Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Perpustakaan


__ADS_3

πŸ“žnomer baru


"Ish, di chat kenapa malah telpon lagi sih?" omel Mutiara yang baru mengeringkan rambutnya.


"Halo, assalamualaikum." sapa Mutiara.


"Wa'alaikum salam." jawab suara laki-laki dari sebrang.


"Maaf, siapa ya?" tanya Mutiara.


"Kamu tidak menyimpan nomer saya?" tanya laki-laki itu lagi.


"Maaf, tidak. Siapa ya?"


"Mulai sekarang, disave. Saya Zio." kata Zio ketus.


Seketika Mutiara menepuk keningnya sambil merem. Mutiara memang lupa tidak men save nomer dosen killer nya itu, karena dosen muda satu ini sangat jarang memonitor tugas mahasiswanya lewat ponsel.


"Oh, ya pak. siap. Saya save." kata Mutiara segera menyentuh tombol save.


"Sudah?" tanya Zio.


"Sudah pak."


"Kamu sudah sampai rumah belum? Dari tadi kemana aja? Kenapa ga angkat telpon saya?" omel Zio.


"Owh, iya pak. Maaf, tadi saya baru mandi, tidak mendengar ada telpon." kata Mutiara dengan hati berbunga-bunga, merasa diperhatikan oleh dosen gantengnya. Dia merasa kalau dosennya khawatir akan dirinya.


"Oh, ok. ya sudah. Mbak Nilam nanyain soalnya." kata Zio begitu saja sambil menekan tombol merah.


Tut tut tut


Sambungan terputus begitu saja tanpa salam dan tanpa berpamitan.


"Hem... Mbak Nilam yang nanyain, berarti maksudnya dia telpon hanya untuk laporan pada mbak Nilam. Astaghfirullah Tiara, jangan mimpi kamu. Khayalanku terlalu tinggi, kamu terlalu ke GeeRan." batin Mutiara yang tadi sempat berbunga hatinya, ternyata dosen gantengnya perhatian, tapi begitu saja hati yang melayang itu kembali terjatuh, dengan kalimat mbak Nilam nanyain. Itu berarti dia menelpon hanya untuk laporan pada mbak nya, bukan karena dosennya peduli padanya.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Mutiara sudah menyelesaikan presentasinya didepan dosen killer nya, dengan hasil yang bagus. Dan dia kembali pada rutinitas kesehariannya, ke pasar, kuliah, berorganisasi dan lainnya. Hingga suatu hari, saat di kampus, pada jam istirahat siang hampir habis, Saudara sepupu Mutiara berlari-lari menyusul Mutiara yang hendak pergi meninggalkan teras masjid


"Mbak, mbak Tiara!" panggil Kenzo.


Seketika Mutiara menoleh ke sumber suara.


"Ken? Kamu ngapain lari-lari nyusul mbak?" tanya Mutiara heran, karena sepupunya itu jarang mencari dirinya, kecuali kalau sedang butuh sesuatu.


"Hehe, anu mbak. Nanti bisa anterin Ken nyari buku ga?" tanya Kenzo sambil menggaruk leher belakangnya.


"Buku apa?" tanya Mutiara belum paham. Karena sepupunya ini sangat jarang memegang buku.


"Buku Referensi mbak." kata Kenzo.


"Buat apa? kamu mau beli, apa mau pinjem?" tanya Mutiara.

__ADS_1


"Ya beli lah mbak, kalo pinjem, aku ga punya kartu perpustakaan." kata Kenzo.


"Tumben?"


"Hehe, aku dapet hukuman mbak. Karena ketauan tugasku cuma copas nama doang." kata Kenzo malu-malu.


"Astaghfirullah Ken, mbak kan udah bilang berkali-kali sama kamu, jangan suka plagiat tugas orang lain." kata Mutiara geram.


"Yah, abis gimana? Kemarin aku buntu mbak. Males mikir, abis tugasnya susah." kata Kenzo.


"Berapa buku yang harus dicari? Mata kuliah apa dan temanya apa?" tanya Mutiara.


"Minimal lima mbak, ini makalahku, judulnya itu. Mata kuliah menejemen." kata Kenzo sambil menyerahkan makalahnya yang di tolak dosennya.


"Okey, nanti mbak cariin di perpustakaan, pake kartunya mbak aja. Tapi cuma boleh minjem dua buku. Yang tiga nanti beli aja di toko buku ya." kata Mutiara.


"Ya mbak, terserah mbak Tiara aja lah. Tapi...."


"Tapi apalagi?"


"Aku ga ada duit buat beli buku mbak, bapak belum transfer." kata Kenzo nyengir.


"Hadeh.... ya udah. Nanti gampang lah." kata Mutiara.


"Nanti ya mbak, pulang kuliah." kata Kenzo.


"Harus hari ini?" tanya Mutiara.


"Ya udah. Nanti pulang kuliah. Kamu pulang jam berapa?" tanya Mutiara.


"Jam setengah tiga mbak."


"Okey, entar kalo kamu dah selsai kuliah, kita otw. Tapi, sekalian sholat ashar dulu aja ya "


"Okey mbak. Mbak ga kuliah?"


"Udah selesai. Ini mau ke perpustakaan." kata Mutiara.


"Okey mbak. Tapi naik motormu ya mbak."


"Ya iyalah. Emang kamu ada motor?" kata Mutiara.


"Hehe, ya ga ada."


"Ya udah. Sana, ke kelas. Terlambat lho nanti." kata Mutiara.


"Ok mbak." kata Kenzo yang sudah berlari menuju gedung fakultasnya begitu saja tanpa mengucap salam. Mutiara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sepupunya itu.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Siang itu, rencananya Mutiara mau pulang saja, untuk istirahat. Namun, karena sepupunya minta dicaarikan buku, maka diapun ke perpustakaan yang menjadi tempat ternyamannya ketika malas untuk segera pulang ke kosan.


Saat Mutiara sedang mencari referensi untuk makalah Kenzo, tak sengaja dia memegang sebuah buku, bersamaan dengan sebuah tangan juga memegang buku yang sama, seketika Mutiara menoleh ke arah pemilik tangan kekar itu, dan tak disengaja, ternyata pemilik tangan itu juga menoleh ke arahnya, manik merekapun bertemu.

__ADS_1


Siapa ya??


Ehem


.


.


.


.


.


"Pak Zio? Maaf pak." kata Mutiara sontan melepaskan bukunya, lalu menunduk.


"Kamu bawa aja. Ini." kata Zio memberikan buku yang dia pegang untuk Mutiara.


"Ga usah pak, saya cari yang lain aja." kata Mutiara.


"Kamu bawa aja!" intonasi Zio meninggi sambil menyodorkan bukunya.


"Ehm," Mutiara ragu menerima.


"Cepet, keburu pegel." kata Zio.


"Oh, ya pak. Terimakasih." kata Mutiara sambil menerima buku dari tangan Zio.


"Hem." kata Zio acuh, sambil mencari buku yang lainnya.


Mutiara pun segera mencari buku lainnya, untuk dia baca sendiri di perpustakaan, karena buku referensi untuk Kenzo sudah dapat semua. Lalu setelah mendapatkan sebuah buku yang diinginkan, Mutiara mencari tempat duduk kosong.


Saat sudah membaca beberapa lembar, tampak seseorang duduk disebelahnya, tanpa permisi. Mutiarapu menoleh kekanan, tempat orang yang baru datang itu duduk. Dan tak disangkanya, ternyata itu orang yang sama dengan yang mengambil buku yang sama tadi.


"Pak Zio? Aduh,,,, kenapa jantungku jadi konser begini? Sapa ga ya? Ehm, ga usah aja lah, entar dicuekin lagi, dikira SKSD." batin Mutiara.


Kemudian dia melanjutkan membacanya dengan sesekali mencuri pandang ke arah pria dingin itu, hingga terdengar suara adzan ashar berkumandang.


"Ehm, permisi pak Zio." kata Mutiara menyapa hendak pergi meninggalkan tempat duduknya.


"Oh, kamu? Ya." kata Zio dingin.


"Sudah ashar pak." kata Mutiara.


"Ya, saya juga dengar adzan." kata Zio.


Mutiara jadi merasa sungkan sendiri. Diapun melangkah begitu saja pergi keluar perpustakaan dan berjalan menuju masjid dengan hati yang tidak menentu rasanya. Baru kali ini dia merasakan jantung yang berdetak cukup kencang, ketika duduk bersebelahan dengan laki-laki.


Apakah perasaan suka, atau perasaan takut serba salah, entahlah, pemilik hati itu juga masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dia galau kalau bertemu dosen killer nya itu, merasa serba salah, apalagi sejak kejadian terlambat satu jam kala itu.


\=\=\=\=\=\=


Bagaima kelanjutannya? Tunggu cerita berikutnya ya, tetap di Jodoh Salah Sambung karya Dede Dewi.

__ADS_1


__ADS_2