Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Rasa Ini


__ADS_3

Setelah selesai bercerita, Shanum memberi saran agar Diego lebih berhati-hati.


"Ehm, begitu ceritanya?" kata Shanum setelah meneguk lemon tea pesanannya.


"Ada ide?" tanya Zio yang sejak tadi tak beralih pandangannya dari sosok gadis dihadapannya.


"Ehm, okey. Seperti kata pak Zio tadi, kalau pak Zio sendiri yang turun tangan, anak itu pasti akan punya cara untuk melarikan diri. Sehingga nanti, biar saya selidiki dulu. Karena saya juga punya banyak kenalan tentunya di asrama putra. Sehingga nanti akan coba saya nanti sebisa saya. Kalau ada info saya akan langsung hubungi Pak Zio. Bagaiaman?" kata Shanum panjang lebar.


Zio tampak diam menatap gadis itu tanpa merespon, Diego yang duduk disebelahnya melihat sikap Zio yang aneh, langsung menyadarkan Zio.


"Om." panggil Diego.


"Eh, ya Die? Ada apa?" tanya Zio gelagapan.


Shanum menatap Zio dengan malas, panjang lebar dia menjelaskan, ternyata yang diajak bicara justru melamun.


"Menyebalkan." batin Shanum.


"Itu tadi om, Kata bu Shanum, kalau ada info apa-apa, biar bu Shanum hubungi om langsung." kata Diego.


"Oh, yaya. Siap." jawab Zio.


"Okey, gitu dulu aja. Karena makanan dan minuman saya juga sudah habis, waktu saya juga sudah habis, sepertinya urusan kita hari ini sudah selesai, saya pamit undur diri dulu ya." kata Shanum berdiri dari tempat duduknya.


"Ehm, Keburu-buri banget ya? Tidak ingin mengobrol bersantai sejenak?" tanya Zio.


"No. Thank's. Saya harus segera kembali ke sekolahan." jawab Shanum dengan wajah datarnya.


"Ehm, kapan-kapan masih bisa ketemu kan?" tanya Zio lagi.


Shanum mengernyit,


"Ada maksud apa si bos sok sibuk ini ngajak ketemu? Dasar emang, orang ga punya etika.". batin Shanum.


"Ya, membicarakan hasil dari masalah ini." kata Zio.


"Ehm, gampang nanti, bisa diatur." jawab Shanum sambil berjalan pergi.


"Saya pamit. Diego, jaga diri baik-baik. Okey?" lanut Shanum melangkah pergi.


"Ya." jawab Zio.


"Om." panggil Diego.


Zio masih tak bergeming.


"Om Zio." panggil Diego lagi sambil menggoyangkan tangan om nya.


"Eh, ya Die? Gimana?" tanya Zio gugup.


"Kesambet ya om?" tanya Diego heran, sejak tadi om nya melamun terus.

__ADS_1


"Iya Die, Om kamu itu kesambet cewek cantik. Makannya dia jadi dungu begitu." kata Reyhan yang tiba-tiba muncul.


"Eh, Sialan lo bilang. Sembarangan aja kalo ngomong." omel Zio.


"Lagian, elo dipanggilin keponakannya malah ngelamun aja sambil liatin cewek tadi. Siapa bro? Belum kenal gue ama tu cewek? Gebetan lo?" tanya Reyhan.


"Om Zio suka sama bu Shanum ya?" tanya Diego yang menyadari om nya dari tadi kurang fokus karena melihat wajah bu gurunya.


"Eh, apaan sih lo Rey. Engga kok Die. Om Rey aja kamu dengerin." Elak Zio.


"Gapapa kali Zi, kita malah seneng kok. Tandanya elo udah mulai bisa move on dari Rere. Elo tu ya, harus siap membuka lembaran baru. Membuka pintu hati elo buat cewek lain selain Rere. Masak iya, seorang Zio, yang dulu jaman sekolah Play boy, sekarang ngejomblo bertahun-tahun?" kata Reyhan.


"Yes, om beneran suka sama bu Shanum? Tenang om, Diego akan bantu deh. Diego kan deket sama bu Shanum." kata Diego kegirangan.


"Diego. Engga kok, alah om Rey ga usah kamu dengerin omongannya." kata Zio masih jaim.


"Ga usah lo tutup-tutupi Zi, udah keliatan kali dari cara elo mandang dia tadi." kata Reyhan.


"Elo ngintip?" tebak Zio dengan memicingkan matanya.


"Dikit." jawab Reyhan dengan menunjukkan jari telunjuk dan ibu jari mengisyaratkan kata sedikit.


"Dasar lo, suka kepo!" kata Zio mengomel.


"Kepo sama urusan sahabat sendiri gapapa kan?" Reyhan membela diri.


"Om, Diego ke toilet bentar ya." pamit Diego.


Sepeninggal Diego, Reyhan duduk disebelah Zio.


"Cantik juga tu cewek." seloroh Reyhan.


"Dasar, elo, kalo liat yang bening-bening selalu aja gitu." komentar Zio sambil menyeruput jus mangga nya.


Zio dan Reyhan pun mengobrol santai hingga Diego sudah kembali.


"Udah kan Die, pulang yuk." kata Zio mengajak Diego pulang.


"Okey om." kata Diego.


"Dah gue pulang dulu ya." ka azio berpamitan.


Zio dan Diego pun pamit undur diri .


💞💞💞


"Ketemu bapak ibu? Ya boleh lah dok. Masak enggak. Lagian yang jelas di rumah ya beliau berdua. Tiara kan jarang di rumah, pulang juga jarang." kata Mutiara menjawab dengan santai tanpa beban.


"Ya, syukurlah kalo gitu." jawab Dzen.


"Tapi orang tua saya sudah tua lho dok." kata Mutiara.

__ADS_1


"Yang namanya orang tua ya udah tua lah, Ra. Kalau masih muda, namanya bukan orang tua kan? Hehehe." jawab Dzen bercanda.


"Iya juga ya dok. Hehehe."


"Oya dok, dokter Dzen ambil spesialis apa?" tanya Mutiara.


"Saya, ambil spesialis anak." jawab Dzen.


"Anak? Biasanya dokter anak tu cewek dok, kalaupun ada dokter laki-laki itu udah bapak-bapak, berumur. Ini dokter belum punya anak kok ambil spesialis anak?" tanyaMutiara.


"Ya, karena saya suka aja. Sekali dayung. dua tiga pulau terlampaui. Sekalian yang mencari ilmu, Ra. Ilmu buat karir, juga ilmu buat masa depan." kata Dzen.


"Masa Depan? Maksudnya?" tanya Mutiara masih belum paham.


"Ya masa depan, ketika saya sudah menikah, saya punya anak. Kan bisa buat di terapkan ilmu saya untuk anak saya nantinya. Anak usia dibawah lima tahun sangat rentan terhadap penyakit, tentunya mereka butuh penanganan khusus. Disitulah saya termotivasi ambil spesialis anak." jawab Dzen.


"Oh, gitu?" jawab Mutiara paham.


"Kalau Tiara sendiri? Kenapa ambil PGPAUD?" tanya Dzen yang sudah tau jurusan kuliahnya.


"Ehm? Ya. karena Tiara suka aja dok sama dunia anak. Dulu pas di desa, Tiara ngajar ngajinya juga kebetulan megang anak-anak usia TK dan balita. Dan dalam benak Tiara, jadi guru paud itu adalah guru dasar yang mengajarkan ilmu pada anak dari mereka tu benar-benar tidak tau apa-apa jadi tau. Dan kelak Tiara kan bakal jadi ibu, jadi ya sambil belajar juga, caranya mengajari anak yang asyik dan kreatif, bisa menciptakan permainan dan lagu-lagu yang menyenangkan, serta banyak ilmu untuk mendidik anak yang akan bisa saya terapkan ketika saya punya anak nanti." jawab Mutiara panjang lebar.


"Kok, visi misi kita sama ya?" komentar Dzen.


"Visi misi?" tanya Mutiara.


"Iya. Kamu juga kuliah PAUD itu dengan niatan untuk bekal mengasuh anak ketika jadi ibu 'kan? Saya juga." kata Dzen.


"Iya ya?" kata Mutiara baru sadar.


"Jangan-jangan kita berjodoh." kata Dzen.


"Apa dok?" tanya Mutiara yang tak percaya dengan kata-kata Dzen.


"Ah, engga. Bercanda." kata Dzen berkilah.


"Oya, udah jam setengah sembilan, maaf ya Tiara, saya harus kontrol pasien dulu." kata Dzen mengalihkan pembicaraan. Tak disadarinya, dirinya sendiri yang keceplosan, padahal tadi sudah mewanti-wanti Kenzo untuk tidak membocorkan tentang perasaannya pada Mutiara.


"Oh, iya dok."


"Gapapa kan saya tinggal dulu?" tanya Dzen bersiap pergi.


"Gapapa dok."


"Kalau butuh apa apa, hubungi perawat ya, atau telpon saya gapapa." kata Dzen.


"Ya dok. Terimakasih dok."


"Okey, saya tinggal yaa. Assalamualaikum." pamit Dzen dengan senyuman


"Wa'alaikumsalam warohmatullah." jawab Mutiara dengan membalas tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2