Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Terkejut


__ADS_3

Pagi itu, suasana di desa tempat Mutiara tinggal terasa sangat asri. Kicau burung dan kokok Ayam membuat suasana pagi terasa sangat bersahabat, ditambah dengan jatuhnya embun pagi yang menyelimuti kampung itu, menambah suasana dingin di sana.


Mutiara yang sejak ba'da subuh tadi sudah beres-beres rumah, dia melihat notif di ponselnya. Sebuah pesan masuk dari pria idaman nya.


📩Mas Dzen


Assalamualaikum Tiara, maaf. Mas semalem ga jadi otw ke Solo, karena sepulang seminar masih ada pasien yang harus mas tangani. Ini mas otw, tetapi mau langsung jemput mama sama papa yang dari Makassar, di bandara Adi Soemarno.


Tak menunggu waktu lama, Mutiara segera membalas pesan itu.


📨Mas Dzen


Ya mas. Hati-hati.


📩Mas Dzen


Okey😉


Setelah membuka pesan, tiba-tiba Mutiara dikejutkan dengan suara mobil masuk halaman rumahnya. Saat Mutiara keluar, tampak olehnya kedua sahabatnya keluar dari mobil, dengan ditemani satu orang laki-laki yang tak asing baginya.


"Assalamualaikum Tiara." salam Nadia sembari memeluk Mutiara.


"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai sini juga." sambut Mutiara yang beralih memeluk Mila.


"Eh. sama kak Fahri juga?" Mutiara menyapa sahabatnya Yusuf itu.


"Iya." jawab Fahri.


"Ya, tadinya aku mau nyetir sendiri Ra, karena papa lagi kurang fit. Tapi ga dibolehin mama, karena jauh katanya. Daripada khawatir, mama minta kang Fahri untuk nganterin kita." kata Nadia menjelaskan.


"Oh, gitu?" jawab Mutiara dengan mulut membulat, dan mata melirik ke Mila. Mutiara dan Mila memang sudah tau akan hubungan Nadia dan Fahri yang memang sudah semakin dekat.


"Ya udah yuk, masuk masuk." kata Mutiara memeprsilakan.


"Ehm, Tiara, itu kok ada mobilnya Yusuf?" tanya Fahri.


"Oh, iya kak. Kak Yusuf memang disini juga kok." jawab Mutiara santai.


"What? Kak Yusuf ke rumahmu juga Ra? Ngapain Ra? Mau ngelamar kamu juga?" tanya Mila yang memang suka ceplas ceplos.


"Kak Yusuf itu, saudaraku. Bundanya Kak Yusuf itu, adik sepupunya ibuku. Kita masih satu mbah buyut." jelas Mutiara.


Tak lama kemudian, pak Bowo dan Bu Hindun keluar dari dalam.


"Assalamualaikum." salam pak Bowo menyapa teman-teman Mutiara.


"Wa'alaikumsalam pak." jawab Nadia Mila dan Fahri yang kesemuany santun menyalami orangtua Mutiara.

__ADS_1


"Maaf ya nak, rumahnya Tiara ya begini, sangat sederhana." kata pak Bowo.


"Tidak masalah pak, meski sederhana, tapi sangat asri, bikin betah berlama-lama disini." jawab Nadia.


"Eh, Ra. Aku ijin ke toilet dong." kata Mila.


"Oh, ya. Silakan." kata Mutiara sambil mengantar temannya.


Sekembalinya mengantar Mila, Mutiara kembali ke ruang tamu. Dan disana sudah datang Kenzo dan Yusuf.


"Eh, Ken sama kak Yusuf sudah datang?" sapa Mutiara dengan ceria.


"Oya, nak Yusuf, tadi bundamu bilang, kalau kamu sudah ke sini, kamu diminta ke belakang. Bundamu menunggu disana." kata bu Hindun


"Baik bude." jawab Yusuf yang kemudian berjalan ke dalam menyusul ibundanya.


Saat sampai di dekat toilet, tiba-tiba


Sherrrrrttttt....


Dan Spontan, Yusuf segera berlari ke depan, dan tangan kekarnya segera menangkap tubuh seorang gadis yang baru saja keluar dari toilet.


Hap. Tertangkap. Dan seketika, manik mereka bertemu, dengan tubuh Mila terpangku di pangkuan Yusuf yang sigap menangkap tubuh gadis itu.


"Ehem." dehem bunda Rahma saat mereka lama saling pandang, yang kemudian seketika itu juga, Yusuf melepaskan pegangannya, hingga


Dug


Spontan bunda Rahma meringis dan menutup mulutnya.


"Yaa Allah Suf, kamu ini ga kasian sama mbaknya ya." omel bunda Rahma sambil berlari dan meraih tangan Mila yang masih menahan sakit di lantai sambil memegang pinggangnya yang terasa sakit.


"Maafkan anak ibu ya mbak... Mbak siapa namanya?" tanya bunda Rahma sambil membantu Mila berdiri.


"Mila bu." jawab Mila.


"Ehm, maaf Mila. Saya benar-benar ga sengaja. Maaf." kata Yusuf menyesal. Karena mau membantu Mila, dia sudah tak enak hati, karena bersentuhan dengan lawan jenis adalah pantangan baginya, yang di pahami oleh bundanya, sehingga bunda Rahma dengan spontan mengambil alih Yusuf yang tadinya membantu Mila.


"I iya kak. Gapapa. Saya nya juga tadi yang kurang hati-hati." kata Mila.


"Ya sudah, bu, kak. Saya permisi mau ke depan dulu." kata Mila berusaha menutupi rasa malunya.


"Oh, ya mbak, silakan." kata bunda Rahma. Sedangkan Yusuf masih terpekur berdiri di depan toilet dengan menatap lantai, menundukkan pandangannya.


Sesampainya di depan, Mila datang dengan memegang pinggangnya yang masih terasa sakit.


"Mil, kamu kenapa megangin pinggang begitu? Kaya nenek nenek kena encok aja." kata Nadia.

__ADS_1


"Enak aja kamu ngatain aku kaya nenek nenek. Ini nih, gara-gara kepleset, jadi begini pinggangku." kata Mila mengomel sambil merintis menahan sakit.


"Yaa Allah Mil. Innalillahi. Yang sakit apanya Mil?" tanya Mutiara berempati sambil mengecek tubuh Mila.


"Bokong ku sih Ra, tapi pinggangku juga sakit." kata Mila.


"Perlu dibawa ke tukang urut atau ke puskesmas ga?" tanya Mutiara.


"Ga usah Ra, gapapa. cuma njarem aja." kata Mila.


"Oh ya, Kangmasmu kemana Nad?" tanya Mila.


"Tuh, didepan." kata Nadia menunjuk Fahri yang sedang diluar bersama Kenzo.


"Oh, rencana, dokter Dzen datang jam berapa Ra?" tanya Mila.


"Sekitar jam 11 nanti." kata Mutiara.


"Oh, ya udah, aku mau tiduran dulu boleh ga Ra? Menetralisir pinggangku ini." kata Mila.


"Oh,ya boleh boleh Mil. Aku bawain ke dalem ya minumnya. Kamu tadi belum minum kan?" kata Mutiara.


"Okey." jawab Mila, yang kemudian dituntun Mutiara ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


💞💞💞


Di perjalanan


"Dzen, rumahnya Tiara masih jauh ya dari bandara?" tanya bu Lastri yang baru saja naik ke mobil Dzen. Mereka baru saja keluar dari kawasan bandara, dan melaju menuju jalan Slamet Riyadi.


"Masih Bu. Lumayan sih, sekitar setengah jam kalo dari sini." kata Dzen.


"Oh..."


"Solo itu kota besar juga ya Dzen?" tanya bu Lastri yang memang belum pernah berkunjung ke kota tersebut.


"Ya lumayan bu. Yang ini baru kota Sukoharjo bu, tepatnya kecamatan Kartasura. Nanti kita akan ke tempat Mutiara, yang ada di daerah timur, perbatasan Karanganyar. Itu arah ke air terjun seribu bu. Kalau ibu mau main ke sana." kata Dzen yang sudah sedikit banyak memahami kota Solo.


"Wah, menarik sekali bang Dzen, mau dong kapan- kapan kita diajak jalan-jalan menikmati kota Solo." kata Lela adik tirinya yang masih usia SD.


"Siap Lela." jawab Dzen dengan tersenyum.


Dzen dan kedua orangtuanya beserta kedua adiknya asyik berbincang selama perjalanan, sampai tak terasa mereka sudah tiba di rumah Mutiara.


Dzen terkejut, dan tertegun dengan adanya beberapa mobil di halaman rumahnya Mutiara.


"Mobil siapa aja ini? Kenapa ada banyak mobil disini?" gumam Dzen saat dia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya Mutiara.

__ADS_1


"Kita sudah sampai." kata Dzen.


Pak Panca dan bu Lastri serta kedua adik Dzen melihat rumah joglo di harapan mereka. Asri dan memang sederhana, tidak ada kemegahan di sana. Merekapun keluar dari mobil, dan berjalan masuk, mereka di sambut hangat oleh pak Bowo dan Bu Hindun selaku tuan rumah.


__ADS_2