Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Sebuah Rasa


__ADS_3

"Dzen." panggil Shanum lemah, saat melihat orang yang dia cintai akan keluar ruangan, setelah tadi melihat adegan yang diluar dugaan.


Dzen menghentikan langkahnya, lalu berbalik arah melihat orang yang memanggilnya.


"Ya?"


"Terimakasih." kata Shanum.


"Hem. Lekas membaik ya." kata Dzen dengan tersenyum tulus.


Shanum mengangguk. Lalu Dzen melangkah keluar, membiarkan Shanum bersama Zio di dalam.


"Dzen, andaikan elo tau, hati ini sangat menginginkan elo Dzen. Tapi apa daya gue, elo ga pernah cinta sama gue." batin Shanum.


"Shanum." panggil Zio menyadarkan Shanum yang memandang kepergian Dzen sampai ambang pintu. Shanumpun menoleh.


"Kamu...mau terima aku kan?" tanya Zio menatap lekat mata Shanum.


Shanum juga mencari ketulusan pada sepasang mata Elang itu, Shanum masih takut, dan masih ragu.


"Aku janji Num, aku akan menerima kamu apa adanya, segala kelebihan dan kekuranganmu. Semuanya. Tapi aku mohon, menikahlah denganku." kata Zio memegang erat tangan Shanum.


"Kenapa bos arogan ini begitu berbeda? Apa aku harus percaya padanya? Benarkah dia pria baik baik?" batin Shanum masih ragu.


"Shanum?" panggil Zio lagi.


"Darimana anda tau tentang masa laluku?" tanya Shanum.


"Sejak awal kita ketemu, aku sudah ada rasa padamu Num. Aku mencari tau tentangmu dari pak Yuda, lalu aku mencari tau melalui orang kepercayaan ku, aku memintanya mencari tau, tentang alasan mu tidak mau menikah. Aku mengutus orang kepercayaan ku, untuk mencari tau tentang masa lalu mu. Mencari penyebab kamu depresi. Hingga akhirnya aku tau, kenapa kamu begitu tertutup dengan para laki-laki. Karena kamu merasa kotor, atas ulah orang yang tidak kamu kenal." kata Zio.


"Apa yang kamu tau tentang prasangka kalau aku kotor?"


"Aku hanya tau, kamu anak orang pas pasan, papamu pengangguran. Tetapi papamu suka main judi, yang akhirnya dia banyak hutang. Hingga kabarnya, kamu dijual pada seorang konglomerat, yang kebetulan papanya banyak hutang pada orang itu." kata Zio.


"Tapi aku..." kata Shanum sedih lagi.


"Kamu korban Num, kamu hanya korban kebengisan laki-laki yang kamu anggap sebagai papa.


"Dan aku, aku ga akan biarkan orang yang aku sayang dalam kesengsaraan. Aku akan menikahimu, dengan segala kelebihan dan kekuranganmu." kata Zio lagi.


"Kamu mau kan nikah sama aku?" tanya Zio serius.


"Ehm..."


"Beri aku waktu." kata Shanum.


"Baik. Terimakasih Num." kata Zio.


💞💞💞


Di luar ruang ICU,


"Mas Dzen?" sapa pak Yuda.


"Pak, Bu. Mohon maaf, saya pamit pulang dulu ya. Alhamdulillah Shanum sudah melewati masa kritisnya." kata Dzen.


"Buru-buru mas?" tanya pak Yuda.


"Iya pak, ini kami harus segera pulang, karena kami dari Solo, saya harus segera mengantar teman saya ini pulang." kata Dzen.

__ADS_1


"Oh, mas Dzen dari Solo?" tanya bu Mia terkejut.


"Iya bu, tadi saat anda menelpon, saya baru saja keluar dari Tol." kata Dzen.


"Ya ampun mas, terimakasih banyak sudah berkenan menjenguk Shanum." kata bu Mia.


"Iya bu, sama-sama." jawab Dzen datar.


"Kalau begitu, saya pamit dulu ya bu, pak. Semoga Shanum segera sembuh." kata Dzen ramah.


"Ya mas." jawab bu Mia dan pak Yuda.


"Tiara, ayo kita pulang." kata Dzen mengajak Mutiara.


"Ehm, ya mas." jawab Mutiara.


"Ibu, bapak, mari. Saya duluan." kata Mutiara ramah.


"Ya mbak. Hati-Hati." kata bu Mia dan pak Yuda hanya tersenyum mengiyakan.


Saat di mobil.


"Tiara."


"Ya mas?"


"Maaf ya, kamu jadi menunggu lama." kata Dzen sungkan.


"Santai aja mas." jawab Mutiara.


"Ehm, ini langsung ke kosan?" tanya Dzen lagi.


"Tapi ini udah agak siang Ra, baiknya kita cari makan dulu yam Aku laper ini, kamu bisa kan temani aku makan dulu?" tanya Dzen.


"Ya mas." jawab Mutiara menurut.


Kemudian merekapun berhenti disebuah warung makan sederhana, kemudian mereka makan disana.


"Tiara."


"Ya mas?


"Ehm, apa tadi om dan tantenya Shanum bercerita sama kamu?" tanya Dzen.


"Cerita?" tanya Mutiara heran.


"Ya, apakah mereka bercerita tentang Shanum kepadamu?" tanya Dzen.


"Iya."


"Mereka cerita apa ?" tanya Dzen penasaran.


"Ehm... mas Dzen, mbak Shanum butuh mas Dzen. Sebaiknya, mas Dzen fokus dengan mbak Shanum saja, untuk kesembuhan dia." kata Mutiara berusaha tegar, meski hatinya bergetar.


"Apa maksudmu Ra?" tanya Dzen.


"Mas. Tiara masih kuliah, jalur bidik misi. Ada perjanjian hitam diatas putih, dimana Tiara ga boleh menikah sebelum lulus. Jika mas Dzen menginginkan Tiara, mas masih harus menunggu Tiara sampe lulus, sekitar dua tahun lagi. Sedangkan mbak Shanum, usianya sudah sangat matang, apa ga sebaiknya mas Dzen sama mbak Shanum aja mas?" tanya Mutiara.


"Apa maksudmu Tiara?"

__ADS_1


"Mbak Shanum suka sama mas kan? Bahkan mbak Shanum hampir bunuh diri karena diaqq1q sudah terlanjur cinta sama mas. Mas Dzen mending nikahin mbak Shanum aja mas, demi kesembuhannya mas." kata Mutiara dengan sudut hati yang terasa teriris-iris.


"Tapi Ra."


"Mencintai tak harus memiliki mas. Begitupun dengan mas, tak harus mas Dzen memiliki Tiara, karena masih ada yang lebih di prioritaskan daripada Tiara mas. Dan dia adalah mbak Shanum." kata Mutiara lembut tetapi berhasil menohok Dzen.


"Aku akan tetap menjaga amanah ini. Aku akan tetap menjaga hati ini, hanya untuk gadis yang aku sayangi. Bapak nya sudah menaruh kepercayaan padaku, dan aku akan menjaga kepercayaan itu semampu ku." kata Dzen mantab. Mutiara yang awalnya hanya menunduk, dia pun mendongak menatap wajah tampan Dzen. Tak Lama, diapun kembali menunduk.


"Tapi mbak Shanum..."


"Sudah ada laki-laki yang mencintainya setulus hati, dan siap menjaganya sepenuh jiwa raga nya." kata Dzen dengan sibuk dengan makanannya.


"Maksud mas?" tanya Mutiara tak mengerti.


"Laki-laki yang masuk ke ruangan Shanum tadi adalah laki-laki baik, yang setia dengan Shanum, dia sangat mencintai Shanum, meski dia tak dicintai oleh Shanum, dia tak perduli." kata Dzen


"Maksud mas Dzen, Pak Zio?" tanya Mutiara dengan perasaan tak menentu.


Dzen mengangguk, membuat sudut hati Mutiara terasa tersayat. Entah rasa apa itu, yang jelas, Mutiara kini paham, bahwa dosen tampannya tak kan pernah memandang dirinya lebih. Mutiara hanyalah gadis desa yang bekerja keras. Dan Zio, tetaplah es balok yang dingin, hanya Shanum yang bisa mencairkannya.


Ada harapan Mutiara yang pupus, termasuk cintanya bertepuk sebelah tangan, tetapi Mutiara tetap berusaha menyembunyikannya. Karena, mulai besok dia harus selalu ke rumah Zio untuk mengajari mengaji bu Suyamti.


"Tiara."


"Eh, ya mas?"


"Udah selesai makannya?"


."Alhamdulillah, udah mas."


"Kita pulang sekarang ya." ajak Dzen.


"Ya mas."


Dzen dan Mutiarapun sudah selesai makan, lalu mereka berlanjut ke kosan Mutiara untuk mengantarkan Mutiara.


Dzen membantu membawakan barang-barang Mutiara sampai di kosan.


"Mas Dzen."


"Ya?"


"Makasih banyak ya mas."


"Iya, sama-sama. Tapi maaf, tadi sempet lama aku tinggal di rumah sakit."


"Ga masalah kok mas."


"Kamu jaga diri baik-baik ya Ra."


"InshaaAllah mas. Mas Dzen juga." kata Mutiara. Dzenpun tersenyum bahagia.


"Aku pulang dulu."


"Ya mas. Hati-hati."


"Okey, InshaaAllah."


"Assalamualaikum." salam Dzen berpamitan.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.


__ADS_2