
Setelah sarapan soto, Dzen dan Kenzo kembali ke rumah sakit. Karena belum mulai bertugas, Dzen ikut serta Kenzo ke ruangan Mutiara dirawat.
"Mas Dzen, nanti bantu ngasih alesan ke mbak Tiara ya, pasti dia nanti ngomel deh, Kenzo abis sholat subuh ga langsung balik ke kamar mbak Tiara." kata Kenzo khawatir.
"Iya, santai aja." jawab Dzen sambil meletakkan tangan kanannya di pundak Kenzo, seperti sahabatnya sendiri.
"Hehe, makasih ya mas sebelumnya." kata Kenzo.
"Iya, sama-sama. Pokoknya jangan bilang sama Tiara ya, tentang yang kita bicarakan tadi di warung soto." kata Dzen.
"Iya mas. Beres." kata Kenzo mengacungkan jempolnya.
Sesampainya didepan ruang rawat Mutiara, Kenzo mengetuk pintu, lalu membukanya, setelah Mutiara memberikan ijin masuk. Namun, Dzen tampak masih berdiri didepan pintu.
"Ayo mas." ajak Kenzo.
"Masuk duluan aja, Tiara pake jilbab ga?" tanya Dzen.
"Mbak Tiara tu ga pernah lepas jilbab kalo ga di tempat tinggalnya sendiri mas. Santai. Ayo masuk." ajak Kenzo.
"Assalamualaikum mbak." sapa Kenzo.
"Wa'alaikumsalam Ken, Tumben amat kamu sholat subuh selama ini." sindir Mutiara.
"Hehe, iya mbak." kata Kenzo cengengesan.
"Eh, ada dokter Dzen juga? Kok bisa bareng?" tanya Mutiara heran.
"Iya, ini tadi kita sholat bareng di masjid." kata Dzen.
"Terus Ken diajak mas Dzen sarapan soto mbak." kata Kenzo dengan nyengir kuda.
"Eh, udah Nyoto?" tanya Mutiara.
"Iyalah. Nunggu sarapan di sini ga dateng-dateng. Adanya sarapan buat pasien, ya kita laper lah kalo ga nyari keluar." kata Kenzo.
"Iya mbak ngerti." jawab Mutiara.
"Terimakasih ya dok, udah nraktir Kenzo." kata Mutiara.
"Iya sama-sama. Lagian tadi saya juga pas laper, kebetulan keluar dari masjid, ketemu Kenzo, ya udah ajak bareng aja buat temen." kata Dzen.
"Oh gitu? Tadinya mbak tu mau telpon kamu Ken, mau nge chat kamu, kenapa ga balik-balik. Mbak khawatir kamu ketiduran di masjid. Tapi ternyata, paketan mbak habis, makannya chat mbak ga terkirim." kata Mutiara pada Kenzo.
"Eh, sembarangan aja mbak Tiara bilang aku ketiduran di masjid, ya engga lah mbak. Gini-gini, Kenzo tu kalo sholat khusyu', ga pernah ketiduran." protes Kenzo.
"Ya, kan siapa tau." Mutiara membela diri.
"Ken, entar kuliah ga?" tanya Mutiara.
"Kuliah mbak, kenapa?" tanya balik Kenzo.
"Berangkat jam berapa?" tanya Mutiara.
"Jam setengaj delapan mbak. Masuknya jam delapan soalnya." jawab Kenzo.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Gapapa. Kalo kuliah, nanti tolong beliin paket data ke Nadia ya." kata Mutiara.
"Beli di aplikasi aja, Ra. Ini saya punya langganan." kata Dzen sambil mengambil ponsel dari saku celananya.
"Ga usah dok, saya sudah biasa beli paket data ke temen kuliah kok dok." kata Mutiara.
"Ga papa. Saya belikan ya." kata Dzen tanpa menunggu persetujuan Mutiara.
"Ga usah dok." cegah Mutiara.
"Kenzo, ini udah jam serangah tujuh lho, ga siap-siap?" tanya Dzen mengalihkan pembicaraan.
"Oiya, lupa. Ya udah mbak, Kenzo ke kosan dulu, mau mandi. oya, itu udah dibeliin mas Dzen ya paketannya, jadi Ken ga perlu beli di mbak Nadia kan? Lagian males banget nyariin mbak Nadia ke lantai tiga." kata Kenzo sambil menyalimi mbaknya.
"Eh, kamu nih Ken. Ya udah, hati-hati. Ga usah ngebut, jangan buat balapan itu motor, jangan lupa isi bensin. Pake Helm." pesan Mutiara.
"Iya iya. Bawel." jawab Kenzo.
Mutiara hanya geleng-geleng menanggapi adik sepupunya itu.
"Mas Dzen, Kenzo pamit ya. Nitip mbak Tiara ya mas. Kalo ada apa-apa, hubungi Kenzo ya mas." kata Kenzo pada Dzen sambil menjabat tangan Dzen.
"Okey. Siap." jawab Dzen tersenyum pada Kenzo.
"Assalamualaikum." salam Kenzo sebelum membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawab Dzen dan Mutiara bersamaan.
"Ehm, Tiara. Coba kamu cek ya. Paket datanya udah terkirim belum." kata Dzen.
Mutiarapun mengambil ponselnya dan melihat sebuah notif pesan masuk dari operator, bahwa paket datanya sudah masuk.
"Sudah dok. Terimakasih banyak ya dok. Ini berapa dok?" tanya Mutiara.
"Apanya?" tanya Dzen.
"Bayar paketannya." jawab Mutiara.
"Ga usah." jawab Dzen.
"Dokter ini, ga usah terus. Rumah sakit udah di backup, sarapan Kenzo udah di traktir, paket data juga ga usah dibayar. Ya saya kan jadi tambah banyak hutang dok." kata Mutiara.
"Siapa bilang itu hutang? Itu ikhlas saya berikan buat kamu." kata Dzen.
"Tapi dok. Ehm." Mutiara ragu untuk memenrima semua itu.
"Kamu terima aja. Ga usah mikir kapan balikin nya." kata Dzen.
"Emang dokter lagi tanggal muda? Isi dompetnya masih tebel?" tanyaMutiara.
"Hahahaha, ya begitulah. Semoga saya diberi rejeki tanggal muda terus sama Allah." jawab Dzen.
Mutiara hanya tersenyum menanggapi ucapan Dzen.
__ADS_1
"Oya, kamu udah sarapan belum Ra?" tanya Dzen.
"Belum dok. Tapi ini sarapannya udah datang kok." kata Mutiara menunjuk menu sarapan di meja nakas.
"Mau sarapan sekarang?" tanya Dzen sambil membuka penutup makanan.
"Ehm. Ya, boleh dok." kata Mutiara.
"Saya suapin?" tawar Dzen.
Mutiara membalas dengan senyuman,
"Ga usah dokter." jawab Mutiara sambil menerima makanan yang sudah disiapkan Dzen.
"Baiklah." jawab Dzen.
"Ehm, Dokter ga praktek?" tanya Mutiara.
"Kenapa memangnya?" bukannya menjawab, Dzsn justru balik bertanya.
"Gapapa kok dok." jawab Mutiara sambil menyendokkan makanan kedalam mulutnya.
"Saya bertugas masih nanti jam sembilan." jawab Dzen sambil menatap ubin. Setelah dia tau banyak hal dari Kenzo, kini Dzen lebih berusaha memahami Mutiara, agar Mutiara tidak merasa ilfeel dengannya.
"Oh, dokter Dzen ini dokter umum atau gimana dok? Kok seringnya di IGD?" tanya Mutiara yang sudah mulai mencair untuk ngobrol.
"Iya, saya memang bertugas di IGD, karena saya masih berstatus dokter umum. Ya do'akan saja, semoga study saya segera selesai, dan saya bisa jadi dokter spesialis." kata Dzen.
"Dokter masih study ya?" tanya Mutiara.
"Iya, Tiara. Kata Ken, kampus tempat saya study ini dekat rumah kalian. Di Solo." kata Dzen.
"Lho, memangnya dokter study dimana?" tanya Mutiara.
"Di UNS." jawab Dzen yang sudah berani menatap gadis cantik penakluk hatinya.
"Iya dok, deket itu dari desa kami. Kapan-kapan main-main ke rumah dok." kata Mutiara dengan senang.
"Iya Tiara, dengan senang hati kapan ada waktu, kalo pas kamu di solo, saya akan main ke rumahmu." kata Dzen.
"Tapi rumah kami sangat sederhana dok." kata Mutiara.
"Justru itu, masih asri juga kan?" tanya Dzen.
"Ya namanya rumah desa dok." kata Mutiara lagi.
"Kalau saya mau ketemu orang tua kamu, boleh ga?" tanya Dzen menatap intens Mutiara.
Mutiara terdiam, dia baru sadar. Kalau ada sinyal dari percakapan mereka barusan.
"Apa maksud mas Dzen?" batin Mutiara.
💞💞💞
Bagaimana jawaban Mutiara? Ikuti episode selanjutnya ya😍
__ADS_1