Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Khitbah


__ADS_3

"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh." salam pak Panca saat sudah memasuki acara inti, setelah tadi sudah beramah tamah sebentar.


"Wa'alaikumsalam warohamtullahi wabarokatuh." jawab semua yang hadir di rumah itu.


"Perkenalkan pak, bu. Saya Panca Kusuma. Saya papa kandung dari ananda Ahmad Zainuddin, atau yang biasa dipanggil Dzen. Saya bersama istri dan anak-anak saya ini, dari Makassar, langsung mendarat di Solo, dengan tujuan silaturahmi." kata pak Panca mengawali penyampaiannya. Kemudian Pak Panca melihat seluruh hadirin, lalu menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan. Karena ini kali pertama pak Panca menyampaikan sendiri niat baik untuk putra nya, kepada orang lain, yang usianya jauh di atasnya. Dan orang yang dihadapinya bukanlah rekan bisnis, ataupun teman sejawat, melainkan calon besan yang usianya sudah tua, namun terlihat bahwa calon besan nya ini memiliki ilmu yang luar biasa, sehingga pembawaannya sangat nampak, beliau tampak berwibawa.


"Selain itu, kami ke sini juga berniat baik, yaitu kami ingin melamar putri dari Pak Bowo Harjuno, yang bernama Mutiara Hati, untuk putra kami Ahmad Zainuddin." kata pak Panca.


"Ehm, begitu bapak, bagaimana?" tanya Pak Panca.


"Bismillahirrahmanirrahim. Baik, pak Panca sekalian ibu. Kami ucapkan, terimakasih banyak, bapak sekeluarga berkenan datang jauh jauh dari kota Makassar ke Solo, untuk bersilaturahmi ke gubug kami yang sangat sederhana ini. Mohon maaf, apabila penyambutan kami kurang baik." jawab pak Bowo santun.


"Dan untuk tujuan yang kedua, Terimakasih banyak atas niatan baiknya, Pak Panca melamar putri kami, bernama Mutiara Hati, untuk putra bapak, bernama Ahmad Zainuddin. Kami hanyalah orangtua, yang hanya mampu mengarahkan saja. Untuk keputusannya, kami tidak kuasa menjawabnya. Maka, kami akan tanyakan langsung kepada putri kami, Mutiara Hati." kata pak Bowo.


"Nduk, Tiara." panggil Pak Bowo. Karena sejak tamu datang, Mutiara berdiam di kamar, ditemani dua sahabatnya.


Setelah mendengar panggilan itu, Mutiara keluar dari kamarnya, dengan balutan dress batik, bermotif sama dengan Dzen, dipadukan dengan jilbab lebar berwarna gold. Wajah Mutiara yang polos itu di make over oleh dua sahabatnya, sehingga jadilah dia tampak sangat cantik dengan berhiaskan bibir yang menampakkan senyuman yang tulus.


"OMG abang... itu si embaknya cantik banget." kata Laila adik Dzen.


"Sttt, adek, jangan berisik." kata Destia menegur adiknya.


"Yaa Allah, ini beneran Mutiara Hati, calon istriku? Asli, cantik banget, kaya bidadari turun dari kayangan." batin Dzen yang tak berkedip saat melihat sosok Mutiara muncul di ruang pertemuan itu. Namun, seketika dia tundukkan kepalanya, dia teringat oleh ancaman dari Mutiara beberapa waktu lalu, terkait menjaga pandangan.


"Ya pak." jawab Mutiara lembut setelah dia duduk disamping ibunya yang juga duduk di samping pak Bowo.


"Nduk, ini ada pak Panca, dan keluarganya, beliau datang untuk mengkhitbahmu untuk putranya yang bernama Ahmad Zainuddin. Bagaimana nduk, apa kamu menerimanya?" tanya pak Bowo.

__ADS_1


Dengan tetap menundukkan wajahnya, Mutiara menjawab pertanyaan bapaknya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Dengan menyebut nama Allah, InshaaAllah, saya Mutiara Hati, menerima lamaran dari mas Ahmad Zainuddin." jawab Mutiara dengan tenang dan tetap menunduk.


"Alhamdulillah." seketika semua orang yang duduk di ruang depan rumah joglo itu, mengucap hamdalah, tanda syukur kepada Allah karena acara lamaran berjalan dengan lancar.


Setelah itu, mereka melanjutkan acara dengan pasang cincin. Mutiara berjalan ke tengah bersama dengan bu Lastri, ibu tiri Dzen. Bu Lastri menyematkan cincin emas di jari manis Mutiara dengan perlahan. Kemudian Mutiara mencium punggung tangan bu Lastri dengan khidmad, lalu mereka berpelukan.


Dzen merasa sangat lega, dia terus tersenyum dengan menundukkan kepalanya. Ya, Dzen takut pertunangan ini akan gagal jika dia tidak bisa menjaga sikap. Sebenarnya, dadanya bergemuruh hebat, ingin rasanya dia berlama-lama memandang wajah manis calon istrinya, namun sayang itu tidak bisa dia langgar. Karena sudah ada rasa takut pada Robb nya, atas sebuah pandangan yang belum halal baginya.


Dzen tidak memakai cincin, karena itu kesepakatan keduanya, mereka akan tukar cincin nanti ketika sudah sah suami istri saja. Acara khitbah ini, hanya cukup satu cincin untuk wanitanya saja.


Setelah acara penyematan cincin, Acara berikutnya adalah bermusyawarah terkait acara pernikahan.


"Sebelumnya, kami mohon maaf pak Bowo, jika seharusnya tanggal pernikahan biasanya ditentukan dari pihak mempelai wanita, tetapi kami dari pihak mempelai pria, kami mohon ijin untuk usul. Kalau misal, kami minta menikahnya disegerakan bagaimana? Kalau bisa, sebelum putra kami, Dzen wisuda dokter spesialis, mereka sudah sah suami istri. Misalkan bapak berkenan, langsung saja resepsi tidak apa apa, kami sudah siapkan anggarannya. Tetapi, jika bapak kurang berkenan, ya setidaknya nanti kami mohon untuk ijab qobul terlebih dahulu, bagaimana pak?" tanya pak Panca.


"Mutiara, ngikut bapak saja. Apapun keputusan bapak, Tiara setuju." jawab Mutiara.


"Alhamdulillah. Lalu kamu nak Ahmad?" tanya pak Bowo.


"InshaaAllah, saya siap." jawab Dzen mantap.


"Alhamdulillahirobbil'alamin." jawab semua orang diruangan itu.


"Bang Dzen udah ga sabar ya, sampe gitu banget jawabnya." goda Laila.


"Ya iyalah dek, bang Dzen kan udah kelamaan ngejomblonya." kata Destia membubuhi kata kata Laila.

__ADS_1


"Apaan sih kalian ini, sok tau." jawab Dzen grogi.


"Baiklah, karena acara sudah selesai, ijinkan kami untuk mengajak Pak Panca sekeluarga untuk makan siang bersama disini, dengan hidangan apa adanya, dalam rangka syukuran kelulusan putri kami, Mutiara Hati." kata pak Bowo menutup acara resmi itu.


Sedangkan dibelakang rumah pak Bowo, seorang pria sedang frustasi dengan dirinya sendiri. Dia menahan air mata agar tidak tumpah. Namun, tenaganya sia-sia, ketika suara Mutiara terdengar sampai di belakang karena adanya sound, hati Yusuf bergemuruh tak menentu. Matanya memerah menahan air yang hendak tumpah. Mulutnya terus berusaha beristighfar, menahan dirinya agar tetap kuat dan tidak tumbang. Bunda Rahma yang sejak tadi sibuk dengan hidangan yang akan dihidangkan keluar, melihat putranya merasa berempati, akhirnya bunda Rahma mendekati Yusuf dan memeluknya dari belakang.


"Kamu kuat nak, bunda Yakin, ini yang terbaik. Jodohmu sudah disiapkan Allah, bismillah. Ikhlas ya nak. Ikhlas." kata bunda Rahma dengan suara serak yang juga menahan tangisan.


"Entahlah bunda, Yusuf bisa kuat engga." kata Yusuf putus asa.


"Bisa, bunda yakin. Yusuf anak bunda yang kuat. Masih ada Allah nak, yakinlah. ini semua atas kehendak Allah." kata bunda Rahma menyemangati.


"Berat bunda."


"Bunda ngerti nak." Bunda Rahmapun kembali pada kesibukannya, karena hidangan akan segera dikeluarkan.


Lalu, setelah acara selesai, Kenzo dibantu oleh Yusuf dan Fahri, turut membantu menyiapkan makan siang mereka semua para tamu yang hadir.


"Hei Suf, Ayo Suf. Bantuin kita napa, bengong aja ente." omel Fahri.


"Eh, ehm Ya. " jawab Yusuf gugup sambil mengisap wajahnya yang sempat sembab oleh air mata.


Saat Yusuf keluar dari dapur dengan membawa makanan, Dzen terkejut dengan adanya Yusuf.


"Itu kan, Yusuf. Teman laki-lakinya Tiara yang dulu pernah memberi Tiara perhatian berlebih. Kenapa dia ada disini?" batin Dzen.


"Silakan mas." kata Yusuf saat berada dihadapannya.

__ADS_1


"Oh, iya mas. Terimakasih." kata Dzen kaget.


__ADS_2