Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Malam Pengajian


__ADS_3

"Ehm, Iya mbak, saya memang asistennya pak Zio." jawab Mutiara.


"Apakah kamu tidak tertarik padanya?" tanya Nilam.


"Ehm,,,"


"Zio itu sebenarnya dulu ga kaku Ra, dia juga tipe laki-laki romantis. Tetapi, karena suatu kejadian, menjadikannya menjadi dingin, dan tak lagi romantis kepada wanita. Bahkan terkadang dia cukup garang." kata Nilam.


"Kejadian?" tanya Mutiara heran.


"Iya Ra, Zio pernah mengalami trauma dalam hal percintaan." kata Nilam.


"Empat tahun lalu, Zio hampir saja menikah dengan wanita pilihannya. Wanita yang cantik, santun, baik hati dan dia sangat hormat pada orang tua, ya... kalo mbak liat sih, sebeals duabelas lah sama kamu."


"Namun, tiba waktu pernikahannya, gadis itu mengalami kecelakaan saat perjalanan dari rumahnya menuju lokasi pernikahan, yang waktu itu akan digelar di sebuah hotel. Gadis itu meninggal seketika di lokasi kecelakaan, Zio sangat terpukul, dan dia belum bisa menerima kejadian itu begitu saja. Sejak saat itu, Zio berubah drastis, dia sangat dingin, apalagi dengan wanita." kata Nilam menceritakan kisah silam.


"Innalillahi wainnailaihi Raji'un... Saya turut berduka atas kepergian calon istrinya pak Zio." kata Mutiara.


"Zio sangat mencintai gadis itu, dia gadis sederhana, dan dia sangat baik." kata Nilam.


"Tiara."


"Ya mbak?"


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Nilam lagi.


"Ah. eng...Engga kok mbak. Tiara ga punya pacar kok mbak." kata Mutiara gugup.


"Berarti ada kemungkinan dong, kamu menerima permintaan saya dan mama?" tanya Nilam menelisik.


"Ehm, kalau untuk itu... saya pikirkan dulu ya mbak." kata Mutiara hati-hati.


"Hm... apakah Zio bukan tipe mu?" tanya Nilam lagi.


"Ah, engga juga mbak. Pak Zio dosen tertampan di kampus, dosen muda dengan prestasi yang baik, dan memiliki wibawa sehingga banyak mahasiswa yang tertarik namun tetap sungkan pada beliau. " kata Mutiara menjelaskan pendapatnya.


"Kalau begitu, kamu juga bisa menerimanya dong?" tanya Nilam.


"Ehm, saya pikir-pikir dulu mbak. Saya juga masih mau fokus kuliah dulu." kata Mutiara.


Waktu isya'pun tiba, Nilam ikut sholat berjamaah dengan Mutiara, lalu merekapun keluar kamar dan menuju ke ruang tengah, karena catering sudah datang. Mereka harus menata makanan itu.


"Lho, mbak Tiara bukan?" sapa seorang wanita paruh baya.


"Iya, saya Tiara. Lhoh, bu saodah?" tanya Mutiara.

__ADS_1


"Iya mbak, saya." kata bi Saodah.


"Yaa Allah bu, maaf, saya tidak sada kalau ada ibu disini." kata Mutiara ramah.


"Ah, gapapa mbak. Saya kan memang tinggal disini mbak. Saya ART mbak disini. Kalau mbak Tiara sendiri, ngapain di sini mbak?" tanya Bu Saodah.


"Ow,,,kalau saya diundang bu suyamti bu." kata Mutiara.


"Mbak Tiara kenal sama nyonya?" tanya bu Saodah tak percaya.


"Iya bu."


"Wah, kebetulan ya mbak." Kata bu Saodah.


"Sini bu, saya bantu." kata Mutiara meraih karpet yang akan digelar oleh bu Saodah.


Mutiarapun membantu bu Saodah menyiapkan tempat untuk menerima tamu malam ini.


💞💞💞


"Tiara. Terimakasih banyak ya nak, kamu sudah berkenan memenuhi undangan saya." kata bu Suyamti senang.


"Sama-sama bu. Saya juga terimakasih bu, berangkat dalam keadaan lapar, pulang dalam keadaan kenyang." kata Mutiara merintis kuda


"Ehm, sudah malam. Saya antar sekarang saja." kata Zio yang tiba-tiba muncul.


"Oh, ya pak." kata Mutiara.


"Kenapa buru-buru sih Zi?" protes bu Suyamti.


"Dia anak gadis mah, ga baik anak gadis pulang terlalu larut malam." kata Zio.


"Hm... ya sudah. Tapi sebentar, tunggu dulu." kata bu Suyamti menahan kepergian keduanya.


"Apalagi sih mah?" protes Zio dengan wajah malas.


Bu Suyamti berjalan ke arah dapur dan memanggil bu Saodah.


"Bi, tolong bawain nasi box yang masih tadi bi, buat Tiara." kata bu Suyamti.


"Baik nyonya." kata Bu Saodah sambil berlari ke dapur.


Sekembalinya bu Saodah, bu Suyamti langsung menerima nasi box itu, dan menyerahkan pada Mutiara.


"Ini, buat dimakan di rumah ya Nak." kata bu Suyamti.

__ADS_1


"Aduh, bu, ga usah repot-repot." kata Mutiara sungkan.


"Gapapa Tiara. Buat sarapan besok juga masih bisa, ga basi kok. " kata bu Suyamti memaksa.


"Tiara, kamu mau pulang sekarang?" tanya Nilam yang tiba-tiba muncul.


"Iya mbak." jawab Mutiara.


"Sudah malam lho ini, kenapa ga bermalam disini saja?" tanya Nilam.


"Oh, iya Tiara, kenapa kamu tidak menginap disini saja?" kata bu Suyamti merasa dapat ide baru untuk menahan anak gadis cantik dihadapannya itu.


Seketika Mutiara menoleh ke arah dosennya yang wajahnya sudah sangat berubah, tampak lebih garang dari yang tadi.


"Ehm. maaf bu, mbak. Tiara tidak bisa bermalam disini, karena besok jam dua dini hari, saya sudah harus bersiap untuk ke pasar." kata Mutiara apa adanya.


"Pasar? Sepagi itu? Ngapain Ra?" tanya Nilam penasaran.


"Lho. nyonya sama non Nilam belum tau ya? Mbak Tiara ini kan kerja dipasar mbak. Dia ini langganan bi Saodah di pasar." kata bu Saodah yang datang tiba-tiba sambil membawa sampah dari dalam rumah.


"Oh, ya ampun. Maaf Tiara, mbak ga tau." kata Nilam merasa tidak enak hati.


"Ya udah ayo. Udha malem." ajak Zio yang tiba-tiba menarik lengan Mutiara.


"Eh, sebentar pak, saya pamit sama ibu dan mbak Nilam dulu " kata Mutiara menepis tangan dosen mudanya dengan cukup keras. Mutiarapun mencium punggung tangan bu Suyamti dengan khidmad, berjabat tangan dan cipika cipiki dengan Nilam, dan bersalaman juga dengan bi Saodah.


"Saya pamit dulu ya bu, mbak. Assalamualaikum." kata Mutiara sambil mengekor Zio yabg sudah tak sabar menuju mobilnya.


Sepanjang perjalanan, Zio dan Mutiara hanya diam membisu, tak ada yang mengawali diantara mereka, hingga tiba di gang kecil belakang kantor BPR, Ziopun menghentikan mobilnya.


"Terimakasih pak." kata Mutiara sambil melepas sabuk pengaman nya


"Hem." jawab Zio dingin dengan tatapan tetap kedepan.


Mutiapaun membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.


"Selamat istirahat." kata Zio sebelum menjalankan mobilnya.


"Ya pak." jawab Mutiara, yang sudah tidak terdengar oleh dosennya, karena mobil itu sudah melaju begitu saja tanpa permisi.


Mutiarapun berjalan menyusuri gang kecil menuju kos annya. Berbeda dengan malam sebelumnya, Mutiara diantarkan sampai depan kos, kalau ini hanya diturunkan dipinggir jalan.


"Hm,,, pak Zio pak Zio... Kebekuanmu itu belum bisa dipecahkan. Dan sepertinya memang aku tidak bisa memecahkannya." gumam Mutiara sambil membuka pintu gerbang kos annya


💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2