Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Ibu ibu provokator


__ADS_3

Sesampainya di teras masjid, Ahmad berlari ke arah Mutiara,


"Mbak Tiara, apa yang terjadi? Apa ada kecelakaan? Kok ada ambulance?" tanya Ahmad.


"Tadi ada ibu-ibu terpeleset di toilet mas, terus pingsan. Kebetulan ada teman saya dokter, beliau memeriksa keadaan ibu itu, katanya lemah, harus segera dibawa ke rumah sakit, makannya ada ambulance." kata Mutiara.


"Tapi mbak Tiara gapapa kan?" tanya Ahmad.


"Saya baik-baik saja kok mas." kata Mutiara.


"Siapa yang sakit mbak?" tanya seorang ibu-ibu yang mengikuti Ahmad, saat tadi mendengar sirine ambulance.


"Saya kurang tau namanya bu, tetapi beliau ibu dari teman kuliah saya." jawab Mutiara.


"Oh, lha terus gimana keadaan ibunya tadi?" tanya seorang bapak-bapak paruh baya yang juga berada di dekat Ahmad berdiri.


"Tadi sih masih pingsan pak." jawab Mutiara.


"Innalillahi. Dibawa kemana mbak?" tanya bapak itu lagi.


"Ke RSUD pak kayaknya, soalnya dokternya praktek di sana." kata Mutiara.


"Oh, ya mbak. Terimakasih." jawab bapak yang ternyata beliau adalah takmir masjid agung.


"Ehm, Mbak Tiara, kita makan siang dulu ya, sebelum adzan dzuhur ini." ajak Ahmad.


"Ehm, ga usah mas. Terimakasih." jawab Mutiara.


"Tapi mbak Tiara sudah ditunggu ibu-ibu di ruang pertemuan." kata Ahmad.


"Ehm, tapi mas," kata Mutiara terhenti.


"Mari mbak, mbak mbak ini temannya mbak Tiara kan? Tolong temani mbak Tiara makan siang dulu ya mbak." kata Ahmad mengajak Nadia dan Mila.


Nadia dan Milapun saling berpandangan.


"Ayo Ra, makan dulu. Perut kamu ga boleh kosong lho, pesan dari mas Dzen." kata Nadia.


"Tapi sama kalian juga kan?"tanya Mutiara.


"Iya, kita ikut kok." jawab Nilam


"Ya udah, yuk." ajak Mutiara.


"Mas Dzen? Siapa dia? Setauku, Tiara di kota ini merantau, dia hanya punya adik sepupu yang kebetulan juga kuliah di kampus yang sama dengan Tiara, kenapa ada yang namanya Mas Dzen? Apa dia pacarnya mbak Tiara?" batin Ahmad.


Merekapun berjalan mengikuti Ahmad ke ruang pertemuan, untuk makan siang bersama ibu-ibu pengajian.


"Mbak Tiara, ya Allah mbak, kita tunggu dari tadi, mbak Tiara kemana aja?" tanya bu Yuli sambil mengambil nasi box untuk Mutiara dan kedua sahabatnya.


"Maaf bu, tadi sehabis mengantarkan ustadzah, saya temui kedua teman saya ini dulu." kata Mutiara.

__ADS_1


"Wo, tak kira kalau diajak mas Ahmad mampir KUA dulu mbak, kok kita ga diajak." protes bu Atun.


"Walah, walah, bu Atun ini, mau ngapain to bu ke KUA?" tanya Ahmad yang terpancing candaan Bu Atun sambil mengambil nasi box untuk dibagikan ke remaja masjid yang juga ikut serta makan bersama di ruang pertemuan.


"Yo Ijab to mas." jawab Bu Atun to the poin.


Nadia dan Mila yang menyimak percakapan itu, menoleh ke arah Mutiara tanda minta penjelasan.


"Mereka hanya bercanda." jawab Mutiara pelan.


"Ini temennya mbak Tiara ya?" tanya bu Yuli sambil memberikan nasi box kepada Nadia dan Mila, mengalihkan pembicaraan.


"Iya bu." jawab Mutiara.


"Ini mbak, dimakan mbak, udah siang, makan siang dulu, sambil menunggu waktu adzan sholat Dzuhur." kata bu Yuli.


"Sarapan bu, kalau kita." jawab bu Atun.


"Oh, iya ya. Eh, tapi engga, tadi kita udah sarapan bu, sarapan gendar pecel to tadi?" kata bu Yuli.


"Hehe, iya bu. Tapi kalau orang jawa itu, belum makan nasi, ya belum makan bu." jawab bu Atun bercanda.


"Mbak Tiara, tadi kaya ada suara sirine ambulance to, apa ada kecelakaan mbak?" tanya bu Yuli mengalihkan pembicaraan.


"Tidak ada bu, hanya saja tadi ada ibu-ibu terpeleset di toilet, lalu pingsan, kebetulan teman saya dokter juga berada di teras masjid, lalu dia mengecek keadaan ibu itu. Ternyata keadaannya cukup lemah, sehingga harus segera mendapat penanganan medis." jawab Mutiara.


"Oh, anak mantu saya juga dokter lho mbak. Tadi kata suami saya, dia juga ke sini." kata bu Yuli.


"Namanya siapa bu?" tanya Mutiara.


"Andi?" gumam Mila.


"Temannya dokter Dzen bukan bu?" tanya Nadia memastikan.


"Iya, Nak Dzen itu sahabatnya mantuku mbak." kata bu Yuli.


"Tadi, dokter Andi ikut serta mengantar ibu yang pingsan itu ke rumah sakit bu, membawa mobilnya dokter Dzen." jawab Nadia.


"Wo? Lha saya nanti pulang sama siapa?" tanya bu Yuli mulai panik.


"Apa saya antar bu? Tapi saya naik motor." tawar Mutiara.


"Lah, apa ndak merepotkan mbak Tiara? Kalau masalah mobil atau motor, sama aja mbak. Yang penting bisa sampe rumah." kata bu Yuli.


"Tidak repot kok bu." jawab Mutiara tulus.


"Wo, ya udah kalo gitu, nanti bareng ya mbak." kata bu Yuli.


"Ya bu." jawab Mutiara.


Tak berselang lama, ponsel Mutiara berbunyi, tanda ada panggilan masuk.

__ADS_1


📞Mas Salah sambung


Assalamualaikum Tiara


"Wa'alaikumsalam mas Dzen. Gimana keadaan ibunya kak Yusuf mas?" tanya Mutiara langsung.


"Alhamdulillah, ini sudah sadar. Sudah mendapat tindakan medis, sudah mendapat infus juga, ini tinggal menunggu ruang rawat inap. Jadi, kamu jangan khawatir lagi ya." kata Dzen.


"Alhamdulillah, iya mas. Terimakasih banyak ya mas." kata Mutiara berbinar.


"Iya, sama-sama. Ini tadi juga yang menangani langsung dokter ahli jantung kok, Ra. Oya, kamu udah makan belum?" tanya Dzen.


"Alhamdulillah, sudah mas, ini sama Nadia dan Mila juga."


"Udah minum obat?" tanya Dzen lagi.


"Ehm, kalau yg sebelum makan, kelupaan mas, tapi InshaaAllah nanti abis makan, saya minum obat yang sesudah makan deh. Terimakasih sudah diingatkan."


"Oh, ya udah, gapapa. Yang penting kamu jaga kesehatanmu ya, sebisa mungkin jangan sampe masuk rumah sakit lagi." kata Dzen menasehati.


"Ya mas, terimakasih." jawab Mutiara.


"Oya Tiara, ehm, saya minta maaf ya, kalau sikap saya tadi dan tadi pagi membuatmu kurang nyaman. Kamu marah ya?" tanya Dzen yang mengingat kata-kata Mutiara agak naik tadi pagi.


"Oh. ehm, iya mas gapapa. Tiara juga minta maaf, sudah bersikap kurang baik sama mas Dzen." kata Mutiara.


"Ya udah, sudah dulu ya. Ini saya dipanggil teman saya." kata Dzen.


"Ya mas."


"Assalamualaikum." salam Dzen menutup percakapan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.


"Mbak Tiara kenal deket ya sama dokter Dzen?" tanya bu Yuli.


"Ya, lumayan bu." jawab Mutiara.


"Mbak Tiara ni beruntung lho, kenal sama mas Dzen. Dia itu orangnya baik mbak, ramah, jiwa sosialnya tinggi. Sama anak-anak gitu, juga seneng banget mbak. Kalau main ke rumah saya gitu, cucu saya sueneng banget mainan sama anak Dzen. Daripada sama papanya, cucu saya lebih suka mainan sama nak Dzen. Wah, kalau saya masih punya anak gadis mbak, udah tak minta buat jadi mantu saya mbak. Ini katanya juga lagi lanjut study spesialis ya mbak?" tanya Bu Yuli.


"Oh iya bu. Katanya ambil spesialis anak." jawab Mutiara.


"Ya, siapa tau mbak Tiara berjodoh sama Nak Dzen, ibu dukung mbak." kata Bu Yuli.


"Wah wah wah, mas Ahmad ada saingan nya to? Dokter lho mas, ayo mas Ahmad, jangan mau kalah star sama dokter." kata bu Atun yang memanas manasi Ahmad.


"Bu Atun ini, apaan sih bu? Jodoh itu sudah ada yang mengatur bu. Lagipula, mbak Tiara juga pasti punya selera sendiri, punya kriteria sendiri." jawab Ahmad santai.


"Walah, mas Ahmad ini, disemangati malah nglokro." jawab bu Atun.


Ahmad hanya menanggapi dengan senyum santai, bagai tak ada beban perasaan apapun dalam hatinya. Berbeda dengan Mutiara yang semakin tidak enak hati berada di tengah-tengah ibu-ibu pengajian yang terus menjodoh-jodohkan dirinya dengan Ahmad.

__ADS_1


Nadia dan Mila yang menyimak percakapan itu hanya senyum senyum sambil terus makan.


Merekapun makan siang bersama, lalu tak lama kemudian waktunya masuk sholat Dzuhur.


__ADS_2