
Sesampainya di gedung, Mutiara dan Dzen duduk terpisah, sesuai tulisan tamu undangan mempelai pria dan tamu undangan mempelai wanita. Dzen duduk di barisan kursi tamu mempelai wanita di sebelah utara dan Mutiara duduk di kursi tamu mempelai pria di sebelah selatan. Deretan kursi mereka berhadapan, dan tengah sebagai jalan utama menuju pelaminan.
Mutiara duduk bersama dua sahabatnya, Nadia dan Mila. Sedangkan Dzen duduk diseberang, seorang diri, dengan kursi kosong di sebelahnya. Dzen asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba datang seorang wanita dengan dengan dress Biru muda selutut, dengan lengan panjang, rambut yang di gelung dengan jepit pita berwarna senada dengan dress-nya, menghampiri Dzen.
"Hai Dzen." sapa Lisa.
"Eh. Lisa? Kamu disini juga?" tanya Dzen heran.
"Iya, kebetulan aku kerabatnya pengantin wanita." kata Lisa.
"Oh, kamu saudaraan sama Shanum?" tanya Dzen.
"Iya. Kami satu simbah buyut." kata Lisa.
"Oh, gitu?" jawab Dzen yang agak gugup karena saat melihat ke arah Mutiara, Mutiara pas melihat ke arahnya yang sedang berbincang dengan Lisa.
"Mama, Mama." panggil anak kecil yang tiba-tiba muncul dihadapan Dzen.
"Eh, sayang, kamu jalan sendiri?" tanya Lisa sambil menggendong putrinya.
"Ini, pasti Jelita." tebak Dzen sambil menoel pipi Jelita, putri dari mantannya.
"Iya om. Salim sayang sama om Dokter. Ini om dokter, temennya mama. Om dokter ini baik kok. Ayo, salim dulu." kata Lisa mengulurkan tangan Jelita pada Dzen. Dan Dzen menyambutnya dengan ramah dan penuh senyuman.
"Anak pintar." kata Dzen mengelus pucuk kepala Jelita penuh kasih sayang.
"Kamu sendirian aja Dzen?" tanya Lisa.
"Ehm. Kalo di sini nya sendiri. Tapi ke sini nya, aku ada temen. Cuma, temenku ada di bagian tamu mempelai pria." kata Dzen yang menunjuk ke arah Mutiara. Seketika Lisa mencari orang yang dimaksud tangan Dzen. Dilihatnya ada seorang gadis muslimah, dengan balutan jilbab lebar dengan dress yang berwarna sama dengan Dzen.
"Itu...pacar kamu Dzen?" tanya Lisa dengan suara berat.
"InshaaAllah, calon istri." jawab Dzen mantab."
"Ehm... cantik." kata Lisa dengan senyum berat.
"Ya, Alhamdulillah. Dia juga baik." kata Dzen.
"Syukurlah. Semoga dipermudah ya untuk sampai ke jenjang pernikahan." kata Lisa berusaha tegar.
"Aamiin." jawab Dzen.
__ADS_1
"Mama, nana." kata Jelita yang sudah mulai bosan, menunjuk arah keluar.
"Eh, sorry ya Dzen, Jelita minta main keluar." kata Lisa sungkan.
"Okey. Jelita, Jelita mau ini?" kata Dzen memberikan sebuah kue yang ada di piring snacknya. Jelita menggeleng, lalu merengek minta segera keluar.
"Hati-hati Jelita." kata Dzen kepada gadis kecil itu dengan ramah.
Jelitapun pergi keluar dengan digendong Lisa.
Sedangkan diseberang, Mutiara yang melihat Dzdn dekat dengan wanita lain, tampak berusaha mengalihkan perhatiannya. Dia berusaha untuk tidak cemburu.
"Ra, itu siapa nya dokter Dzen?" tanya Mila.
"Entah " jawab Mutiara.
"Kamu cemburu ya?" goda Nadia.
"Engga. Kan emang aku ga tau." jawab Mutiara membela diri.
"Heleh, kamu ni Ra..." kata Nadia.
Sesampainya di toilet, Mutiara segera masuk, dan tak lama kemudian keluar. Namun, sesampainya di depan toilet, ada seorang wanita dengan busana dress pink fanta selutut, tanpa lengan, dan rambut pirang yang dikuncir kuda dengan menyisakan poni yang di bentuk. Sudah pasti itu hasil karya salon.
"Oh, jadi ini yang namanya Mutiara Hati?" kata wanita itu dengan nada sengit, dan tangan di lipat di dada.
"Ehm, iya. Maaf, anda siapa ya?" tanya Mutiara sopan tanpa rasa takut.
"Hem, kenalin. Aku Nirmala. panggilannya Lala. Aku dulu adalah kekasihnya Dzen." kata Lala dengan mengulurkan tangannya.
"Oh, ya mbak. Salam kenal." jawab Mutiara sambil menyambut tangan Lala, namun sayangnya, tangan Mutiara di tepis oleh Lala dengan angkuhnya.
Lalapun mendekati Mutiara dan melihat penampilan Mutiara dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ish, bisa bisanya ya, seorang dokter ganteng sekelas Dzen suka sama cewek kampung kaya kamu. Dandanannya aja ga berkelas gini, ga level banget sama Dzen." kata Lala sengaja merendahkan Mutiara. Mutiara tetap berusaha tenang dan tidak terpancing emosi.
"Asal kamu tau ya, Dzen itu anak orang kaya, ga mungkin lah dia mau sama cewek sekelas kampungan kaya kamu. Palingan, kamu cuma jadi bahan mainan nya Dzen aja." kata Lala dengan sengit.
Mutiara masih tetap diam dan terus beristighfar.
"Asal kamu tau ya, Dzen itu masih ada rasa sama aku. Dan sampai kapanpun, aku ga akan biarin Dzen jadi milik perempuan lain termasuk kamu!" hardik Lala sambil menunjuk Mutiara dengan telunjuk tepat di depan wajah Mutiara.
__ADS_1
"Ehm, maaf. Kalau untuk masalah itu, saya tidak bisa menjawab. Karena Jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan, dan Tuhan sudah berjanji, kalau laki-laki baik itu untuk perempuan baik, dan laki-laki yang buruk itu untuk perempuan yang buruk. Dan anda tidak berhak melarang saya untuk tidak memiliki mas Dzen, karena hanya Allah yang berhak menentukan, saya bisa memilikinya atau tidak, bukan anda." kata Mutiara lantang.
"Kamu..." Belum sempat Lala melanjutkan kata-katanya, Mutiara sudah berlanjut untuk menyampaikan kata-katanya.
"Dan satu hal lagi. Saya tidak percaya dengan anda, karena saya yakin, mas Dzen orang baik. Dulu mungkin Iya, beliau mencintai anda, dan wanita lain yang berpenampilan modis seperti anda, tetapi kini, Beliau tidak mungkin menjalin hubungan dengan wanita seperti anda, karena kini mas Dzen sudah berubah. Permisi." kata Mutiara santai sambil berjalan pergi meninggalkan Lala.
"Hei, ga sopan banget kamu ya, orang belum selesai ngomong udah ditinggal pergi gitu aja!" omel Lala dengan marah. Mutiara tak bergeming, dia terus berjalan menuju tempat duduknya semula.
Sesampainya di tempat dia duduk, Nadia memberi kabar Mutiara kalau Nadia sudah harus pulang, karena mobilnya mau dipakai papanya.
"Ra, sorry nih. Aku sama Mila harus duluan ni Ra, soalnya mobilnya mau dipake papa. Dan Mila juga mau ikut pulang katanya." kata Nadia.
"Ehm,... emang Mila kenapa? Pulangnya bareng aku aja lah Mil, nge grab." kata Mutiara.
"Ehm, gimana ya Ra, ga bisa. Soalnya ini aku ada janji juga sama temen nanti jam 12. Kalau kamu kan ga mungkin langsung pulang kan abis acara, pasti diminta keluarganya pak Zio buat pulang akhir. Entah suruh bantu bersih-bersih atau bantuin apa gitu." kata Mila beralasan.
"Ehm, iya juga sih." kata Mutiara ragu. Teringat olehnya wanita yang sudah melabrak dia tadi.
"Gapapa kan Ra?" tanya Mila.
"Iya, gapapa." jawab Mutiara dengan tersenyum.
Tak berapa lama kemudian, Nadia dan Mila pamit pulang terlebih dahulu, sedangkan Mutiara tinggal duduk sendiri di kursinya sambil memainkan ponselnya.
📩Mas Dzen
Mila dan Nadia mau kemana Ra?
Mutiarapun menoleh ke arah depan, tempat Dzen duduk. Kemudian Mutiara membalas pesan itu.
📨mas Dzen
Pulang mas. Mila Ada acara lain, kalo Nadia, mobilnya mau dipake papanya.
📩mas Dzen
Oh,,,, sendirian aja berani?
Saat Mutiara akan membalas pesan, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Sendirian aja nih? Aku duduk disini ya." kata seorang cowok berjas biru navy dengan kemeja merah maroon, yang senada dengan dress yang dikenakan Mutiara, serta dasi berwarna dusty pink. Cowok itu tampak tersenyum ramah pada Mutiara, lalu tanpa menunggu persetujuan Mutiara, diapun duduk di samping Mutiara. Hal itu tampak jelas diketahui oleh Dzen dari kursi di seberang.
__ADS_1