Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Koma


__ADS_3

Pagi seusai sholat subuh, bu Mia segera menghampiri pak Yuda.


"Pa, perasaan mama ga enak ini pa. Coba telpon pengurus asrama sekarang pa." pinta bu Mia dengan masih memakai mukena.


"Tapi ma..." kata pak Yuda terputus oleh bu Mia lagi.


"Ga ada tapi-tapian lagi. Perasaan mama engga enak pa." kata bu Mia lagi.


Pak Yuda menuruti istrinya, segera mengambil ponselnya dan menelpon pengurus asrama.


๐Ÿ“žAsrama Shanum


"Halo, assalamualaikum." salam pak Yuda


'Wa'alaikumsalam. Ya pak, ada yang bisa kami bantu?' jawab pengurus asrama.


"Maaf, bu. Apakaha saya bisa bicara dengan bu Shanum? Karena sedari tadi malam, ponselnya tidak aktif." kata pak Yuda.


'Oh, baik pak. Sebentar, kami tengok ke kamarnya dulu.


Beberapa waktu menunggu, terdengar suara diseberang sedang mengetuk pintu dan mengucap salam, hingga beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Pengurus asrama curiga, begitupun dengan pak Yuda dan bu Mia yang terus tegang mendengarkan dari telepon.


'Sebentar ya pak, kami carikan kunci duplikat dulu, karena tidak biasanya bu Shanum jam segini belum bangun dari tidurnya.'


"Baik bu."


Dan beberapa saat kemudian, terdengar suara histeris dari seberang.


'Astaghfirullah!' pekik pengurus asrama yang membawa telpon.


"Ada apa bu?" tanya pak Yuda panik.


'Pak, bu Shanum.' kata orang diseberang panik.


"Shanum kenapa bu?"


"Kenapa pa, Shanum kenapa?" tanya bu Mia panik.


'Maaf pak, kami harus segera bawa bu Shanum ke rumah sakit dulu.'


Tut tut tut


Panggilan tiba-tiba terputus.


"Pa, Shanum kenapa pa?" tanya bu Mia ada pak Yuda yang mematung dengan panik dan berderai air mata.


"Shanum dibawa kerumah sakit." kata pak Yuda lemas, terduduk dilantai.


๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Sedangkan dalam perjalanan, Dzen dan Mutiara saling membisu sejak percakapan yang membuat baper tadi. Saat sudah mulai keluar dari tol, Dzen bertanya kepada Mutiara.

__ADS_1


"Ehm, Tiara."


"Ya mas?"


"Mau mampir mampir dulu, apa langsung ke kosan?" tanya Dzen.


"Ehm, langsung ke kosan aja mas." jawab Mutiara.


"Okey." jawab Dzen.


Mereka kembali terdiam, sibuk dengan perasaan masing-masing.


Hingga suara ponsel Dzen berdering, sedangkan Dzen hanya melihat layar ponselnya.


"Shanun?"


๐Ÿ“žShanum


"Halo assalamualaikum, Num." dalam Dzen.


'Wa'alaikumsalam. Maaf, benar ini dengan yang berna Dzen?'


"Ya benar. Saya sendiri. Ini siapa ya?" tanya Dzen melambatkan laju mobilnya. Karena dia merasa aneh, bukan Shanum yang bicara.


'Saya tantenya Shanum mas. Maaf mas, bisa minta tolong ke rumah sakit daerah semarang sekarang? Saya mohon mas, keponakan saya sangat membutuhkan anda.' suara seorang wanita di seberang dengan suara khas orang menangis.


"Kenapa dengan Shanum?" tanya Dzen seketika dia menepikan mobilnya dan menghentikan mobilnya sebentar.


'Shanum koma mas.'


"Innalillahi. Okey saya segera ke sana." kata Dzen mulai panik.


Panggilan terputus, Dzenpun menoleh ke arah Mutiara yang sejak tadi menatap Dzen dengan tegang.


"Aku harus ke rumah sakit, sekarang." kata Dzen menatap Mutiara. Mutiara mengangguk mantap.


"Langsung saja ke sana mas." kata Mutiara.


"Kamu?"


"Aku ikut mas Dzen." jawab Mutiara mantab.


"Okey." jawab Dzen langsung melakukan mobilnya menuju RSUD.


Beberapa waktu kemudian, mereka telah tiba di rumah sakit, dan Dzen segera melangkah menuju Ruang ICU, tempat Shanum dirawat, diikuti Mutiara dari belakang.


"Assalamualaikum." salam Dzen sesampainya di ruang rawat Shanum, setelah tadi bertanya di pusat informasi.


"Wa'alaikumsalam." jawab Sepadang suami istri paruh baya.


"Maaf. Apa benar anda yang bernama Dzen?" tanya Bu Mia, yang mengetahui wajah itu dari foto yang terdapat di dompet keponakannya

__ADS_1


"Ya bu, saya Dzen."


"Tolong keponakan kami mas." kata Bu Mia memegang tangan Dzen memohon dengan linangan air mata.


"Shanum kenapa bu?" tanya Dzen mencoba tenang.


"Shanum mencoba bunuh diri mas, dia meminum obat nyamuk, untungnya tadi pas di cek, nadinya masih, tetapi sangat lemah." kata bu Mia menceritakan kesaksian pengurus asrama yang tadi mendapati keadaan Shanum saat dia membuka pintu kamarnya.


"Astagfirullah." seketika Dzen dan Mutiara beristighfar.


Saat Dzen baru berbincang dengan bu Mia, tiba-tiba Dokter keluar dari Ruang ICU.


"Dokter, gimana keadaan keponakan kami." tanya bu Mia dengan terus menangis.


"Dokter Dion?" kata Dzen lirih, Dzen baru paham, ketika dokter spesialis Psikiater itu keluar dari ruang rawat Shanum.


"Apa yang terjadi dengan sahabat saya dok?" tanya Dzen kepada dokter Dion.


"Pasien di dalam itu, sahabatmu?" tanya dokter Dion.


"Iya." jawab Dzen.


"Kita bisa bicara dulu?" tanya Dokter Dion menoleh ke arah Dzen dan pak Yuda. Dzenpun mengangguk, lalu diikuti pak Yuda.


Namun, saat Dzen melangkah baru dua langkah. Dzen berbalik badan menoleh ke rah Mutiara.


"Ehm, Tiara?" Dzen meminta ijin untuk meninggalkannya. Tanpa berkata, Mutiaraengangguk dengan tersenyum tulus kepadanya.


Dzenpun berbincang dengan dokter Dion. Dokter Dion menjelaskan bahwa Shanum mengalami tekanan batin lagi, emosinya sedang tidak terkontrol, dan dia sedang tidak dalam pendampingan, sehingga kejadian tak diinginkan kembali terjadi. Kemudian, setelah mendapat keterangan dari dokter Dion, Dzen dan pak Yuda keluar ruangan dan Dzenpun mencari informasi dulu terkait Shanum kepada pak Yuda.


"Kami menemukan foto nak Dzen di dompet Shanum, yang tertulis 'I Love U Dzen', karena selain foto anda, ada foto mamanya juga di sana, namun, kami yakin. ada hubungannya antara anda dengan Shanum, kamipun segera mencari kontak bernama Dzen di ponsel Shanum, dan ternyata benar ada, sehingga kami segera menelpon anda mas." kata Pak Yuda.


Dzen mengangguk paham, bu Mia terus sesenggukan, dan mencoba berbicara, sedangkan Mutiara hanya diam mendengar dengan seksama.


"Kami mengaku kami salah mas, kami udah bikin Shanum terganggu lagi kejiwaannya, Kami sama sekali tidak tau kalau Shanum mencintai anda mas. Shanum sangat tertutup orangnya, bahkan kemarin dia sempat bilang, kalau dia tak mau menikah sama sekali. hingga malam itupun terjadi, dia pergi ke Jakarta, dengan kondisi emosi yang kurang baik.


"Ehm, begitu?"


"Kami sama sekali tidak tau mas, apa alasan dia tidak mau menikah. Setiap kami tanya, dia justru marah, dan sering salah tangkap dengan kami, dikiranya kami sudah bosan dan keberatan merawat dirinya" kata bu Mia.


"Ehm,..." lagi lagi Dzen hanya fokus mendengar cerita dari om dan tantenya Shanum.


Tak lama kemudian, perawat keluar dari ruangan Shanum.


"Maaf. ada yang bernama Dzen? tanya perawat. Seketika Dzden beranjak dari duduknya.


"Saya." kata Dzen.


"Pasien penyebut nama Anda terus.' kata perawat.


"Okey., saya ke sana sekarang." kata Dzen.

__ADS_1


.


__ADS_2