Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Jalan Tol


__ADS_3

Seharian sudah Dzen membersamai keluarga nya yang dari Makassar intuk berlibur di kota Solo. Mulai dari berkunjung ke Grojogan sewu, tubing ke kemuning sekaligus merasakan paralayang, hingga mereka tutup dengan berkunjung ke keraton solo di waktu malam. Jam sepuluh malam, pesawat yang akan membawa mereka ke kota Makassar akan take off, sehingga Dzen segera mengantar keluarganya ke bandara.


"Wah. kota solo itu benar-benar menakjubkan bang. Besok-besok kalo kita ke Solo, temenin berlibur lagi ya bang. Masih banyak tempat yang Laila belum kunjungi." kata Laila antusias.


"Yang bener aja kamu dek, ngajakin piknik ga tanggung-tanggung. Capek tau!" omel Destia kakaknya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, ternyata abang ada temennya. Capek." kata Dzen menjawab penyataan Laila.


"Hehehe, ya abisnya asyik banget bang, semuanya seru." kata Laila yang memang dia masih kecil, sehingga belum mengenal lelah. Sedangkan sejak pagi di Tawangmangu, Dzen lah yang senantiasa mendampingi Laili bermain ini itu, sedangkan pak Panca dan bu Lastri duduk manis dengan sesekali juga ikut permainan. Begitupun dengan Destia yang juga hanya mengikuti beberapa saja, karena juga merasa canggung sama abang tirinya.


"Ya, InshaaAllah dilain kesempatan kita main lagi ya dek." kata Dzen bahagia sambil mengacak rambut adik tirinya yang masih SD itu.


"Yeah, abang memang yang terrrrrbaik." kata Laila sambil memeluk tubuh Dzen dengan girangnya.


"Adek... Ga bisa gitu dong. Bulan depan bang Dzen udah jadi suami orang, masa' iya kamu masih mau ngajakin bang Dzen main-main sih? Kasian istrinya lah, kapan bulan madunya mereka?" Tegus Destia yang memang selalu adu mulut jika sama Laila adiknya.


"Ish, kakak nih cerewet, abang aja ga masalah kok, kenapa kakak yang ngomel?" kata Laila tak terima.


"Sudah sudah, kalian ini kok berantem terus sih? Jadi pulang ga nih kita?" tawar bu Lastri kepada kedua anaknya.


"Emang kalo ga jadi, boleh ya mah?" tanya Laila sambil meringis kuda.


"Ya, boleh. Tapi nanti Laila di Solo sendiri ya. abang harus balik kerja ke Semarang " kata Dzen dengan bercanda.


"Yeee, ya ga mau lah." kata Laila bersungut.


"Ya udah, ayo siap-siap. Itu kita sudah dipanggil." kata bu Lastri yang sudah mendengar nomer pesawat yang akan mereka naiki.


"Dzen, jaga diri kamu baik-baik ya. Semoga bulan depan kita dipertemukan lagi." kata pak Panca berpamitan.


"Ya pa, papa juga jaga kesehatannya ya." kata Dzen sambil memeluk papanya.


"Dzen, ibu pulang dulu ya. Jaga kesehatanmu nak, jangan capek-capek." kata bu Lastri.


"Ya bu, InshaaAllah. Terimakasih bu." kata Dzen sambil mencium punggung jangan ibu tirinya.


"Bang, Destia pamit. Makasih ya, traktirannya tadi." kata Destia sambil mencium punggung tangan abangnya.

__ADS_1


"Sama-sama. Semangat kuliahnya, biar cepet lulus juga kaya Tiara." kata Dzen menasehati.


"Iya bang, percaya percaya, sekarang udah ada idolanya." goda Destia.


"Bang, Laila pamit pulang dulu, besok besok lagi ya, traktir sama ajak main." pinta Laila.


"Iya, sekolah yang baik, jangan kebanyakan bolos, kalo nilai mu bagus, nanti abang kasih hadiah." kata Dzen menyemangati.


"Hadiah apa bang?" tanya Laila kepo.


"Ada deh. Udah sana, keburu ditinggal pesawat lho." kata Dzen kembali mengacak rambut Laila.


Lalu kedua adik dan kedua orangtuanya sudah menuju pesawat, mereka akan segera terbang kembali pulang ke kota Makassar.


Setelah pesawat itu take off. Dzen segera beranjak dari tempatnya dan menuju ke parkiran. Rasanya lelah sekali malam itu. Namun, mengingat besok pagi Dzen sudah harus bertugas memaksanya harus segera kembali ke Semarang malam ini juga. Dzenpun segera melajukan mobilnya menuju tol. Karena sendiri, Dzen merasa kesepian, dan melakukan mobilnya tidak terkontrol hingga kantuk menyerang pun dia tetap berusaha melajukan mobilnya tanpa beristirahat terlebih dahulu.


"Ah, ngantuk banget nih, tapi bentar lagi udah sampe rest area sih, nanggung ah." gumam Dzen.


Namun, kantuk tetap saja menyergapnya. hingga Dzen merasa ada seseorang yang menyebrang di jalan itu. sehingga Dzen mendadak memanting stir agar tidak menabrak orang itu. hingga sesuatu hal yang tidak diinginkan pun terjadi.


Ciiiit brush


💞💞💞


Di Solo. Mutiara tak bisa segera tidur, entah mengapa malam ini di sulit tidur. apalagi baru saja dia mendapat pesan dari Dzen, bahwa Dzen baru saja mengantar keluarganya ke bandara dan dia malam ini langsung otw ke Semarang. Sebenarnya Mutiara sangat khawatir. mengingat Dzen menyetir sendiri menuju Semarang, tetapi dia berusaha menenangkan diri, karena beberapa bulan lalu, Dzen juga pernah menyetir dari Semarang ke Solo tengah malam seorang diri juga.


Mutiarapun berusaha memejamkan matanya untuk tidur, namun tak lama kemudian ponselnya berdering, ada panggilan masuk.


📞Mas Dzen


"Halo, assalamualaikum. Mas Dzen." salam Mutiara.


'Wa'alaikumsalam. Apa benar ini dengan saudara Mutiara Hati?'


"Ya, saya sendiri. Ini siapa?" tanya Mutiara heran, karena suaranya bukanlah sang pemilik nomer.


'Selamat malam, kami dari pihak kepolisian, kami mengabarkan bahwa kami menemukan pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan di jalan tol ungaran. Ini kami sedang mengurusnya, dan kami bawa korban menuju rumah sakit terdekat, tepatnya di rumah sakit daerah Ungaran'. kata polisi di seberang.

__ADS_1


"Apa? Kecelakaan? Innalillahi. Ya pak, terimakasih infonya, kami akan segera ke sana."


'Baik mbak.'


Setelah mendapat telpon itu, Mutiara shok, air matanya begitu saja lolos dari kedua matanya. Badannya terasa lemas, mulutnya terus mengucap istighfar.


"Astaghfirullah, astagfirullah, astaghfirullah." ucapnya.


Lalu, setelah tenang, Mutiara segera bangkit dari duduknya dan beranjak menuju kamar bapak ibunya untuk mengabarkan kabar buruk itu kepada bapak ibunya


Tok tok tok


"Bapak, ibu." panggil Mutiara.


"Assalamualaikum."


Tak lama kemudian pintu itu terbuka,


"Wa'alaikumsalam. ada apa nduk? Malam malam kok bangunin kami?" tanya pak Bowo.


"Pak...Mas Dzen..." kata Mutiara dengan linangan air mata.


"Nak ahmad, kenapa dengan dia?" tiba-tiba Pak Bowo terkejut dan penasaran.


"Ada apa dengan nak Dzen Nduk?" tanya bu Hindun yang juga khawatir dengan calon menantunya.


"Mas Dzen kecelakaan pak, bu." kata Mutiara sambil menangis dan langsung memeluk tubuh bapaknya yang berdiri tepat di hadapannya.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam kedunanya.


"Terus dia gimana? Kecelakaan dimana? Siapa yang mengabarimu nduk?" tanya pak Bowo.


"Pak polisi pak, polisi bilang. mas Dzen kecelakaan di tol ungaran, dan ini langsung di lari kan ke rumah sakit daerah Ungaran oleh ambulance." kata Mutiara menjelaskan.


"Ya wis. kamu di rumah siap-siap ya, biar ibu panggil kan Ken untuk anterin kamu ke sana." kata bu Hindun yang mengambil jilbabnya dan akan melangkah keluar rumah.


"Ya bu." jawab Mutiara menurut, lalu segera kr kemarnya untuk bersiap-siap.

__ADS_1


"Kamu yang tenang nduk, jangan buru-buru." kata pak Bowo memberi pesan kepada anaknya.


__ADS_2