Jodoh Salah Sambung

Jodoh Salah Sambung
Menghadiri Undangan


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasa sepulang dari pasar, Mutiara bersiap untuk berangkat ke kampus. Karena ban motornya masih bocor, maka saat ke pasar tadi, Mutiara berjalan kaki menuju pasar, dan pulangnya juga berjalan kaki, karena jarak kosan dan pasar memang tak terlalu jauh.


Saat Mutiara sedang bersiap untuk berangkat kuliah, rencananya dia akan membonceng Nadia, namun tiba-tiba ponselnya berdering. ada panggilan masuk.


📞Mas Salah Sambung


"Assalamualaikum Tiara"


"Wa'alaikum salam mas. Ada apa ya mas?"


"Kamu hari ini ke kampus tidak?" tanya Dzen.


"Iya mas."


"Mau berangkat jam berapa?"


"Ini sudah mau berangkat mas."


"Okey, kalau gitu, kamu tunggu di pinggir jalan aja ya, ini saya juga mau berangkat ke rumah sakit, tadi saya dapat kabar, katanya motor kamu sudah beres."


"Oh. Alhamdulillah. Tapi, ga usah repot repot untuk jemput saya mas." kata Mutiara sungkan.


"Ga repot kok, kebetulan kita kan searah." kata Dzen.


"Ehm, baiklah. Nanti saya tunggu di pinggir jalan pas di gang masuk kosan saya ya mas."


"Oke."


"Ya sudah ya, saya otw ini." kata Dzen.


"Ya mas."


"Tunggu sekitar sepuluh menit lagi ya." kata Dzen.


"Ya mas."


Panggilan pun berakhir. Mutiarapun segera bersiap untuk menunggu jemputan Dzen.


"Maaf, nunggu lama?" tanya Dzen setelah sampai.


"Tidak kok mas." jawab Mutiara.


"Jam berapa masuk mu?"


"Jam sembilan mas."


"Okey, ayo masuk." ajak Dzen.


"Ya mas, terimakasih."


Mutiara pun masuk ke dalam mobil milik Dzen. Merekapun melaju menuju bengkel untuk mengambil motornya Mutiara.


"Berapa mas?" tanya Mutiara pada Mail.


"Ga usah mbak, sudah dibayar sama mas Dokter kok mbak." kata Mail.


Mutiarapun menoleh ke arah Dzen yang tersenyum padanya.


"Mas Dzen, berapa habisnya?" tanya Mutiara.


"Ga usah diganti. Itu uangnya disimpen aja, buat fotokopi tugas kuliah ya." kata Dzen enteng.

__ADS_1


"Tapi mas..." Mutiara tak melanjutkan kata-katanya.


"Udah, santai aja." jawab Dzen.


"Hem, sekali lagi, terimakasih banyak mas." kata Mutiara.


Dzen hanya tersenyum tulus pada Mutiara. Mutiarapun segera menaiki matic kesayangannya, dan berpamitan pada Mail dan Dzen.


"Mas Dokter, itu ceweknya ya?" tanya Mail polos.


"Bukan, cuma temen kok." jawab Dzen.


"Tapi, cara mas dokter bicara dan ngasih perhatian, kayaknya bukan sekedar temen lho mas." kata Mail.


"Masa' sih?" kata Dzen tak pura-pura jaim.


"Iya mas." jawab Mail.


"Ya, do'akan saja, semoga kami berjodoh ya." kata Dzen pada Mail.


"Pasti mas, itu mbaknya juga cantik kok mas." kata Mail.


"Ah, kau ini Il, udah, saya pamit dulu ya, ada pasien nih di IGD." kata Dzen.


"Oh ya mas. Hati-hati ya mas." pesan Mail pada Dzen.


"Okey, siap. InshaaAllah," kata Dzen.


Lalu Dzenpun masuk mobil dan segera melaju ke rumah sakit, tempat dia dinas.


💞💞💞


"Ya pak?" tanya Mutiara.


"Nanti, jam empat sore harus sudah siap ya. Nanti saya jemput." kata Zio.


"Jam empat? Bukannya undangannya ba'da isya' ya pak?" tanya Mutiara.


"Iya. Tapi saya akan jemput kamu jam empat. Bisa kan?" tanya Zio tanpa memberi alasan.


"Ehm..."


"Apa masih ada jam kuliah?" tanya Zio.


"Tidak kok pak."


"Ya sudah, nanti jam empat." kata Zio sambil berlalu begitu saja meninggalkan Mutiara.


"Jam empat? Terus nanti disana aku ngapain coba?" gumam Mutiara tak habis pikir dengan sikap dosennya.


💞💞💞


Benar saja, jam empat sore Mutiara sudah ditelpon dosennya itu, bahwa dia sudah di pinggir jalan, dekat gang masuk kosnya. Mutiara pun bergegas menuju ke mobil dosennya. Dan merekapun segera melaju ke rumah bu Suyamti.


"Sudah sampai." kata Zio sambil melepas safety belt nya.


Mutiara pun memandang sebuah rumah besar dihadapannya dengan tatapan kagum.


"Ayo keluar." perintah Zio dengan dingin.


"Eh, ya pak." kata Mutiara yang tersadar.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah megah itu, Mutiara disambut bahagia oleh bu Suyamti yang sudah tampak segar, setelah terakhir bertemu, keadaan ibu Suyamti masih pucat.


"Assalamualaikum Mutiara." sambut bu Suyamti langsung memeluk wajah cantik Mutiara.


"Wa'alaikum salam ibu,,, ibu sehat?" tanya Mutiara ramah sambil mencium punggung tangan bu Siyamti dengan khidmad.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik nak." jawab bu Suyamti.


"Ayo masuk nak." lanjutnya.


Bu Suyamti mengajak Mutiara masuk ke taman samping rumah, untuk duduk bersama menikmati suasana sore hari sambil melihat ikan-ikan di kolam.


"Duduk sini nak." kata bu Suyamti.


"Ya bu, terimakasih." jawab Mutiara.


"Ehm, maaf bu, kalau boleh tau, kenapa saya dijemput jam segini ya? Acaranya kan masih nanti malam." tanya Mutiara berhati-hati.


"Owh,,, itu. Ibu yabg suruh Zio untuk menjemputmu lebih awal, lagipula, pulangnya Zio juga sudah sore, nanti kalau sudah sampai rumah, biasanya dia malas untuk keluar rumah lagi. jadi Dia ibu suruh untuk jemput kamu sekalian pas dia pulang kerja." jelas bu Suyamti.


"Ehm, gitu ya?" gumam Mutiara.


"Kenapa nak, apa kamu ada acara? Atau keberatan?" tanya bu Suyamti


"Ah, tidak kok bu." jawab Mutiara santun.


Mutiara dan bu Suyamti pun mengobrol sampai menjelang maghrib, lalu mereka menjalankan ibadah sholat maghrib. Zio sedari tadi tidak tampak keluar dari kamarnya.


Saat waktu maghrib tiba. Mutiara menjalankan sholat maghrib di sebuah kamar tamu, diapun melanjutkan dengan membaca Qur'an karena dia rasa, dirumah megah itu tidak ada acara masak-masak, kata bu Suyamti, semua sudah beres dipesankan catering.


"Suaramu indah sekali Tiara." sapa seorang wanita dari pintu kamar.


"Eh, mbak Nilam. Assalamualaikum mbak Nilam." sapa Mutiara sambil mengulurkan tangan untuk menyalami.


"Eh. iya. Lupa. Wa'alaikumsalam Tiara. Udah dari tadi ya nyampenya?" tanya Nilam.


"Iya mbak, dari jam setengah lima tadi." jawab Mutiara.


"Ehm, sekalian pulang kerja kali ya si Zio." duga Nilam.


"Iya mbak, kata ibu tadi seperti itu." jawab Mutiara.


"Oya Tiara, suaramu bikin adem tau. Wah, kalo aku punya ipar kaya kamu gini. bakal adem ni rumah. Aku bakal seneng banget." kata Nilam berbinar.


"Ah, mbak Nilam ini, terlalu berlebihan." kata Mutiara.


"Engga Ra, ini serius." jawab Nilam.


"Aku ada harapan sama kamu Tiara, aku dan ibu suka sama kamu. Dan kami berharap, kamu bisa menjadi bagian dari keluarga ini, dengan menjadi istri Zio." kata Nilam memegang kedua telapak tangan Mutiara.


Mutiara benar-benar kaget dengan penuturan Nilam. Dia tidak menyangka, bahwa dia sedang diincar untuk dijadikan istri dosennya sendiri.


"Gimana Tiara? Apa kamu berkenan memenuhi keinginan kami?" tanya Nilam.


"Bukannya kamu asistennya Zio di kampus?" tanya Nilam lagi.


Mutiara hanya diam, tak mengerti harus menjawab apa. Yang jelas, dia sama sekali tidak ada niatan untuk menjadi bagian dari keluarga berada ini. Meski sebenarnya, di sisi hatinya, ada secuil rasa simpati dan rasa yang tak bisa dimengerti dengan dosen mudanya itu.


💞💞💞


Mohon maag reader, Baru bisa Up lagi. Karena qodarullah, kemarin anak saya baru dirawat di RS, jadi belum bisa fokus melanjutkan cerita...

__ADS_1


__ADS_2