
Siang itu, Nilam baru bangun dari tidurnya, dia semalam tidak bisa tidur karena menunggu jawaban dari suaminya. Hingga akhirnya jam lima pagi, dia baru bisa tertidur. Dan siang ini, dia baru keluar dari kamarnya dan duduk di teras samping sambil bermain air di kolam ikan.
"Ehem." deheman Zio membuat Nilam tersadar dari lamunannya.
"Nih, buat lo." kata Zio menyerahkan secangkir coklat panas.
"Lo yang bikin?" tanya Nilam tak percaya.
"Ya engga lah. Bi Saodah yang bikin, gue cuma bawain. Ga tega gue liat mbak gue kaya orang frustasi gitu." kata Zio sambil meneguk lemon tea buatan bi Saodah juga.
"Yah, gue kira elo yang bikin." Keluh Nilam sambil menyeruput coklat panas itu.
"Udah mending gue peduli ama lo, gye bawai. ke sini. Dasar ga tau terimakasih." omel Zio dingin.
"Ya, makasih." jawab Nilam.
"Laki lo di laut udah kasih kabar belum?" tanya Zio.
"Boro-boro kasih kabar. Pesan aja centang satu semua. Hapenya ga aktif. Gimana ga bikin frustasi coba?" kata Nilam penuh emosi.
"Emang dasar orang hidup di laut ya. Gitu amat kerjanya." keluh Zio.
"Eh, elo tu ya, fruatasi ya frustasi, tapi saking frsutasinya elo, sampe lupa lo kalo punya anak? Ga peduli lo ama keadaan dia?" tanya Zio.
"Astaga Diego? Iya, Gimana Diego? Diego kenapa Zi?" tanya Nilam penuh khawatir sambil mencari-cari sosok Diego dengan celingak celinguk.
"Makannya, jadi orang tu jangan Egois, untung aja anak lo tu udah gede. Bisa ngurus dirinya sendiri. Dia di ruang TV." kata Zio.
Nilampun masuk rumah dan mencari sosok anak kesayangannya. Diego.
Tampak oleh Nilam, Diego sedang menonton Televisi dengan santai nya.
"Die, are you ok?" tanya Nilam menempelkan telapak tangannya di kening putranya
"Mama kenapa? Diego sehat kok." kata Diego heran.
Nilampun beralih menatap adiknya yang sudah berdiri berada di sampingnya.
"Zio?" geram Nilam.
Zio hanya tersenyum dingin pada mbaknya.
"Makannya, disaring dulu kata-kata gue dulu. Gue kan ga bilang anak lo sakit." kata Zio santai sambil menyeruput kembali lemon tea nya.
"Dasar lo ya Zi!" umpat Nilam sambil melempar bantal sofa ke tubuh adiknya.
Saat mereka sedang bertengkar dalam canda, terdengar suara bi Saodah dari lantai atas minta tolong.
"Mas Zio, tolong! Nyonya!" teriak Bi Saodah.
Zio, Nilam dan Diego segera berlari ke ember suara.
Tampak oleh mereka, tubuh bu Suyamti yang sudah tergeletak lemas di lantai depan kamarnya, dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Astaga, mama demam." kata Zio yang langsung memangku tubuh mamanya.
"Panggil dokter Andi bi!" titah Zio pada bi Saodah yang sudah terbiasa dengan dokter keluarga mereka.
"Baik Den." kata bi Saodah.
Zio segera mengangkat tubuh Mamanya dan menggendongnya dibawa ke ranjang mamanya.
Nilam dan Diego hanya diam membisu dengan air yang tak henti mengalir dari mata. Mereka sangat khawatir dengan keadaan bu Suyamti, terlebih Nilam, yang merasa sangat bersalah dengan keadaan mamanya yang sekarang, karena baginya mamanya seperti sekarang karena masalahnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ponsel Nilam tanda ada panggilan masuk.
"Mas Pian?" gumam Nilam. Nilampun segera ke luar kamar mamanya untuk mengangkat telpon dari suaminya.
📞Mas Pian
'Halo sayang, kenapa sayang, kok miscall berkali kali, ngecahat berkali kali? Kamu kangen sama mas ya?' tanya Pian dari seberang.
"Kamu kemana aja sih mas? Hah?" tanya Nilam judes.
'Ya kerja lah sayang. Aku lagi tugas kemarin sore sampe pagi, abis itu aku kecapekan, terus tidur, dan ini baru bangun tidur.' kata Pian menjelaskan.
"Aku ga tau ya, itu omongan kamu bener aau engga. Yang jelas, kapan kamu pulang? Aku mau ngomong!" kata Nilam dengan judes.
'Ya masih lama lah sayang. Kan baru kemarin mas berangkat, kamu udah kangen?' tanya Pian.
"Okey, kalo gitu, aku tanya di telpon aja. Siapa Sinta? Dan siapa Roy?" tanya Nilam penuh amarah.
'Maksud kamu apa sih sayang? Aku ga ngerti'
'Apa maksud kamu sayang? Mas masih ga ngerti!'
"Kamu..." kata Nilam terhenti, tak kuat berkata lagi, badannya lemas, gemetar menahan amarah yang membuncah, kepalanya terasa panas.
"Sini, biar gue yang ngomong!" kata Zio mengambil alih ponsel Nilam.
"Elo dimana mas?" tanya Zio.
'Dikamar.' jawab Pian.
"Sama siapa?" tanya Zio.
'Ya sendiri lah Zi. Kemana mbakmu tadi?' Pian mengalihkan pembicaraan.
"Asal lo tau, gara-gara elo, nyawa keponakan gue, dan nyawa nyokap gue dalam bahaya, termasuk istri elo!" kata Zio memberi penekanan.
"Emang mereka kenapa Zi?" tanya Pian.
"Mereka sudah tau masa lalu elo mas." jawab Zion.
Seketika Pian di seberang terdiam.
"Ehm,Terus, gue harus gimana Zi?" tanya Pian.
__ADS_1
"Ya elo jelasin apa adanya lah sama mbak
Nilam!" kata Dzen.
"Ehm, okey, nanti gue bilang sama dia."
'Gara gara elo, mbak gue syok, dia frustasi, mama jantungnya kambuh, dan Diego kemarin jadi korban pembullyan dan dia juga hampir kena kejiwaannya kalau ga segera kabur dari asrama. Jadi gue harap, elo bisa mikir.!" kata Zio tajam.
"Gue ga mah kehilangan mereka. Ngerti lo?" lanjut Zio.
Hening
"Mas?" panggil Zio.
'Besok kalau udah sampe daratan, gue akan segera balik Zi.'
"Bagus. Dan lo juga harus segera beresin urusan elo sama Sinta dan Roy!" kata Zio.
'Tapi Zi...'
"Urusan elo itu akarnya dari mereka ." kata Zio lagi.
'Okey.'
"Maaf den Zio, itu dokter Andi sudah datangn" kata bi Saodah.
"Ya udah. Dokter yang memeriksa mama udah dateng, gue pegang janji lo!" kata Zio.
'Ya Zi. Gue titip anak dan istri gue juga.' kata Pian.
Sambungan terputus. Ziopun segera menuju kamar mamanya bersama Nilam yang juga masih sesenggukan. Di dalam, bu Suyamti sudah diperiksa dokter Andi dengan didampingi Diego.
"Bagaimana keadaan mama saya dok?" tanya Zio.
"Bu Suyamti butuh waktu istirahat. Tidak hanya fisiknya saja, fikiran nya juga. Karena bu Suyamti berfikir terlalu berat hingga tidak bisa tidur, menyebabkan tensi darahnya naik, dan kecapekan." kata dokter Andi.
"Ini saya beri resepnya ya." lanjut dokter Andi sambil menuliskan resep.
"Terimakasih banyak dok." kata Nilam
"Apa mama harus di bawa ke rumah sakit dok?" tanya Zio.
"Jika meminum obat yang saya resepkan nanti tidak ada perubahan, langsung bawa saja ke IGD agar ditindak lanjuti." kata Dokter Andi.
"Baik dok." kata Zio.
"Bu Suyamti baru saja saya suntik, sehingga beliau memang masih kena efek obat tidur. Nadia, tolong dijaga dulu." kata dokter Andi.
"Baik dok." jawab Nilam.
"Saya permisi dulu." kata Dokter Andi.
"Mari, saya antarkan." kata Zio.
__ADS_1
Ziopun mengantar dokter Andi keluar kamar mamanya, hingga di parkiran.