
"Eh, kak Fathan?" spontan Mutiara menyebut nama laki-laki itu.
"Sendirian aja? Ga takut diculik?" tanya Fathan sekenanya.
"Hehe, ya engga lah kak, kaya anak kecil aja diculik." jawab Mutiara.
"Bukan karena kaya anak kecil Ra, tapi kamu itu menarik, dan bikin tertarik, sehingga bikin pingin nyulik." kata Fathan bercanda.
Mutiara hanya diam sambil menatap Dzen yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan yang kurang tenang.
"Bercanda kali Ra." kata Fathan sambil menepis angin didepan mukanya, dia melihat Mutiara yang sedang melihat ke suatu arah, dan Fathan paham akan hal itu.
Mutiara tertunduk malu, mendapat candaan dari kakak tingkatnya.
"Eh, betewe, kita kopelan ya ternyata?" kata Fathan sambil melihat dress yang dikenakan Mutiara. Seketika Mutiara melihat penampilan Fathan, dan memang benar adanya, mereka memang berpakaian dengan warna yang sama.
"Berarti kita jodoh dong ya." kata Fathan sambil meletakkan lengannya di belakang kursi Mutiara dan satu kaki yang ditumpangkan di kaki satunya, sedangkan tangan satunya memainkan jari diatas pahanya.
Mutiara segera mengalihkan perhatiannya, dan agak menggeser posisi duduknya, menjauh dari Fathan.
"Ehm, kak Fathan ke sini atas undangan dari siapa?" tanya Mutiara mengalihkan pembicaraan Fathan.
"Oh, aku? Aku dari keluarga besan. Aku kan adik iparnya mbak Nilam." kata Fathan santai dengan menyisir rambutnya dengan jari tangan kirinya.
"Kak Fathan adik iparnya mbak Nilam?" tanya Mutiara tak percaya.
"Iya. Makannya aku make jas. Sebenernya gerah ini, ga biasa make jas." kata Fathan sambil membuka kancing jasnya.
"Oya, tadi kayaknya kamu duduk sama temenmu kan? Kemana mereka?" tanya Fathan sambil tolah toleh ke kanan ke kiri.
"Iya kak. Kedua teman saya sudah pulang. Karena ada kepentingan." jawab Mutiara.
"Ehm, gitu ya?" dengan wajah berfikir Fathan berucap sambil mengelus dagunya yang bersih dari rambut jenggot.
Mutiara tampak tidak nyaman dengan sikap Fathan, dan beberapa kali tampak mendongak, menatap ke suatu arah.
"Santai aja, kakak cuma ngetes aja, calon kamu itu, orangnya rese ga? Cemburuan ga? Kayaknya, dia cemburu sih, tapi dia masih bisa ngontrol emosi." kata Fathan yang kemudian Mutiara spontan menoleh ke arah lawan bicara.
"Maksud kak Fathan?" tanya Mutiara tak mengerti.
"Yang coupelan sama kamu itu kan? Calon suamimu, yang dikatakan Meylani waktu itu?" tanya Fathan menebak.
"Ehm." Mutiara hanya mengangguk.
"Dia Dokter ya?" tanya Fathan.
"Iya kak."
"Dokter siapa namanya?" tanya Fathan.
__ADS_1
"Dokter Dzen." jawab Mutiara.
"Ah, ya. Dokter Dzen." kata Fathan sambil menjentikkan jarinya.
"Kak Fathan kenal?" tanya Mutiara.
"Engga terlalu sih, tapi dulu omaku pernah dirawat sama dia. Omaku tu orangnya centil, cerewet, dan ada aja permintaannya, termasuk minta dirawat sama dokter Dzen. Ga mau sama suster. Padahal waktu itu, dokter Dzen masih koas." kata Fathan.
"Orangnya tu, sabar banget, ramah, murah senyum, ganteng, baik lagi. Yah, makannya oma ga mau sama dokter yang lain. Maunya cuma sama dokter ganteng Dzen, dan itu sudah berlangsung sekitar satu tahun lamanya untuk cuci darah, hingga akhirnya oma meninggal dunia." kata Fathan.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." jawab Mutiara turut berduka.
"Pokoknya, dokter Dzen itu, cowok idaman Ra, dan kamu beruntung kalau bisa jadi istrinya. Aku yakin, dia bakal jadi suami yang baik buat kamu. Kalian itu cocok banget, karena kalian sama-sama baik, dan aku yakin, kalian itu bakal berjodoh." kata Fathan meyakinkan.
"Alhamdulillah. Aamiin, InshaaAllah." jawab Mutiara sambil menunduk malu.
"Eh, Ra. Itu cowokmu dideketin cewek tuh. Cakep, seksi lagi, temen apa mantannya ya?." kata Fathan sambil melihat ke arah wanita yang duduk didekat Dzen. Tampak Dzen terkejut, dan Mutiara juga tau, siapa wanita itu.
"Mbak Lala?" gumam Mutiara.
"Kamu kenal Ra?" tanya Fathan.
"Baru aja kenal, di toilet tadi kak." jawab Mutiara.
"Emang siapa tu cewek? Berani bener deket-deket cowokmu Ra, apa dia ga tau kalau dokter Dzen udah punya calon?" tanya Fathan geram.
"Dia mantan pacarnya mas Dzen kak." kata Mutiara.
"Kak Fathan kenal?" tanya Mutiara.
"Ehm... bentar, aku inget-inget dulu."
"Ah, iya. Dia itu anaknya dokter paru-paru yang terkenal itu. Ibunya guru besar di universitas swasta, pemilik yayasan Pelita Insani, tempat mempelai wanita itu mengajar." kata Fathan yang tau secara mendetail tentang Lala.
"Paham banget kak tentang dia?" tanya Mutiara heran.
"Ya jelas lah Ra, dia itu kan model." kata Fathan.
"Oh..." jawab Mutiara.
"Eh, Ra. Itu dokter Dzen mau pergi, kayaknya dia ga nyaman sama cewek itu, kejar sana." kata Fathan mengintruksikan.
"Tapi kak...."
"Nah tu, bener kan, Dokter Dzen pergi. Pasti dia emosi tuh, udah sana, susul dia." kata Fathan yang refleks memegang lengan Mutiara.
"Astagfirullah. Maaf kak." kata Mutiara menepis tangan Fathan.
"Eh, ya sorry. Udah sana, susul. Ga usah malu, demi menjaga hubungan kalian, agar tetap harmonis. Perjuangin cintamu, Ra." kata Fathan lagi.
__ADS_1
Mutiara yang akhirnya paham maksud kakak tingkatnya, akhirnya menurut juga untuk menyusul Dzen.
Sesampainya di luar gedung, Mutiara mencari sosok Dzen. Tampak olehnyaa Dzen sedang duduk di serambi masjid sambil menunduk dengan kedua lengannya di sampirkan di kedua lututnya.
"Mas." panggil Mutiara yang sudah membawakan sebotol air mineral yang dia bawa dari dalam tasnya.
Dzen mendongak, mendengar suara orang yang tak asing baginya.
Wajah itu tampak kusut, ada sorot mata yang tak bersahabat dengan Mutiara.
"Maafin Tiara mas. Itu tadi kakak tingkat Tiara, namanya kak Fathan. Dia adik iparnya mbak Nilam, kakaknya pak Zio. Kak Fathan bilang, mas Dzen ini dokter yang baik. Mas Dzen dulu jadi dokter idolanya omanya kak Fathan, sampai akhirnya, Omanya kak Fathan meninggal dunia. Pas mas Dzen pergi dari tempat duduk, Tiara disuruh kak Fathan untuk susulin mas." kata Mutiara dengan menjelaskan semua yang terjadi, Mutiara sangat takut Dzen akan marah padanya.
"Komplit banget keterangannya? Takut mas cemburu? Takut mas akan marah?" tanya Dzen tiba-tiba sambil mendongak, menatap wanitanya dengan lembut.
Mutiara tersipu malu, diapun menunduk. Jantungnya berdebar tak beraturan.
"Itu, air mineral, buat siapa?" tanya Dzen.
"Oh, iya. Ini mas, buat mas Dzen." kata Mutiara menyerahkan botol air mineralnya.
"Duduklah, ga capek berdiri di situ terus?" tanya Dzen sambi menerima botol air mineral dari Mutiara.
"Ehm, iya mas." jawab Mutiara grogi.
"Mas juga minta maaf, tadi tu, mantannya mas." kata Dzen setelah meneguk beberapa kali tegukan air mineral yang berhasil membasahi kerongkongannya.
"Mbak Lala?" tanya Mutiara.
"Tiara kenal?" tanya Dzen menoleh ke arah Mutiara.
"Tadi sempet kenalan di toilet." jawab Mutiara.
"Oh..."
"Kalau yang bawa anak kecil tadi mas? Temen mas ya?" tanya Mutiara.
"Ehm... dia... juga mantan sih. Heheh." kata Dzen sambil mengusap tengkuknya, merasa tak enak hati dengan Mutiara.
"Oh..." jawab Mutiara singkat.
"Tiara cemburu?" tanya Dzen.
"Eh, eng... engga kok mas." jawab Mutiara gugup.
"Gapapa kali cemburu. Karena cemburu itu tanda cinta." kata Dzen sambil menatap Mutiara dengan lembut. Sedangkan Mutiara tetap menunduk.
"Ehm, mas. Itu acaranya udah mau selesai. Kita kembali ke dalem yuk." ajak Mutiara mengalihkan perhatian.
"Okey. Tapi kita duduknya bareng aja ya, udah mau selesai juga, ga usah terpisah lagi kaya tadi, entar malah salah paham lagi kita." kata Dzen sambil berdiri.
__ADS_1
"Ehm, ya mas." jawab Mutiara mengangguk. Lalu Mutiara dan Dzen pun masuk gedung dengan berjalan beriringan, tetapi tidak bergandengan. (Belum Mahrom😁)