Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Menjagamu


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit yang dimaksud oleh polisi tadi, Mutiara langsung masuk ke rumah sakit bersama Kenzo.


"Maaf mbak, mau tanya. Korban kecelakaan di jalan tol, atas nama Ahmad Zainuddin benar dirawat disini mbak?" tanya Mutiara dengan nada setengah panik.


"Sebentar ya mbak, saya cek dulu." kata petugas jaga lobi rumah sakit.


"Oh, ya benar. Pasien baru saja dipindahkan ke ruang rawat inap VIP nomer 2, dari sini lurus saja, kemudian belok kanan, nanti ada tangga sebelah kiri, naik saja, ruangannya di sana." kata petugas jaga memberi arahan.


"Oh ya, baik mbak, terimakasih." kata Mutiara.


"Sama-sama."


Mutiara bersama Kenzo menuju ruang rawat VIP nomer 2, sesuai arahan petugas. Sesampainya di sana, kebetulan dokter baru saja keluar dari ruangan itu bersama dengan dua orang perawat.


"Permisi dokter, apa benar pasien didalam adalah korban kecelakaan di jalan tol atas nama Ahmad Zainuddin?" tanya Mutiara.


"Ya, benar. Anda keluarganya?" tanya dokter muda itu.


"Ya dok. Ehm, saya calon istrinya." kata Mutiara.


"Calon istri Dzen? Oh, iya, ini kan cewek yang waktu itu? Jadi beneran ni orang sama cewek ini? Padahal dulu cuma bercanda, eh malah beneran." batin dokter Bayu, teman seprofesi Dzen yang bertugas di rumah Sakit Ungaran.


"Ehm, kalau boleh tau, bagaimana keadaannya sekarang dok? Apakah ada yang serius?" tanya Mutiara dengan wajah cemas.


"Oh, ya. Alhamdulillah, pasien keadaannya tidak terlalu serius, hanya saja tadi sempat pingsan sebentar, karena mengalami benturan yang cukup keras di bagian dahinya. Sehingga tadi sempat kami jahit dulu, karena cukup dalam lukanya. Sedangkan bagian yang lain, adalah tangan kanannya. Pada bagian pergelangan tangannya, mengalami patah tulang, sehingga pasien harus menjalani pemasangan pen, jika nanti sudah disetujui oleh pihak keluarga." kata dokter Bayu.


"Lakukan yang terbaik dok." kata Mutiara.


"InshaaAllah, besok pagi pasien akan kami pasangi pen, oleh dokter bedah ya mbak. Sebelum itu nanti, anda bisa mengisi surat persetujuan dan menandatanganinya." kata dokter Bayu.


"Ini pasien baru saja saya beri obat tidur, agar keadaannya lebih baik, Jika mau menjaga dipersilakan. Nanti jika ada apa-apa silakan langsung hubungi petugas." kata dokter Bayu menjelaskan dengan ramah.


"Baik dok. sekali lagi, terimakasih banyak dokter." kata Mutiara santun.

__ADS_1


"Sama-sama. Kami permisi dulu." kata dokter Bayu ramah.


Setelah dokter dan dua perawat itu pamit, Mutiara dan Kenzo segera masuk ke ruang rawat inap tersebut. Tampak oleh nya, sosok pria baik itu terbaring lemah diatas Hospital Bad.


"Mas, kok jadi begini sih?" gumam Mutiara dengan wajah sedihnya sambil mendekati wajah tampan calon suaminya.


"Sabar mbak. Ini ujian." kata Kenzo.


"Mbak, aku duduk disofa itu ya." kata Kenzo menunjuk sofa dekat pintu ke toilet.


"Iya" kata Mutiara yang sudah duduk di kursi tunggu dekat nakas pasien.


"Hoahm...Mbak, Ken ngantuk nih, Ken lanjut tidur dulu yam Besok Ken ada kuliah soalnya." kata Kenzo.


"Oh, iya Ken." jawab Mutiara.


Tak berapa lama kemudian, ada suara pintu diketuk. Ternyata seorang perawat.


"Maaf mbak. Ini ada titipan dari pihak kepolisian. menitipkan barang barang berharga milik pasien." kata perawat sambil menyerahkan dompet dan ponsel milik Dzen.


Perawatpun keluar ruangan. Saat menoleh ke arah Kenzo, ternyata Kenzo sudah pulas, benar saja dia sudah mengantuk berat, Mutiara hanya geleng-geleng kepala dengans sepupunya satu itu.


Jam menunjukkan pukul dua dini hari, Mutiara beranjak ke toilet untuk mengambil air wudlu, dan menjalankan sholat malam. Dia sudah membawa mukena dari rumah, agar tidak kesulitan jika dia ingin menjalankan sholat sewaktu-waktu. Setelah sholat, Mutiara mengambil mushafnya yang juga dia bawa di dalam tasnya. Dipun mengaji dengan suara pelan, agar tidak mengganggu Istirahatnya Dzen dan Kenzo.


Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Dzen terjaga dari tidurnya, dia mendengar suara merdu perempuan sedang mengaji, lalu dia menarik tubuhnya ke atas, untuk duduk bersandar. Dilihatnya seorang gadis cantik,dengan balutan mukena sedang asyik melantunkan bacaan Qur'an, membelakanginya. Lama, Dzen menatap punggung gadis itu, sambil tersenyum.


"Sungguh, sangat beruntung aku bisa menjadi bagian dari hidupnya. Jika memang dia jodohku, InshaaAllah, aku tak salah memilihnya. Dia gadis yang baik dan taat. Suaranya sungguh indah, membuatku hatiku bergetar.". batin Dzen.


"Sungguh, kecantikan mu alami, ketulusan hatimu murni, dan kelembutan katamu menyejukkan hati. Mutiara Hati, Aku selalu berdoa, agar Allah tetap menyatukan kita dalam ikatan pernikahan." lanjut Dzen.


Tak lama kemudian, Mutiara sudah mengucap lafadz 'Shodaqollahul'adzim.', yang artinya dia sudah selesai menjalankan ibadah kuliah. Kemudian, Mutiara melepas mukenanya dan melipatnya dengan rapi. Saat berdiri dan berbalik badan, dia melihat Dzen sudah teruduk di hospital bad dengan bersandar di kepala ranjang.


"Mas Dzen? Mas sudah bangun?" sapa Mutiara tersenyum sambil melangkah mendekati nakas lalu meletakkan mukenanya di rak bawah.

__ADS_1


"Iya. Sudah dari tadi " kata Dzen.


"Lhoh, kok ga panggil Tiara mas? Mas mau minum? Atau makan? Atau mau ke toilet?" tawar Mutiara bak wartawan.


"Engga, mas cuma pingin duduk aja." kata Dzen sambil tersenyum lebar.


"Ya ampun mas, mas ni ya, lagi sakit masih aja senyam senyum begitu? Emang ga sakit?" tanya Mutiara khawatir.


"Engga. Kan udah ada dokter." kata Dzen dengan tersenyum.


"Dokter datangnya masih nanti mas, saat mau ngurus pasang pent." sanggah Mutiara.


"Bukan, bukan itu dokter yang ku maksud." kata Dzen menolak.


"Terus? Siapa?" tanya Mutiara Heran.


"Kamu." jawab Dzen tersenyum sambil sekilas menatap Mutiara yang sudah bersemu merah.


"Tiara?" tanya Mutiara heran sambil telunjuk kanannya menunuk dadanya.


"Yup. Kamu dokterku. Dengan adanya Tiara, mas Yakin, mas akan segera sembuh." kara Dzen sambil mengerlingkan matanya.


"Hem..." Tiara no coment.


"Mas, bisa ceritakan ke Tiara, gimana kronologi nya, mas bisa kecelakaan? Kecelakaannya tunggal ya?" tanya Mutiara mengalihkan pembicaraan.


"Iya. Jadi, sebenarnya sejak sampai di bandara nganterin papa mama dan adek adek, mas tu udah ngantuk dan capek. Tapi mengingat besok harus tugas pagi, membuat mas memilih langsung kembali ke Semarang." kata Dzen.


"Terus?"


"Pas dijalan, rencananya mas mau rehat di rest area, tetapi, belum sampe rest area, kantuk mas bener-bener ga bisa dilawan, sepersekian detik, mas tertidur, hingga tak sadar, mas ngerasa kaya ada orang menyebrang, karena takut nabrak orang itu, ya mas langsung banting setir dan ternyata mobil mas nabrak Marka jalan. Abis itu, mas ga sadar." kata Dzen menjelaskan.


"Astaghfirullah. Lain kali, lebih hati-hati ya mas." kata Mutiara menasehati.

__ADS_1


"Yup." jawab Dzen bahagia mendapat perhatian dari calon istrinya.


__ADS_2