Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Bak Wawancara


__ADS_3

"Tiara." panggil pak Panca.


"Ya om?"


"Kamu berapa bersaudara?" tanya Pak Panca.


"Tiga bersaudara om, saya anak bungsu. Kedua mbak saya sudah menikah semua " jawab Mutiara sambil menyendok makanan.


"Mbak? Berarti cewek semua?" tanya pak Panca.


"Iya om."


"Orangtuamu kerja apa?" tanya pak Panca lagi.


"Bapak dulu jualan bakso, tetapi sekarang sudah tidak bekerja, kalau ibu sedari dulu menjadi ibu rumah tangga om." jawab Mutiara masih dengan santai.


"Memang kenapa sudah tidak bekerja?" tanya pak Panca.


"Bapak saya sudah sepuh om, usianya sudah sekitar enampuluh lima Tahunan." jawab Mutiara.


"Trus, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagaiman jika tidak bekerja?" tanya pak Panca heran.


"Alhamdulillah, bapak saya beternak om, beternak kambing dan ayam Sehingga terkadang bisa dijual untuk kebutuhan." kata Mutiara.


"Ehm. bagus. Kalau ibu?"


"Ibu di sibuk kan merawat kebun Dan ladang om." jawab Mutiara.


"Ditanami apa saja?"


"Kalau ladang ya terkadang kacang tanah, terkadang singkong,kacang panjang. dan bawang merah. kalau kebun, ditanami mama bunga-bunga dan sayuran om."


"Kedua mbakmu kuliah juga?"


"Ehm. tidak om. Mereka lulusan SMA." jawab Mutiara.


"Lhoh, justru hanya kamu yang kuliah?" tanya pak Panca heran.


"Alhamdulillah, saya mendapat beasiswa om, sehingga tidak perlu memikirkan biaya kuliah. Dan untuk kebutuhan sehari hari, saya menyambi bekerja."


"Bekerja apa?"


"Saya bekerja di pasar om, membantu melayani pembelei di toko bumbu dapur."

__ADS_1


"Kamu tidak kecapekan melakukan semua itu?"


"InshaaAllah tidak om. Mumpung masih muda." jawab Mutiara.


"Kamu kuliah fakultas apa?"


"FKIP om. Prodi PGAUD."


"Guru PAUDA?"


"Iya om."


"Kenapa memilih menjadi guru PAUD?"


"Selain belajar untuk karier, saya juga ingin belajar untuk bekal masa depan saya yang kelak akan menjadi ibu, om."


"Lalu, setelah lulus kuliah, rencananya mau langsung menikah atau bekerja dulu?"


"Jika Allah sudah mendekatkan jodoh untuk saya, saya tak akan menundanya, sehingga saya akan memilih untuk segera menikah. Karena menikah adalah ibadah." kata Mutiara.


"Okey, kalau kamu sudah menikah, kamu ingin berkarier atau menjadi ibu rumah tangga?"


"Tergantung suami saya yang memberi ridho. Jika suami saya nanti tidak mengijinkan saya bekerja, maka saya akan di rumah untuk melayaninya, menjaga hartanya dan mendidik anak anaknya. Namun jika beliau mengijinkan saya bekerja, saya akan berusaha untuk bisa membagi waktu untuk melayani beliau, menjaga harta mendidik anak dan juga berkerja."


"Tidak ada yang percuma jika niat kita untuk ibadah. karena dibalik itu semua ada hikmah." jawab Mutiara sopan.


"Bagaimana dengan orangtuamu, jika kamu kuliah, tetapi akhirnya kamu jadi ibu rumah tangga? Apa mereka tidak kecewa?"


"InshaaAllah tidak om, bapak dan ibu hanya ingin anak anaknya menjadi seorang istri yang taat pada suami mereka. karena Surga istri ada pada suami mereka. Dan karier terbaik untuk seorang istri adalah di rumah."


"Lalu, apa tujuanmu menjadi aktivis mahasiswa? Kegiatan itu tak menghasilkan apapun, Tak menguntungkan mu bukan, justru terkadang kamu malah ngeluarin uang untuk itu."


"Menjadi aktivis mahasiswa itu adalah sebuah pelajaran tambahan diluar jam kuliah. Di dan kita bisa memiliki banyak teman dan saudara baru, di sana kita bisa belajar terkait kebirokrasian, belajar keuangan, belajar menyusun suatu kegiatan, belajar pertanggungjawaban, belajar memecahkan suatu masalah, dan yang jelas, itu adalah proses pendewasaan om. InshaaAllah tidak ada yang sia sia. Dan semua itu tergantung cara pandang kita yang menjalaninya." jawab Mutiara dengan tenang.


"Hem... Begitu? Lalu, apa yang kamu tau tentang Dzen?" pertanyaan pak Panca mulai melenceng dari segala tentang Mutiara.


"Ehm, mas Dzen bernama Ahmad Zainuddin, yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit daerah. Beliau memiliki rasa solidaritas yang tinggi, berjiwa sosial, baik, ramah, tidak suka marah, royal, dan beliau seorang pria yang perhatian dan penyayang." jawab Mutiara dengan bersemu merah karena malu. Dzen menatap Mutiara lagi, tetapi hanya sebentar, karena takut Mutiara marah lagi.


"Penilaian yang luar biasa Tiara, kamu bahkan tidak menilai ku buruk sedikitpun." batin Dzen.


"Selain itu?" tanya pak Panca yang masih belum puas dengan jawaban Mutiara.


Mutiara menggeleng.

__ADS_1


Pak Panca dan bu Lastri saling pandang.


"Kamu tidak tau, kalau Dzen tinggal di apartemen ini? Dan siapa sebenarnya orangtua Dzen?"


Lagi-lagi Mutiara menggeleng.


"Ini apartemen Dzen, Dzen adalah anak kami, dan saya ini seorang Notaris di kota Makassar. Tentu kamu tau bukan, Dzen ini dari kalangan apa?" tanya pak Panca yang sudah mulai memasuki pembicaraan sensitif seperti perbedaan harta dan tahta.


Dzen mendongak terkejut dengan apa yang disampaikan papanya, dia sangat takut Mutiara akan tersinggung.


"Jujur, saya baru tau untuk masalah itu." jawab Mutiara masih santai.


"Jika sudah tau, apa yang akan kamu lakukan?" tanya pak Panca.


"Jika mas Dzen adalah jodoh saya, saya akan tetap pertahankan namun jika om keberatan dengan perbedaan ini, dan ternyata kami tidak berjodoh, InshaaAllah, saya akan ikhalskan." kata Mutiara menunduk menahan rasa dalam dadanya yang terasa sakit.


"Saya hanya gadis desa, orangtua saya sudah tua, kami dari kalangan bawah. Tak ada yang pantas saya banggakan, dan pertahankan jika memang harus bersaing. Sehingga saya akan mundur jika orangtua mas Dzen tidak meridhoi hubungan ini." kata Mutiara. Seketika Dzen terkejut kembali oleh jawaban Mutiara.


"Tapi Tiara, kamu kan udah janji kalau..." kata Dzen terputus.


"Jika masalah harta mas Dzen yang kurang, Mutiara bisa menerimanya mas. Tetapi jika menyangkut restu orangtua, maaf. Mutiara tidak berani mas." jawab Mutiara masih menunduk.


"Hem..." pak Panca berdehem. Bu Lastri menatap pak Panca dengan lekat, memohon pak Panca tidak gegabah, dia sangat takut Dzen kecewa dengan sikap pak Panca.


"Mutiara Hati, kamu memang gadis baik, kamu gadis luar biasa, saya baru tau ada gadis langka sepertimu. Dan, jika Mutiara berkenan, om mau minta tolong." kata pak Panca yang belum dilanjutkan.


"Mau tidak menolong om?"


"Ya om, InshaaAllah jika saya mampu, saya akan berusaha." jawab Mutiara.


"Tolong jaga Dzen, dampingi dia, jaga harta dan kehormatannya, jaga anak anaknya. Bisa kan?" tanya pak Panca yang membuat semua tercengang. Seketika semua pandangan menatap pak Panca.


"Pa? Papaa serius?" tanya Dzen yang sudah tidak bisa menahan rasa bahagianya.


Bu Lastri tersenyum puas. Muatiara seketika melihat wajah pak Panca, ada wajah serius dan tulus di sana. Kembali Mutiara menunduk sambil meneruskan suapannya, untuk menghilangkan rasa grogi.


"Bagaimana Tiara?" tanya pak Panca. Seketika semua mata beralih menatap Mutiara yang sedang bersusah payah menelan suapan nasi yang baru saja masuk dalam mulutnya.


Mutiara mengangguk.


"InshaaAllah om." jawab Mutiara.


Semua yang duduk di meja makan merasa lega, dan merekapun kembali melanjutkan makan dengan senang hati. Hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam, waktunya adzan isya'. Mutiara dan Dzen ijin ke masjid, sekalian berpamitan dengan kedua orangtua Dzen, untuk langsung pulang ke kosan Mutiara.

__ADS_1


Mutiara mengendarai motornya, dan Dzen mengendarai mobilnya untuk pergi ke kosan Kenzo. Dia akan mengambil pakaian nya di rumah Kenzo, dan akan kembali ke apartemen.


__ADS_2