
Pagi itu, adzan subuh berkumandang, Mutiara yang sudah terbiasa bangun pagi, untuk menjalankan kewajibannya tanpa menunggu alarm maupun dibangunkan teman, dia sudah lebih dulu bangun dan mandi terlebih dahulu, sebelum sholat subuh. Banyak temannya yang masih tertidur pulas setelah semalam menghadapi perdebatan yang panas di ruang sidang. Termasuk Meylani. Karena memang, Meylani berbeda akidah dengan Mutiara, sehingga Mutiara memutuskan berangkat ke masjid sendiri untuk menjalankan ibadah sholat subuh secara berjamaah.
Setelah selesai sholat, Mutiara duduk di teras sambil membuka ponselnya yang sejak kemarin tak di hiraukan nya.
"Astaghfirullah. Tumben Kenzo miscall sampe lima kali." gumam Mutiara.
Kemudian Mutiara membuka beberapa pesan yang masuk, mencari tau, mungkin Kenzo mengirim pesan, namun tidak dia temukan. Hanya ada pesan dari beberapa grup, dan beberapa temannya. Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah pesan dari Dzen.
📩Mas Salah Sambung
Assalamualaikum. Tiara. Aku cuma ngabarin aja, ini mobilku udah jadi. Seperti pesanmu, motormu aku kasihkan ke Kenzo.
📩Mas Salah Sambung
Tiara, Kenzo barusan dapet telpon dari Solo, bahwa bapaknya kecelakaan, dan ibunya meminta Kenzo segera pulanh ke Solo. Jadi ini tadi motormu dibawa Kenzo pulang ke Solo. Dia mau minta ijin kamu lewat telpon, tapi katanya ga diangkat2.
📩Mas Salah Sambung
Nanti kalau acara kampus sudah selesai, kamu bisa hubungi aku ya Ra. Nanti biar aku jemput.
Beberapa pesan dari Dzen membuat Mutiara kaget mendapat kabar itu. Seketika Mutiara mencari kontak Kenzo dan menelponnya.
"Udah subuh, harusnya dia udah bangun." gumam Mutiara.
Tuuut tuuut
Nada sambungan terdengar jelas.
📞Kenzo
'Halo mbak. Assalamualaikum.'
"Halo Ken, Wa'alaikumsalam. Ken, apa bener kata Mas Dzen? Paklik kecelakaan?" tanya Mutiara.
'Iya mbak. Kemarin pas ibu nelpon, Ken pas lagi bareng sama mas Dzen.'
"Trus sekarang kabar paklik gimana?"
'Bapak udah melewati masa kritisnya mbak. Udah sadar. Rencananya kalau ga hari ini ya besok, bapak akan menjalani oprasi mbak.'
"Emang kecelakaan apa? Apanya yang parah?" tanya Mutiara.
'Bapak kemarin jatuh dari gedung, proyek yang digarapnya mbak. Ini tangan kanan sama kakinya yang parah mbak.'
"Emang paklik dirawat dimana?"
'Di Rumah Sakit dr.Moewardi mbak.'
"Ya udah, kamu disana sama siapa?"
'Sama ibu mbak. Tapi ibu ya wira wiri, kan harus ngurusin mbah juga mbak.'
"Oya, mbak mungkin bisanya nyusul pulang besok atau lusa ya Ken, maaf mbak belum bisa ikut ke Solo."
'Iya mbak, wis santai wae. Mbak Tiara selesaikan dulu acara di kampusnya.'
"Iya Ken."
__ADS_1
'Ini motore tak bawa lho mbak.'
"Iya. Gapapa."
'Lha besok kalo mau pulang ke Solo gimana?' tanya Kenzo.
"Gampang, ga usah dipikir."
'Sama mas Dzen aja mbak. Kemarin mas Dzen bilang dia siap nganter mbak Tiara.'
"Heleh, entar ngerepotin. Mas Dzen kan sibuk. Wis nanti gampang." kata Mutiara.
'Yawis mbak. Aku harus segera balik ke ruangan bapak iki mbak.' kata Kenzo.
"Oh. ya Ken. Nitip salam ya buat bulik sama paklik."
'Iya mbak. Wis ya. Assalamualaikum.'
"Wa'alaikumsalam." jawab Mutiara.
Setelah memutuskan panggilan, Mutiarapun terkaget oleh kedatangan seseorang dari arah belakang.
"Assalamualaikum Tiara." panggil Yusuf.
"Eh, wa'alaikumsalam kak Yusuf."
"Afwan, sendirian aja?" Yusuf yang ternyata bersama Fahri.
"Ada kak Fahri juga? Iya kak, temen temen masih pada tidur." kata Mutiara.
"Ehm. Wajar sih, semalem tu lumayan memeras tenaga dan fikiran, apalagi sampe Tengah malem begitu." kata Fahri.
"Ehm. Belum sih kak, pingin jalan-jalan dulu, menghirup udara segar, biar lebih fresh, biar ga terlalu tegang." kata Mutiara.
"Gimana kalo kita jalan-jalan dulu aja Ra?" usul Fahri.
"Boleh tu kak." jawab Mutiara bersemangat.
Saat perjalanan, Mutiara sambil memainkan ponselnya menjawab pesna dari Dzen.
📩Mas Salah Sambung
Assalamualaikum Tiara. Sudah bangun belum? Sholat dulu.
Mutiara tersenyum mendapat pesan itu dari Dzen.
📨Mas Salah Sambung
Wa'alaikumsalam mas Dzen. alhamdulillah sudah selsai sholat mas. Ini jalan-jalan dulu biar nanti di acara penutupan tidak terlalu tegang.
📩Mas Salah Sambung
Oh ya Ra. Nanti kalau udah selsai acaranya, kabarin ya, kemarin Kenzo nititpin kamu ke aku.
Mutiara tersenyum menanggapi pesan dari Dzen.
📨Mas Salah Sambung
__ADS_1
Ok
"Ehm, Tiara. Kenapa Nadia ga kamu ajak ikut LDK sih? Kan biar banyak temen juga. Kalian kan tiga serangkai, apa ga merasa gimana gitu berkegiatan sendiri tanpa mereka?" tanya Fahri.
"Udah pernah Tiara tawarin sih kak, tapi dia belum berminat katanya." jawab Mutiara.
"Kalau Tiara, motivasinya untuk ikut LDK apa?" tanya Yusuf.
"Ehm, ya pingin belajar lagi aja kak di luar jam kuliah." kata Mutiara.
"Owh, iya sih. Apalagi di LDK, banyak manfaatnya ikut LDK." kata Yusuf.
"Hem, modus." kata Fahri mengejek Yusuf.
"Modus gimana sih Ri?" tanya Yusuf.
"Ya modus, biar Tiara tetap bertahan di LDK." jawab Fahri.
"Ya engga lah Ri." tolak Yusuf mengingkari.
"Ehm, sudah sudah kak. Ehm. rencana nanti LDK mau diamanahkan ke siapa kak?" tanya Mutiara melerai.
"Ehm. Siapa ya?" kata Fahri.
"Kalau ana ada usulan. Memilih Faqih sebagai ketua LDK. Gimana?" usul Yusuf.
"Boleh tu. Si Faqih orangnya baik dan amanah InshaaAllah." kata Fahri lagi.
"Tiara, ada pandangan?" tanya Yusuf.
"Tiara ngikut aja kak, soalnya ga terlalu hafal dengan karakter temen temen ikhwan." kata Mutiara.
Merekapun berbincang terkait LDK hingga tak terasa mereka telah selesai mengelilingi tiga gedung di kampus itu, lalu masuk ke gedung dimana acara kongres dilaksanakan.
"Ya ampun Tiara, kamu kemana aja sih? Aku nyariin kamu lho." tanya Meylanu sesampainya Mutiara tiba di ruang istirahat.
"Hehe, maaf mbak. Tadi Tiara abis jalan-jalan." jawab Mutiara.
"Oya Ra, nanti rencananya hari ini hari terakhir, kemarin kamu dianter kan. gimana kalo nanti pulangnya bareng aku aja?" tawar Meylani.
"Ehm, gimana ya mbak?" tanya Mutiara ragu.
"Mau dijemput mas dokter ganteng lagi? Kan acara kita ga tau jam berapa selesainya Ra, ya kalau dia pas ga sibuk? Kalau dia lagi ada pasien, gimana coba?" tanya Meylani.
Setelah difikir-fikir, ada benarnya juga pendapat Meylani.
"Aku bawa mobil sendiri kok Ra, jadi nanti kamu gampang nyimpen barang bawaan kamu." kata Meylani lagi.
"Emang rumah mbak Mey mana?" tanya Mutiara.
"Deket rumahnya Fathan, daerah alun-alun masih ke selatan lagi sekitar 2 kilometer." jawab Meylani.
"Kita brati ga seasah mbak." kata Mutiara menyimpulkan.
"Ga masalah. Pokoknya aku anterin ya Ra." kata Meylani setengah memaksa.
"Ehm, ya udah. Iya mbak. InshaaAllah." jawab Mutiara pasrah.
__ADS_1
Setelah percakapan itu, Mutiara mengabari Dzen, bahwa dirinya tak perlu dijemput, karena dia akan bersama teman perempuan nya. Dan Dzenpun membalasnya dengan senyuman saja.