Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Hati Mutiara


__ADS_3

Benar saja perkiraan Dzen, karena memang dia seorang dokter, sehingga dia tau kapan perkiraan dia akan pulang. Keesokan harinya, keadaan Dzen sudah lebih baik. Dokter Bayu mengijinkan Dzen untuk pulang, karena memang keadaannya sudah membaik. Dzenpun pulang dengan menaiki taxi, tentunya bersama wanita pujaan hatinya, Mutiara Hati.


Sesampainya di apartemen, Dzen dibantu Mutiara untuk masuk kedalam rumahnya. Setelah membantu Dzen beristirahat di kamarnya, Mutiara segera membuatkan makanan dan minuman untuk Dzen, dan membereskan rumah Dzen.


"Tiara."


"Ya mas?"


"Ada yang perlu dibantu? Mas Dzen mau makan? Ke toilet atau mau apa?" tanya Mutiara sigap.


"Ya Ampun, calon istriku ini semangat banget sih melayani mas? Jadi tersanjung deh." kata Dzen yang berhasil membuat rona wajah Mutiara berubah.


"Maaf." kata Mutiara sambil menunduk.


"Bukannya mas mengusir, tetapi Tiara lebih baik pulang dulu aja ke kosan. Istirahat. Karena sedari kemarin lusa, Tiara jarang tidur kan? Pasti capek." kata Dzen.


"Gapapa mas. Tiara masih longgar kok, biar Tiara beresin dulu semuanya, nanti baru Tiara tinggal." kata Mutiara.


"Kamu tenang aja, mas ga sendiri kok beresin rumahnya, mas biasanya memanggil orang untuk beresin rumah."


"Tapi..." kata Mutiara terpotong oleh Dzen.


"Tenang aja, orang yang biasa beres-beres di rumah mas ini, cowok. Dia cucu dari pasien mas yang tinggal di komplek pasar tempat kamu kerja. Dia anak SMA, lagipula. kalau mas mau minta tolong gantiin baju, atau mas butuh bantuan untuk ganti perban, tentunya mas ga mungkin dong minta Tiara yang gantiin? Emang Tiara mau?" kata Dzen sambil mengerlingkan matanya.


"Eh, iya mas. Tiara segera pulang aja kalo gitu." kata Mutiara salah tingkah.


Dzen tersenyum mendapati gadisnya salah tingkah karena ucapannya tadi.


"Tiara istirahat aja, besok juga Tiara udah harus segera kembali kerja ke pasar kan? Mas ga mau Tiara kecapekan, dan jatuh sakit. Karena untuk saat ini, mas belum bisa ngerawat Tiara." kata Dzen.


"Ehm...ya mas."


"Ya udah, kalau begitu, Tiara pamit pulang dulu ya mas. Mas jaga kesehatannya, jangan lupa minum obatnya." pesan Mutiara.


"Santai aja calon istriku... Khawatir amat deh. Kamu lupa ya, siapa calon suamimu ini? Mas kan dokter." kata Dzen.


"Oh, iya Lupa. Maaf mas." kata Mutiara. Memang sejak dia masuk rumah Dzen, dan masuk kamarnya Dzen, Mutiara merasa grogi, salah tingkah dan bingung. Karena dia tidak terbiasa memasuki kamar seorang laki-laki. Apalagi saat tadi dia beres-beres, dia melihat fotonya tertempel di dinding kamarnya Dzen.

__ADS_1


"Hahaha, iya Tiara. Mas mengerti kok." kata Dzen tertawa melihat sikap Mutiara yang grogi.


"Ehm, oya mas. Tiara sampe lupa, mobil mas gimana dong?" tanya Mutiara.


"Santai aja, udah diberesin sama asistennya papa." jawab Dzen santai.


"Oh. Ya sudah kalau begitu. Ehm, Tiara pamit ya mas. Semoga mas Dzen lekas sembuh." kata Mutiara menyangklong tas nya.


"InshaaAllah pasti cepat sembuh, karena ada kamu yang selalu merawat mas, dan perhatian sama mas." kata Dzen sambil tersenyum menatap gadisnya.


"Maaf mas, tetap pada batasan ya." kata Mutiara sambil tersenyum malu, dan menunduk.


"Pasti sholihahku. Terimakasih ya, selalu mengingatkan mas untuk selalu ingat pada Allah, disaat mas mulai khilaf." jawab Dzen yang lagi-lagi membuat Mutiara semakin berdebar jantungnya karena mendapat panggilan baru dari calon imam nya.


"Ya mas, sama sama. kita saling mengingatkan. Assalamualaikum." salam Mutiara sambil keluar rumah."


"Wa'alaikumsalam." jawab Dzen dengan tersenyum bahagia.


Saat Mutiara keluar rumah Dzen, dia berpapasan dengan Andi, tetangga Dzen yang juga berprofesi sama dengan Dzen.


"Eh, mbak. Dzen udah dibawa pulang?" tanya dokter Andi.


"Oh, okey. Terimakasih ya mbak, atas infonya."


"Ya dok, sama-sama." jawab Mutiara.


Andipun ke rumah Dzen dan membunyikan bel. Sepertinya Dzen belum beranjak jauh dari pintu, sehingga pintu segera dibuka oleh tuannya.


"Hei bro. Udah sembuh lo?" tanya Andi.


"Alhamdulillah, udah." jawab Dzen.


"Cie elah, sakit gitu aja dirawat sama catri." goda Andi.


"Hehe, ya mau gimana lagi? Ortu baru aja balik ke Makassar, masa iya mereka langsung balik lagi ke Semarang. Kan kasian." kata Dzen.


"Iya juga sih."

__ADS_1


"Betewe, tadi pas gue papasan sama Tiara, gue liat. dia senyum senyum sendiri lho bro, kayaknya, dia seneng deh abis ngurusin elo. Lo apain dia tadi? Lo gombalin ya?" tebak Andi yang mengerti sifat Dzen.


"Hahaha, tau aja lo. Ya biasalah, gue ga bisa kaku kalo sama cewek. Apalagi ini calon istri gue yang gue ga bakal rela ngelepasin dia gitu aja." kata Dzen.


"Kenapa dia pulang? Ga ngurusin elo?" tanya Andi.


"Gue yang suruh dia pulang. Kasian, dia kecapekan. Kalo dia sakit, gue belum bisa ngurusin dia." kata Dzen.


"Biar gue dong yang ngurusin." kata Andi yang langsung mendapat tatapan ganas dari Dzen.


"Gue laporin istri lo tau rasa lo." kata Dzen mengancam.


"Hahaha, gitu aja marah, santai aja napa sih bro. Buaya buaya gini, gue udah jinak kali, gue udah dijinakin istri gue." kata Andi.


"Serah lo dah."


"Eh. gimana pasien pasien gue?" tanya Dzen.


"Aman, sama gue." kata Andi.


"Thanks ya bro." kata Dzen.


Lalu merekapun mengobrol ala laki-laki sampai waktu maghrib tiba.


💞💞💞


Sedangkan Mutiara, sesampainya di kosan, dia segera membersihkan dirinya yang sudah kelet karena keringat, lalu beres-beres kamarnya yang sudah beberapa hari dia tinggalkan. Mutiarapun istirahat merebahkan dirinya di kasur, dan mencoba memejamkan matanya. Namun, bayangan dia selama bersama Dzen, mengurus Dzen dan kata-kata romantis dari Dzen terus terngiang di telinga dan tergambar jelas di depan mata. Mutiara senyum-senyum sendiri dibuatnya. Lalu Mutiarapun menorehkan kisahnya membersamai calon imam nya di dalam buku diarynya. Ya, teman terpercaya bagi Mutiara ada buku diarynya. Mutiara menuliskan segala kisah hidupnya disana, termasuk awal mula bertemunya dia dengan Dzen. Namun, rasa cinta itu baru muncul saat dimana dia merasakan patah hati dengan dosen tampan nya. Dan kisah sebuah Rasa yang dulu pernah menyapanya di usianya yang masih belia, dengan seorang sahabat yang ternyata kemarin sempat menyatakan perasaan pada dirinya, namun, sudah ada Dzen yang mengisi hatinya, sehingga dia menutup lembaran lama tentang sahabat yang sempat membuatnya merasakan cinta monyet. Ya, Mail.


Apa kabar Mail?


Mutiarapun baru teringat, bahwa beberapa waktu Lalu Mail mengiriminya pesan, lalu dibukanya ponselnya, dan dicari kontaknya Mail.


📩Mail


Tiara, apa kabar? Aku dengar kamu sudah dilamar ya? Kenapa kamu ga kasih kabar ke aku, kalau kamu sudah buka pendaftaran calon suami? Kenapa tiba-tiba kamu justru menerima lelaki lain, tanpa memberiku kesempatan Ra? Sungguh, aku menanti mu sejak kita lulus SMA Tiara, tapi kenapa kamu justru bersama lelaki lain? Apa kurang ku Ra?


Membaca pesan itu, Mutiara merasa bersalah dan merasa iba. Tetapi, dia tidak bisa berkata apapun. Karena ini masalah hati. Mutiara hanya membalas dengan kata 'Maaf'.

__ADS_1


"Maafkan aku Mail." gumam Mutiara.


__ADS_2