
Mutiara tersenyum menanggapi sikap Dzen yang khawatir berlebihan. Sambil mengusap air matanya yang tadi sempat keluar, Mutiara berkata
"Mas Dzen, Tiara belum selesai bicara." kata Mutiara sambil tersenyum.
"Tiara minta maaf, karena Tiara sudah berprasangka buruk sama mas Dzen. Tiara sudah terbawa emosi, dan membenarkan kiriman foto dan video itu. Maafkan Tiara yang sempat hilang kepercayaan terhadap mas Dzen." kata Mutiara menjelaskan.
"Yaa Allah Tiara, mas tu jadi kalut tau ga sih. Mas bener bener khawatir, kalau kamu juga bakal kecewa sama mas, dan ninggalin mas, kaya para mantan mas yang lain." kata Dzen lega.
"Mas, semua yang ada didunia ini hanya titipan. Jangan terlalu berharap dengan makhluk, biar nantinya ga kecewa. Begitupun tentang jodoh, kita tidak boleh terlalu khawatir kehilangan, karena jodoh itu rahasia, seperti hal nya umur. Keliatannya lancar lancar dan, hingga hampir hari H, tetapi siapa sangka jika lima menit sebelum ijab qobul, pasangannya dijemput malaikat izroil? Kan itu hak Allah, karena kita adalah milik Allah." kata Mutiara.
"Iya sih, tapi ya tetep aja Ra, rasanya mas belum siap kalo harus patah hati lagi untuk yang kesekian kalinya." kata Dzen murung.
"Laa tahzan, innallaha ma anna. Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita. Sungguh, jika semua dikembalikan pada Allah, hati akan tenang, tidak ada rasa was was, dan hal buruk lainnya." kata Mutiara yang ternyata mampu membuat Dzen merasa lebih tenang.
"Oh ya, maaf juga mas, Selain tadi Tiara sempet berprasangka sama mas, Tiara tadi juga curhatin hal ini sama Nadia dan Mila. Maaf, mungkin sebenarnya ini aib, tapi Tiara ga kuat menahan ini sendiri, sehingga tadi terpaksa Tiara cerita sama mereka. InshaaAllah mereka amanah kok. Dna bahkan, tadi merka yang menenangkan hati Tiara, dan memberi saran untuk tabayyun dulu sama mas Dzen. Mereka percaya sama mas, kata mereka, mas Dzen orang baik, ga mungkin melakukan hal serendah itu." kata Mutiara.
"Yaa Allah Ra. Beruntung banget mas kenal sama kamu, mas jadi bisa belajar banyak hal tentang cara menata hati, terutama kalau lagi kacau." kata Dzen.
'Allahuakbar Allahuakbar'
"Alhamdulillah, sudah adzan. Maaf mas, Tiara mau ijin batalin puasa dulu." kata Mutiara sambil berdiri.
"Lhoh, kamu puasa?" tanya Dzen.
"Iya mas."
"Ya udah, biar mas beliin minuman dulu deh. Tiara di sini aja." kata Dzen beranjak dari duduknya.
"Udah, disitu aja mas, ga usah jauh-jauh. Gimana? Tinggal pesen, nanti kita tinggal sholat ke masjid dulu." kata Mutiara memberi usul.
"Oh, ya, boleh deh." jawab Dzen. Lalu Dzen segera memesankan minuman untuk Mutiara terlebih dahulu, untuk membatalkan puasnaya.
Setelah menyeruput teh hangat yang disajikan, Mutiara dan Dzen pamit sholat dulu, sambil menunggu pesanan.
Setelah selesai sholat, mereka kembali ke warung nila bakar yang terletak tak jauh dari tempat mereka duduk tadi. Pesanan mereka sudah datang, mereka berdua pun menikmati hidangan.
"Oya Ra, gimana hasil bimbingannya Tadi?" tanya Dzen, mengingat tadi malam Dzen ke kosan Mutiara untuk mengantarkan leptop.
__ADS_1
"Alhamdulillah mas, sempet nge blank sih tadi, tapi its Ok, bisa teratasi." jawab Mutiara.
"Emang kiriman foto itu kapan dikirimnya? Dan siapa pengirimnya?" tanya Dzen.
"Dikirim pas Tiara menunggu dosen tadi mas, Untuk pengirimnya, Tiara ga tau, dan ga mau tau." kata Mutiara sambil memasukkan nasi kedalam mulutnya.
"Ra, mas pinjem ponselnya, boleh?" tanya Dzen.
"Untuk apa mas?" tanya Mutiara.
"Mau liat aja." kata Dzen.
Mutiarapun menurut. Dzen membuka pesan, lalu dilihatnya foto profil orang yang mengirimi foto kepada Mutiara. Lalu, dichek nomernya, Dzen berusaha mencari tau, orang yang sudah memfitnah nya. Namun nihil, tidak ada yang sama dengan yang dicurigainya. Foto profil tidak ada, nama pengguna pun tidak ada. Sehingga Dzen akhirnya menganalisis kata-kata dalam caption gambar itu.
"Lala. Aku yakin, pasti dia." batin Dzen.
"Udah belum mas?" tanya Mutiara.
"Oya, udah kok. Ini." kata Dzen menyerahkan ponsel milik Mutiara yang sederhana tapi serbaguna.
"Emang mas Dzen nyari apa?" tanya Mutiara penasaran.
"Nyari jejak pengirim." jawab Dzen.
"Udahlah mas, Ga usah dicari. Emang kalau ketemu, mas mau ngapain? Marah-marah? Udahlah mas, ga ada gunanya juga. Dah, diemin aja." kata Mutiara tak ambil pusing.
"Tapi dia fitnah mas Ra." kata Dzen protes.
"Yang penting, mas bisa dipercaya, Tiara udah percaya, ya udah, beres." kata Mutiara santai.
"Gitu ya?"
"Ehm, tapi, kenapa tadi nangis? Sempet marah juga saat lihat foto foto itu?" tanya Dzen mencoba memancing jawaban Mutiara.
"Ah? Itu? Ehm, ya gapapa. Ehm, ya, syok aja." kata Mutiara gelagapan.
"Tiara cemburu ya?" goda Dzen.
__ADS_1
"Ha? Cemburu? Ehm, engga, engga cemburu, Biasa aja." kata Mutiara mengelak.
"Udah, ngaku aja kali. Tiara cemburu kan? Gapapaa, berarti itu tandanya, Tiara tu cinta sama mas. Ya kan?" goda Dzen.
"Ish, apaan sih mas. Mau kena skrors?" tanya Mutiara mengancam.
"Eh, galak amat. Gitu aja main ancam di skrors segala. Udah, Tiara ngaku aja deh." kata Dzen masih menggoda Mutiara.
"Tadi ada laki-laki datengin Tiara, terus dia bilang, mau ngelamar Tiara." kata Mutiara mengalihkan pembicaraan, yang justru membuat Dzen terkaget hingga tersedak saat mengunyak makanannya.
"Uhuk."
"Astgahfirullah mas, hati hati kalau makan." kata Mutiara sontak menepuk punggung Dzen.
Dzen mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa dirinya baik baik saja. Lalu Dzen meminum air mineral yang ada di meja mereka.
"Apa? Kamu ada yang mau ngelamar? Terus, kamu terima?" tanya Dzen khawatir.
"Menurut mas Dzen?"
"Ya engga lah. Kan udah ada mas yang duluan dateng ke orangtuamu." kata Dzen dengan pedenya.
"Ya udah, itu tau." jawab Mutiara.
"Alhamdulillah." jawab Dzen sambil mengelus dadanya.
"Ya sebenernya, tadi sih sempet goyah.." kata Mutiara.
"Terus?"
"Keinget pesannya papanya mas." jawab Mutiara.
"Syukurlah. Aku pikir, kamu bakal ninggalin mas." kata Dzen khawatir.
"Bismillah. InshaaAllah okay. tidak kok." jawab Mutiara.
"Yes. Alhamdulillah."pekik Dzen.
__ADS_1