mutiara masih dengan mengelus kepala Dzen.
"Gitu ya?"
"Kalau mas tau kekurangan Tiara, apa mas tetap setia menjadi imam Tiara?" tanya Mutiara.
"Kenapa kamu bilang begitu sayang?" tanya Dzen mendongak, menatap wajah istrinya.
"Karena ada banyak mantan mas Dzen." kata Mutiara tersenyum meledek.
"Ah, mereka? Mereka jauh dari kamu Tiara, kamu jauh dan sangat jauh lebih baik dari mereka. Terimakasih ya sudah memilih mas sebagai imammu. Padahal, ilmu agama mas, masih jauh dari baik." kata Dzen minder.
"Kita akan belajar sama-sama ya mas." kata Mutiara.
__ADS_1
"Okey sayang." jawab Dzen.
Adzan subuh pun berkumandang, Dzen pun pergi ke masjid, dan Mutiara sholat di rumah.