Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Tempat masa lalu


__ADS_3

Pagi itu, Mutiara di rumah membantu ibunya bersih-bersih rumah dan halaman. Setelah selesai, Mutiara duduk di teras betistirahat, setelah sepagi berkutat dengan sapu lidi.


"Tiara." pak Bowo datang mendekati Mutiara yang sedang duduk di teras.


"Eh, bapak. Ya pak." kata Mutiara.


"Rencana, berapa lama kamu di rumah nduk?" tanya pak Bowo.


"InshaaAllah satu pekan pak. Ahad depan, Tiara ijin pamit." kata Mutiara.


"Hanya sepekan to?" tanya pak Bowo.


"Nggih pak. Karena Tiara sudah ditunggu bu Kanti untuk bantuin di warungnya." kata Mutiara memberi penjelasan.


"Wo, ya nduk."


"Memangnya kenapa pak?" tanya Mutiara.


"Ndak papa. Bapak cuma tanya." kata pak Bowo.


Lalu bu Hindun datang membawakan teh hangat dan singkong goreng untuk pak Bowo dan Mutiara yang sudah menyapu halaman yang memang luas.


"Nih. teh hangat sama kopinya buat bapak. Ini tadi bapakmu ke ladang nduk. Ada singkong, terus di bedhol, ya terus ibu goreng. Kamu kan suka blanggreng." kata bu Hindun.


"Ibu ini. tauuu aja kesukaan Tiara. Maturnuwun ya bu." kata Mutiara sambil memeluk ibunya.


"Nduk." panggil bu Hindun.


"Ya bu?"


"Selama di sini, rencananya kamu mau ngapain? Maksud ibu, ada kesibukan ndak? Atau memang mau istirahatin badan di rumah?" tanyabu Hindun.


"Kenapa memangnya bu?" tanya Mutiara.


"Jadi kemarin itu, pas kamu rencana mau pulang, ibu ketemu bu Hayati, karena pas perpulanganmu beberapa kali kemarin, kamu kan bantuin ngajar di sana, lha ini bu Hayati nanyain kamu lagi. Perpulanganmu ini, bisa bantu ngajar lagi ndak?" kata bu Hindun.


"Oh. ya tetap InshaaAllah Tiara usahain bu. Mumpung liburan, selalu jadi agenda Tiara untuk ikut belajar di sekolahan itu bu." kata Mutiara.


"Ya wis, besok kamu langsung ke sana saja." kata bu Hindun.


"Ya bu, InshaaAllah."


"Oya nduk, kamu sudah hubungi nak Ahmad? Dia sudah sampai rumahnya to?" tanya pak Bowo.


"Oh. iya. Tiara lupa pak. Tadi malam, mas Dzen ngasih kabar, kalau mas Dzen belum sampe rumah, karena mas Dzen langsung bablas ke Jakarta pak, katanya mau Ziarah ke makam mamanya." kata Mutiara.


"Walah walah, lha kok yo jauh men ke Jakarta? Kenapa kemarin ndak bilang?" kata pak Bowo.


"Tiara juga kurang tau pak." kata Mutiara.


"Mungkin, Nak Dzen ke sana mau minta do'a restu juga, biar jadi mantune bapak." kata bu Hindun sambil tersenyum lalu berjalan ke dalam rumah.


"Ibu nih. Apaan to?" kata Mutiara yang memerah wajahnya karena malu.


Pak Bowo hanya tersenyum menanggapi celotehan istrinya.


"Ya wis nduk, bapak nitip salam aja buat Nak Ahmad, hati hati perjalanan jauh." kata pak Bowo.

__ADS_1


"Nggih pak." jawab Mutiara.


Kemudian Mutiarapun memakan dan meminum hidangan yang sudah disiapkan ibunya, lalu dia pamit pada bapaknya untuk membersihkan diri.


💞💞💞


Di Jakarta


"Makam mama lo dimana Dzen?" tanya Shanum.


"Di deket sekolahan kita dulu." kata Dzen.


"TPU deket SMP kita itu?" tanya Shanum.


"Iya." jawab Dzen.


Sesampainya di lokasi, Dzen dan shanum keluar dari mobil, lalu berjalan menuju makam mama Dzen.


"Assalamualaikum mama. Ini Dzen ma. Dzen datang untuk Ziarahi mama sama adek. Maaf, Dzen lama tidak berkunjung, tetapi do'a untuk kalian, tal pernah putus ma." kata Dzen memegang batu nisan bertuliskan nama mamanya.


"Ma, Dzen sekarang lagi berusaha untuk berubah. Dzen ingin menjadi anak yang baik buat mama. Dzen bangga jadi anak mama, terlahir dari rahim mama, terimakasih ya ma. Mama memang wanita terhebat yang pernah Dzen kenal."


Tak banyak yang disampaikan Dzen didepan pusara mamanya, Dzenpun kemudian mendo'akan mama dan adiknya. Lalu meletakkan buket bunga di atas batu nisan mamanya, dan menaburkan bunga di gundukan makam mama dan adiknya. Kemudian Dzen dan Shanumpun berjalan meninggalkan TPU.


Saat di jalan, Hari sudah menjelang siang, Dzen mengajak Shanum untuk beristirahat dan makan siang terlebih dahulu.


"Num, mau makan dimana?" tanya Dzen.


"Aku udah laper ini." kata Dzen lagi.


"Ehm, gimana kalau kita makan di rumah makan langganan kita dulu, masih buka ga ya?" usul Shanum.


"Yup."


"Okey, semoga aja masih buka." kata Dzen melakukan mobilnya ke rumah makan yang tak jauh dari tempat tinggalnya dahulu. Dan dugaannya benar, warung itu masih buka, tetapi tampilannya sudah berubah, sudah semakin luas.


"Assalamualaikum bu Nawang." sapa Dzen.


"Wa'alaikumsalam. Ya, mau pesan apa pak, bu?" tanya bu Nawang.


"Ibu luap sama kita ya?" tanya Dzen.


"Eh, sebentar, siapa ya?" tanya bu Nawang mencoba mengingat ingat.


"Saya Dzen bu, anaknya pak Pradipta, dan ini Shanum, anaknya pak Toni." kata Dzen.


"Oh, iya iya. Ibu baru ingat. Yaa Allah. Udah lama ga ketemu, kalian kemana saja?" tanya bu Nawang.


"Sekarang kami tinggal di satu kota yang sama bu. Di Semarang." kata Shanum tersenyum senang.


"Ow, ya ya. Ini ada acara apa kok ke Jakarta?" tanya bu Nawang.


"Kangen masakannya ibu." kata Dzen menggoda.


"Halah kamu ini Dzen, ga mungkin." kata bu Nawang tersipu.


"Engga bu, ini. Kita ke sini karena ziarah, tapi udah selesai semua kok. Ini mau balik ke Semarang lagi, karena besok kerja." kata Dzen meluruskan.

__ADS_1


"Oh, ya. Lha sekarang mau makan apa?" tanya bu Nawang.


"Saya, sayur bu, sama telur dadar." kata Dzen.


"Baik, tunggu dulu ya." kata bu Nawang.


"Dzen." panggil Shanum.


"Ya?"


"Kemarin kok lo bisa di jalur luar kota sih, lo dari mana apa mau ke mana?" tanya Shanum penasaran.


"Oh, kemarin? Aku kan dari Solo." kata Dzen santai.


"Dari Solo? Ngapain? Berarti kemarin lo abis perjalanan jauh? Terus tambah jauh lagi karena nganterin gue?" tanya Shanum.


"Iya, gapapa. Santai aja. Aku ke Solo karena ada urusan ngurus progam pendidikan dokter spesialis ku Num, kebetulan aku kuliah di UNS Solo." kata Dzen.


"Owh, elo mau jadi dokter spesialis?" tanya Shanum.


"Iya Num."


"Keren..." kata Shanum.


Lalu bu Nawang sudah datang dengan pesanan Dzen dan Shanum.


"Silakan. Ibu tinggal ya, ibu harus melayani pelanggan dulu." kata bu Nawang.


"Ya bu." jawab Dzen.


"Oya Dzen, gimana kabar gadis yang di pasar malam waktu itu?" tanya Shanum penasaran.


"Maksudmu?" tanya Dzen.


"Gadis yang waktu itu kita beli martabak di pasar malem." tanya Shanum.


"Maksudmu? Tiara?" tanya Dzen.


"Ya. Gimana kabarnya? Dia temen lo kan?" tanya Shanum.


"Iya. Dia baik, kemarin dia aku anter pulang kampung ke Solo, sekalian ngurus tugasku, dan sekalian seminar kedokteran." kata Dzen yang belum ngeh dengan alur pembicaraan Shanum.


"Ehm, lo ketemu ortunya?" tanya Shanum. Dzen mengangguk sambil terus makan makanannya.


"Lo suka sama dia?" tanya Shanum. Seketika Dzen menghentikan suapannya.


"Kenapa emang? Kamu cemburu?" tanya Dzen menggoda Shanum, hingga wajah Shanum berubah merah.


"Idih, kepedan banget sih lo. Siapa juga yang suka sama elo." kata Shanum jaim.


"Ya siapa tau, elo sebenarnya naksir aku, ya kan?" kata Dzen dengan bercanda dan masih asyik dengan makanannya. Shanum terperanjat dan menatap Dzen seksama.


"Ehm. Ge Er lo!" kata Shanum ketus.


"Hahaha, ya udah, segera dimakan tu nasinya, kita harus segera lanjut, biar besok ga kesiangan sampe Sekarang nya." kata Dzen.


"Ehm, okey." kata Shanum.

__ADS_1


Merekapun melanjutkan makan siang mereka, lalu Dzen dan Shanum berpamitan pada bu Nawang untuk kembali ke Semarang. Karena keesokan harinya Dzen dan Shanum sudah harus bertugas lagi.


__ADS_2