Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Secangkir Kopi


__ADS_3

Malam semakin larut, dan jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam, Persidangan baru selesai karena ada perdebatan sengit di sidang Pleno malam itu. Hingga akhirnya terselesaikan secara damai, lalu beberapa peserta kongres keluar dari aula dan menuju ruang istirahat masing-masing. Namun tidak dengan Mutiara yang masih berkutat denga leptop di depannya dengan tatapan masih lurus ke layar leptop.


"Tiara, kakak tinggal ke toilet bentar ya." kata Fathan berpamitan.


"Ya kak." jawab Mutiara sebentar menoleh ke arah Fathan.


Selang beberapa menit setelah kepergian Fathan,Rico datang dengan tatapan dinginnya.


"Ini malam terakhir, saya harap besok notulen hasil sidang pleno tadi dan yang kemarin-kemarin sudah kamu rapikan, dan besok kita pulang dengan urusan administrasi yang sudah beres." kata Rico dingin.


"Ya kak. InshaaAllah." jawab Mutiara ramah.


Ricopun pergi begitu saja tanpa permisi dengan sikap angkuhnya.


"Dasar kolonial Belanda. Dikira kamu ini kerja rodi apa? Main perintah aja tanpa upah." omel Meylani datang tiba-tiba di depan Mutiara.


"Eh, mbak Mey disini. Kok ngomel ngomel mbak? Kenapa?" tanya Mutiara yang masih berkutat denga leptop nya.


"Itu, emang kamu ga sebel Ra sama perlakuannya tu si Rico ke kamu? Heran deh, orang kaya dia kok bisa kepilih jadi ketua MPM sih?" kata Meylani yang kemudian duduk di kursi dekat Mutiara sambil ikut melihat pekerjaan Mutiara.


"Ya, biasa mbak. Gapapa. Itung-itung buat belajar." kata Mutiara.


"Ada kesulitan ga Ra?" tanya Meylani sambil melihat ke layar leptop.


"InshaaAllah ga ada sih mbak." kata Mutiara.


"Hem, dasar tu ya kolonial Belanda, dari kemarin tu udah gatel rasanya pingin bejek bejek dia biar ga semena-mena sama orang baru." kata Meylani dengan memainkan tinju tangannya.


"Mbak Mey suka ya sama ka Rico?" tebak Mutiara.


"Hah? Apa? Suka? Ya ga mungkinlah Ra, orang kaya dia tu ga pantes disukain. Cewek yang jadi pasangannya bakal pusing dan frustasi ngadepin orang kaya dia." kata Meylani lagi.


"Hati-hati lho mbak, benci bisa jadi benar benar cinta." goda Mutiara.


"Ish, Amit amit kalo aku suka sama dia. jangan sampe deh." kata Meylani.


Mutiara hanya tersenyum menanggapi sikap Meylani.

__ADS_1


"Ih, Kalau aku jadi kamu nih Ra, udah aku omelin abis-abisan tu orang." kata Meylani lagi.


"Ehem, makannya, Kamu ga dipilih jadi notulen, biar ga kebanyakan suara." kata Fathan tiba-tiba datang membawa secangkir kopi yang dia berikan untuk Mutiara.


"Kopi Ra. Diminum." kata Fathan dengan senyum manisnya.


"Eh, Than, main nongol aja kamu. Tumben kamu bikin kopi buat orang lain? Buat aku mana?" tanya Meylani.


"Bikin sendiri lah. Ini khusus buat Notulen yang kerjanya ga kenal waktu " kata Fathan.


"Maaf kak, tapi Tiara engga ngopi." kata Mutiara menolak dengan lembut.


"Sukurin. Dah, buat aku aja dah." kata Meylani menyerobot kopi yang diletakkan Fathan didekat tangan Mutiara, lalu diminumnya tanpa meminta persetujuan Mutiara ataupun Fathan yang membuatkan.


"Ehm, rasanya kok beda ya? Wah, jangan jangan kamu kasih sesuatu nih Than. Hayo ngaku, kamu kasih apa?" kata Meylani menuduh.


"Eh, apaan? Aku ga kasih apa-apa." kata Fathan dengan wajah tak suka.


"Obat tidur, apa pelet?" tebak Meylani lagi.


"Astaga Mey, sebejat-bejatnya aku, aku ga kaya gitu juga kali Mey. Pake cara ga mutu kaya begitu ga level buatku. Orang dengan senyuman mautku aja cewek cewek dah pada klepek-klepek." kata Fathan dengan pede nya.


"Hahaha, bilang aja kamu jeles sama aku Mey." kata Fathan mengejek.


"Ish apaan? Ga level!" kata Meylani.


Mutiara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol kaka tingkatnya itu.


"Ya udah Ra, kamu ini aja. Teh hangat manis, sehangat pelukanku dan semanis senyumanku." kata Fathan lagi sambil memberikan cup berisi teh hangat.


"Huek... amit-amit Than, lebay banget sih? Jangan mau Ra, entar itu dikasih jampi-jampi sama dia, jurus semar mesem lho." kata Meylani ala-ala orang jawa.


"Heh, sembarangan aja kamu Mey. Engga Ra, engga. Jangan percaya sama Mey. Kamu ni Mey, tengah malem gini kok malah ngomongin pelet, jampi-jampi, bikin bergidik tau ga sih." kata Fathan.


"Sini Ra, aku incip dulu. Kalau ada pelet atau racunnya, biar aku duluan yang kena." kata Meylani mengambil cup berisi teh hangat yang diberikan Fathan.


"Enak aja. Ini buat Tiara, bukan buat kamu, kalo kamu incip dulu, entar Tiara ketularan penyakit rabiesmu." kata Fathan sambil menyerobot cup di tangan Meylani.

__ADS_1


"Udah udah, kak Fathan mbak Mey. Ini udah malem, entar mas Rico ke sini, kalian kena marah lho. Entar Tiara jadi imbasnya lagi." kata Mutiara melerai pertengkaran dua sahabat itu.


"Hehehe, sorry ya Ra. Biasa kita ni emang suka begini." kata Fathan mencoba tersenyum dengan sikap biasa-biasa saja.


"Iya Ra. Sorry." kata Meylani juga.


"Perlu bantuan lagi ga Ra?" tanya Fathan.


"Ini sih kak, cuma tinggal ngerapiin aja." kata Mutiara menunjukkan hasil sidang malam ini.


"Tadi Rico bilang ke Tiara, dia minta besok hasil pleno malam ini harus udah beres, besok hari terakhir, diminta semua notulen hasil sidang harus udah rapi, dan pulang dengan waktu yang tepat tanpa bawa PR." kata Meylani yang tadi berdiri di belakang Rico.


"Ya bagus dong, kerja berat sekarang, leha leha kemudian. Besok kan abis Kongres, saatnya Healing. Iya kan Ra?" kata Fathan membenarkan sikap Rico.


"Tapi Than. ga gitu juga kali caranya. Dia itu kaya kolonial Belanda tau ga sih, suka nyuruh seenaknya sendiri kaya kerja rodi." kata Meylani sewot.


"Udah, santai aja. Lagian Tiaranya juga ga masalah kok. Elo kalo jeles sama Rico, bilang aja. Besok aki bilang ke Rico, kalau kamu tu cemburu sama dia, karna dia lebih banyak perhatian sama Tiara. Hahaha." kata Fathan sambil meletakkan lengannya di pundak sahabatnya.


"Ih, apaan sih? Siapa juga yang cemburu. Aku tu cuma kasian sama Tiara tau, dari kemarin dia ngelembur terus. Ga ada istirahatnya dia tu, di geber terus sama si Rico." kata Meylani masih tidak terima.


"Santai aja kali. Tiara aja yang ngejalani santai kok." kata Fathan sambil merogoh kantongnya, mengambil sebatang rokok dan korek api.


"Eh, mau ngapain kamu?" tanya Meylani.


"Ngrokok lah." kata Fathan tanpa beban.


"Keluar sana kalo mau ngrokok!" kata Meylani mendorong tubuh Fathan keluar.


"Tiara aja ga masalah kok." kata Fathan santai.


"Tiara itu diam karena dia ga enak kalo mau ngelarang. Begitu juga sama Rico, Tiara ga berani ngebantah, makannya dia jalani aja tanpa komentar." kata Meylani.


"Iya Ra?" tanya Fathan tak percaya.


Mutiara hanya menjawab dengan tersenyum.


"Kalau Kak Fathan mau merokok, silakan di luar dulu, tapi kalau masih mau bantu Tiara, jangan di nyalain dulu rokonya." kata Mutiara membenarkan kata Meylnai.

__ADS_1


"Oh, okey okey." jawab Fathan mengalah. Diapun memasukkan kembali rokoknya, lalu kembali membantu Mutiara menyelesaikan tugas mereka. Hingga ja satu dinihari, mereka baru selesai, lalu keluar dari ruang aula. Mutiara bersama Meylani pun kembali ke ruang istirahat dengan perasaan lega, karena pekerjaan Mutiara sudah selesai.


__ADS_2