
Pagi itu, Dzen sudah memeriksa keadaan Mutiara.
"Alhamdulillah, semua sudah normal. Hari ini kamu sudah boleh pulang, Tiara." kata Dzen dengan senyum tulusnya.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak dokter." jawab Mutiara dengan senyum manisnya.
"Senyuman mu, sungguh membuat hatiku tak bisa lepas dari keterpikatan ini Tiara." batin Dzen dengan menatap wajah gadis ayu dihadapannya.
"Ehm, untuk mengurus administrasi nya, saya sendiri atau dokter Dzen?" tanya Mutiara lagi.
"Eh, apa Tiara?" tanya Dzen.
"Dokter Dzen melamun? Ngelamunin apa coba?" batin Mutiara.
"Bukannya kalau mau pulang, harus mengurus administrasi dulu dok? Yang mengurus, saya sendiri apa dokter? Karena kan, Kenzo tidak ada." kata Mutiara menjelaskan.
"Oh iya. Kamu tenang saja, nanti akan saya urus. Dan untuk pulangnya, saya akan antar kamu ya. Jadi kamu ga usah khawatir, cukup kamu bereskan saja barang-barangmu. Nanti saya kembali. Okey?" kata Dzen.
"Oh, baik dokter. Terimakasih banyak sebelumnya." kata Mutiara lagi.
"Sama-sama, Tiara. Kamu tunggu disini ya. Saya tinggal mengurus administrasi dulu." kata Dzen sambil meninggalkan Mutiara.
"Ya dok."
Setelah urusan administrasi selesai, Mutiara diantar pulang oleh Dzen, hingga depan kosan.
"Terimakasih banyak ya mas Dzen, saya tidak tau, harus membalasnya dengan apa." kata Mutiara setelah sampai di depan kosan. Dia ingat betul, kapan dia harus memanggil orang baik dihadapannya dengan panggilan yang berbeda.
"Hahaha, sama-sama Tiara. Haduh, saya sampe harus punya stok banyak kata sama-sama sepertinya. Santai aja, Tiara. Seperti yang sudah pernah saya katakan, saya sudah menganggap kamu sebagai keluarga saya sendiri, jadi santai saja." kata Dzen dengan senyuman khasnya.
Saat sedang berbincang, bu Sri selaku ibu kos Mutiara pun datang dengan girang.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu pulang juga, Tiara. Sudah sembuh nak?" tanya bu Sri yang sudah lanjut usia tergopoh-gopoh menyambut kedatangan Mutiara.
"Alhamdulillah, sudah bu." kata Mutiara santun.
"Maaf ya nak, ibu ga bisa jenguk kamu. Kamu tau sendiri kan, posisi ibu, yang tidak bisa pergi-pergi." kata bu Sri yang merasa tidak enak hati dengan Mutiara.
"Tidak apa-apa bu. Tiara juga sudah sembuh kok bu." kata Mutiara.
"Lah, ini ada mas ganteng, siapa ini?" tanya bu Sri.
"Perkenalkan bu, saya Dzen. Saya temannya Tiara." kata Dzen mengulurkan tangannya, menjabat tangan bu Sri.
"Ya Allah ganteng bener. Terimakasih ya nak Dzen, sudah mengantarkan Tiara sampe ke kosan nya. Naik apa tadi?" tanya bu Sri celingak celinguk.
"Naik mobil bu. Mobilnya saya parkir di pinggir jalan raya." kata Dzen.
"Oiya maaf ya nak Dzen, rumah ibu di dalem, masuk, jalannya kecil, ga bisa buat lewat mobil." kata bu Sri.
"Ga papa bu." jawab Dzen santai.
Tiba-tiba terdengar teriakan anak kecil yang memanggil-manggil eyangnya.
"Eyang!!" suara anak kecil terdengar keras dari dalam rumahnya.
"Astaghfirullahal'adzim. Itu ngapa lagi? Pasti berantem lagi deh. Haduh." kata bu Sri menepuk keningnya saat mendengar kegaduhan di dalam.
"Nak Dzen, ibu permisi dulu ya. Itu cucu cucu ibu lagi perang pasti." kata bu Sri tergopoh masuk kedalam.
__ADS_1
"Oh, iya bu. Silakan." jawab Dzen santun.
"Mas Dzen." panggil Mutiara.
"Ya Tiara?" jawab Dzen.
"Mas Dzen hati-hati ya kembalinya." kata Mutiara dengan tersenyum lembut.
Dzen tersenyum penuh ketulusan.
"Iya Tiara, kamu jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan ya, jangan terlalu capek, jangan terlalu banyak aktivitas berat dulu, makan yang tertib, dan yang bergizi. Serta, obatnya jangan lupa diminum ya. Jadwal kontrol lima hari kedepan, jangan lupa. Okey?" pesan Dzen.
"Siap pak Dokterku yang baik." jawab Mutiara sambil menunduk malu.
Dzen mengernyit. Ada desiran di ulu hatinya. Sebuah kata, yang mungkin tak disadari oleh pemilik lisan itu.
"Dokterku?" batin Dzen berbunga-bunga.
"Ya udah Tiara, saya pamit dulu ya. Assalamualaikum." kata Dzen.
"Wa'alaikumsalam Mas Dzen." jawab Mutiara dengan tersenyum melepas kepergian Dzen.
Mutiara pun membawa tasnya ke dalam kamarnya. Lalu mandi dan istirahat.
Sedangkan sepanjang perjalanan, Dzen masih terus terngiang kata-kata Mutiara, dan senyuman Mutiara yang begitu membuat candu.
"Ya Tuhan, apa gue beneran jatuh cinta sama Tiara?" gumam Dzen di dalam mobil sambil senyum-senyum sendiri.
💞💞💞
"Apa, Tiara sakit?" tanya bu Suyamti saat sedang memasak bersama Bi Saodah.
"Sejak kapan bi?" tanya bu Suyamti.
"Ya Tuhan. Zio mana?" tanya bu Suyamti seketika mencari anak laki-lakinya.
"Mas Zio masih di kamarnya bu." kata bi Saodah.
Tanpa di komando, bu Suyamti langsung bergegas ke kamar Zio, untuk mencarinya.
"Zio." panggil bu Suyamti.
"Ya mah? Masuk aja mah." kata Zio dari dalam kamar.
Bu Suyamti pun masuk, melihat anaknya sedang berada di depan meja riasnya.
"Ada apa mah?" tanya Zio.
"Hari ini kamu ke kampus?" tanya Bu Suyamti.
"Iya mah. Kenapa?" tanya Zio.
"Nanti kamu cari Tiara ya. dia sudah masuk belum. Soalnya barusan bi Saodah bilang, Tiara abis sakit, dirawat di rumah sakit sejak hari minggu kemarin." kata Bu Suyamti.
"Tiara? Sakit? Sakit apa?" tanya Zio heran.
"Itu dia, kamu cari tau dong. Gimana sih?" kata bu Suyamti.
"Bentar, Zio telpon dia dulu." kata Zio mengambil ponselnya dan mencari kontak nama Mutiara.
__ADS_1
📞Mutiara
Ya halo. Assalamualaikum.
Jawaban orang di seberang.
"Wa'alaikumsalam. Kamu sakit?" tanya Zio to the poin.
"Alhamdulillah kemarin iya pak. Tapi sekarang sudah baikan." jawab Mutiara.
"Mamaku mau bicara. Video Call ya." kata Zio.
"Oh, ya pak." jawab Mutiara.
🎥Mutiara
"Halo" kata Mutiara dari seberang dengan wajah natural tanpa polesan, karena dirinya masih harus istirahat di rumah.
"Halo Nak Tiara." sapa bu Suyamti yang lngsung mengambil alih ponsel milik anaknya .
"Assalamualaikum ibu. Ibu sehat?" tanya Mutiara lembut.
"Wa'alaikumsalam nak Tiara, alhamdulillah ibu sehat. Tapi kata bi Saodah tadi, kamu abis sakit ya nak? sakit apa nak?" tanya bu Suyamti.
"Alhamdulillah kalo ibu sehat. Iya bu. Qodarullah, Tiara kemarin sempet main ke Ruang Sakit, tapi alhamdulillah, sekarang sudah dikosan kok bu." kata Mutiara.
"Kok bisa sih nak, kamu sakit apa?" tanya bu Suyamti.
"Cuma kecapekan aja kok bu, Thypus."kata Mutiara.
"Ya Allah, lekas sembuh ya Tiara. Ya sudah kalau gitu. Dipake istirahat dulu ya nak." kata bu Suyamti.
"Ya bu. Terimakasih Sebelumnya." jawab Mutiara ramah.
Ponsel Zio dikembalikan pada pemiliknya, namun Zio tidak segera mengakhiri panggilannya .
"Jadi bener, kamu sakit?" tanya Zio.
"Iya pak." jawab Mutiara.
"Hari ini masuk ga?" tanya Zio.
"Masih harus libur dulu pak." jawab Mutiara.
"Okey." jawab Zio.
"Udah dulu ya. Lekas sembuh." lanjut Zio.
"Ya pak. Terimakasih banyak." jawab Mutiara dengan tersenyum tulus.
"Hem. Jaga kesehatan nya. Cepet sembuh, besok senin mulai ujian." kata Zio dengan wajah datar. Bu Suyamti yang berdiri di sampingnya hanya senyum senyum mendengar anaknya memberi perhatian pada gadis pilihannya.
"Ya pak, terimakasih pak." kata Mutiara tersipu, karena mendapat perhatian dari dosen mudanya.
"Hem. Assalamualaikum." kata Zio.
"Wa'alaikumsalam pak." jawab Mutiara.
Setelah panggilan terputus, Ziopun segera bergegas bersiap menuju kampus.
__ADS_1
"Mama suka dengan sikapmu barusan." kata bu Suyamti dengan senyum senang.
Zio menatap mamanya heran.