Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Sebuah Amanah


__ADS_3

Hari kedua di klinik, Mutiara sudah bisa beraktivitas seperti biasa, keadaan baby nya juga baik, tidak ada keluhan dan masalah. Sehingga di hari kedua, Mutiara sudah dibawa pulang bersama baby nya.


Malam, di hari pertama Mutiara di rumah setelah melahirkan, pak Bowo meminta bu Hindun membantunya pergi ke kamar Mutiara, untuk melihat cucunya,


"Bu, bapak pingin lihat cucu bapak." kata pak Bowo kepada bu Hindun saat di ruang TV.


"Ya pak. Ibu antar ya."


Di dalam kamar, Mutiara sedang mengASIhi babynya, dan Dzen juga ada dikamar sedang melipat popok bayi, setelah tadi Dzen dari masjid untuk menunaikan sholat tarawih.


"Assalamualaikum." salam pak Bowo.


"Wa'alaikumsalam. Eh, bapak." kata Dzen yang langsung menghampiri pak Bowo dan ikut serta membantu bu Hindun menuntun pak Bowo.


"MaasyaaAllah, Alhamdulillah, baarokallah nduk, akhirnya kamu sudah menjadi ibu Nduk. uhuk uhuk." kata pak Bowo yang dua hari ini sakit-sakit dan batuknya semakin menjadi sambil duduk di samping Mutiara.


"Iya pak, alhamdulillah. Semua ini tak lepas dari do'a bapak dan ibu yang selalu menyertai Tiara." kata Mutiara sambil menyusui putranya.


"Sudah diberi nama belum nduk?" tanya Pak Bowo.


"Sudah pak. Mas Dzen yang ngasih nama." kata Mutiara.


"Siapa namanya Le?" tanya pak Bowo kepada Dzen.


"Abdul 'Aziz Al-Ghifari pak." jawab Dzen.


"MaasyaaAllah, nama yang sangat bagus, artinya apa le?" tanya Pak Bowo lagi.


"Itu do'a kami pak, kami berharap, adek bisa menjadi Abdi Allah yang kuat, perkasa, namun juga memiliki sifat pemaaf, tidak semena-mena." jawab Dzen.


"Do'a yang mulia." komentar pak Bowo.


"Aamiin. Mohon tambah do'anya pak." kata Dzen.


"Uhuk uhuk. Nduk...Tiara."


"Ya pak?"


"Dari ketiga putri bapak, bapak rasa, justru kamulah yang dewasa. Dan Alhamdulillah, kamu juga anak bapak yang berpendidikan tinggi, suamimu juga bukan orang biasa. Jadi, nanti kalau sewaktu-waktu bapak dipanggil, bapak titip ibumu dan saudara-saudaramu ya nduk." kata pak Bowo.


"Bapak ini ngendikan (bicara) apa to pak?" kata Mutiara.


"Nduk, bapak mu ini sudah tua. Orang tua itu yang ditunggu adalah waktu kembali pada Allah. Ada kelahiran pasti juga ada kematian." kata pak Bowo.

__ADS_1


"Pak, jangan bicara seperti itu lah. Hari ini hari bahagia kita, karena hadirnya anggota baru di keluarga kita." kata bu Hindun.


"Ehm, nduk, bapak boleh gendong cucu bapak?" tanya pak Bowo yang tidak mengindahkan kata istrinya.


"Boleh pak." jawab Mutiara sambil memberikan baby Az pada pak Bowo.


Setelah dipangkuan kakeknya, baby Az yang masih dalam bedong dan itu anteng di gendong kakeknya.


"Le, Dzen. Bapak mau difoto sama cucuku bapak. Bisa tolong di foto kan?" tanya pak Bowo.


"Ehm, ya pak. Bisa." jawab Dzen yang terheran-heran dengan sikap pak Bowo yang tidak seperti biasanya.


Dzenpun menyalakan kamera ponselnya, dan menuruti kemauan bapak mertuanya yang sudah dianggap sebagai bapaknya sendiri, karena banyak ilmu yang Dzen dapat dari bapak lanjut usia itu. Banyak nasehat yang diberikan oleh pak Bowo untuk Dzen, dan sangat berkesan dan bermanfaat bagi Dzen. Sosok pak Bowo jauh lebih mengena dibanding sosok papanya sendiri, karena memang sejak kecil, Dzen jarang bersama papanya.


"Cucu mbah yang ganteng, Abdul 'Aziz Al-Ghifari, mbah berdoa'a untuk kebahagiaanmu, keberkahan usiamu, kecerdasan fikirmu, kesholihan akhlakmu. Semoga kamu menjadi insan yang bermanfaat untuk keluarga, agama dan masyarakat. Jadilah penyejuk hati keluargamu nak, jadilah kebanggaan orangtuamu. aamiin Yaa robbal 'alamin." do'a pak Bowo sambil meletakkan telapak tangannya di kepala baby Az, lalu dilanjutkan membacakan Ummul kitab Alfatihah, sebagi penutupnya.


Bu Hindun, Mutiara dan Dzen hanya termangu melihat kedekatan kakek pada cucunya itu. Mereka terheran-heran dengan sikap pak Bowo. Malam itu wajah pak Bowo tampak sangat bersih, dan segar, tidak ada guratan kesedihan di sana.


"Ada yang berbeda dengan bapak.". batin Dzen mencoba mencari celah jawaban dari sikap pak Bowo.


"Ini nduk. Bapak sudah puas bisa menggendong cucu bapak." kata pak Bowo sambil menciumi pipinya dengan penuh cinta. Dan diterima Mutiara lalu di tidur kan Mutiara di kasur baby.


"Lekaslah beristirahat, biar besok tidak kesiangan sahurnya." kata pak Bowo.


Pak Bowo dan Bu Hindun pun beranjak keluar dari kamar Mutiara menuju kamar mereka untuk beristirahat.


"Mas."


"Ya sayang?"


"Aku kok curiga sama bapak ya mas?"


"Curiga gimana?"


"Ga biasanya bapak seperti itu mas.


"Ehm, mungkin bapak cuma kangen aja sama anak dan cucunya sayang. Apalagi, kemarin bapak kan sempet sendirian di rumah." kata Dzen.


"Iya juga sih."


"Ini taruh mana sayang?" tanya Dzen sambil membawa pakaian baby.


"Ehm, disitu mas, box itu dulu aja." kata Mutiara menunjuk sebuah box di atas nakas.

__ADS_1


"Okey." jawab Dzen.


"Ya udah yuk, bobok dulu, mumpung baby Az juga bobok." ajak Dzen pada istrinya.


"Ya mas."


💞💞💞


Keesokan harinya, saat waktu sahur, Dzen dan Mutiara sudah siap diruang makan untuk makan sahur bersama. Mutiara memang belum berpuasa, tetapi dia selalu menemani suaminya makan sahur dan berbuka. Sambil menggendong baby Az yang tadi sempat terjaga dengan tangisan yang cukup keras.


"Bu, bapak semalem tidurnya nyenyak tidak?" tanya Mutiara.


"Nyenyak nduk, nyenyak banget."


"Tadi bapak bangun jam berapa bu?"


"Jam dua nduk, langsung ambil air wudlu terus sholat."


"Ibu lihat bapak, bapak keadaannya gimana bu?" tanya Dzen yang mengambil alih pertanyaan.


"Ehm... biasa Le. Ga ada yang mengkhawatirkan. Biasanya bapak batuk, tapi hari ini alhamdulillah, baaok sudah tidak batuk-batuk lagi. Mungkin pengaruh obat darimu kemarin Le." kata bu Hindun.


"Bu, bapak kok belum keluar?" tanya Mutiara mulai curiga.


"Iya ya, bapak kok belum keluar, apa bapak tidur lagi?" tanya Dzen.


"Tadi sih pas ibu ke kamar, bapak masih wiridan, setelah sholat malam. Ya coba ibu panggil bapak dulu ya." kata bu Hindun berjalan menuju kamar.


"Aneh, ga biasanya bapak berlama-lama untuk keluar makan sahur bersama." batin Mutiara.


"Baby Az masih rewel ya mah?" tanya Dzen membahasakan anaknya.


"Masih sesenggukan pa, tapi udah ga nangis sih." kata Mutiara sambil memberi ASI putranya.


Tiba-tiba terdengar jeritan dari kamar bapaknya.


"Bapak!!!" suara bu Hindun menjerit histeris.


Seketika Dzen berlari ke kamar bapaknya, begitupun dengan Mutiara yang masih dengan menggendong baby Az, berjalan perlahan ke kamar bapaknya.


Tampak oleh Dzen, sosok pak Bowo terlentang di pangkuan bu Hindun dengan pakaian sholat lengkap, dengan jari tangan masih tercantol tasbih. Dan tubuhnya masih di atas sajadah, bu Hindun memegang kepala pak Bowo dengan berlinang air mata.


"Dzen...bapak..." kata Bu Hindun dengan wajah sendu.

__ADS_1


__ADS_2