Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Mogok


__ADS_3

"Assalamualaikum." Salam Ifa dan Shanum.


"Wa'alaikumsalam." jawab bu Mia.


"Kalian dari mana aja sih? Katanya cuma mau beli perlengkapan buat di asrama, kok sampe malem begini? Tadi hujan lebat dimana? Itu tadi siapa yang nganter? Kok bukan grab?" tanya bu Mia mencecaar kedua anak gadisnya.


"Haduh haduh haduh, mama, satu satu dong nanya nya." protes Ifa sambil memegang kepalanya.


"Maaf tante, Shanum tadinya juga udah mau ngajak Ifa pulang dari tadi siang, tapi dianya malah ngajak mampir kemana-mana, jadinya sampe malem begini. Maaf ya tante." kata Shanum merasa bersalah.


"Hm... Fa fa, kamu nih kalo ada mbaknya selalu begitu." kata bu Mia sambil bersedekap dada dan geleng-geleng kepala.


"Hehe, sorry mama." kata Ifa nyengir kuda.


"Trus, itu siapa yang nganter kalian? Kok mobilnya bagus?" tanya bu Mia menginterogasi.


"Oh, itu. Masak mama ga tau sih? Itu kan mobil bosnya papa ma." kata Ifa.


"Maksudmu? Pak Zio?" tanya bu Mia.


"Ya siapa lagi?" kata Ifa sambil duduk di kursi makan sambil meminum air mineral yang baru saja dia ambil dari galon.


"Kenapa ga diajak mampir sih?" protes bu Mia.


"Tuh. Tanya aja sama mbak Shanum!" kata Ifa ketus. Bu Miapun menoleh ke arah Shanum yang sudah bersiap masuk kamar untuk membersihkan diri.


"Jelasin aja sendiri. Gue gerah, mau mandi." kata shanum ketus.


"Hahaha, dasar lo mbak. Benci bisa jadi benar-benar cinta lho. Jangan terlalu sebel sama mas Zio mbak!" teriak Ifa saat melihat mbaknya sudah naik ke lantai atas menuju kamarnya.


"Berisik lo!" balas Shanum.


"Ish, kamu nih Fa, sama mbakmu kok kaya gitu sih?" tegur bu Mia.


"Biarin mah, lucu sih liat tingkahnya mbak Shanum kalo lagi ketemu mas Zio. Hahaha." kata Ifa tertawa lepas.


"Ya udah sana, mandi dulu. Bau kecut gitu." kata mamanya sambil memijit hidungnya yang tidak mancung.


"Siap mama."


💞💞💞


Sesampainya di kosan, Mutiara segera menyimpan tas ranselnya yang berisi lembar kerja mahasiswa itu. Kemudian Mutiara segera membersihkan diri, lalu mengambil air wudlu untuk menunaikan ibadah sholat maghrib hingga berlanjut isya' karena Mutiara sholat maghrib sudah diakhir waktu. Setelah sholat, Mutiara lanjut mengaji, kemudian baru Mutiara membuka ponselnya yang sedari tadi dia nonaktifkan karena hujan deras. Ada banyak panggilan tak terjawab dari nama yang sama. Pak Zio.


"Pak Zio nelpon? Ada apa ya?" gumam Mutiara.


Kemudian Mutiara mengecek pesan yang masuk, ada pesan juga dari pak Zio


📩Pak Zio


Kamu dimana?


📩Pak Zio


Hujannya deras banget, angin, petir. Kamu dimana?


📩Pak Zio

__ADS_1


Kenapa ga dibalas?


"Pak Zio kirim pesan nanyain keberadaanku?" gumam Mutiara dengan tersenyum senang rasanya, mendapat perhatian dari dosen mudanya itu. Hatinya merasakan ada sesuatu yang berbeda. Mutiarapun membalas pesan dosennya.


📨Pak Zio


Maaf pak. Tadi HPnya, saya nonaktifkan dulu, karena melihat cuaca yang ekstrim seperti tadi, saya tidak berani mengaktifkan HP. Alhamdulillah, ini saya sudah sampai rumah.


Tak lama kemudian, pesan itu dibalas.


📩Pak Zio


Syukurlah. Gimana lembar kerjanya? Aman?


"Astagfirullahal'adzim Tiara... KeGRan banget sih kamu? Pak Zio nanya nanya tadi tu bukan karena khawatir sama kamu. Tapi dia mau mastiin keadaan lembar kerjanya. Hm... Dasar kamu ni Ra, suka berhayal aja." rutuk Mutiara pada dirinya sendiri.


📨Pak Zio


Alhamdulillah, aman pak. (Sambil mengirim gambar lembar kerja yang ditata Mutiara di meja)


📩Pak Zio


Ok.


Pesan dari pak Zio menjadi penutup percakapan mereka malam itu. Tanpa pikir panjang, Mutiara segera mengambil modul nya untuk bahan ujian besok pagi, karena besok pagi dirinya masih harus menyelesaikan satu mata kuliah lagi.


💞💞💞


"Alhamdulillah, akhirnya, selesai juga ujian kita." kata Nadia lega.


"Iya, terus healing yuk." ajak Mila.


"Oya Ra, kamu kapan jadi pulkam? Jadi hari kamis?" tanya Nadia.


"Ehm, kayaknya ga jadi deh, soalnya kemarin sore aku baru aja dapet job dari pak Zio, suruh bantu ngoreksi ujian mahasiswa nya." kata Mutiara.


"Ehm, gitu? Emang kongres nya berapaa hari sih Ra?" tanya Nadia.


"Cuma tiga hari dua malem sih kalo lancar." kata Mutiara.


"Berarti, kamis selesai?" tanya Nadia.


"InshaaAllah. Rencananya kamis abis kongres aku mau langsung pulkam, tapi karena dapet job dari pak Zio, aku mau nyelesein amanah dulu." kata Mutiara.


"Oh. gitu?" kata Mila dan Nadia bersama.


"Eh, Ra Mil, aku duluan ya, papaku udah nunggu di bawah, udah jemput." kata Nadia berpamitan.


"Okey Nad. Becarefull." kata Mila.


"Hati,-hati ya Nad." kata Mutiara.


"Lha kamu mau ke mana Ra?" tanya Mila.


"Ini mau ke perpus dulu, mau nyicil ngoreksi. Soalnya nanti abis dzuhur masih ada acara rapat persiapan untuk kongres besok." kata Mutiara.


"Wish, emang the best ya kamu nih Ra, ga kenal capek. Okeylah, kalau gitu, aku duluan ya Ra, mau langsung pulang aja ni aku, hehe." kata Mila.

__ADS_1


"Oh, iya Mil." jawab Mutiara.


Merekapun berpisah, Mutiara lurus menuju perpustakaan, sedangkan Mila ke kiri untuk mengambil motornya di parkiran.


Seusai sholat dzuhur, Mutiara segera bergabung dengan teman teman satu organisasi nya untuk mempersiapkan bahan presentasi untuk kongres esok hari.


"Afwan teman-teman, sudah adzan ashar, ini juga sudah Selesai pembahasan kita, mari kita tutup saja pertemuan kita hari ini. Alhamdulillah sudah berjalan lancar. Semoga besok kita bisa mealaporkan pertanggungjawaban kita dengan lancar di hadapan para audien. Atas kerjasamanya, saya ucapkan jazakumullah Khoiron katsir." kata Yusuf menutup pertemuan siang itu.


Saat Mutiara berjalan ke parkiran sesuai sholat ashar, Yusuf menyusul Mutiara dari belakang.


"Tiara." panggil Yusuf.


"Ya kak?" Mutiara berbalik badan.


"Gimana semalem, sampe rumah aman kan?" tanya Yusuf.


"Alhamdulillah aman kak." jawab Mutiara.


"Lembar kerja mahasiswa nya?"


"Aman juga."


"Syukurlah."


"Ini mau langsung pulang?" tanya Yusuf lagi.


"Iya."


"Oh, ya udah. Hati-hati. Sepertinya mau hujan lagi itu langitnya udah keliatan mending." kata Yusuf menunjuk langit penuh awan.


"Ya kak. InshaaAllah. Ini juga bawa jas hujan kok." jawab Mutiara.


Mutiarapun segera melakukan motornya untuk segera pulang. Sesampainya di pertengahan perjalanan, Mutiara melihat mobil yang tak asing baginya berhenti dipinggir jalan. Lalu Mutiarapun melambatkan laju nya.


"Mas Dzen?" sapa Mutiara.


"Eh, Tiara?" jawab Dzen sambil mendongak, setelah dia tampak memeriksa mesin mobilnya.


"Mobilnya kenapa mas?" tanya Mutiara sambil meleaps helmnya.


"Ga tau nih, tiba-tiba mogok." kata Dzen.


"Tadi udah aku cek, tapi kayaknya harus dibawa ke bengkel. Ini tadi aku nelpon montir langganan ku, HPnya ga aktif." kaya Dzen dengan muka susah.


"Mas Dzen pake motor Tiara aja dulu, buat nyari bengkel mas, sama nyari montir." kata Mutiara turun dari motornya.


"Tapi, Ra, ini udah sore, nanti kamu kesorean lagi." kata Dzen.


"Ga papa mas. Ini, pake helmnya. Tiara disini jagain mobil mas Dzen. Okey?" kata Mutiara dengan tersenyum.


"Ehm, okeylah Ra, makasih ya Ra." kata Dzen sambil tersenyum pula.


"Sama-sama mas."


"Ini, aku tinggalin dulu gapapa?" tanya Dzen kurang yakin.


"Gapapa mas, serius." kata Mutiara sambil mengangkat kedua jarinya.

__ADS_1


"Ya udah, aku pinjem dulu ya. Nitip mobilku." kata Dzen menstater motornya Mutiara.


"Yup. InshaaAllah." jawab Mutiara.


__ADS_2