Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Titip Dia


__ADS_3

Siang itu, setelah mengantarkan Mutiara pulang, Dzen langsung menuju apartemennya. Setelah sholat dzuhur, dia kembali teringat oleh Shanum, teman lamanya. Dia tidak menyangka, jika ternyata selama ini, Shanum menaruh hati padanya, sedangkan Dzen sama sekali tak ada rasa dengan Shanum, hingga dia keceplosan menceritakan tentang perjalanannya ke Solo.


"Apa jangan-jangan, depresi nya Shanum, salah satu penyebabnya karna aku? Karena aku sudah cerita tentang kedekatanku dengan Tiara? Sehingga Shanum merasa putus asa? Dia cemburu? Jeles?" gumam Dzen sorang diri.


Kemudian Dzen teringat oleh kata-kata Zio, yang tadi sempat membuatnya terkejut.


"Tadi aku salah denger, atau gimana ya? Kata mas Zio tadi, Shanum ga gadis? Lho, emang sejak kapan dia udah ga gadis lagi? Kenapa aku ga tau apa-apa? Shanum juga ga pernah cerita." gumam Dzen lagi.


"Baiknya aku tanya langsung aja sama mas Zio." kata Dzen yang hendak menelpon Zio.


"Astaghfirullah. Aku kan ga punya nomernya mas Zio."


"Oiya, Tiara pasti punya. Aku minta Tiara aja deh." kata Dzen.


📞Mutiara Hati


"Assalamualaikum Tiara"


'Wa'alaikumsalam. Ada apa mas?'


"Ehm, Tiara, maaf, mas ganggu ga?" tanya Dzen dengan membahasakan dirinya 'mas'.


'Engga mas. Kenapa?'


"Tiara pasti punya nomernya dosen Tiara yang namanya Zio kan?" tanya Dzen.


'Iya mas. Punya. Kenapa?'


"Boleh minta? Ada sesuatu hal yang penting, harus mas tanyakan sama beliau."


'Oh, ya mas. Nanti Tiara kirimin ya.'


"Okey. Terimakasih Tiara. Maaf mengganggumu."


'Sama-sama mas. Ga ganggu kok.'


"Ya udah. Assalamualaikum."


'Wa'alaikumsalam.'


Panggilan terputus. Tak lama kemudian Mutiara mengirimi kontak Zio.


📨Mutiara Hati


Terimakasih Tiara😊


📩Mutiara Hati


Ya mas, sama-sama🙏

__ADS_1


Dzen pun segera menghubungi Zio.


📞Zio


'Halo'


"Ya Halo, assalamualaikum. maaf, apa benar ini dengan mas Zio? Dosennya Mutiara Hati.


'Wa'alaikumsalam. Ya, benar. Dengan siapa ini?'


"Saya Dzen, dokter RSUD, yang dulu pernah menangani ibu anda saat ibu anda kecelakaan."


'Oh, dokter yang tadi ada di ruang ICU tempat Shanum di rawat?'


"Ya, benar."


'Ada apa?'


"Ehm, maaf, saya mau bicara dengan anda, saya mau menanyakan sesuatu tentang Shanum, bisa?"


'Siang ini saya free. Tidak ada acara apapun. Sekarang saja bagaimana? Mau ketemu atau via telpon?'


"Syukurlah. Kita ketemu saja ya."


'Baik, kita ketemu di mana?'


'Okey.'


"Terimakasih sebelumnya, Assalamualaikum."


'Wa'alaikumsalam.'


Setelah menelpon Zio, Dzen yang sangat penasaran dengan Shanum, segera menyiapkan dirinya untuk bertemu dengan dosen muda bermata elang itu. Setelah siap, Dzen segera meluncur ke kafe langganannya.


Sesampainya di sana, Dzen datang lebih awal, sehingga Dzen sudah langsung duduk dan menanti kedatangan Zio di tempat faviritnya, pojokan. Tak lama kemudian Zio datang.


"Selamat Siang." sapa Zio.


"Selamat siang." kata Dzen menjabat tangan Zio.


"Ada yang ingin dibicarakan?" tanya Zio.


"Ya." jawab Dzen.


"Tetapi, baiknya kita pesan minuman dan makanan terlebih dahulu." kata Dzen.


"Baiklah."


Lalu Dzen memesankan minuman yang sama dengan miliknya. Setelah pesanan datang, sambil minum, merekapun mulai berbicara.

__ADS_1


"Ehm, mas Zio, maaf. Kalau boleh tau, anda inj siapa nya Shanum?" tanya Dzen.


"Bukan Siapa-siapa. Tetapi om nya Shanum adalah asisten pribadi papa saya, tetapi kini berlanjut menjadi asisten saya." kata Zio.


Dzen manggut-manggut.


"Ada perlu apa anda mengajak saya ketemu? Anda mau tanya apa?" tanya Zio to the poin.


"Ehm...Anda bilang tadi, anda akan menikahi Shanum. Apa itu benar? Apa anda benar-benar mencintainya?" tanya Dzen.


"Kenapa? Anda tidak percaya?" tanya Zio dengan wajah dingin.


"Ehm, bukan, bukan begitu maksud saya." kata Dzen mencoba meluruskan.


"Saya kenal Shanum belum lama, saya kenal dia dari Pak Yuda, omnya Shanum. Sejak awal ketemu, saya sudah suka dengan gadis itu, sehingga saya mencari tau banyak hal tentang gadis itu termasuk mencari tau tentang masa lalunya."


"Saya tidak tau, apa alasan saya mencintai gadis itu, tetapi yang jelas, saya selalu memimpikan dia, dan saya sangat berharap dia bisa menjadi pendamping hidup saya, dengans segala kekurangan dan kelebihannya." kata Zio.


"Termasuk keadaan dia yang depresi?" tanya Dzen.


"Ya." jawab Zio mengangguk.


"Lalu, kenapa anda bilang meski dia sudah tidak gadis lagi? Anda tau dari mana tentang dia yang sudah tidak gadis lagi, dan sejak kapan hal itu terjadi?" tanya Dzen.


"Ya, karena memang dia sudah tidak gadis lagi. Dia adakah korban kejahatan papanya, dia menjadi jaminan atas hutang-hutang papanya, sehingga Shanum harus merasakan pahitnya kehidupan, hingga titip terburuknya terjadi, yaitu saat mamanya meninggal dunia karena kecelakaan bersama papanya. Shanum yang sudah lama kehilangan kesuciannya, dia juga kehilangan tonggak hidupnya, yaitu mamanya. Disitulah awal Mula Shanum depresi. Dia bingung harus bagaiamana. Saat itu, Shanum baru duduk di bang ku putih abu kelas sepuluh." kata Zio menceritakan hasil dari penelusuran detektif sewaannya.


"Lalu, kenapa anda masih mencintai Shanum, jika anda sudah tau dia depresi, dan dia tak gadis lagi?" tanya Dzen heran.


"Karena hati yang memilihnya." kata Zio.


"Ketika Shanum menaruh hati pada anda sejak SMP, dia masih takut untuk menyatakannya. Namun sayangnya, dia harus kehilangan kehormatannya selaku wanita, dan itu yang membuatnya menjauh dari anda, dan mencoba untuk tidak mencintai anda lagi. Namun, sayangnya, Shanum sulit melupakan anda. Sehingga saat dia tau, anda sudah mencintai wanita lain, Shanum sangat terpukul. Dia kembali teringat oleh mamanya. Dia juga wanita normal yang ingin menikah, sangat bertolak belakang dengan pernyataannya yang bilang bahwa dia tak mau menikah sama sekali. Shanum sudah lama tidak kontrol pada psikiater, sehingga saat fikiran nya sedang tidak baik, depresi nya kembali kambuh." kata Zio. memberi alasan.


"Shanum gadis baik, yang berhak mendapat perlakuan baik, Shanum gadis malang yang berhak mendapat kemerdekaan, Shanum gadis pintar yang berhak mendapat kebebasan, dan Shanum adalah gadis terhormat, meski dia tak memiliki kehormatan lagi, dan caraku menghormatinya adalah dengan menikahinya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Jadi, saya mohon, ijinkan saya untuk melindunginya, menjaganya, dan senantiasa mendampinginya dimanapun dia berada. Ikhlaskan dia untuk saya." kata Zio kepada Dzen, dan Dzenpun menatap Zio lekat.


"Saya tau, Anda tidak bisa mencintainya, sedangkan dia membutuhkan cinta yang tulus untuk kesembuhan jasmani dan rohaninya."


"Ehm...ya. Saya memang tidak bisa mencintainya, karena saya tak bisa menganggapnya lebih dari sekedar sahabat." kata Dzen.


"Kalau begitu, saya titip Shanum, bahagiakan dia." kaga Dzen.


"Tentu." jawab Zio mantab.


"Saya juga titip Mutiara Hati, gadis yang anda sukai."


"Hem?" Dzen menatap Zio dengan penuh pertanyaan.


"Saya tau anda mencintai mahasiswa saya itu. Dia gadis baik. Saya sudah menganggap dirinya sebagai adik saya sendiri." kata Zio.


"Ehm, baik. Saya akan Berusaha untuk selalu menjaganya." jawab Dzen mantab.

__ADS_1


__ADS_2