
Seusai sholat maghrib, Mutiara dijemput oleh dua sahabatnya, Mila dan Nadia. Merekapun langsung menuju pasar malam, dengan Nadia memboncengkan Mutiara, karena mereka searah. Sesampainya di pasar malam, Mereka mencari makan terlebih dahulu, sebelum mereka jalan-jalan menikmati suasana pasar malam.
"Rame banget ya." kata Mutiara sambil duduk di bawah pohon sambil menunggu arah tujuan kedua sahabatnya.
"Ya iyalah, Ra. Kamu nih pinter, tapi logika kamu nih kadang-kadang macet ya? Yang namanya pasar dimana-mana kan rame, Ra." kata Mila.
"Hahaha, sembarangan aja kamu Mil kalo ngomong, ngatain logika Tiara macet segala." kata Nadia yang tertawa puas melihat ulah Mila.
"Ya, kan aku belum pernah ke pasar malam, ya mana aku tau kalau bakal seramai ini." kata Mutiara membela diri.
"Soalnya ini malem minggu, Ra, dan hari pertama, jadi masih rame-rame nya." kata Mila yang sudah terbiasa main ke pasar malam.
"Owh, gitu?"
"Eh. Mil, kita beli makan dulu aja apa jalan-jalan dulu?" tanya Nadia meminta pendapat.
"Makan dulu aja deh yuk, laper nih. Tadi belum makan." kata Mila.
"Tiara, udah makan?" tanya Nadia.
"Belum juga." kata Mutiara.
"Ya udah yuk, makan dulu." ajak Nadia.
Nadia mengajak kedua temannya makan di warung makan ayam bakar. Merekapun memesan makanan itu, sambil bercerita banyak hal.
"Eh, Nad, nanti naik wahana yuk. Udah lama banget aku ga naik wahana pasar malam." kata Mila.
"Boleh, aku juga terakhir naik wahana, biang lala, jaman aku masih SD. Hahaha." jawab Nadia.
"Kalau aku penasaran banget nih, pingin naik kapal Kora-kora." kata Mila.
"Boleh juga tuh di coba. Kata ayahku dulu, naik kapal kora kora itu kalau udah gede bolehnya, nah ini mumpung ada, boleh lah di coba." kata Nadia.
"Tiara, kamu ikutan juga ya." ajak Nadia.
"Ehm, gimana yaa?" kata Mutiara ragu.
"Tenang aja, Ra. Gratis. Nanti aku yang bayarin." kata Nadia.
"Nah tu udah ada yang siap ngebosin." kata Mila sambil menyeruput susu jahenya.
"Ya, boleh lah." kata Mutiara.
"Yes. Okey deh. Nanti aku antriin dulu ya." kata Nadia.
"Eh nanti kalau aku mau bawain oleh-oleh buat temen-temen kos sama bu kos, enaknya beliin apa ya?" tanya Mutiara meminta pendapat.
"Beliin roti bakar, atau martabak aja, Ra." kata Mila memberi saran.
"Yup, biasanya aku juga beliin nya itu." kata Nadia.
"Oh, ya udah. Abis makan ini nanti, aku beli dulu apa ya?" tanya Mutiara.
__ADS_1
"Ya gapapa, Ra." jawab Nadia.
Mereka bertigapun sudah selesai makan, lalu mereka jalan-jalan, hingga sampai di stand pakaian yang jaraknya tak jauh dari tukang martabak.
"Mil, Ra, aku mampir sini dulu ya, mau beli baju dulu." kata Nadia.
"Oh, iya, kebetulan. Aku juga deh." kata Mila juga.
"Ehm, kalau gitu, aku ke situ dulu ya Mil, Nad. Ada tukang martabak tuh, aku beli dulu ya." kata Mutiara sambil menunjuk tukang martabak yang tak jauh dari stand pakaian yang mereka kunjungi.
"Okey Ra." kata Nadia.
Mutiara pun berjalan menuju tukang martabak,
"Pak, martabak telur dua dan martabak manisnya satu ya." kata Mutiara memesan.
"Ya mbak silakan tunggu dulu ya." kata penjualnya ramah.
Mutiara pun menunggu pesanan sambil berlian ponsel dan duduk di kursi tunggu pelanggan.
💞💞💞
"Makasih banget lho Dzen, udah nraktir. Udah kenyang ini perut." kata Shanum dengan tersenyum.
"Iya, sama-sama Num, ya sekali-kali lah, nraktir temen. Udah lama juga kan kita ga makan bareng." kata Dzen yang tak menyadari bahwa ada hati yang melambung tinggi karena merasakan indahnya perasaan hati yang dia ingini selama ini.
Dzen dan Shanum melanjutkan jalannya mengelilingi pasar malam, sesekali mereka mampir di stand furniture.
"Ehm, apa ya? Gimana kalo kita beliin martabak aja?" kata Dzen memberi ide.
Dzen dan Shanum pun berjalan mencari tukang jualan martabak.
"Eh, itu Dzen tukang martabaknya. Kita ke sana yuk." ajak Shanum yang tak sadar menarik lengan Dzen. Dan Dzen juga hanya diam saja tanpa menolak ajakan sahabatnya.
"Pak, martabak telur spesial dua ya." kata Shanum memesan.
"Ya mbak. Silakan ditunggu dulu." jawab penjualnya ramah.
"Ayo Dzen, duduk dulu." ajak Shanum.
"Okey." jawab Dzen.
"Dzen?" batin Mutiara yang duduk tak jauh dari mereka.
Saat Dzen akan duduk, dia melihat ke samping nya, tampak seorang gadis berjilbab lebar berwarna hitam dan kaos putih dipadukan rok jins sedang duduk sambil memaninkan ponselnya.
"Tiara?" sapa Dzen yang tak pernah asing dengan wajah itu, seketika Dzen melepaskan tangan Shanum yang tadi menggandeng lengannya, ada desiran di dada kirinya, dan seketika jantungnya berdegup kencang.
Gadis itu mendongak, menatap orang yang menyebut namanya. Hatinya berasa tak karuan, ada desiran darah di dadanya, saat dia melihat sesosok pria yang tak asing baginya sedang berdiri bersandingan dengan seorang wanita.
"Eh, mas Dzen." jawab Mutiara dengan berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Kamu di sini juga?" tanya Dzen heran.
__ADS_1
"Ehm, iya mas." kata Mutiara.
"Sama siapa?" tanya Dzen celingak celinguk.
"Itu, sama Nadia dan Mila." jawab Mutiara sambil menunjuk kedua sahabatnya di stand pakaian.
"Oh, kirain sendirian. Kenapa ga kesini? Ini rame banget lho, ga baik kamu jalan sendirian di pasar malam begini." kata Dzen dengan nada khawatir.
"Ehm, iya mas." jawab Mutiara sungkan.
"Siapa Dzen?" tanya Shanum penasaran.
"Eh, iya. Kenalin Num, ini temen aku, namanya Tiara." kata Dzen memperkenalkan Mutiara kepada Shanum.
"Tiara, kenalin, ini Shanum, teman SMP saya." kata Dzen.
"Hei, Shanum. senang berkenalan denganmu." kata Shanum tersenyu sambil mengulurkan tangan mengajak bersalaman, dan diterima baik oleh Mutiara juga.
"Tiara." jawab Mutiara sopan dengan memberikan senyuman persahabatan.
"Ehm, temen kuliah?" tanya Shanum menatap Dzen dan Mutiara bergantian.
"Bukan. Tiara masih mahasiswi." jawab Dzen yang menatap Mutiara, sedangkan yang ditatap menunduk menatap rumput.
"Trus?" Shanum masih penasaran.
"Temen ketemu di jalan, pas kita nolongin orang kecelakaan." kata Dzen menjelaskan.
"Temen ketemu di jalan, tapi bisa akrab banget ya." sindir Shanum.
"Ehm, Num, dia ini kuliahnya di PGPAUD lho, kalian satu jurusan ya?" kata Dzen mengalihkan pembicaraan.
"Oya? Semester berapa?" tanya Shanum dengan senyum sandiwaranya. Ada rasa yang tiba-tiba hadir di hatinya, setelah tadi dia merasa berbunga-bunga, jiwanya merasa melayang di awan oleh sikap romantis Dzen, namun seketika, dia jatuh begitu saja, saat matanya melihat sosok gadis alim yang dikenalkan Dzen dengan bangganya.
"Baru semester enam mbak." jawab Mutiara ramah.
"Oh ya Tiara, Jadi Shanum ini, juga lulusan PGPAUD tetapi di Universitas di Jakarta, dan dia juga sudah lulus S2, di jogja. Dan sekarang dia sudah menjadi guru di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini swasta di kota ini." kata Dzen memperkenalkan sosok sahabatnya di harapan Mutiara.
"Oh, maasyaaAllah, senang sekali bisa berkenalan dengan mbak Shanum, semoga saya bisa sharing sama mbak Shanum ya." kata Mutiara ramah.
"Hem, ya. Boleh." jawab Shanum dengan nada datar.
"Maaf mbak, ini martabak nya. Dua telur satu manism" kata penjual kepada Mutiara.
"Oh, ya pak. Terimakasih. Ini pak uangnya." kata Mutiara memberikan uangnya yang di pas, karena sudah tau harganya dari label harga yang tertempel di gerobak nya.
"Mas Dzen, mbak Shanum, Saya duluan ya." kata Mutiara ramah.
"Ya Ra, hati-hati ya." kata Dzen penuh perhatian.
Sedangkan Shanum hanya mengangguk, menjawab sapaan Mutiara.
"Dzen, kenapa rasa ini begitu perih? Kenapa aku ga suka lihat kamu begitu perhatian dengan gadis itu? Apa aku cemburu?" batin Shanum.
__ADS_1