
Ice Breaking, waktu istirahat sementara untuk para peserta seminar. Dzen yang duduk bersebalahan dengan Lisa, menawarkan Lisa, apakah mau ke toilet dulu atau tidak.
"Kamu mau keluar?" tanya Dzen sambil memiringkan duduknya untuk memberi jalan Lisa.
"Tidak, terimakasih." jawab Lisa.
"Ehm, baiklah."
"Ehm, Dzen." panggil Lisa.
"Ya?"
"Kamu masih tetap di Semarang, atau memang sudah pindah dari kota itu?" tanya Lisa.
"Alhamdulillah, setelah lulus, aku masuk kerja di RSUD, tempat kita koas dulu." kata Dzen yang kembali teringat oleh masa-masa indah bersama mantan kekasihnya itu.
"Oh." jawab Lisa singkat.
"Kalo kamu? Memang tinggal di Solo, atau bagaimana?" tanya Dzen.
"Aku, tinggal di Solo." kata Lisa.
"Ehm, pindah ya?" tanya Dzen yang memang sudah tau, bahwa suami Lisa adalah orang Semarang.
"Ehm, begitulah." jawab Lisa seperti menyembunyikan sesuatu.
"Oya, kamu dari Semarang jam berapa? Habis subuh ya?" tanya Lisa mencoba mengalihkan perhatian.
"Engga. Aku ke Solo udah dari kemarin kok. Sekalian ada janji sama Professor, untuk mengurus Jurnalku yang diterima." kata Dzen.
"Kamu jadi lanjut PPDS?" tanya Lisa.
"Alhamdulillah, jadi. Baru dapet setahun ini sih." kata Dzen nyengir kuda.
"Oh, ya. Bagus dong. Kamu hebat Dzen." kata Lisa mencoba tersenyum lebar. Kembali Lisa terbayang, seandainya dulu dia tetap bersama Dzen, mungkin mimpi mereka untuk mendirikan klinik sendiri akan terwujud. Karena keduanya akan melanjutkan PPDS, dengan spesialis nya masing-masing.
"Kalo kamu, emang dinas di sini, atau bagaimana Sa?" tanya Dzen.
"Aku, tugas di rumah sakit ini." kata Lisa.
"Wah, hebat juga kamu ya." kata Dzen memuji Lisa. Dan Lisa hanya tersenyum. Senyuman yang membuat Dzen rindu dengan masa lalunya, yang membuat dirinya candu. Senyuman yang dulu terasa manis, kini justru terasa teriris iris.
"Oya, Suamimu masih jadi pengusaha di Semarang atau memang sudah pindah ke Solo juga?" tanya Dzen.
"Dia tidak ikut ke Solo. Yang pindah ke Solo hanya aku, Jelita dan mamaku." kata Lisa menahan matanya yang mulai terasa panas.
"Apa maksudmu? Ayahmu?" tanya Dzen penasaran. Tetapi waktu ice breaking sudah selesai. Dan acara seminar dilanjutkan, Dzen dan Lisa fokus dengan materi seminar. Dan obrolan mereka terputus.
Hingga tiba waktu Dzuhur tiba, Dzen bersiap berdiri akan menuju ke Mushola untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur.
__ADS_1
"Dzen." panggil Lisa sambil memegang pergelangan tangan Dzen.
"Ya?" tanya Dzen, yang perlahan melepaskan tangan Lisa dari tangannya.
"Eh, maaf. Kamu mau kemana?" tanya Lisa yang baru sadar dirinya melanggar, karena tak sengaja memegang tangan Dzen.
"Mau sholat." jawab Dzen.
"Aku ikut." kata Lisa. Dzen mengernyit, karena Monalisa adalah mantan kekasihnya itu bukanlah seorang muslim.
"Ehm, Okey." jawab Dzen tanpa banyak tanya.
Seusai Sholat, Dzen melihat Lisa masih duduk ditempat yang sama seperti tadi.
"Kamu ga sholat?" tanya Dzen sambil memakai sepatunya.
"Ehm, engga. Aku... belum menjadi muslim." kata Lisa.
"Oh, aku pikir kamu mau ikut tadi, karena kamu sudah bersyahadat." kata Dzen. Lisa menggeleng.
"Aku, mau cerita." kata Lisa.
"Ehm, Okey. Sambil makan siang ya." kata Dzen. Lisa mengangguk.
Di meja tempat mereka makan, siang itu Paniti seminar menyiapkan makan siang secara prasmanan, sehingga Dzen dan Lisa bisa makan dengan tenang berdua di meja bundar.
"Dzen."
"Ya?"
"Belum." jawab Dzen datar dengan menekuri makanannya.
"Ehm. Aku... aku Janda Dzen." kata Lisa, seketika Dzen tersedak oleh makanannya.
"Uhuk uhuk."
"Astaga, Dzen. Sorry sorry. Ini, diminum." kata Lisa memberikan minuman air mineral pada Dzen.
Dzen memberi isyarat dengan tangannya, saat Lisa akan menepuk pundaknya. Dengan mengambil minum, agar batuknya reda.
Lisa yanf mengetahui Isyarat itu, mengurungkan niatnya untuk menepuk punggung Dzen.
"Are you ok?" tanya Lisa khawatir.
"Yes, I Am Ok."_ jawab Dzen sambil mengelap mulutnya dengan tisu makan.
Setelah menormalkan diri, Dzen kembali bertanya.
"Kenapa menjanda? Suamimu meninggal?" tanya Dzen heran. Lisapun menggeleng.
__ADS_1
"Aku dicerai." kata Lisa.
"Why?" tanya Dzen.
Lisa menunduk dan menumpahkan air matanya. Dzen yang selalu tak tega melihat seorang wanita menangis, dia berusaha tegar dengan tetap pada pendiriannya untuk tidak memberikan pundaknya pada wanita lain. Dzen menginginkan Mutiara Hati yang begitu menjaga, sehingga diapun berusaha untuk menjaga juga.
"Masalah yang sudah kompleks. Sejak awal pernikahan, kami memang sudah tidak saling cinta." kata Lisa.
"Dia, kembali pada mantan kekasihnya, saat dia tau, aku masih menyimpan nomermu, dan masih menyimpan fotomu dan foto kita." kata Lisa, yang membuat Dzen terbelalak.
"Kamu masih nyimpen fotoku?" tanya Dzen tak percaya.
Lisa mengangguk.
"Sebenarnya aku udah bilang, kalau aku udah ga pernah hubungi kamu lagi. Kita udah lama ga kontak kontakan. Tapi dia ga percaya Dzen, dia ngamuk. Ponselku dibanting. kartu ku dicabut dan dibuang, semua foto dan buku diary tentang perjalanan cinta kita, semua diketahui dia lalu dibakar olehnya. Selang satu minggu. Dia mengabari kalau mantannya udah hamil, dan dia harus menikahi mantannya itu. Mau ga mau mertuaku merestui, meski aku di poligami."
"Aku ga mau di poligami Dzen, akhirnya aku diceraikan secara sepihak. Hak asuh Jelita masih berada di tanganku, tetapi nanti jika Jelita sudah lewat usia balita, hak asuh dia berpindah pada papanya." kata Lisa mengisahkan tentang kisah kelabu nya.
"Lalu, ayahmu?" tanya Dzen.
"Ayahku sudah meninggal Dzen, sejak tau kalau aku dicerai. Ayahku kena serangan jantung, dan akhirnya aku kembali ke kota asli mamaku tinggal. Yaitu di Solo." kata Lisa.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un. Aku turut berduka, Sa." kata Dzen menanggapi.
"Terimakasih Dzen." kata Lisa.
"Dari dulu, hingga sekarang, perasaanku ga pernah berbubha untukmu Dzen. Rasa ini masih sama, meski aku tau, kalau kamu sudah menjalin hubungan dengan sorang gadis." kata Lisa. Dzen terperanjat.
"Maksudmu?" tanya Dzen khawatir kalau Lisa sudah mengetahui dia mencintai Mutiara.
"Aku tau, kamu menjalin hubungan dengan anak dokter spesialis paru bernama Dokter Herman." kata Lisa.
Dzen merasa lega, bahwa Lisa taunya Dzen menjalin hubungan dengan Lala.
"Oh, Lala? Kamu mengenal pak Herman?" tanya Dzen, malas membahas Lala.
"Pak Herman adalah dokter spesialis paru yang sering ku kunjungi, karena aku harus selalu konsultasi untuk kesembuhan Jelita. Jelita mengalami kelainan Paru sejak bayi." kata Lisa.
"Aku udah ga sama Lala." kata Dzen.
"Why?" tanya Lisa heran.
"Dia cantik, baik, anak dokter. Kenapa ga dilanjut?" tanya Lisa heran.
"Sama sepertimu, dia pergi meninggalkan aku, karena laki-laki lain." kata Dzen membuang pandangannya ke Sembarang arah.
Seketika Lisa terkesiap dengan sepenggal kata itu. Dia sadar, bahwa hubungannya terputus, karena dia yang memutuskan. Dzen adalah lelaki baik yang tak pernah menyakiti hati perempuannya. Dia selalu bersikap baik dengan siapapun, dan itu adalah penyesalan terbesar Lisa.
Waktu makan siang telah usai, Dzen dan Lisa kembali ke tempat duduk semula dengan keadaaan hati yang berbeda.
__ADS_1