
Sepeninggal Dzen, Mutiara masuk kamarnya lalu mengambil alat mandi lalu bersiap mandi dan berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, Mutiara mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari dosennya, namun tidak ada pesan masuk. Sehingga Mutiarapun mengirim pesan pada Zio.
📨Pak Zio
Assalamualaikum. Maaf pak ada apa ya? Maaf. tadi saya masih dijalan, jadi ini baru bisa buka pesan.
Belum ada jawab dari seberang, sambil menunggu Mutiarapun mengirim pesan pada Dzen.
📨Mas Salah Sambung
Assalamualaikum. Mas Dzen, gimana udah sampai rumah belum?
Tak lama kemudian terdengar suara panggilan.
📞Zio
'Halo, kamu kemana aja sih? Kebiasaan sekali, kalo di telpon susah banget, kaya pejabat banyak tugas aja." keluh Zio.
"Assalamualaikum pak." sapa Mutiara dengan salam.
'Hem, Wa'alaikumsalam.' jawab Zio tersadar bahwa kebiasaan baiknya belum tumbuh di hati Zio.
"Maaf pak, saya memang jarang pegang HP, dan tadi HPnya saya silent. Ada apa ya pak?" tanya Mutiara.
"'Saya jemput kamu sekarang, bersiaplah. Mama mau ketemu.' kata Zio tanpa basa basi dan bertanya terlebih dahulu.
"Apa? Sekarang?" tanya Mutiara.
'Iya, bersiap. Saya otw.' kata Zio, langsung memutuskan panggilannya.
"Astaghfirullah, iya. Tadi kan rencananya pulang dari kampus mau jenguk bu Suyamti. Haduh, kok bisa kelupaan sih?" gumam Mutiara menepuk keningnya.
Mutiarapun segera bersiap untuk berganti pakaian, dan menyiapkan tasnya untuk pergi bertemu bu Suyamti. Tak lama kemudian, ada notif pesan dari Zio dan Dzen. Namun Mutiara segera membuka pesan Zio terlebih dahulu.
📩Pak Zio
Saya sudah di pinggir jalan.
📨Pak Zio
Ya pak, tunggu, saya segera ke sana.
"Cepet banget." gumam Mutiara sambil melangkah keluar kamar.
Mutiarapun berpamitan terlebih dahulu dengan bu Sri selaku pemilik kos. Saat akan keluar kosan, tampak olehnya, teman kosnya yang bernama Silvia sedang asyik mengobrol dengan om om tetangga sebelah, dengan pakaian serba mini.
"Eh, Tiara. Mau kemana malam- malam begini?" tanya Silvia dengan tatapan tak suka.
__ADS_1
"Ehm, aku ada perlu sama temen mbak." kata Mutiara sopan.
"Malem malem begini?" tanya Silvia.
"Iya, karena tadi siang ga sempet." kata Mutiara.
"Hem, jangan jangan kamu..." kata Silvia menduga.
"Maaf mbak, saya ga ada waktu. Saya permisi." kata Mutiara langsung pergi meninggalkan Silvia.
Sesampainya di pinggir jalan, Mutiara segera menuju mobil Zio yang sudah tidak asing baginya.
"Maaf pak, lama menunggu." kata Mutiara tak enak hati.
"Hem, masuk." kata Zio dingin.
"Baik pak." kata Mutiara yang kemudian berjalan menuju pintu sebelah kiri Zio. Mutiara sudah hafal kebiasaan dosennya, dia tidak akan suka jika Mutiara masuk ke kursi belakang, karena dirasa dirinya sebagai supirnya Mutiara.
Tanpa meminta persetujuan, dengan tetap dingin, Zio menjalankan mobilnya. Namun tidak menuju rumah Zio, Mutiara sudah hafal dengan jalan menuju rumah Zio, namun ini jalur yang dilaluinya berbeda.
"Kita mau kemana pak?" tanya Mutiara yang sudah banyak praduga dalam benaknya. Apa mau dosen tampan nya ini, sehingga dia mengajak Mutiara pergi tanpa diketahui tujuannya oleh Mutiara.
"Nanti kamu juga tau." kata Zio tetap dingin.
Mutiarapun hanya diam membisu, namun dia tetap berusaha positif thingking, kalau dosennya tidak ada niatan buruk padanya. Mutiara tak henti beristighfar dan bersholawat, memohon kebaikan pada sang pemilik nyawanya.
Tiba disebuah gedung tinggi menjulang, Mutiara dibawa masuk kedalamnya. Mobil Zio memasuki area gedung tinggi bertuliskan nama sebuah rumah sakit elite di kota itu.
"Pak, kok kita ke sini? Ibu Suyamti Sakit apa?" tanya Mutiara masih penasaran.
Zio tak bergeming, dia terus saja berjalan menyusuri koridor menuju lift yang akan membawa mereka menuju ruang dimana mamanya dirawat. Sedangkan Mutiara yang tak mendapat jawaban, hanya diam dengan tetap mengikuti langkah dosennya.
"Kenapa pak Zio mengajakku ke sini? Separah itukah keadaan bu Suyamti sehingga beliau dirawat di rumah sakit?" batin Mutiara.
Hingga di lift, mereka berdua juga hanya diam.
"ICU?" batin Mutiara saat Zio menekan angka pada lift yang menunjukkan sebuah lokasi.
Mutiara tetap diam, hingga pintu linf terbuka dengan mengeluarkan suara khas nya.
Mutiara mengikuti dosennya berjalan menyusuri koridor menuju sebuah ruangan yang sepi.
Hingga tiba disebuah ruangan, Zio berhenti dan berkata,
"Mama di dalam. Saya mohon, masuklah, ajaklah mama bicara. Saya berharap, dengan mendengar suaramu, mama bisa sadar dari tidur panjangnya." kata Zio dengan suara tercekat.
Seketika Mutiara terkejut, dia melihat dari jendela kaca, seorang wanita paruh baya yang berbaring dengan banyak selang medis menancap di tubuhnya.
__ADS_1
"Mutiara?" panggil seorang wanita yang baru saja keluar dari ruang rawat mamanya.
Nilampun segera menghamburkan diri pada tubuh kecil Mutiara, dia memeluk tubuh Mutiara dengan isak tangisnya.
"Mbak Nilam. Apa yang terjadi? Bu Suyamti kenapa mbak?" tanya Mutiara.
"Mama... menderita hipertensi Tiara, dan ini keadaannya kritis, sedari tadi sore mama belum sadar dari pingsannya. Tadi mama sempet mimisan, kata dokter, pembuluh darahnya mama sudah ada yang pecah, sehingga mama harus dirawat dan ditangani lebih serius." kata Nilam dengan diselingi isak tangisnya.
"Innalillahi. Yaa Allah." Mutiara menutup mulutnya dan tak terasa air mata menumpuk di pelupuk matanya.
"Masuklah." kata Zio memerintahkan Mutiara.
"Baik pak." kata Mutiara.
Saat Mutiara akan masuk bersama Nilam, tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan dari telpon rumahnya.
📞Rumah
'Mama, kapan pulang?' Suara Diego menyadarkan Nilam untuk segera kembali ke rumah.
"Ini mama segera pulang Die. Tunggu mama ya." kata Nilam.
"Pulanglah, Diego butuh elo. Biar gue yang jagain mama." kata Zio.
"Ya Zi. Mbak pulang dulu. Elo jaga mama ya. Kalo ada apa-apa langsung hubungi mbak " kata Nilam.
Zio hanya mengangguk.
"Tiara, mbak Nilam harus pulang. Titip mama dulu ya." kata Nilam.
"Ya mbak. InshaaAllah." kata Mutiara.
"Gue anterin ke dapan." kata Zio.
"Ga usah Zi, kasian Mutiara sendirian." kata Nilam.
"Gapapa mbak, biar pak Zio anter mbak Nilam ke depan. Tiara akan masuk dulu." kata Mutiara.
Zio dan Nilam pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Sesampainya di dalam ruang dimana bu Suyamti di rawat, Mutiara mendekat perlahan, merasakan pedih dalam relung hatinya, dada kirinya berdetak tak keruan.
"Assalamualaikum Bu, bu Suyamti. Ini Tiara." sapa Mutiara sambil memegang tangan keriput bu Suyamti.
"Maafkan Tiara bu, Tiara baru bisa menjenguk Ibu. Bukan salah pak Zio bu, pak Zio sudah mengabarkan pada Tiara, kalo ibu sakit, tapi maaf, Tiara baru bisa ke sini malam ini." kata Mutiara dengan air mata yang tak dapat dibendung.
"Bu, ibu sadar ya. Ibu sudah Tiara anggap ibu sendiri. Ibu orang baik, ibu pasti kuat." kata Mutiara.
__ADS_1
Tak banyak yang di ikatakan Mutiara, Mutiara kemudian melanjutkan dengan membaca surat Alfatihah, surat surat pendek, dan do'a menjenguk orang sakit, selebihnya dia terus berdzikir dan bersholawat. Hingga tak terasa Zio kembali ke ruangan itu.