Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Tabayyun


__ADS_3

Saat Mutiara masih sibuk dengan fikiran nya, Nadia dan Mila datang menghampirinya.


"Assalamualaikum Tiara." sapa Nadia dan Mila berbarengan.


"Wa'alaikumsalam, Nadia Mila. Darimana kalian?" tanya Mutiara.


"Ya dari rumah lah, ini kita mau kuliah. Kamu masih ngikutin matkul juga kan?" tanya Nadia.


"Iya." Jawab Mutiara singkat.


"Eh, bentar deh." kata Mila yang menatap wajah Mutiara seksama.


"Kamu abis nangis Ra? Kamu ada masalah?" tanya Mila yang sudah hafal mimik wajah kawannya satu ini.


"Ehm, eh, engga. Engga papa kok." kata Mutiara berusaha menutupi masalahnya.


"Ra, jangan gitu dong. Kita ini kan sahabat. Cerita dong sama kita. Kenapa?" tanya Nadia yang dianggukin oleh Mila.


"Ehm..." Mutiara tampak ragu-ragu.


"Baik ga ya kalo aku ceritain masalah foto tadi ke mereka? Itu namanya nyebarin aib bukan ya? Tapi, kalo aku ga cerita ke mereka, aku harus cerita sama siapa dong? Rasanya berat kalo aku pendam sendiri. Mau Langsung hubungi mas Dzen? Rasanya, aku belum siap. Emosiku belum stabil gini. Gimana ya?" batin Mutiara bingung.


"Tiara, are you okey?" tanya Mila sambil merangkul pundak Mutiara.


"Eh, ehm... Nadia, Mila. Aku mau cerita." kata Mutiara.


"Okey, kita siap dengerin kok. Jam masuk kuliah masih setengah jam lagi, santai aja. Kita cerita sambil jajan di kantin yuk." ajak Nadia.


"Ehm, boleh. Tapi aku puasa." kata Mutiara.


"Oh. iya. Lupa. Ini hari kamis kok ya. Okey, kita ke taman aja. Yuk. Adem juga di sana." kata Nadia lagi.

__ADS_1


Mereka bertigapun berjalan ke taman kampus yang tak jauh dari gedung fakultas mereka, tujuannya, agar nanti jam masuk kuliah, mereka deket masuk kelasnya.


"Mau cerita apa Ra?" tanya Mila.


"Ehm, Menurut kalian, mas Dzen itu, orangnya gimana?" tanya Mutiara.


"Kenapa emangnya Ra? Kamu mulai ragu?" tanya Mila.


"Engga juga sih. Tapi..." kata Mutiara sambil mengambil ponselnya.


"Aku dapet kiriman ini dari nomer tak dikenal." kata Mutiara sambil menunjukkan beberapa foto yang dia lihat tadi, beserta memutar videonya.


"Astagfirullahal'adzim. Ini, dokter Dzen kan?" tanya Nadia sambil menutup mulutnya tak percaya.


"Iya Nad." jawab Mutiara mulai bergemuruh lagi hatinya. Matanya mulai memerah, menahan tangis yang akan pecah.


"Astagfirullah, ga ga mungkin Ra, ini ga mungkin. Dokter Dzen ga mungkin ngelakuin hal serendah itu Ra. Aku percaya itu." kata Mila yang mengamati foto itu dengan seksama. Takut kalau ada rekayasa, karena Mila dulu pernah mengalami fitnah, yang berasal dari sosmed model seperti itu.


"Tiara, coba kamu beristighfar dulu. Kamu ademin pikiran kamu. Coba ingat segala kebaikan dokter Dzen. Jangan karena suatu kesalahan yang belum tentu kebenarannya, membuat kamu kecewa nantinya." kata Nadia mencoba menenangkan Mutiara yang sudah mulai sesenggukan. Sedangkan Mila, dia masih terus mengamati foto dan video itu dengan memainkan logikanya. Maklum, dia mau kuliah detektif, kurang syarat soalnya.


"Tiara, inget. Bentar lagi kamu lulus, dan kamu bilang, kalau kamu udah lulus, kamu akan menikah sama dokter Dzen kan? Orang tua kalian sudah merestui. Ayolah, positif thingking, yakinkan diri, bahwa pilihan kamuini engga salah. Dokter Dzen adalah laki-laki terbaik yang dikirim Allah buat kamu. Meski dia punya masa lalu seperti itu, bisa jadi sekarang dia sudah benar benar bertaubat, dan dia hanya fokus sama kamu. Ga perduli sama cewek di luaran sana." kata Nadia menenangkan.


"Eh, eh. Tiara, Nadia. Kalian coba lihat deh. Kalau di logika nih ya, ini foto dokter Dzen matanya merem. Bisa aja nih, dokter Dzen posisi ga sadarkan diri. Entah dibius atau dikasih obat tidur, kita juga ga tau kan? Terus si pelaku membuka baju dokter Dzen untuk diambil fotonya." Kata Mila mulai menjelaskan hasil analisisnya.


"Terus, ini video, emang jelas ini nyata, ga ada editan. Tapi, coba kita lihat, wajah dokter Dzen. Sama sekali tidak ada wajah senyum atau bahagia sedikitpun, justru wajah kecemasan. Bisa jadi, dokter Dzen sebenarnya cuma berusaha nolongin orang, tapi justru dia dijebak." kata Mila.


Nadia dan Mutiara ikut berfikir, mencoba ikut menganalisis hasil penelitian Mila.


"Ra, kamu pastinya udah kenal dong sama dokter Dzen? Gimana sebenernya dia itu? Dokter Dzen itu dikenal sebagai dokter baik, yang berjiwa sosial tinggi. Dan ini. wujud kepedulian sosialnya, yang kemudian disalahgunakan oleh orang lain yang berniat jahat sama hubungan kalian." kata Mila.


"Iya juga sih. Semalem, mas Dzen juga nolongin temen sekosku, yang pingsan dijalan, karena mabuk berat. Temenku pake pakaian mini juga sih, tapi mas Dzen ya cuma sekedar nolongin. Abis itu, dia minta aku yang ngurusin." kata Mutiara menceritakan kejadian semalem.

__ADS_1


"Nah tu. Bener kan? Jadi, aku yakin banget, ini cuma rekaya Ra. Dokter Dzen difitnah." kata Mila.


"Ehm, kalo menurutku Ra, mending kamu langsung tanya aja deh sama dokter Dzen. Biar jelas kebenarannya, ga jadi sebuah prasangka." kata Nadia.


"Bener banget. Kalo kata ustadz tu... kita harus... yun yun...apa sih namanya, lupa aku." kata Mila sambil mengingat ingat sebuah kata.


"Tabayyun?" tanya Mutiara.


"Yah, itu maksudku. Kamu tabayyun dulu aja Ra, biar ga jadi fitnah, ga jadi prasangka." kata Mila.


"Ehm, gitu ya?" tanya Mutiara sudah mulai tenang.


"Heem." jawab keduanya berbarengan.


"Ya udah. Nanti aku hubungi mas Dzen deh, buat ketemu dia." kata Mutiara.


"Yup. Nanti sore aja Ra ketemuan nya, sekalian buka puasa. Jadi entar kalau kamu emosi kan, udah ga nanggung, karena udah waktunya buka puasa. Mau marah, udah sah sah saja. Hehehe." kata Nadia.


"Selain itu, romantis juga Ra kalau ketemuan nya sore." kata Mila.


"Ish, apaan sih kalian ini. Makasih ya, atas solusi kalian. Ga tau deh, tadi kalau ga ada kalian, mungkin aku udah ngelabrak mas Dzen." kata Nadia dan Mila.


"Tiara, suatu hubungan itu, butuh sebuah kerpercayaan. Nah, ini saatnya kamu bangun rasa percaya mu pada dokter Dzen. InshaaAllah, kalau suatu hubungan saling percaya satu sama lain, maka akan harmonis nanti jadinyam" kata Nadia menasehati.


"Tumben kamu bijak." kata Mila.


"Yee.... baru tau? Lagian kamu juga tumben pinter nganalisis foto?" ledek Nadia.


"Ya iyalah, Mila giti loh." kata Mila menyombongkan diri.


"Ya udah yuk, udah jam sepuluh nih, kita ada jadwal kuliah kan, ayo masuk." ajak Mutiara.

__ADS_1


"Yuk." jawab Nadia dna Mila bersamaan.


Merekapun berjalan menuju kelas mereka untuk mengikuti perkuliahan.


__ADS_2