Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Telpon Batin


__ADS_3

Di Semarang


Malam itu, Dzen yang sudah makan malam di rumah sendiri, setelah tadi mampir di warung langganannya, untuk membeli makanan yang dibungkusnya, segera membuka kembali leptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaannya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari Mutiara Hati.


Dzenpun mengangkat panggilan itu, lalu setelah selesai, Dzenpun termenung.


"Tiara mau ke Semarang seorang diri?" gumam Dzen, lalu dia menoleh ke arah foto yang dia tempel di dinding diatas meja kerjanya.


"Alhamdulillah, bapak yakin nak Ahmad orang yang amanah. Tolong, jaga putri saya." kata-kata pak Bowo kembali terngiang di benaknya.


"Apa baiknya, aku jemput Tiara aja ya? Biar nanti motor Tiara dibawa Ken aja. Pasti pak Bowo berat melepas kepergian putri bungsunya, beliau pasti khawatir." gumam Dzen.


Dzen menoleh ke arah jam dinding yang ada diatas pintu kamarnya. Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Dzenpun menghitung perkiraan perjalanan menuju ke Solo.


"Lebih baik jalan sekarang sajalah, daripada besok pagi, takutnya terlambat aku sampe sana nya. Meski nanti sampe sana, di rumah Mutiara ga ada orang terjaga, tidur di mobil dulu kan bisa." pikir Dzen.


Dzenpun segera mengambil celana panjangnya, dan memakai jaketnya. Serta mengambil tas kecilnya yang berisi barang-barang berharga.


Dzenpun keluar rumahnya, sampai di lobi apartemen, Dzen berpapasan dengan Andi.


"Ndi, dari mana lo? Jam segini baru balik." sapa Dzen.


"Tadi ada operasi mendadak yang harus gue tangani bro." kata Andi.


"Oh,,,"


"Lo sendiri mau kemana bro? Malem malem gini, dandan rapi gitu? Bawa tas segala." tanya Andi.


"Gue ada keperluan ke Solo. Nitip rumah ya. Besok pagi gue dah balik kok." kata Dzen.


"Ke Solo? Malem-malem gini? Ngapain Dzen?" tanya Andi penasaran.


"Hm,,,, kepo lo. Besok gue ceritain. Gue berangkat dulu ya." kata Dzen.


"Ehm, okey. Hati-hati lo. Mumpung cerah juga ni cuacanya. Tapi tetep waspada." pesan Andi.


"Okey, siap." jawab Dzen.


Dzenpun segera berjalan menuju tempat parkir, dan menaiki mobilnya. Diapun melakukan mobilnya menuju tol arah Semarang-Solo.


Sekitar hampir tiga jam perjalanan, Dzenpun sudah memasuki kampung tempat Mutiara tinggal, lalu dia terus menjalankan mobilnya hingga tiba di sebuah halaman sebuah rumah jawa yang sederhana.

__ADS_1


Deru mesin mobilnya terdengar oleh orang tua yang sejak tadi tak bisa tidur.


"Ahmad." seketika pak Bowo terbangun dari duduknya dan melihat, apa benar itu suara mobil Dzen dari jendela rumahnya.


"Benar. Sudah kuduga. Laki-laki baik akan melakukan suatu hal untuk orang yang disayanginya." gumam pak Bowo sambil tersenyum saat melihat sebuah mobil yang dikenalnya, memasuki halaman rumahnya. Lalu pak Bowo membuka pintu rumahnya, menyambut kedatangan Dzen.


Sedangkan Dzen yang baru menghentikan mobilnya, menatap ke pintu rumah itu, niat hati, jika tidak ada orang yang terjaga, dia tak akan mengetuk pintu, dan dia akan tetap di dalam mobil untuk tidur di sana. Namun, ternyata, pintu itu telah terbuka, dan sosok seorang laki laki yang sudah berumur, dengan jenggot putih, dan rambut yang beruban, telah menyambutnya dengan senyuman.


"Pak Bowo?" gumam Dzen yang bersiap keluar mobil dan mengambil tas kecilnya.


"Assalamualaikum pak." sapa Dzen, lalu mencium tangan bapaknya Mutiara dengan penuh khidmad.


"Wa'alaikumsalam nak Ahmad." jawab pak Bowo dengan senyum puas dan tangan kirinya mengelus kepala Dzen dengan lembut.


"Apa kabar nak?" tanya pak Bowo.


"Alhamdulillah baik pak." jawab Dzen.


"Masuklah." kata pak Bowo, lalu menutup kembali pintu rumahnya, setelah Dzen memasuki rumahnya.


"Dari Semarang jam berapa nak?" tanya pak Bowo sambil berjalan menuju dapur.


"Jam Sembilan pak." jawab Dzen.


Dzen yang sudah duduk di kursi tamu itu, terheran-heran.


"Kenapa jam segini pak Bowo belum tidur? Kenapa beliau tidak terkejut dengan kedatanganku? Apa tadi Tiara mengirim pesan?". batin Dzen lalu membuka ponselnya, di ceknya pesan yang masuk dan panggilan masuk, namun tidak ada panggilan Atau pesan dari Mutiara Hati.


"Ga ada. Tapi, kenapa...." belum selesai Dzen sibuk dengan pikirannya, pak Bowo sudah kembali dengan secangkir teh hangat untuk Dzen.


"Diminum dulu nak Ahmad. Perjalanan jauh, pasti cukup melelahkan bagimu." kata pak Bowo menyuguhkan teh hangat untuk Dzen.


"Yaa Allah pak, repot repot. Terimakasih banyak pak." kata Dzen sungkan.


"Santai saja. Mutiara sama ibu sudah tidur, jadi ndak papa to bapak yang buatkan? Kalau tidak enak, ya harap maklum ya, buatan orang tua." kata pak Bowo tersenyum lebar.


"Oh, ya pak. Justru saya terimakasih banyak sudah dibuatkan minum." kata Dzen.


"Jam sembilan dari sana, berarti pas tadi Mutiara menelpon?" tanya pak Bowo.


"Ehm, iya pak." jawab Dzen.

__ADS_1


"Sudah bapak duga, laki laki yang baik itu, dia akan berusaha untuk bisa menjaga amanahnya dengan baik, terutama demi menjaga orang yang dia sayang." kata pak Bowo.


Dzen tertegun dengan kata-kata pak Bowo. Ternyata pak Bowo sudah mempunyai feeling tentang kedatangannya.


"Naluri seorang laki-laki akan tergerak dengan sendirinya, saat mendapat sebuah kabar dari orang yang berpengaruh pada dirinya, terutama orang yang dicintainya." lanjut pak Bowo.


"Bapak tau, maksud kedatanganmu nak, kamu mau menjemput Mutiara kan? Kau akan mengantarnya kembali ke Semarang bukan?" tanya pak Bowo. Dan Dzenpun mengangguk.


"Terimakasih nak Ahmad, kamu telah mengangkat telpon batin bapak." kata pak Bowo yang membuat Dzen terkejut.


"Maksud bapak?" tanya Dzen.


"Bapak menunggumu sedari tadi. Karena bapak khawatir jika melepaskan Mutiara pergi sendiri sampai ke kota Semarang." kata pak Bowo.


"Diminum tehnya, cuci tangan kaki dan mukamu, lalu istirahatlah di kamar yang kemarin kau tempati untuk bermalam." kata pak Bowo sambil beranjak dari duduknya.


"Baik pak." jawab Dzen. Lalu Dzenpun meminum teh buatan pak Bowo. Lalu dia lanjut ke toilet untuk membersihkan diri dan beranjak ke kamar depan yang dia tempati sepekan yang lalu.


💞💞💞


Keesokan harinya, Mutiara terjaga dari tidurnya, lalu menuju ke toilet untuk mengambil air wudlu, hendak menunaikan sholat malam. Namun, saat menoleh ke arah ruang tamu, dia mendapati gelas bekas pakai dimeja tamu.


"Semalam ada tamu ya? Siapa?" batin Mutiara. Namun dia langsung melupakannya lalu melanjutkan langkahnya ke kamar untuk menunaikan sholat malam. Kemudian dia lanjutkan dengan mengaji hingga waktu subuh tiba.


Saat subuh tiba, bu Hindun yang juga sudah bangun, mendapati gelas bekas pakai di meja tamu, bergumam sendiri, sambil mengambil gelas itu dan dibawanya ke dapur.


Tiba-tiba pintu kamar depan terbuka dan Dzen keluar kamar, berjalan menuju toilet untuk mengambil air wudlu.


"Nak Dzen?" panggil bu Hindun terkejut.


"Eh, bu. Assalamualaikum bu." sapa Dzen ramah.


"Nak Dzen ke sini? Kapan Datang nak?" tanya bu Hindun.


"Tadi malam bu." jawab Dzen. Dan Bu Hindun akan bertanya lagi, namun terhenti karena kedatangan pak Bowo yang keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sudab rapi.


"Nak Ahmad sudah bangun? Ayo kita segera ke masjid, bapak harus segera adzan." kata pak Bowo yang memang selalu menjadi mu'adzin ketika subuh.


"Baik Pak." jawab Dzen yang kemudian bergegas mengambil air wudlu. Lalu mengikuti pak Bowo menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah.


Merekapun meninggalkan bu Hindun yang masih bertanya-tanya, kenapa Dzen tiba-tiba datang lagi di rumahnya tanpa ada kabar sebelumnya.

__ADS_1


"Apa semalam Mutiara menghubungi Dzen lagi untuk menjemput dirinya ya?" batin bu Hindun.


__ADS_2