Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Gugup


__ADS_3

Dzen melajukan motor milik Mutiara menuju kampus negeri itu, namun saat akan sampai di kampus, ponselnya terasa bergetar di dalam kantongnya, ada panggilan masuk.


📞Papa


'Halo, Dzen.' kata bu Lastri.


"Ya bu? Ada apa?" jawab Dzen yang menelponnya ternyata ibu tirinya.


'Ini, papamu bilang, katanya papa mau ketemu sama gadis yang kamu suka dulu, sekalian jalan menjemput dia." kata bu Lastri.


"Ha? Papa mau ketemu Tiara?'


'Iya Dzen. Bisa kan?' tanya bu Lastri.


"Ya nanti Dzen bilang sama dia bu."


'Okey, kami tunggu.'


Sambungan telepon terputus, Dzen diam sejenak.


"Duh, Tiara mau ga ya aku ajak ketemu papa? Dengan tampilan Tiara seperti itu, kira-kira papa berubah pikiran ga ya? Duh, aku kok jadi deg degan gini ya?" batin Dzen.


"Ah, bismillah. Niat baik pasti akan ada jalan." gumam Dzen sambil kembali melakukan motornya.


Sesampainya di depan gedung fakultasnya Mutiara, Dzen mengambil ponselnya, namun belum sempat menghubungi gadisnya, Mutiara justru sudah muncul di dekatnya.


"Mas." panggil Mutiara.


"Eh, Tiara. Baru aja mas mau telpon. Maaf, nunggu lama?" tanya Dzen.


"Gapapa." jawab Mutiara tersenyum tulus.


"Tadi papa pingsan, jadi mas meriksa papa dulu." kata Dzen.


"Papa? Papanya mas Dzen?" tanya Mutiara.


"Iya."


"Ini di sini?" tanya Mutiara.


"Bukan, tapi di rumah." jawab Dzen.


"Ya itu maksudnya." kata Mutiara menepis angin di depan wajahnya.


"Tiara."


"Ya mas?"


"Ehm..."


"Kenapa? Ada masalah? Motornya mogok?" tanya Mutiara melihat-lihat motornya yang tampak baik-baik saja.


"Papa mau ketemu kamu." kata Dzen ragu ragu.


"Ha? Apa? Ketemu? Sama Tiara?" Tiara terkejut.


"I iya. Kenapa? Tiara, ga mau ya?" tanya Dzen.


"Ehm..."


"Tiara mau ya. Please." kata Dzen memohon.


"Tapi..."


"Mas akan selalu di dekatmu kok nanti, kalau Tiara ga bisa jawab, nanti mas yang jawab." kata Dzen yang menduga Mutiara takut diinterogasi sama papanya.


"Bukan, bukan itu mas."

__ADS_1


"Terus, apa dong?"


"Tiara seharian beraktivitas di kampus mas, keringetan, bau kecut, belum mandi. Wajah kumut-kumut gini. Ga pede ah mas." kata Mutiara.


"Kumut-kumut tapi imut kok." kata Dzen menggombal.


"Mulai deh." kata Mutiara malu.


"Serius."


"Ehm, misal Tiara pulang ke kosan dulu gimana mas? Tiara mandi dulu gitu. Biar seger." kata Mutiara.


"Okey, tapi ga usah ke salon ya. Mas mau kenalin calon istri mas ini dengan apa adanya." kata Dzen modus biar ga lama lama di salon.


"Ya engga lah mas. Ngapain ke salon? Kasian papa nya mas nunggu kelamaan." kata Mutiara.


"Okey, gas yuk. Mas anterin kamu pulang dulu." kata Dzen.


"Ya mas."


Mutiara pun membonceng Dzen dengan mencengklak, dengan tangannya berpegangan jok, tanpa menyentuh Dzen sama sekali. Itu yang setiap kali dia lakukan setiap kali berboncengan dengan Dzen.


Sesampainya di kosan,


"Daripada mas nunggu kamu di sini, mending mas nunggu sambil jalan-jalan dulu ya." kata Dzen.


"Oh. ya mas. Sekalian deh, tolong beliin wedang ronde di depan kantor BPR, buat oleh-oleh papanya mas Dzen di rumah." pinta Mutiara.


"Okey, siap. Jangan lama-lama ya dandannya, entar keliatan cantiknya." goda Dzen.


"Hem Mulai." kata Mutiara yang langsung memutar badan menuju ke dalam.


Dzen menatap punggung Mutiara dengan senyum senyum sendiri.


"Semoga papa benar-benar mau menerima mu Tiara." batin Dzen yang mendadak khawatir jika nanti Mutiara sakit hati atas sikap papanya.


📩Mutiara Hati


Mas, Tiara udah siap.


📨Mutiara Hati


Ok


Sesampainya di depan kosan, betapa terpesonanya Dzen melihat Mutiara yang tampak cantik dan anggun dengan busana dress yang dia jadikan kemarin.


"Kamu cantik." kata Dzen tak sadarkan diri dengan tetap menatap wajah Mutiara.


"Menundukkan pandangan itu adalah perhiasan bagi laki-laki mas." kata Mutiara yang bukannya tersipu malu, justru Dzen yang jadi tersipu karena mendapat nasehat dari calon istrinya.


"Maaf." kata Dzen.


"Ya udah yuk. Keburu malem." kata Dzen.


Mutiarapun segera membonceng, lalu motor melaju menuju apartemen Dzen. Sesampainya di basemant, Mutiara berjalan mengekor Dzen, karena ini kali pertama Mutiara masuk gedung apartemen.


"Ehm, kamu kaya gugup gitu Tiara. Are you ok?" tanya Dzen.


"Eh. ehm. InshaaAllah."


"Bismillah. InshaaAllah semua akan baik-baik saja." kata Dzen.


"Ya mas."


"Tegang ya mau ketemu calon mertua?"


"Ehm, engga."

__ADS_1


"Engga salah? Kalau takut, apa perlu mas genggam tangan Tiara biar ga gugup lagi?" tanya Dzen yang seketika mendapat sorotan tajam dari Mutiara.


"Sorry. Just Keed." kata Dzen meringis kuda sambil mengangkat kedua jarinya (telunjuk dan jari tengahnya).


Merekapun berjalan memasuki rumah Dzen. Dzen memencet tombol bel. Dan tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Sosok seorang wanita paruh baya dengan rambut di gelung, tersenyum ramah menyambut mereka.


"Assalamu'alaikum tante." sapa Mutiara ramah dengan senyum tulus kepada bu Lastri.


"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk." kata bu Lastri ramah.


Merekapun masuk rumah lalu ke kamar Dzen untuk menemui pak Panca.


"Ehm, maaf tante, ini ada sedikit oleh-oleh, wedang ronde untuk menghangatkan tubuh om dan tante." kata Mutiara menyerahkan wedang ronde kepada bu Lastri.


"Terimakasih..." kata bu Lastri terhenti karena lupa nama gadis ini.


"Tiara tante." kata Mutiara ramah.


"Oh, ya Tiara. Silakan masuk. Ikut Dzen." kata bu Lastri.


"Cantik juga gadis ini, memang terlihat gadis kampung sih, polis, tetapi cantik, elegan. Dandanannya sangat sederhana, tetapi kecantikannya terpancar dari dalam. Sepertinya gadis ini tidak mengenal Skin Care dan salon. Polos sekali." batin bu Lastri yang diam diam menilai Mutiara dari segala sisi.


"Assalamualaikum pa." salam Dzen sambil membuka pintu kamar.


"Wa'alaikumsalam." jawab pak Panca menoleh ke sumber suara.


"Selamat sore om." sapa Mutiara tersenyum ramah pada pak Panca.


"Sore. Namamu siapa?" tanya pak Panca.


"Mutiara Hati om, Panggil saja Tiara." kata Mutiara sopan.


"Kamu sudah bekerja atau masih kuliah?" tanya pak Panca basa basi.


"Saya masih kuliah om. Semester Enam." jawab Mutiara.


"Oh..."


"Dia juga sambil bekerja pa, dia bekerja di pasar setiap dini hari sampai pagi hari sebelum kuliah, dia kuliah jalur bidikmisi, sehingga harus menyelesaikan kuliahnya dulu, baru menikah, dia juga menyambi asisten dosen, selain itu, dia aktivis kampus juga pa." kata Dzen yang menjelaskan tentang semua kehidupan Mutiara selama di Semarang.


"Sebegitu banyak kegiatan mu?" tanya pak Panca tak percaya. Mutiara hanya mengangguk.


Saat akan bertanya lagi, bu Lastri datang membawakan wedang ronde yang sudah dipindah di gelas untuk pak Panca.


"Pa, ini ada oleh-oleh dari Tiara, wedang ronde. Lumayan enak untuk menghangatkan tubuh pa." kata bu Lastri menyajikan untuk suaminya.


"Ini pun dia beli dengan hasil keringat dia sendiri. Bukan pemberian dari orang tuanya. Ataupun dari Dzen, karena dia wanita pekerja keras, dan cerdas. Sehingga dia berprestasi di kampusnya." kata Dzen yang lagi-lagi mengunggulkan kelebihan dari sosok gadis yang sempat dipandang sebelah mata oleh papanya.


"Terimakasih." kata pak Panca.


Mutiara hanya menunduk, dia benar-benar tak percaya, kalau Dzen akan mengungkapkan semua tentang dirinya yang sesungguhnya kepada mama dan papanya.


"Duduklah nak, bisakah kita mengobrol dahulu?" tanya pak Panca ramah dan bersahabat dengan Mutiara.


"Ehm, maaf om, sudah adzan. Tiara mau ijin sholat maghrib dulu, nanti InshaaAllah setelag Sholat, saya akan duduk di sini." tolak Mutiara lembut.


"Oh, ya. Baiklah." kata pak Panca.


"Kita sholat berjamaah ya Ram" kata Dzen.


"Mas ga sholat ke masjid?" tanya Mutiara.


"Lha iya, jamaah di masjid. Ayo ikut mas." kata Dzen.


"Oh, ya mas." jawab Mutiara malu karena ke geeran. Lalu mengekor Dzen keluar rumahnya.


Diam diam pak Panca menilai sosok gadis yang baru saja dikenalnya.

__ADS_1


__ADS_2