Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Kata adalah Do'a


__ADS_3

Saat Mutiara dan Dzen berboncengan menuju kosan Mutiara, tiba-tiba rintik hujan mulai menyambut mereka.


"Tiara, mulai hujan nih, gimana? Berhenti dulu apa lanjut?" tanya Dzen.


"Cuma tinggal sebentar lagi mas, misal lanjut aja gimana?" tanya Mutiara yang mengamankan tas Dzen dan tas ranselnya juga dari hujan.


"Okey. Pegangan ya, biar aku gebut." kata Dzen menambah laju kecepatan motornya.


Hingga saat masuk gang, hujan mulai deras, lalu mereka berhenti di depan kosan Mutiara dengan keadaan baju Dzen yang sudah basah kuyub. Mereka berdua pun turun dari motor.


"Maaf ya mas, karena aku mas Dzen jadi basah kuyub gitu." kata Mutiara merasa bersalah.


"Gapapa, Ra. Santai aja." kata Dzen memeras bajunya yang basah kuyub.


"Mas Dzen tunggu sini dulu ya, Tiara ambilin plastik buat ngamanin tasnya mas Dzen. Itu isinya alat medis kan?" kata Mutiara sambil beranjak masuk.


"Iya Tiara." jawab Dzen.


Saat Mutiara masuk ke dalam rumah, datang seorang wanita yang juga basah kuyub, dengan motornya. Diapun akan masuk ke kamarnya, namun dia melihat ada seorang pria tampan di teras rumah ibu kosnya. Bajunya yang putih, menampakkan pakaian dalamnya karena basah oleh air hujan, dan rok mininya yang dia kenakan juga basah. Rambutnya tergerai basah, dia rapikan sambil berjalan genit ke arah Dzen yang sedang berdiri menatap hujan.


"Eh, ada tamu rupanya." sapa gadis itu dengan gaya hentinya, melenggak lenggokkan tubuhnya yang seksi.


"Ehm, mbak. Maaf, saya ijin berteduh sebentar." kata Dzen sungkan, karena seketika saat dia menoleh ada pemandangan yang membuat Dzen tak nyaman. Sehingga Dzen langsung mengalihkan pandangannya kembali ke jalan.


"Lama juga gapapa kok mas." jawab gadis itu sambil berjalan semakin mendekat dengan memainkan rambutnya yang basah.


Dzen tak bergeming.


"Oya, kenalin. Aku Silvia, mas Siapa?" tanya Silvia sambil mengulurkan tangannya mengajak berkenalan, sambil tersenyum nakal.


"Saya Dzen." jawab Dzen tanpa menoleh dan membalas uluran tangan itu.


"Oh. Dzen? Nama yang cakep, secakep orangnya." kata Silvia yang semakin mendekat ke arah Dzen. Sedangkan Dzen perlahan bergeser menjauh.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya tampak keluar dari rumahnya.


"Eh, ada mas Dokter ternyata." sapa bu Sri, pemilik kos tempat Mutiara tinggal.


"Mbak Silvi? Sedang apa disini?" tanya bu Sri dengan wajah tak senang.


"Lagi nemenin mas ganteng ini bu, dia numpang berteduh di sini. Kasian kan, ga ada yang nemenin." kata Silvia memberi alasan.


"Hem, tapi liat itu pakaian kamu, basah kuyub begitu, segera masuk sana, ganti baju. Nanti masuk angin." kata bu Sri.


"Tapi bu..." kata Silvia yang terputus oleh gerakan bu Sri yang menarik tubuhnya untuk menjauh dari Dzen.

__ADS_1


"Segera ganti pakaianmu, kalau sakit, nanti ga ada yang ngurusin kamu. Lagipula, dia bukan tamumu, dia tamunya Tiara." kata bu Sri tegas.


"Hm... Iya iya." kata Silvia dengan wajah kecewa.


"Mas Ganteng kapan kapan ngobrolnya disambung lagi ya." kata Silvia dengan genit nya berpamitan pada Dzen.


Bu Sri yang melihat tingkah Silvi hanya geleng-geleng kepala.


"Mas Dokter sudah lama di sini?" tanya bu Sri.


"Belum kok bu." jawab Dzen sopan.


"Duduk sini mas." perintah bu Sri untuk duduk di kursi rotan yang disediakan di teras rumahnya.


"Ya bu, terimakasih." jawab Dzen.


"Tiara kemana?" tanya bu Sri.


"Katanya mau nyariin plastik atau sejenisnya gitu bu, buat mengamankan tas saya." kata Dzen.


"Oh. Mas Dokter, maafin tingkah temennya Tiara tadi ya. Itu namanya Silvia, ibu tu suka risih sama dia, anak itu emang gitu, susah dibilangin nya." kata Bu Sri tidak enak hati.


"Iya bu, gapapa." jawab Dzen.


"Maaf mas, nunggu lama. Ini silakan diminum dulu mas, sambil menunggu hujannya rada reda." kata Mutiara meletakkan secangkir teh hangat di meja dekat Dzen duduk.


"Eh, ya ampun Tiara, kenapa repot-repot sih?" kata Dzen sungkan.


"Ga repot kok mas. Diminum mas, ga terlalu panas kok, cuma hangat, biar bisa langsung diminum, buat menghangatkan badan." kata Mutiara dengan tersenyum.


"Terimakasih Tiara." kata Dzen sambil menyeruput teh hangat buatan Mutiara.


"Alhamdulillah, yaa Allah. Dapet teh hangat buatan dari Tiara, kaya udah berasa punya bini gue, Hehehe." batin Dzen dengan tersenyum.


"Hem, melihat kalian tu, jadi bikin ibu keinget sama almarhum bapak." kata bu Sri.


"Emang kenapa bu?" tanya Mutiara.


"Ya begitu, kalau hujan begini, beliau suka minta dibuatin teh hangat, biar badannya ga terlalu kedinginan. Beliau juga duduk di kursi rotan ini." kata bu Sri.


"Kalian itu, cocok lho jadi pasangan suami istri." kata bu Sri dengan tersenyum senang.


"Ehem." dehem Dzen yang merasa mendapat satu dukungan lagi.


Mutiara hanya menatap kaget mendengar kata-kata bu Sri.

__ADS_1


"Ehm, kita cuma temenan kok bu." kata Mutiara malu-malu, dengan berusaha menguasai diri yang sempat syok mendengar penuturan ibu kosnya.


"Ya kan siapa tau Ra? Dari temen jadi demen. Siapa tau kalian emang berjodoh. Iya kan mas Dokter?" kata bu Sri sambil menoleh ke arah Dzen meminta persetujuan.


"Aamiin." jawab Dzen dengan tersenyum, dan dia melihat wajah Mutiara yang memerah, mungkin menahan malu. Mutiara seketika menoleh ke arah Dzen saat Dzen mengucap kata Aamiin.


"Tuh kan Ra? Mas Dokter kayaknya setuju sama kata ibu. Udah, terima aja mas dokter. Disini, cuma kamu lho Ra, yang masih jomblo. Semuanya pada udah punya pasangan." kata bu Sri memprovokasi hati Mutiara.


"Eh, bu Sri nih apaan sih?" kata Mutiara malu.


"Eyang!!!" teriak seorang anak kecil dari dalam.


"Haduh, itu si gemoy. hobi sekali mengganggu eyangnya. Saya tinggal ya mas Dokter, silakan dilanjut sama Tiara." kata bu Sri pamit.


"Ya bu." jawab Dzen.


"Maaf ya mas, bu Sri emang suka bercanda begitu." kata Mutiara sungkan.


"Iya, santai aja." kata Dzen santai. Dalam hatinya, dia sangat girang, karena tambah satu orang lagi yang mendoakan kebersamaannya dengan Mutiara.


"Ehm, udah reda nih kayaknya. Tehnya juga udah aku habisin. Aku langsung pamit aja ya Ra." kata Dzen sambil memasukkan tas dokternya ke dalam plastik besar yang dibawain Mutiara.


"Oh, iya ma. Hati-hati. Itu jas hujanku dipake aja mas. Biar mas Dzen ga kehujanan lagi. Oya, smaa ini, jaket mas Dzen yang kemarin Tiara pake, terimakasih mas udah di pinjemin. Udha Tiara cuci kok. Dipake aja mas, biar ga terlalu dingin nantinya." kata Mutiara mengerjakan jaket milik Dzen.


"Ehem, Terimakasih ya Tiara. Duh, rasanya kaya udah punya istri aja nih, diperhatiin dan disiapin ini itunya." kata Dzen sambil tersenyum.


"Ih, apaan sih mas?" kata Mutiara malu.


"Ga ga, bercanda Ra. Makasih ya." kata Dzen sambil memakai jaketnya.


"Lhoh. Jas hujannya ga dipake?" tanya Mutiara saat melihat Dzen langsung naik ke motor tanpa mengambil jas hujan Mutiara yang ada di dalam jok motor.


"Ga usah. Ini aja udah cukup." kata Dzen.


"Tapi mas, entaar kalo kehujanan lagi, mas Dzen bisa sakit. Masuk angin." kata Mutiara cemas.


"Hehe, santai aja. Khawatir amat sih, makasih ya udah dikhawatirin." goda Dzen lagi.


Mutiara semakin menunduk malu.


"Engga, InshaaAllah aku baik-baik aja. Kamu tenang aja ya. Aku pamit, pamitin juga sama bu Sri ya." kata Dzen sebelum meninggalkan kosan Mutiara.


"Ya mas. Hati-hati mas." jawab Mutiara.


Merekapun berpisah terpisah oleh tirai air yang turun dari langit.

__ADS_1


__ADS_2